
" Sayang.... sayang!" teriak Aldy memanggil sang isteri yang entah berada di mana saat ini.
Aldy nampak panik pasalnya tidak biasanya gadis itu pergi tanpa izin darinya. Aldy berjalan ke arah dapur tapi tidak ada siapa-siapa, di kamar yang Khanza tempati pun kosong. dengan kesal Aldy mengusap wajahnya kasar
" Kamu kemana sih sayang pagi-pagi sudah menghilang?" gumam Aldy
Aldy masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya, karena merasa khawatir dengan keadaan isterinya, Aldy memilih mencari isterinya keluar daripada harus menunggu dengan cemas di rumah. ia meraih ponselnya untuk menghubungi Khanza namun dering ponselnya dengan jelas terdengar, Aldy menoleh ke sumber suara ternyata ponsel Khanza berada di atas nakas.
" Ya ampun sayang, kamu kemana sih ponsel pun sampai tidak dibawa." gerutunya
Aldy berjalan keluar kamar dan ingin pergi mencari Khanza namun baru saja dia hendak membuka pintu dari arah luar pintu itu sudah lebih dulu dibuka
Ceklek
" Assalamualaikum!" ucap Khanza dengan senyum manisnya
" Wa'alaikum salam" jawab Aldy
" Mas Aldy mau kemana?" tanya Khanza tanpa dosa
" Kamu dari mana?" bukan menjawab Aldy malah balik bertanya
" Aku habis dari taman mas mencari sarapan " jawab Khanza seraya masuk ke dalam apartemen
Khanza berjalan menuju dapur lalu dengan telaten memindahkan lontong sayur kedalam mangkuk dan beberapa gorengan ia taruh di piring tak lupa mangkuk kecil untuk sambalnya
" Sini mas kita sarapan dulu!" ajak Khanza menyuruh suaminya mendekat dan duduk di kursi meja makan
" Kamu kenapa tidak membangunkan mas dan tidak memberitahu mas kalau kamu pergi mencari sarapan?" tanyanya dingin
Khanza menatap wajah suaminya yang ternyata sedang marah " Maaf mas!" ucap Khanza tidak ingin merusak paginya yang cerah
" Kamu tahu mas khawatir setengah mati saat bangun tidur tidak melihat keberadaan kamu, mas takut kamu kenapa-kenapa, ponsel juga tidak dibawa" ucap Aldy dengan nada datar
" Iya aku lupa membawa ponsel" Khanza duduk di kursi yang ada di hadapan Aldy dengan wajah yang sedikit sendu
" Lain kali jangan seperti itu, kamu bisa membangunkan mas biar mas yang pergi mencari sarapan" tegasnya
" Iya mas, tadi aku tuh ingin membangunkan mas Aldy tapi mengingat mas semalam bekerja sampai larut, aku jadi tidak tega membangunkan mas yang tidurnya tuh nyenyak banget" curah Khanza
Aldy mengusap wajahnya kasar lalu menarik napas dalam-dalam " Iya mas ngerti kamu tidak ingin mengganggu tidur mas tapi tetap saja mas enggak mau kalau kamu keluar apartemen tanpa izin dari mas, apalagi mengingat kondisi kamu yang sedang hamil sayang mas tuh khawatir berkali-kali lipat, mengerti?" terang Aldy
" Iya mas, maaf enggak tahu kalau mas Aldy akan semarah ini" ucap Khanza dengan wajah bersalah
" Mas bukannya marah, mas itu khawatir sayang" ucap Aldy yang mulai memelankan suaranya
" Yaudah, sekarang makan sarapannya dulu ya aku sudah sangat lapar" ucap Khanza yang sedari tadi menahan laparnya demi mendengarkan ocehan suaminya terlebih dahulu
" Oh ya ampun sayang, maafin mas. karena mas kamu sampai kelaparan!" Aldy menggeser duduknya pindah ke samping Khanza dielusnya lembut perut Khanza yang sudah terlihat buncit
" Mau mas suapin?" tawar Aldy
" Enggak usah mas aku bisa makan sendiri, mas makan aja sarapannya!" tolak Khanza
" Yaudah kalau begitu, mas sekali lagi minta maaf ya sayang, mas bukannya marah mas hanya mengkhawatirkan isteri dan bayi kita sayang. mas takut kamu kenapa-kenapa" terang Aldy
" Iya mas, aku paham kok, seharusnya aku yang minta maaf sudah bikin mas panik dan khawatir seperti itu"
" Iya, enggak apa-apa sayang tapi lain kali jangan di ulangi ya!" Aldy mengecup kening Khanza lalu tersenyum
"Iya mas"
Aldy dan Khanza kini sedang bersantai di ruang TV, berhubung hari ini hari libur mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton TV.
