Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Panik


__ADS_3

Azka keluar dari kamar mandi setelah selesai mendinginkan tubuhnya yang sempat memanas.


Zaira menatap sendu kearah Azka yang perlahan menghampirinya.


Azka tahu saat ini pasti Zaira sedang dilanda kegalauan karena bingung harus bersikap bagaimana, seakan tahu apa yang ada di benak sang isteri Azka mengusap kepala Zaira dengan lembut dan penuh perhatian lalu tersenyum. " Pergilah!" ucap Azka yang sontak membuat Zaira mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya yang tengah tersenyum.


" Mas aku-" Zaira menjeda ucapannya namun sebelum Zaira kembali bicara Azka sudah lebih dulu mengatakan apa yang ingin Zaira ingin katakan.


" Mas gak apa-apa Sayang, dia itu kakakmu bukan?" Zaira mengangguk. " Mas percaya sepenuhnya sama kamu sayang" ucap Azka lalu mencium kening Zaira penuh cinta.


" Terima kasih mas!" Zaira pun menenggelamkan wajahnya di pinggang sang suami.


*


*


*


Zaira dan dokter Ariel saat ini sedang berada di depan rumah karena saat Zaira tadi turun bertepatan dengan dokter Ariel yang pamit pulang kepada bunda Aryani.


" Al apa besok kamu ada waktu luang?" tanya dokter Ariel sebelum masuk ke dalam mobilnya.


" Besok, emm... maaf kak sepertinya besok tidak bisa, karena sepulang sekolah aku dan teman-teman ku mau pergi ke mall mau membeli beberapa keperluan untuk camping" tolak Zaira dengan sopan


" Camping?" tanya dokter Ariel menaikkan alisnya


" Iya kak, lusa sekolah kami akan mengadakan kegiatan camping diluar sekolah" jawab Zaira


" Pasti seru ya" ucap dokter Ariel tertawa kecil


Zaira hanya tersenyum menanggapi ucapan dokter Ariel.


" Oia, Al bagaimana kabar temanmu itu ?" tanya dokter Ariel yang tiba-tiba teringat dengan Mita


" Maksud kak Ariel siapa, Mita?" tanya Zaira balik


" Iya, Mita. apa dia sudah kembali ke sekolah?"


" Sudah kak, bahkan dia sudah bisa ikut pelajaran olahraga" sahut Zaira dengan sedikit tertawa.


" Syukurlah, salam ya untuknya" ucap dokter Ariel seraya mengacak-acak rambut Zaira.


Zaira yang rambutnya di acak-acak oleh Dokter Ariel dengan refleks melangkah mundur entah kenapa rasanya menjadi risih dan canggung mendapat perlakuan itu dari kakaknya yang sudah lama tidak bertemu.


" Ah.. maaf" ucap dokter Ariel menatap tangannya sendiri merasakan kecanggungan dalam diri Zaira.


" Tidak apa-apa kak, aku yang minta maaf" ucap Zaira sambil tersenyum


" Kamu benar-benar banyak berubah Al" ucap dokter Ariel tersenyum getir.


" Seiring dengan berjalannya waktu semua orang pasti ada yang berubah kak, kakak juga sama banyak perubahan" timpal Zaira


Dokter Ariel menatap Zaira namun yang ditatap malah mengedarkan pandangannya ke arah lain.


" Tapi disini tidak ada yang berubah Al" dokter Ariel menepuk-nepuk pelan dadanya sendiri.


Zaira bingung harus menanggapi apa ucapan kakak angkatnya ini, ya bagaimana pun mereka dulu memang pernah merasakan perasaan yang sama namun saat ini perasaan itu sudah kembali ke posisi yang seharusnya yaitu perasaan kakak beradik, karena hati Zaira benar-benar sudah berpindah ke hati Pak guru tercintanya. Zaira hanya bisa tersenyum ya senyum yang sulit untuk di artikan.


Zaira tidak ingin melukai perasaan kakaknya Ariel dan memberi harapan yang memang sudah tidak ada harapan lagi tapi untuk bicara jujur rasanya Zaira masih belum sanggup. ia takut dokter Ariel kecewa dan membencinya. perasaan ini memang dari dulu sudah salah namun karena Zaira yang masih sangat polos dan dilarang bergaul dengan anak laki-laki membuat Zaira merasa nyaman dengan keberadaan kakaknya Ariel. Setiap hari mereka selalu bersama sehingga Zaira merasa sudah terbiasa dengan kebersamaan dokter Ariel disampingnya.


