Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Sepupu


__ADS_3

Lia membeku di tempat, rasanya begitu sulit ia menelan salivanya.


Mario perlahan berjalan mendekat ke arahnya.


" Jadi selama ini gue salah paham ya?" tanya Mario tersenyum miris.


" Io!" pekik Lia


" Gue kira loe juga mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang gue rasain " Mario memberikan minuman yang ia bawa kepada Gladis.


Gladis yang melihat raut wajah kecewa Mario hanya bisa menahan senyum.


" Io gue_"


" Gak perlu loe jelasin apa-apa, semua sudah jelas dan gue berterima kasih atas kejujuran loe " Mario tertawa hambar.


" Gue... gue gak mau Io gara-gara gue hubungan loe sama pacar loe itu rusak" ucap Lia namun tidak digubris oleh Mario.


" Pacar? loe gak usah berdalih. gue tahu gue ini gak sepadan dengan Rangga cowok yang loe taksir selama ini, iya kan? apalagi dia sudah perhatian sama loe sekarang. gue mah siapa jika dibandingkan dengan dia" tutur Mario dengan menahan gejolak hatinya yang patah.


" Gue minta maaf kalau akhir-akhir ini gue udah mengganggu keseharian loe, dan mulai sekarang loe tenang aja gue gak akan ganggu hidup loe lagi. gue gak mau orang yang gue sayang merasa tidak nyaman dengan keberadaan gue!" Mario lalu pergi melengos begitu saja meninggalkan Lia yang masih diam mematung.


Gladis menghampiri Lia " Gue tanya sekali lagi, apa loe yakin gak ada rasa sedikit pun terhadap Mario?" tanya Gladis membuat Lia menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


" Asal loe tau Li, Mario itu sayang banget sama loe sampai dia berubah hanya buat loe, dia berharap bisa pantas berada di samping loe" tutur Gladis.


" Sebenarnya mau loe itu apa sih, gak jelas banget?" tanya Lia dengan sedikit emosi.


" Mau gue cuma satu loe jujur dengan perasaan loe sendiri. Dan satu hal lagi yang harus loe tau kalau memang loe sayang sama Mario gue adalah orang pertama yang akan mendukung kalian. Mario itu sayangnya sama loe bukan sama gue karena gue ini adik sepupunya Mario bukan pacarnya" terang Gladis dengan tawa yang mengembang.


" Sepupu, jadi loe bukan pacarnya Mario?" tanya Lia, dan Gladis tanpa merasa bersalah hanya menjawab dengan gelengan kepala lalu tersenyum.


" Sudah sana kejar, gue tau loe juga sebenarnya sayangkan sama bang Io loe itu?" ledek Gladis menyenggol bahu Lia membuat Lia langsung merona.


" Sorry, gue tadi cuma mau memastikan aja biar loe tuh jujur sama perasaan loe sendiri tapi ya emang dasar loe tuh ya berdua samanya pada gengsi aja di gede-gede in!" kesal Gladis sambil melipat kedua tangannya di dada.


" Mario juga baru segitu aja sudah nyerah, payah juga tuh anak!" ejek Gladis.


" Tapi benarkan loe itu suka sama Mario, jujur aja sama gue gak usah pakai malu segala!" tebak Gladis sedikit menaik turunkan alisnya.


" Gue gak tahu, tapi ya jujur sih setiap kali jalan sama dia gue merasa nyaman aja dan lihat dia pergi kayak tadi gue merasa kesal aja" sahut Lia menghela napasnya panjang.


" Fix ini sih, kalau sebenarnya kalian itu sama-sama suka, cuma pada gengsi" celetuk Gladis lalu tertawa.


" Ah sok tau loe" Lia tersenyum malu-malu.


" Udah mending loe ikut gue aja sekarang!" ajak Gladis menepuk bahu Lia


" Kemana?" tanya Lia


" Sudah ikut aja!" Gladis langsung menarik tangan Lia begitu saja.


" Loe emang ya sebelas dua belas sama tuh orang"


" Maksud loe?" tanya Gladis menaikkan alisnya


" Suka maksa" sahut Lia tertawa kecil


" Ha .ha.." Gladis pun ikut tertawa.


