
" Mana Khanza?" tanya Nicko saat ketiga sahabatnya, Miska Nana dan Hana baru saja mendapatkan bokongnya di kursi cafe tempat dimana mereka janjian
" Gak jadi ikut" ucap Hana lesu
" Kenapa?" tanya Nicko
" Gak dapat izin" sahut Nana
" Izin? ibunya gak ngizinin, tumben" Billy menatap Nana
" Buk_" belum selesai bicara Miska langsung membekap mulut Nana karena tahu apa yang mau Nana katakan
" Oh iya gue ngerti!" ucap Nicko yang tahu apa yang ingin Nana katakan hanya Billy yang melirik Nicko dengan tatapan penuh tanya
" Yaudah gak apa-apa, lain kali aja kita kumpul lagi bareng Khanza" ucap Nicko dengan senyum yang dipaksakan.
Sebenarnya ada rasa kecewa karena Khanza tidak jadi datang tapi Nicko berusaha memahami posisi Khanza dengan statusnya.
Tring
Satu pesan masuk ke ponsel Nicko dengan sedikit tersenyum Nicko membalas pesan yang masuk.
..." Nicko maaf karena gue gak jadi datang"...
" Enggak apa-apa, gue ngerti kok posisi loe sekarang"
" Orang itu pasti bucin akut ya sama loe sampai segitu posesifnya"
" Loe juga pasti cinta banget sampai langsung nurut"
..." Gue itu seorang isteri Ko, yang memang sudah menjadi kewajiban gue menurut dan patuh kepada suami selama itu adalah sebuah kebaikan" ...
" Loe memang isteri yang Sholehah Za"
" Jangan berlebihan memuji, gue belum sampai ketahap itu"
..." Sudah ya selamat bersenang-senang, gue mau istirahat dulu salam buat semuanya"...
"Siap "
Nicko memasukkan kembali ponselnya ke saku bajunya dan meminum minumannya
" Siapa yang kirim pesan loe sampai senyum-senyum gitu ?" tanya Billy
" Oh itu Khanza, dia minta maaf karena gak bisa datang" jawab Nicko santai
" Apa loe masih segitunya cinta sama Khanza?' tanya Billy penasaran
" Gue memang masih cinta sama Khanza tapi gue gak mau mengulangi kesalahan gue yang kemarin cukup gue mencintai Khanza dengan cara gue sendiri dan tidak membuat persahabatan kami rusak karena perasaan yang salah" jawab Nicko membuat Miska sedikit terharu.
" Kelak Loe pasti akan menemukan cinta sejati loe Ko" Nicko menoleh ke sumber suara melihat Miska yang tersenyum kepadanya.
" Loe!" Nicko sedikit heran dan hari ini adalah kali pertama Miska tersenyum kepadanya biasanya dia selalu jutek dan marah-marah
" Manis juga kalau tersenyum seperti itu!" batin Nicko
" Nicko!" panggil Billy seraya menepuk bahu Nicko
"Eh iya kenapa Billy?"
__ADS_1
" Loe kenapa, bengong gitu?" tanya Billy yang nampak heran
" Gue enggak kenapa-napa" Nicko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Mereka dan yang lainnya sedang menikmati kebersamaan mereka di cafe tersebut, dan diam-diam Nicko mulai mencuri pandang menatap Miska yang terkadang tertawa dan tersenyum manis saat Billy mengeluarkan lelucon dan guyonan yang memancing semua untuk tertawa.
Sementara Khanza yang berada di rumah ibunya saat ini lebih memilih berdiam diri di kamar.
Bu Khodijah membiarkan Khanza beristirahat sementara dirinya dan bi Ratna sibuk di dapur mengerjakan pekerjaannya.
" Mba apa Khanza akan menginap di sini?"
" Sepertinya begitu" jawab Bu Khodijah
" Apa mereka sedang ada masalah?"
" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya bu Khodijah seraya menghentikan kegiatannya menoleh ke arah bi Ratna
" Tidak kenapa-kenapa, hanya saja aku melihat raut wajah Khanza yang tidak seperti biasanya. ya walaupun Khanza terlihat ceria tapi tidak tahu kenapa aku merasa Khanza terlihat sedih"
" Mungkin perasaan kamu saja!" bu Khodijah melanjutkan kegiatannya
" Semoga saja mba, aku berharap Khanza tidak kenapa-kenapa"
Di dalam hati bu Khodijah merasa gelisah memikirkan kata-kata yang bi Ratna lontarkan
Sementara di dalam kamar selepas mandi Khanza memilih untuk merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya.
Khanza merasa sedikit kecewa dengan suaminya yang melarangnya untuk berkumpul dengan teman-temannya. merasa terbatasi dan tidak sebebas biasanya.
