Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Cerita Para Sahabat


__ADS_3

Zaira masuk ke dalam mobil, wajahnya cemberut dan enggan melihat ke arah suaminya.


" Kenapa cemberut gitu, gak suka kalau mas jemput?" tanya Azka seraya menyalahkan mesin mobil.


" Mas pikir aja sendiri!" kesal Zaira yang hanya menoleh sekilas.


Azka tersenyum melihat isteri kecilnya yang sedang merajuk. " Iya maaf, tapi mas jemput kamu karena mas ada alasannya" ucap Azka hingga Zaira menoleh


" Apa alasannya?" Zaira penasaran menggeser duduknya menghadap Azka.


" Emmmm.." Azka menahan ucapannya dengan mengulum senyumnya lalu melakukan mobilnya.


" Apa, malah senyam-senyum gitu?" Zaira memberengut.


" Alasannya ya karena mas kangen sama kamu" jawab Azka dengan santai dan tersenyum tipis


" Apa, kangen?" tanya Zaira dengan ketidak percayaannya.


" Kenapa memang gak boleh kalau suami kangen sama isterinya sendiri?" Azka malah balik bertanya.


" Bukannya begitu mas, tapi tadi itukan mas sudah ngizinin aku buat ikut sama teman-teman aku ngejemput Mita yang akan pulang dari rumah sakit" tutur Zaira menjelaskan.


" Iya mas mengaku salah, tapi mas masih belum siap aja kalau nanti di rumah sakit kamu bisa saja kan bertemu dengan dokter itu" ucap Azka dengan sesekali menoleh ke arah Zaira dan kembali fokus menyetir.


" Jadi mas masih belum percaya sama aku?" tanya Zaira menyelidik


" Bukannya mas gak percaya, mas percaya kok sama kamu hanya saja_" Azka menggantung kata-katanya.


" Hanya saja apa?" Zaira menaikan sedikit alisnya


" Hanya saja mas tidak rela kalau isteri mas berdekat-dekatan dengan laki-laki lain" Azka menghela nafasnya berat.


" Mas!" panggil Zaira lirih.


" Iya... iya.. dia kakak kamu. maaf!" Azka menoleh sekilas.


Zaira meraih tangan kiri Azka dan menggenggamnya lalu tersenyum. " Mas tidak usah khawatir, di hati aku ini cuma ada mas seorang dan tidak akan ada laki-laki lain yang bisa masuk ke dalamnya karena semua isi hati aku sudah penuh dengan suamiku yang tampan ini" ucap Zaira dengan jujur.


Azka tertawa kecil membuat Zaira mengerutkan keningnya " kok malah ketawa sih?" Zaira kesal dan menarik tangannya tapi Azka malah mempererat genggamannya lalu mencium punggung tangan Zaira dengan lembut.


" Mas gak nyangka aja ternyata isteriku ini pandai merayu juga ya" Azka menepikan mobilnya kepinggir jalan.


" Loh kok berhenti mas?" Zaira melihat kesekeliling


Azka menggeser duduknya hingga menghadap ke Zaira. " Terima kasih ya sayang"


" Terima kasih, untuk?" Zaira bingung


" Untuk hatimu" jawab Azka yang langsung menarik Zaira ke dalam pelukannya.


Zaira terkejut dan sedetik kemudian ia pun membalas pelukan Azka.


" Yaudah bagaimana kalau sekarang kamu telpon Meli dan tanyakan dia sudah ada di mana sekarang" ucap Azka seraya melerai pelukannya.


" Untuk apa mas ?" Zaira dibuat bingung oleh Azka


" Ya menyusul mereka, daripada isteri mas disini sama mas tapi pikirannya ada disana"


" Gak usahlah mas, kita pulang saja"


" Yakin?" tanya Azka menekankan keputusan Zaira yang lebih memilih untuk pulang.


" Iya mas, tapi kita menginap di rumah mama ya mas, kasihan Lia sendirian di rumah pasti dia akan kesepian. kita beri dia kejutan ya mas" ucap Zaira sedikit memohonkan.


" Yaudah terserah kamu saja sayang, yang penting isteri mas ini tidak marah lagi sama mas" Azka mencubit hidung Zaira gemas.


" Ihhh mas sakit tau, senang banget sih mencubit hidung aku" Zaira mengerucutkan bibirnya.


" Habisnya kamu gemesin sih" Azka ingin mencubit hidung Zaira lagi tapi seketika Zaira menghindar.


" Mas ih" kesal Zaira dan membuat Azka tertawa lepas.


" Iya.. iya... gak lagi" Azka mengangkat kedua tangannya lalu kembali membenarkan posisi duduknya. " Kita pulang sekarang?" tanya Azka sambil kembali menghidupkan mesin mobilnya.