Dokter Ariel masuk ke dalam mobil dengan perasaan sedikit kecewa. Alzaira yang dulu sangat menyayanginya kini terlihat sudah jauh berbeda. ada rasa keraguan dalam hatinya apakah Alzaira adik yang sangat ia cintai ini masih memiliki perasaan yang sama ataukah sudah berpaling pada cinta yang lain.


Mobil dokter Ariel sudah melaju keluar dari pekarangan rumah bunda Aryani. di dalam mobil dokter Ariel masih kepikiran dengan Zaira adik kecil yang sangat ia sayangi.


Sakit itulah yang dokter Ariel rasakan jika membayangkan gadis kecil yang sangat ia cintai berubah, ia takut kalau ternyata perasaan Alzaira sudah berpaling dari cintanya. akan tetapi dokter Ariel tidak mau menyerah begitu saja sebelum ia mengetahui hal yang sebenarnya. hati dokter Ariel Seketika terasa bergemuruh saat tiba-tiba ia teringat dengan sosok pria yang membawa Zaira pergi dengan kasar saat berada di rumah sakit.


" Siapa pria itu?" gumam dokter Ariel kesal seraya memukul stir mobilnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Pagi ini Zaira tengah sibuk membuat sarapan untuk sang suami tercinta, walaupun masih terasa mengantuk karena ulah suaminya semalam yang merengek meminta haknya dan mau tidak mau Zaira pun pasrah karena menolak pun percuma. Zaira tetap bangun pagi-pagi dan memasak untuknya karena Saat ini Zaira dan Azka tengah berada di rumahnya sendiri, sebab semalam setelah kepulangan dokter Ariel, Azka mengajak Zaira untuk pulang dengan alasan dia tidak membawa baju ganti untuk pergi mengajar besok.


" Sayang bangun dong, udah siang nih" Zaira mengguncang tubuh Azka yang masih terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


" Hoammm" Azka mengusap dan mengumpulkan kesadarannya lalu tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang berada di hadapannya.


" Selamat pagi sayang!" sapa Azka seraya menarik tangan Zaira kedalam pelukannya.


" Mas lepas ih, ini udah siang loh. cepat bangun bajuku kusut mas" kesal Zaira memukul lengan Azka.


" Iya... iya.." Azka pun melepaskan tangannya, Zaira dengan segera bangkit dari atas tubuh suami jahilnya itu.


" Cepat sana mandi, aku tunggu di meja makan!" ucap Zaira setelah meletakkan baju ganti untuk Azka pakai hari ini.


" Terima kasih sayang!" ucap Azka setelah itu mendaratkan kecupan singkat di bibir Zaira lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Azka dan Zaira kini sudah berada di dalam mobil, setelah sarapan bersama mereka memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih awal karena Lia sudah mengatakan kepada Zaira, ia akan menunggunya di persimpangan jalan.


Saat di dalam mobil Zaira mengambil kesempatan untuk meminta izin kepada Azka perihal pelaksanaan Camping yang diadakan pihak sekolah lusa nanti.


Azka sudah memberinya izin tapi dengan syarat Zaira tidak boleh berdekatan dengan anak laki-laki dan jika butuh apa-apa harus bilang kepadanya tidak boleh meminta bantuan kepada yang lain kecuali atas izin darinya.


Awalnya Zaira menolak tapi pak suami ternyata tidak mau dibantah akhirnya Zaira lebih memilih untuk mengalah daripada berujung dengan pertengkaran yang hanya akan menyita waktu saja.


Zaira kini sudah berpindah ke dalam mobil Lia dan mobil Azka sudah melesat lebih dulu menuju sekolah.


" Za gimana udah baikkan loe?" tanya Lia yang sekilas menengok ke arah Zaira


" Alhamdulillah udah, thanks ya Li loe udah buka pikiran gue" ucap Zaira seraya melihat ke arah Lia yang sibuk dengan kemudinya.


" Sama-sama Za loe itukan bukan cuma sahabat gue tapi kakak ipar gue, kalau loe sama kakak gue hidup harmonis gue juga yang senang ngeliatnya. cuma masih ada yang kurang Za!" ucap Lia membuat Zaira menautkan alisnya


" Apa?" tanya Zaira


" Ponakan" jawab Lia sambil terkekeh.


blusshh


wajah Zaira langsung merona, Lia yang melihat Zaira bersemu merah tak kuasa menahan tawanya.