" Mas!" Khanza yang tengah duduk di paha Aldy sebagai bantalan mengusap dagu Aldy
__ADS_1
" Ada apa hem?" Aldy menunduk lalu membelai lembut kepala Khanza dengan sayang
" Mas kita jalan keluar yuk!" ajak Khanza penuh harap
" Kamu mau jalan keluar kemana?" Aldy masih setia mengelus lembut kepala isterinya
" Kemana aja yang penting berdua mas, ketaman kota juga boleh. pasti hari ini di sana ramai"
" Ketaman kota?"
" Iya mas, biasanya dihari libur seperti ini di sana tuh ramai mas, banyak yang jual makanan dan juga berbagai jualan lainnya"
" Emangnya kamu enggak capek?" tanya Aldy pindah mengusap perut Khanza
" Ya kalau capek tinggal istirahat" jawab Khanza
" Yuk mas,mau ya?" pinta Khanza memelas
" Emmm... yaudah iya!" Khanza seketika berbinar dan mengecup pipi Aldy
" Terima kasih ya mas!" Khanza langsung melesat ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian.
" Jangan pakai yang ketat kasihan dedeknya!" protes Aldy saat Khanza memakai celana panjang
" Ini enggak ketat mas, ini tuh lentur dan lembut bahannya dan dibagian perutnya juga besar khusus celana ibu hamil. ini hadiah dari mama Maria loh mas" jawab Khanza
" Mama Maria?" tanya Aldy bingung pasalnya mereka sudah lama tidak berkunjung
" Iya, ini paket yang dikirim mama Maria seminggu yang lalu" jawab Khanza dan Aldy mengangguk mengerti
" Yaudah yuk jalan!" ajak Khanza
Murid dan guru yang kini sudah sah menjadi sepasang suami isteri itu pun kini sudah berada di dalam mobil menuju taman kota yang menurut Khanza ramai di hari libur
" Sayang, itu apa?" tanya Aldy yang melihat Khanza mengeluarkan sesuatu dari tasnya
" Buat apa?"
" Ya buat jaga-jaga aja mas, takut ada yang kenal" jawab Khanza seraya memakai maskernya
" Mas juga pakai ya, siapa tahu nanti di sana ada murid atau teman mas Aldy!" Khanza memberikan masker kepada Aldy
" Mas pakainya nanti aja ya, kalaupun ada yang kenal tinggal mas bilang kamu isterinya mas!" ucap Khanza
" Mas ih, kalau mereka ngenalin aku gimana? gak mau lah mas apalagi perut aku yang terlihat besar gini!" Khanza cemberut
" Udah enggak usah cemberut, nanti cantiknya hilang" Aldy mencubit gemas pipi Khanza yang gemoy
" Mas ih" kesal Khanza
Hanya butuh beberapa menit saja mereka kini sudah sampai di area parkir taman kota
" Nih pakai!" Aldy mengambil topi yang berada di jok belakang dan memakaikannya pada Khanza
" Jangan cemberut lagi, dengan penampilan kamu yang seperti ini pasti tidak akan ada yang mengenali kamu" Aldy pun memakaikan Khanza kaca mata
" Aku udah seperti buronan aja mas pakai penyamaran segala" Khanza terkekeh sendiri mengamati penampilannya
" Kamu memang buronan" Khanza melotot
" Buronan cinta mas" lanjut Aldi membuat Khanza bersemu merah
" Dih gombal" cibik Khanza dan Aldy tertawa
" Sudah yuk ah turun nanti semakin panas!" ajak Aldy
__ADS_1
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, netra mereka mengedar kesekeliling melihat para penjual yang menjajakan dagangannya.