" Let's go " teriak Zaira seraya mangangkat tangannya ke depan. Azka tertawa melihat tingkah isteri kecilnya yang terlihat lucu baginya. Azka mengacak-acak rambut Zaira gemas setelah itu melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah mereka terlebih dahulu setelah itu baru ke kediaman orang tuanya.


*


*


*


Di rumah sakit sebelum pulang Mita menjalani pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter Ariel.


" Bagus, hasilnya sudah sangat bagus, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi jadi sudah boleh pulang" Ucap dokter Ariel tersenyum tipis. " Jangan lupa obatnya harus tetap diminum dan juga harus di habiskan. jangan terlalu capek dan perbanyak istirahat di rumah jika tidak ada yang penting sebaiknya di rumah saja sampai kondisi kamu benar-benar vit" pesan dokter Ariel setelah melakukan pemeriksaan.


" Baik dokter, terima kasih banyak" ucap Mita


begitu senang.


" Kalau begitu mama pergi mengurus administrasinya dulu ya sayang!" ucap Rosa yang hendak berdiri dan ingin pergi ke bagian administrasi.

__ADS_1


" Tidak perlu tante, untuk masalah administrasi semuanya sudah beres, Mita sudah boleh langsung pulang saja tante" ucap dokter Ariel.


" Maksudnya nak Ariel bagaimana ya, tante kurang paham" tanya Rosa bingung dengan penuturan dokter Ariel.


" Saya sudah melunasi administrasinya tante, semua inikan terjadi juga karena kesalahan saya yang kurang berhati-hati dalam menyetir jadi sebagai ucapan maaf saya yang bertanggung jawab sepenuhnya mengenai biaya pengobatan Mita." terang dokter Ariel.


" Seharusnya nak Ariel tidak perlu repot-repot seperti ini, semua juga terjadi tidak sepenuhnya atas kesalahan nak Ariel. Mita juga bersalah dalam kejadian tersebut karena kurang hati-hati dan tidak memperhatikan keadaan disekelilingnya" tutur Rosa yang merasa sedikit tidak enak.


" Yang dikatakan mama benar dokter, dalam kecelakaan tersebut juga saya turut bersalah karena tidak memperhatikan jalan" ucap Mita merasa bersalah.


" Kamu tidak perlu me_" ucap dokter Ariel terpotong saat Lia dan teman-temannya datang memberi salam.


" Assalamu'alaikum!" ucap Lia dan teman-temannya bersamaan.


" Wa'alaikum salam" sahut Rosa, Mita dan dokter Ariel yang langsung menoleh ke belakang.


" Siang tante, Mita" sapa Mona dan diikuti yang lain yang langsung menyalami tangan Rosa.


" Selamat siang dokter ganteng!" ucap Mona menyapa dokter Ariel.


" Selamat siang" sahut dokter Ariel ramah.


" Kalian semua baru pulang sekolah?" tanya dokter Ariel basa-basi


" Iya dokter" jawab Indah, Mona dan Mia bersamaan kecuali Lia yang diam saja dan bersikap cuek saat melihat dokter Ariel berada di ruangan Mita.


Dokter Ariel hanya melirik Lia sekilas, melempar senyum tapi tidak digubris oleh Lia yang malah melempar pandangannya ke lain arah.


" Mit gimana apa loe jadi pulang hari ini?" tanya Lia kepada Mita.


" Alhamdulillah, gue sudah di izinkan pulang hari ini" sahut Mita dengan wajah senang.


" Syukurlah,. pulang sekarang?" tanya Lia lagi.


" Hemmm" jawab Mita mengangguk.


Rosa tengah membereskan barang-barang milik Mita yang masih tersisa belum dikemas.


Sementara dokter Ariel tengah memperhatikan satu persatu teman-teman Mita.


" Za mana?" pertanyaan itulah yang tengah ditunggu-tunggu oleh dokter Ariel yang masih belum beranjak dari ruang inap Mita.


" Za tadi mau ikut kesini tapi_" kata-kata Mia terpotong oleh Indah yang menyambar obrolan.


" Za diculik!" timpal Indah asal ceplos membuat seorang pria yang sedari tadi menunggu kedatangan Zaira terperanjat dan membola.


" Za, apa Za yang kalian maksud itu Alzaira?" tanya dokter Ariel khawatir.


" Alzaira? dokter kenal dengan Za teman kami?" Mia balik bertanya kepada sang dokter.


" Al?" tanya Indah yang terlihat bingung.


" Maksud saya Alzaira" dokter Ariel meralat ucapannya. " Jadi apa benar Alzaira di culik?" tanyanya lagi yang terlihat jelas nampak begitu khawatir.


" Ah itu," Indah cengengesan " Za tidak kenapa-napa dokter, dia baik-baik aja" ucap Indah menggaruk-garuk kepalanya.


" Tapi tadi kamu bilang dia_" dokter Ariel tidak melanjutkan kata-katanya.