" Ha.. ha.., Za muka loe udah merah gitu" puas Lia tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Zaira yang merah merona bak kepiting rebus.


" Apaan sih loe Li" kesal Zaira melipat kedua tangannya di dada dan memberengut.


" Apaan?" Zaira masih mood jelek karena godaan Lia kepadanya


" Ha..ha.., muka loe tapi jangan ditekuk gitu Za" ucap Lia yang masih saja tidak berhenti tertawa.


" Apaan sih Li, udah dong jangan ketawa Mulu!" pinta Zaira yang sudah gemes dengan tingkah adik iparnya yang songong bin ngeselin ini.


" Iya..iya.. gue diem tapi gue panasaran Za, boleh dong gue tau sedikit" ucap Lia yang kembali menggoda Zaira dengan menaik turunkan alisnya.


" Tau apa?" tanya Zaira menyipitkan matanya


" Sebenarnya loe sama kak Azka sudah emm... sudah itu belum?" tanya Lia yang merasa malu sendiri.


" Sudah itu apa?" tanya Zaira sok polos


" Ah jangan pura-pura gak tau deh loe Za" kesal Lia yang pura-pura tidak tahu maksud pertanyaannya


" Ya emang gue gak tau, loe makanya ya kalau nanya itu yang jelas jangan bikin orang bingung" sahut Zaira yang tidak kalah sewot


" Ya maksud gue ya itu... itu.. tu." ucap Lia yang semakin gak jelas membuat Zaira menepuk jidatnya sendiri.


" Li loe kalau mau nanya itu pakai bahasa yang mudah gue mengerti napa, jangan pakai bahasa planet, itu.. itu.. tu..gak jelas tau gak sih loe" ucap Zaira panjang lebar membuat Lia kembali tertawa.


" Za gue tau otak loe gak sepolos tampang loe. gue yakin loe ngerti maksud pertanyaan gue" kata Lia yang kembali mentertawakan Zaira.


" Sia*an loe Li" Zaira memukul bahu Lia pelan karena kalau kencang yang ada oleng Lia bawa mobilnya.


" Udah gak usah di jawab kalau loe malu mah, ya gue tinggal tunggu tanggal mainnya aja dah kapan tuh keponakan gue bakalan meluncur" ucap Lia yang menaik turunkan alisnya semakin membuat Zaira kembali tersipu-sipu.


" Za muka loe kondisiin tuh, gue baru ngomong gitu aja muka loe udah kayak kepiting rebus apalagi kalau loe lagi itu..itu.. gak kebayang gue muka loe semerah apa" Lia kembali membuat Zaira semakin gak karuan dengan alur pembicaraan Lia yang menurutnya terlalu ekstrim untuk ukuran anak yang masih duduk di bangku sekolah tapi tidak berlaku untuk seorang Zaira, kan udah halal ini.


" Loe itu masih sekolah Li gak baik ngomongin hal kayak gitu apalagi ngebayangin" ucap Zaira sok nasehatin.


" Ya emang loe gak masih sekolah gitu?" ucap Lia yang tidak terima dengan ucapan Zaira.

__ADS_1


" Gue masih sekolah tapi udah halal kalau loe lupa" Zaira tersenyum meremehkan


" Yaudah nanti gue bilang deh sama papa minta dihalalin juga" sahut Lia sambil menahan tawanya


" Boleh juga tuh tapi sama siapa? emang ada gitu yang mau sama loe?" ledek Zaira membuat Lia meradang.


" Ha .. ha... akhirnya wajah buasnya keluar juga" tawa Zaira yang tertawa melihat Lia terpancing terbawa emosi.


" Loe kira gue gak laku gitu?" geram Lia dengan ucapan Zaira namun tidak sampai ke hati ya.


" Ha..ha.." Zaira malah tertawa tidak menggubris pertanyaan Lia.


" Udah-udah perut gue sakit ah ketawa mulu" ucap Zaira yang masih tertawa.


Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di depan sekolah.


" ihh.. sikamp*et masih ketawa lagi, tenang aja nanti suami gue pasti akan jauh lebih tampan dari laki loe Za" kata Lia dengan jumawa.