Gladis mengajak Lia menghampiri Mario yang tengah menunggu Gladis di parkiran motor namun tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang memanggil nama Lia.


" Lia!" panggil seseorang dari belakang. Lia yang merasa namanya di panggil langsung menoleh dan terlihatlah Rangga yang setengah berlari mengarah ke Lia yang berdiri bersama Gladis.


" Loe kemana aja dari tadi gue cariin kok ngilang gitu aja sih?" tanya Rangga setelah berdiri di depan Lia.


" Owh, gue tadi pergi nih sama teman gue. kenalin namanya Gladis!" ucap Lia dan memperkenalkan Gladis pada Rangga


" Gladis!"


" Rangga!"


Keduanya saling menyebutkan nama masing-masing dan berjabat tangan.


" Kak, yang lain pada kemana?" tanya Lia yang teringat dengan teman-temannya.


" Za tadi pulang duluan bersama pak Bagaz kalau yang lain setelah nyariin loe kayaknya mereka memutuskan untuk pada makan deh di cafe depan mall" sahut Rangga.


" Ponsel loe kenapa gak diangkat sih?" tanya Rangga


" Oh sorry gue gak tahu ponsel gue tadi di silent jadi gak kedengaran " jawab Lia apa adanya.

__ADS_1


" Loe mau kemana, mau langsung pulang atau mau ke tempat teman-teman loe dulu? biar gue antar!" tawar Rangga.


" Gue_" Lia menoleh ke arah Gladis.


" Udah loe pergi aja, kasihan teman-teman loe pasti mereka khawatir, urusan kita bisa lain waktu dan serahin aja sama gue" ucap Gladis yang tahu maksud dari tatapan Lia.


" Tapi loe_?"


" Tenang aja, loe serahin sama gue deh, bikin galau sedikit gak apa-apa kali ya?" bisik Gladis lalu sedikit tertawa


" Jahat loe!" ucap Lia pelan yang malah mengundang tawa Gladis


" Cie gak tega nie, tenang aja gak bakal gue apa-apain kok tuh anak" bisiknya lagi lalu tertawa


" Pada ngomongin apa sih?" tanya Rangga yang jadi penasaran dengan obrolan Lia dan Gladis.


" Ah gak ada, cuma omongan cewek aja kok" bukan Lia yang menjawab tapi Gladis karena Lia masih melotot ke arahnya


" Yaudah gue pamit ya, gue senang banget hari ini bisa ketemu sama loe Li, kapan-kapan bisakan kita bertemu lagi" ucap Gladis sambil berpamitan.


" Boleh, gue juga senang kok, ternyata loe gak menyebalkan seperti yang gue kira" sahut Lia lalu tertawa


" Si*lan loe!" Gladis tertawa memukul bahu Lia pelan.


" Rangga gue pamit ya, nitip Lia. ingat jangan diapa-apain ya calon kakak ipar gue nih!" celetuk Gladis membuat Rangga mengerutkan keningnya dan Lia tertawa.


" Jangan di dengerin dia mah kalau ngomong suka asal" ucap Lia


Setelah Gladis pergi Rangga dan Lia pun pergi ke cafe di mana teman-temannya saat ini tengah berkumpul dan di sepanjang jalan Rangga berusaha mengajak Lia sesekali mengobrol.


" Li yang tadi itu teman loe kenal dimana?" tanya Rangga mengawali obrolannya.


" Gladis?" tanya Lia dan Rangga mengangguk


" Dia itu adik sepupunya teman gue, kenapa memangnya?" tanya Lia balik


" Gak kenapa-napa sih"


" Cantik ya?" tanya Lia membuat Rangga malah salah paham.


" Cantik tapi lebih cantik loe" gombal Rangga yang malah ditanggapi malas oleh Lia


" Kalau cewek kenapa dan kalau cowok juga kenapa?" tanya Lia memincingkan matanya.


" Ya gak kenapa-napa sih" Rangga salah tingkah sendiri.


" Yaudah kalau gitu" ketus Lia yang Langsung berjalan begitu saja meninggalkan Rangga yang malah tersenyum dengan tingkah Lia yang sedikit jutek tapi menurutnya semakin menggemaskan saja.