" Saya hanya asal bicara saja dokter" sahut Indah Santai.


" Maaf dokter apa anda mengenal dekat dengan Alzaira?" tanya Lia tiba-tiba membuat semua teman-temannya menoleh ke arahnya.


Dokter Ariel hanya melempar senyum setelah itu pamit. " Syukurlah kalau Al baik-baik saja" dokter Ariel tidak menjawab pertanyaan Lia.


" Kalau begitu saya permisi, sampai jumpa Mita, tante" pamit dokter Ariel lalu tersenyum ke arah teman-teman Mita. saat hendak melangkah keluar langkahnya terhenti tepat di depan Lia dokter Ariel tersenyum, senyum yang sulit diartikan.


Saat ini Lia dan teman-temannya sudah berada di rumah Mita, setelah dokter Ariel keluar dari ruangan Mita dibantu oleh teman-temannya yang memang sengaja datang untuk menjemputnya.


" Gaes ada yang mau nemenin gue gak malam ini?" tanya Lia tiba-tiba memecahkan keheningan.


Mona dan Mia yang asyik dengan ponselnya langsung menoleh ke arah Lia. sedangkan Indah sedang tidak ada karena dia berada di toilet dan Mita sedang minum obat di bantu oleh mamanya.


" Nemenin loe, jadi seriusan ni Za udah gak tinggal di rumah loe?" tanya Mia yang teringat dengan kata-kata Lia disekolah.


" Ya seriuslah ngapain gue bohong sih" Lia yang posisinya rebahan di kasur lantai langsung beranjak duduk.


" Tadi pagi nyokap sama bokap gue pergi ke kota J dan di rumah cuma ada bi Sum. ya kali aja kalian mau gitu menginap di rumah gue secara besokkan hari libur" ucap Lia membuat Mona dan Mia saling pandang.


" Oke gue nginep" sahut Mia dengan semangat.


" Kalau gue... emmmm yes deh" timpal Mona.


" Si Indah kira-kira mau gak ya?" tanya Mia nampak berpikir.


" Itu anak ngapain sih ke toilet aja lama banget?" tanya Lia menoleh ke arah toilet


" Bertelor kali tuh anak" jawab Mona ngasal


" Nah tuh!" tunjuk Mia tatkala Indah berjalan menghampiri mereka.


" Ndah loe mau ikut gak ke rumah Lia?" tanya Mona.

__ADS_1


" Ke rumah Lia ngapain?" tanya Indah seraya duduk di samping Mia.


" Minta ditemenin, kesepian dia malam Minggu sendirian, maklum jones" jawab Mona sedikit meledek.


" Kamp*ET loe, kayak gak jones aja loe" Kesal Lia melempar Mona dengan bantal.


" Senasib dan seperjuangan dilarang mengejek ya!" lanjutnya.


" Ha..haa..." Mona tertawa menimpali ucapan Lia.


" Eh sorry ya gue sih gak ikutan ya" sombong Indah.


" Maksud loe?" Mia mengernyit


" Ya gue gak senasib sama kalian karena gue_" Indah menggantung kata-katanya.


" gue apa?" Mia gak sabar sudah mendengar penuturan Indah.


" Sorry, gue udah gak jomblo gaes" ucap Indah dengan bangga


" Loe?" tunjuk Mona yang nampak begitu terkejut dengan pengakuan Indah.


" Iya gue udah jadian sama Dion, anak kelas 11 IPS 3 " sahut Indah yang sedikit merasa tidak enak karena baru memberitahu teman-temannya.


" Sejak kapan?" tanya Mona penasaran.


" Sebulan yang lalu" jawab Indah


" Sebulan?" Mona nampak terkejut bisa-bisanya Indah menutupi hal itu dari mereka. " Wah parah loe Ndah, kayaknya sudah gak nganggep kita sahabat lagi" Mona kecewa.


" Ya bukan gitu gaes, awalnya juga gue mau cerita ke kalian tapi waktunya belum pas karena saat itu pas banget momennya dengan kejadian Za dan Mario." Terang Indah menjelaskan.


" Sebenarnya gue sama Dion itu pacaran juga karena kita tuh dijodohin sama orang tua kita" lanjutnya.


" Dijodohin? loe sama Dion, kok bisa?" tanya Mia yang seakan tidak percaya.


" Jadi ternyata orang tua gue sama neneknya Dion itu kenal dekat dan sebelum almarhum ayahnya Dion meninggal, ayahnya tuh berpesan buat jodohin Dion sama gue. Ya karena nyokap dan bokap gue sudah menganggap neneknya Dion itu seperti orang tua sendiri jadi mereka menyetujui perjodohan ini" jawab Indah menjelaskan.


" Terus nyokapnya Dion gimana?" tanya Mia lagi yang merasa begitu penasaran sementara Lia dan Mita hanya menyimak saja.