" Eh laki gue itu kakak loe ya Li kalau loe lupa" ucap Zaira kembali meledek Lia dan kembali tertawa.


" Serah loe deh" ucap Lia memutar bola matanya malas.


" Cie dia ngambek tapi Li kalau loe mau tahu ya Li" Zaira mendekatkan wajahnya ke wajah Lia " itu.. itu.. tuh enak loh Li bikin nagih" bisik Zaira sebelum Lia keluar dari mobil. sontak saja ucapan Zaira tersebut membuat Lia tercengang. Dengan santainya Zaira mengatakan hal itu dengan adik iparnya.


" Ja.. jadi loe sama kak Azka beneran udah itu..itu?" tanya Lia yang jadi gugup sendiri


Sementara Zaira mengulum senyumnya melihat wajah Lia yang lucu menurutnya. tadi dia yang nanya setelah dijawab dia yang shock sendiri. Za kembali tertawa dan kali ini dia berhasil membuat Lia diam tidak berkutik.


" Wah parah loe Za udah mengotori otak gue yang masih suci ini" celetuk Lia sok dramatis.


" Ha.. ha... suci dari mananya yang ada ya, loe itu sama kak Azka sebelas dua belas banget" ucap Zaira yang masih saja tertawa.


" Sebelas dua belas apanya?" tanya Lia yang jadi penasaran.


" Sama-sama Omes alias otak mesum" sahut Zaira yang tertawa penuh kemenangan.


" Uhh, sia*an loe Za" ucap Lia yang menghadiahi Zaira dengan pukulan dilengan.


" Udah ah ngomong sama loe soal ginian yang ada otak gue semakin terkontaminasi" ucapnya lagi.


" yee loe yang mulai juga" Zaira tidak terima disalahin.


" Udah ah yuk turun nanti telat lagi!" ajak Lia seraya turun dari dalam mobil namun sudah beberapa menit Lia turun Zaira tidak kunjung turun, Lia yang sudah berdiri di depan mobilnya memutar pandangannya berbalik melihat ke dalam mobil dan betapa terkejutnya Lia saat mendapati Zaira yang terlihat sedang meringis sambil memegangi perutnya.


Lia langsung menghampiri Zaira dan membuka pintu mobilnya. " Za loe kenapa?"


Zaira menoleh sekilas dan nampak wajah Zaira yang tadi baik-baik saja seketika berubah pucat. " Za loe jangan bercanda deh, sebentar lagi bel masuk nih" ucap Lia yang sedikit panik.


" Li per..perut gue sakit" Sahut Zaira terbata-bata.


" jangan bercanda loe Za, serius loe?" tanya Lia yang semakin panik dan bingung.


" Aaaaa..." rintih Zaira " Perut gue sepertinya kram Li" ucap Zaira lagi menahan rasa sakitnya.


Lia tanpa pikir panjang langsung menelpon Azka yang baru saja sampai di ruang guru.


Tutt


Tutt


Tutt


" Iya, hallo! Assalamu'alaikum!" ucap Azka diseberang telpon.


" Kak, Za kak ... Za.. Zaira kak!" ucap Lia dengan sangat gugup


" Ada apa dengan Za?" tanya Azka yang berubah sangat panik


" Za... Za bangun dong Za!" teriak Lia saat melihat Zaira sudah tidak sadarkan diri dan mengabaikan pertanyaan Azka.


" Meliani kamu dimana sekarang?" bentak Azka yang mendengar Lia nampak panik dan terus menyuruh Zaira bangun dan mengabaikan pertanyaannya


" Kak Za pingsan, kami masih diparkiran " sahut Lia yang terdengar tengah menangis karena panik.

__ADS_1


Azka tanpa pikir panjang langsung berlari menuju parkiran sekolah dan mengabaikan pertanyaannya dari para guru lainnya. bahkan kepanikan yang terpancar di wajah tampannya membuat para siswa dan siswi yang berpapasan dengannya dibuat bingung begitu juga dengan para guru terlebih pak Bambang dan Bu Mayang yang kebetulan ada di ruang guru saat Azka menerima telepon dari Lia dan sempat menyebut- nyebut nama Zaira dan Meliani.


"Ada apa dengan Zaira dan Meliani? dan pak Bagaz_?" batin Bu Mayang


__ADS_2