" Mas aku mau itu!" tunjuk Khanza pada penjual sosis bakar
"Yaudah ayok kesana!" Aldy dan Khanza berjalan menuju penjual sosis bakar yang cukup antri pembeli
" Biar mas aja yang antri, kamu duduk aja ya di sini" Aldy menyuruh Khanza duduk di bangku yang ada di taman tersebut sedangkan dia mengantri sosis bakar pesanannya
Selesai mengantri Aldy menghampiri Khanza yang tengah duduk di bangku taman
" Sayang, ini!" Khanza meraih sosis bakar yang diberikan Aldy
" Terima kasih mas" Aldy duduk di samping Khanza membuka botol minum yang sempat dibelinya tadi saat mengantri sosis bakar
" Mas mau ini enak loh!" Khanza menyodorkan sosis bakar yang sudah digigitnya
Aldy menggeleng " buat kamu aja sayang"
Khanza sangat menikmati sosis bakarnya sedangkan Aldy memilih untuk menghampiri tukang ketoprak yang tidak jauh dari tempat Khanza duduk
" Pak Aldy disini juga?" tanya seseorang yang baru datang dan berdiri di belakang Aldy
Aldy menoleh dan menarik napasnya dalam lalu membuangnya kasar.
" Eh iya bu" jawab Aldy seadanya
" Pak Aldy suka makan ketoprak juga nih sama seleranya ya pak kita ?" tanyanya Bu Siska yang kini berdiri di samping Aldy karena bangkunya sudah penuh dengan pembeli lainnya
Aldy hanya tersenyum enggan menimpali ucapan bu Siska
" Pak Aldy ke sini sendirian aja, sama dong pak sama saya. tadi sih bareng teman-teman saya eh enggak tau nih sekarang pada kemana" cerocos bu Siska yang sebenarnya malas Aldy dengar.
Aldy lagi-lagi diam dan hanya menimpali dengan senyum sekedarnya
Khanza yang melihat keberadaan bu Siska apalagi nampak jelas di matanya kalau bu Siska sedang mencari perhatian pada Aldy merasa kesal bukan main. ingin menghampirinya tapi dia juga tidak mau kalau sampai bu Siska curiga terpaksa deh Khanza menahan kekesalannya melihat bu Siska yang sedang modus mendekati Aldy.
" *Lama banget sih betah banget di deketin guru ganjen kayak gitu!" geram Khanza memasang wajah cemberut di balik maskernya
" Ehhh.... gue kan pakai masker ya, bu Siska gak bakal ngenalin gue dong ya. apalagi perut gue juga keliatan gendutnya sekalian aja tuh guru gue kasih peringatan biar gak lagi berani deketin laki orang!" gumam Khanza*
Khanza beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Aldy yang sedari tadi didekati terus oleh bu Siska
" Ekhem..." deheman Khanza mengambil alih atensi Aldy dan bu Siska
" Loh kok kesini sih sayang, tadi kan mas udah bilang tunggu aja disana" Aldy langsung menghampiri Khanza dan berdiri di sampingnya takut isterinya yang tengah hamil merasa pegal Aldy celingak celinguk mencari bangku yang kosong.
" Ini pak isterinya duduk di sini aja kasihan sedang hamil ya!" ujar seorang pemuda yang langsung beranjak dari duduknya saat melihat Khanza dengan perut buncitnya
" Oh iya mas terimakasih" ucap Aldy penuh rasa syukur
" Sini sayang duduk !" Aldy menyuruh Khanza untuk duduk
" Sebentar lagi pesanan mas selesai di buat, tunggu ya sayang" Aldy mengelus lembut perut buncit Khanza sebelum menghampiri pedagang ketoprak untuk mengambil pesanannya yang sudah selesai dibuat
Selesai membayar Aldy kembali menghampiri Khanza, melihat sikap lembut Aldy pada wanita yang wajahnya di tutup oleh masker membuat bu Siska bertanya-tanya.
" Wanita itu siapanya pak Aldy, tidak mungkin isterinya kan?" batin bu Siska
" Tapi jika bukan isterinya kenapa pak Aldy memperlakukannya dengan sangat lembut apalagi perut wanita itu juga sepertinya sedang hamil"
" Mari bu saya duluan!" ucap Aldy pamit sambil menggandeng tangan Khanza membuat bu Siska terkesiap dari lamunannya
Bu Siska tidak menjawab hanya tersenyum kecut menatap kepergian Aldy bersama wanita yang membuatnya sangat penasaran.
" Aku harus cari tahu siapa wanita itu" batin Bu Siska seraya mengepalkan tangannya kuat
__ADS_1
" Wa