" Nyokapnya Dion udah nikah lagi setahun ayahnya Dion meninggal. dan dia ninggalin Dion bersama neneknya pergi keluar kota" tutur indah menceritakan.


" Semoga loe langgeng terus deh Ndah sama Dion sampai ke pelaminan nyusul Za" ucap Mita yang sedari tadi diam menyimak semua pembicaraan para sahabat baiknya.


" Amin" jawab mereka serempak.


" Oia, Za" pekik Mia tatkala teringat dengan sahabatnya yang satu itu. " Li kata loe Za sudah gak tinggal di rumah loe, terus sekarang dia tinggal di mana? di rumah nyokapnya?" lanjut Mia yang benar-benar mencemaskan keadaan sahabatnya Alzaira.


" Gak dia gak tinggal di rumah nyokapnya tapi dia tinggal di rumahnya sendiri" sahut Lia.


" Maksudnya rumah sendiri?" tanya Mia polos.


" Ya rumah dia dan suaminya" jelas Lia.


" Za sama pak Bagaz sudah punya rumah sendiri?" tanya Mona mendekat ke arah Lia.


" Iya, kak Azka memaksa banget buat ngajak Za pindah. katanya sih pingin mandiri" kesal Lia kepada Azka sang kakak.


" Takut terganggu kali Li sama loe, kali aja mereka pingin buatin loe keponakan" celetuk Indah membuat ke empat sahabatnya mengerutkan kening mendengar kata-kata Indah yang terdengar sedikit fulgar menurut mereka ya meskipun mereka memang tidak sepolos itu.


" Wahh si Indah muntang-muntang udah di jodohin bahasanya sudah kesana aja ya" goda Lia kali ini mampu membuat indah merah merona dibuatnya menahan malu


" Apaan sih Li" indah mencubit pelan lengan Lia dan Lia pura-pura merintih kesakitan.


" Indah KDRT" Celetuk Mita dari tempat tidurnya.


" Apa sih Mita" kesal Indah yang digoda oleh para sahabatnya.


" Bye the way, sudah hampir jam 7 nih, balik yuk" ajak Indah mengalihkan pembicaraan.


" Cie yang mau malam mingguan" goda Mona dan Mia bersamaan


" Gak usah di godain terus, seharusnya kita tuh turut senang karena sekarang Sahabat kita yang satu ini udah gak jomblo lagi kaya kita-kita" sahut Lia seraya menepuk bahu Mia dan Mona yang memang duduk di antara dirinya.


" Bukan gitu gaes, gue itu cuma mau pulang dulu sebentar, ya setelah itu baru deh cuss kita menginap di rumah Lia.


" Ya gaes gue gak bisa ikut, sayang banget ya" lirih Mita menunduk.


" Loe kan baru sembuh Mita, next deh loe harus menginap di rumah gue." ucap Lia menghibur Mita.


" Iya gaess, gue ngerti kok. sehat terus ya kalian" ucap Mita menahan sedih.


" loe juga Mita" sahut Lia dan diangguki oleh Mita pelan.


Setelah waktu hampir menunjukkan pukul 7. 30 Mereka semua pamit.


Saat ini Lia sedang berada di rumahnya bersama teman-temannya. Setelah bersih-bersih dan berganti baju Lia langsung menuruni anak tangga menuju ke arah para sahabatnya yang kebetulan baru saja datang dan menunggunya di ruang TV.


Mereka menghabiskan waktu untuk bercerita tentang satu sama lain, tak jarang mereka sesekali diselingi dengan gelak tawa namun saat terdengar suara kaki melangkah


Lia dan teman-temannya pun berhenti tertawa dan mata mereka membola saat melihat pak Bagaz alias Azka tengah merangkul pinggang Zaira dan bahkan mendaratkan kecupan berkali-kali ke pipi Zaira. walaupun Zaira sudah menghindar karena merasa malu dan risih takut dilihat bi Sum tetap saja Azka berhasil mengecupnya hingga membuat Zaira tidak henti-hentinya tertawa karena merasa tingkah Azka suaminya ini terlihat konyol dan menyebalkan menurut Zaira. sementara para jones yang berada di bawah yang tengah memandangi sepasang suami istri yang tidak tahu malu ini tertegun dan tidak percaya kalau hubungan Zaira dengan gurunya itu sudah jauh di luar pemikiran mereka yang polos tapi gak polos-polos amat sih.

__ADS_1


Mata Zaira membola tatkala arah pandangnya tertuju ke arah ruang TV dimana adik ipar dan para sahabatnya kini tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


" Kalian!" ucap Zaira gugup dengan wajah yang sudah merah merona semerah kepiting rebus karena menahan rasa malunya atas apa yang telah Azka lakukan terhadapnya barusan .


__ADS_2