Rangga mengikuti Lia dari belakang dan saat mereka tengah berjalan beriringan Mario melintas di depan keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Lia menatap lekat Mario yang perlahan berjalan masuk ke dalam cafe di mana Mona, Mia, Mita dan Indah tengah menunggunya disana.


Lia masuk ke dalam cafe bersama dengan Rangga, dan mereka berjalan melewati meja di mana Mario tengah duduk seorang diri.


Tatapan mata Lia sesekali menoleh ke arahnya, ada rasa tidak enak dan juga rasa bersalah tapi tadi Gladis memintanya untuk bersikap biasa saja dan ingin membuat Mario bersikap tegas terhadap hatinya sendiri.


Mario mengepalkan tangannya kuat saat Lia melintas di hadapannya.


Kini Rangga dan Lia sudah bergabung dengan Mita, Mia, Mona dan juga Indah.


Mereka semua marah-marah pada Lia yang menghilang begitu saja bahkan dihubungi pun tidak bisa. Lia sedikit mengarang cerita menjawab pertanyaan teman-temannya dan untung saja mereka pada percaya dengan ceritanya.


Setelah hari sudah mulai beranjak sore mereka akhirnya memutuskan untuk pulang dan disaat Rangga menawarkan untuk mengantar Lia tapi lagi-lagi Lia justru menolaknya membuat para sahabatnya merasa sedikit aneh dengan sikap Lia yang terlihat dingin terhadap Rangga padahal yang mereka tahu dari dulu Lia itu sangat menyukai Rangga.


Walaupun merasa sedikit kecewa tapi Rangga berusaha untuk memakluminya karena dia juga sadar kalau dia pernah mengecewakan Lia.


Setelah berpencar dari Rangga Mereka yang tengah asik mengobrol tidak disangka saat mereka hendak berjalan menuju mobilnya tiba-tiba ada beberapa orang berbadan kekar dan berpakaian serba hitam menghadang jalan mereka.


Sontak Lia dan teman-temannya terkejut dan juga sangat ketakutan.


" Lia mereka siapa?" tanya Mona yang sudah berdiri di belakang Lia.


" Gue juga gak tau mereka siapa?" jawab Lia berusaha untuk bersikap tenang.


" Kalian ini mau apa, kenapa menghalangi jalan kami!" tanya Lia dengan nada ketus


" Kalian tidak perlu tahu siapa kami, dan sebaiknya kalian menurut dan ikut dengan kami" jawab dari salah satu orang-orang yang berbaju hitam tersebut.


" Kami tidak mau ikut kalian" sahut Mona dengan suara lantang.


" Kalian jangan menolak, jika tidak mau kami berbuat kasar" sahutnya lagi dengan wajah sangar

__ADS_1


" Jika kalian berani macam-macam maka kami akan berteriak" ancam Mia dengan sedikit gemetar.


" Teriak saja nona kami tidak akan takut, jika kalian berani berteriak maka kalian akan tahu sendiri akibatnya" pria tersebut mengeluarkan senjata tajam dari saku celananya.


Mia semakin gemetar begitu juga dengan Mona dan Indah yang nampak begitu syok.


Lia merasa geram namun tetap berusaha untuk tetap tenang, dia tidak mau bertindak gegabah dan membuat teman-temannya celaka.


" Cepat ikut kami!" ucap salah satu dari mereka dengan mengancam menggunakan pisau.


" Apa sebenarnya mau kalian hah?" teriak Mona yang sok berani namun sedetik kemudian langsung menciut.


Para pria berbaju hitam tersebut tidak menggubris pertanyaan Mona, Mereka tidak mau berbasa-basi lagi dan langsung menyeret dengan paksa Lia dan teman-temannya untuk masuk ke dalam mobil


" Lepaskan kami!"


" Lepas!"


Mereka semua memberontak namun tetap saja tenaga mereka kalah besar. Mia dan Indah menangis ketakutan, Mona terus berontak dengan sumpah serapahnya sementara Lia dan Mita tetap berusaha untuk bersikap tenang.


Mia dan Indah saling memeluk mereka terlihat begitu ketakutan, Mona yang sedari tadi berisik mengoceh akhirnya terdiam karena mendapat bentakan dari salah satu pria tersebut.