Jika mau Khanza bisa saja tetap pergi dengan teman-temannya toh suaminya yang berada di luar kota pasti tidak akan tahu.
Khanza lelah memikirkan nasibnya sampai akhirnya tertidur.
Hingga pukul 7 malam Khanza masih berada di dalam kamar. Bu Khodijah sedikit khawatir lalu pergi ke kamar Khanza.
" Khanza!" panggil bu Khodijah namun beberapa kali memanggil tidak juga mendapat jawaban
Bu Khodijah mencoba membuka pintu kamar Khanza dan nampaknya tidak dikunci. Bu Khodijah langsung masuk ke dalam dan melihat Khanza yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.
" Sayang!" panggil bu Khodijah namun Khanza masih bergeming.
Bu Khodijah mendekati Khanza dan hendak membangunkan putrinya mengguncang bahunya pelan namun saat menyentuh tangannya bu Khodijah terperanjat karena merasakan suhu panas dari tubuh Khanza.
" Sayang kamu demam?" bu Khodijah nampak sedikit panik karena sejak kecil Khanza termasuk anak yang sehat jarang sekali sakit dan jika pun ia sakit pasti karena ada beban pikiran.
Khanza dengan perlahan membuka matanya dan terkejut melihat ibunya sudah berada di hadapannya apalagi dengan ekspresi cemas
"Bu!" suara Khanza terdengar lemah
" Kenapa tidak bilang kalau kamu demam? sebaiknya kita ke dokter sekarang!" bu Khodijah nampak khawatir
" Bu Khanza tidak Kenapa-napa, Khanza hanya kecapean saja kok bu." ucap Khanza yang tidak mau ibunya khawatir
" Kecapean ngapain, apa nak Aldy membuat kamu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri?" tanya bu Khodijah
" Bukan bu, Khanza hanya kecapean tadi banyak banget tugas sekolahnya" jawab Khanza sedikit berbohong.
" Benar seperti itu?"
__ADS_1
" Iya bu, Khanza hanya sedikit pusing dan mengantuk. boleh Khanza tidur lagi sebentar bu?" tanya Khanza seraya memejamkan matanya kembali karena sungguh terasa berat .
" Ya sudah istirahatlah, ibu akan menyuruh Izan membelikan mu obat " bu Khodijah beranjak dari kamar putrinya.
" Terima kasih ya bu!" ucap Khanza
Bu Khodijah tersenyum " itu sudah tugas seorang ibu sayang, jika ada apa-apa bilang sama ibu. jangan pendam perasaan mu sendiri!"
" Iya Bu!"
Khanza kembali memejamkan matanya dan bu Khodijah menemui putranya di dalam kamarnya.
" Bu!" ucap Izan yang kebetulan baru keluar dari kamarnya
" Apa kakak ada di dalam?" tanya Izan
" Iya, kakakmu sedang demam jadi tolong belikan obat untuk kakak mu ya!" perintah bu Khodijah
" Kak Khanza sakit bu, sakit apa?" tanya Izan cemas
" Demam" sahut bu Khodijah
Izan yang tahu kakaknya sedang sakit ingin segera melihat keadaannya namun saat Izan hendak masuk ke dalam kamar Khanza bu Khodijah melarangnya.
" Biarkan kakak mu beristirahat, jangan di ganggu sebaiknya kamu beli obat untuk kakak mu saja dulu!" ucap bu Khodijah
" Oiya bu, baru saja kak Aldy menelpon dan menanyakan keberadaan kak Khanza katanya nomor ponsel kak Khanza sulit dihubungi"
ucap Izan memberitahu.
" Apa kamu sudah bilang kalau khanza disini?"
" Iya, tadi bi Ratna yang memberitahu Izan!"
" Ya sudah sekarang pergilah ke apotik!"
" Iya Bu!" Bu Khodijah memberikan uang lalu Izan langsung pergi ke apotik dengan mengendarai motor milik Khanza.
Aldy kembali menghubungi Izan yang pada saat itu sedang berada di apotik.
" Assalamu'alaikum"
..." Wa'alaikum salam!" ...
..." Izan kenapa ponsel kakak mu masih belum aktif?" ...
" Kak Khanza sedang istirahat kak mungkin ponselnya habis baterai"
"Kak Khanza sedang demam"
..." Apa?" ...
..." Khanza sakit?"...
" Iya kak"
" Sakit apa?" Aldy nampak khawatir
" Kata ibu demam!"
__ADS_1
" Ya sudah ya kak Izan mau pulang dulu, ini lagi di apotik"
Izan mematikan sambungan teleponnya dan menuju pulang.