Mona langsung berhambur memeluk Mia dan Indah, sementara Mita dan Lia tetap terlihat tenang walaupun sebenarnya mereka juga merasakan ketakutan yang sama dengan teman-temannya. Lia dan Mita sedang berpikir siapa sebenarnya yang ingin menculik mereka dan apa tujuannya.


Mobil melaju melewati area hutan, tempatnya sangat suram dan begitu menakutkan. Mia, Indah dan Mona sudah nampak gemetar. jalannya yang sepi dan gelap membuat pikiran mereka berkelana kemana-mana.


" Gaess apa kita akan dibuang di dalam hutan yang sangat menyeramkan ini?" tanya Mia dengan tubuh gemetar dan pipi yang basah karena masih saja menangis.


" Mia loe yang tenang, sisakan tenaga loe. jangan menangis terus. kita gak boleh putus asa pasti akan ada jalan keluarnya." ucap Lia menenangkan Mia


" Gue takut Li, gua gak mau mati" ucap Mia ngelantur membuat Mita kesal dan menoyor kepala Mia.


" Bodoh, kalau ngomong tuh jangan sembarangan. kita pasti akan baik-baik aja asalkan kita harus bersikap tenang dan mencari cara agar bisa lepas dari mereka" ucap Mita kesal dengan ucapan Mia.


" Ma.. maaf!" ucap Mia dengan masih sesenggukan.


Lia yang tidak tega melihat Lia begitu ketakutan langsung mendekatinya dan langsung memeluknya.


" Loe tenang ya Mia, kita pasti akan baik-baik aja, kak Azka pasti akan menolong kita" ucap Lia berusaha untuk menenangkan Mia.


" Tapi bagaimana caranya Li, loe kan tahu sendiri ponsel kita semuanya udah diambil sama mereka." sahut Mia


" Pasti ada cara lain Mia, kita gak boleh menyerah apalagi putus asa"


" Gue tetap aja merasa takut Li" Mia mengeratkan pelukannya kepada Lia.


" Mia dengarkan gue ya, pasti akan ada seseorang yang datang nolongin kita. loe percaya sama gue oke!"


" Siapa Li, saat ini gak ada yang tahu kita ini sedang berada di mana" Mia menatap ke arah luar mobil yang semakin masuk ke dalam hutan dan hari pun semakin gelap.


Mobil tiba-tiba berhenti membuat Lia dan teman-temannya semakin takut dan cemas.


" Li gue takut" ucap Mia


" Loe tenang dulu ya Mi!"


Grekk


pintu mobil dibuka seorang pria berbadan kekar dengan berbaju hitam berdiri di depan pintu.


" Keluar!" bentaknya membuat Mia, Mona dan Indah memberingsut ketakutan.


" Ayo cepat keluar atau kalian mau diseret hah!" bentaknya lagi.


Lia memberanikan untuk turun lebih dulu disusul oleh Mita kemudian Mona, Mia dan indah.


Lia yang melihat tubuh Mia gemetar dan lemas dengan cepat langsung merangkulnya.


" Tenang Mia!" bisik Lia dan Mia mengangguk Pelan.


Para pria tersebut membawa Lia dan teman-temannya masuk ke dalam gedung tua. tempatnya sangat sepi dan gelap hanya ada penerangan dengan lampu seadanya.


" Cepat jalan!" bentak penjahat tersebut


Setelah berada di dalam gedung tua tersebut mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang kotor dan berdebu.


Mia terbatuk-batuk tidak biasa dengan debu begitu juga dengan Indah dan Mona sedangkan Mita berusaha untuk mengatur napasnya yang begitu terasa sesak berada di ruangan kotor seperti itu. sementara Lia sedang mencari celah untuk jalan keluar. untuk kondisi seperti ini Lia yang terlihat lebih tenang karena dia pernah merasakan hal yang sama bahkan lebih.


Lia dan teman-temannya terlonjat kaget saat pintu ruangan tersebut terbuka nampak seorang wanita cantik dengan menggunakan baju yang sangat seksi, di belakang wanita tersebut berdiri beberapa pria berotot besar membuat Lia dan teman-temannya menciut ketakutan.


" Loe?" ucap Lia dan teman-temannya secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2