
Di sebuah rumah yang tidak luas dan tidak juga kecil Zaira tengah menyibukkan dirinya sendiri di dapur untuk membuat sarapan.
Mbok Iyem datang menghampiri Zaira yang sibuk dengan nasi goreng yang sedang dibuatnya. " Duh maaf ya non si mbok kesiangan ya non, sampai non Za membuat sarapan sendiri?" mbok Iyem merasa bersalah.
" Gak kok mbok, Za lagi kepingin aja buatin mas Azka sarapan" ucap Zaira dengan tersenyum ramah.
" Kalau begitu apa yang bisa si mbok bantu non?" tanya mbok Iyem
" Emmm... kayanya gak ada deh mbok, semua sudah beres" sahut Zaira setelah menata masakannya di atas meja makan.
" Za permisi dulu ya mbok, mau membangunkan mas Azka" ucap Zaira dengan senyum manisnya
" Iya non!" si mbok menatap Zaira yang pergi ke lantai dua untuk membangunkan suaminya.
" Non Zaira selain cantik, pandai memasak juga sangat sopan dan lembut. sungguh beruntung den Azka memiliki isteri seperti non Zaira. walaupun masih sekolah tapi tidak melupakan statusnya sebagai seorang isteri" gumam mbok Iyem dalam hati yang begitu kagum dengan sosok isteri kecil tuan mudanya.
Zaira kini sudah berada di dalam kamar, dilihatnya Azka masih berada di dalam selimut. Ia pun mendekatkan dirinya ke wajah tampan sang suami yang masih memejamkan mata dan jarinya perlahan sudah menempel di wajah Azka dan membelainya lembut.
" Ya Tuhan tampan sekali wajahnya pantas saja banyak cewek-cewek yang naksir. nyebelin tau gak?" gumam Zaira kesal dan tanpa sadar sedikit menekan jemarinya di wajah Azka sampai membuat mata Zaira langsung membulat karena melihat mata Azka yang tiba-tiba terbuka dan menatapnya tajam.
" M..mas sudah bangun?" Zaira cengar-cengir menutupi rasa malunya yang kepergok memperhatikan wajah suaminya.
Zaira bangkit dan sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Azka namun belum sempat menegakkan badan tubuh Zaira sudah ditarik kencang oleh Azka sampai Zaira terjatuh di atas tubuh kekarnya.
" Mas!" lirih Zaira saat Azka memeluk tubuhnya dengan erat.
" Hemmm!" jawab Azka singkat.
" Bangun yuk, mandi setelah itu sarapan!" ucap Zaira yang berusaha bangun dari atas tubuh kekar suaminya.
" Mas mau sarapan kamu aja sayang" ucap Azka yang langsung memutari tubuhnya sehingga posisi mereka telah berganti Zaira yang kini berada di bawah dalam kungkungan tubuh Azka.
" Mas ihhh cepat bangun, nanti kita bisa terlambat kalau kaya gini terus!" kesal Zaira
" Siapa yang memulai sayang, kenapa tadi kamu diam-diam memandangi wajah tampan suamimu ini" ucap Azka gemas dan menoel hidung Zaira.
" Baiklah pagi ini kamu selamat sayang tapi nanti malam mas tidak menjaminnya" Azka bangkit dari atas tubuh Zaira dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Setelah Azka masuk ke dalam kamar mandi Zaira yang masih diam di atas tempat tidur berusaha untuk meredam ketegangan akibat ulah suaminya itu. Zaira menarik napas dalam-dalam dan menetralkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah merasa tenang Zaira turun dari tempat tidur dan menuju lemari pakaian, ia mengambil seragam sekolah yang akan ia kenakan dan juga menyiapkan baju untuk suaminya.
Setelah selesai memakai baju seragam dan meraih tas sekolahnya Zaira memilih turun lebih dulu karena takut kalau suaminya akan kembali menjahilinya.
Azka keluar dari kamar mandi karena tidak melihat keberadaan isterinya Azka bergegas memakai pakaiannya setelah itu menyusul Zaira yang sudah menunggunya di meja makan.
Usai keduanya sarapan Azka bersama Zaira berangkat ke sekolah, awalnya Zaira menolak untuk berangkat bersama dengan suaminya namun Azka memaksanya dengan wajah yang memberengut ia pun mengiyakannya.
Zaira turun dari dalam mobil, setelahnya Azka menyusul. Zaira pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu, bukan tanpa alasan Zaira bersikap begitu, itu karena dia tidak ingin ada yang melihatnya keluar dari dalam mobil Azka.
Zaira jalan dengan tergesa-gesa, Azka yang berjalan santai di belakangnya hanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
Azka berjalan menuju ruang guru sementara Zaira pergi ke kelasnya. Saat Zaira hendak berbelok menuju di mana letak kelasnya berada seseorang dari belakang tiba-tiba menarik tangan Zaira dengan kasar dan menghempaskan tubuh Zaira hingga membentur dinding di belakang sekolah.
" Loe!" Mata Zaira membulat saat melihat sosok cowok yang kini berada di hadapannya.
" Kenapa kaget?" tanya cowok yang kini tengah menyeringai meremehkan.
" Apa mau loe hah?" ucap Zaira geram merasa muak dengan sosok cowok yang menurutnya sok ganteng dan sok berkuasa di sekolahnya.
" Ha..ha.." Mario cowok yang membuat Zaira muak tertawa mendengar pertanyaan Zaira.
" Gue gak mengerti maksud loe dan gue juga gak ada urusan sama loe. mending loe minggir !" Zaira hendak melangkah pergi menerobos Kungkungan Mario namun baru berjalan dua langkah tangan Zaira sudah di tarik kembali oleh Mario.
" Lepas!" sentak Zaira kesal menghempaskan tangannya dengan kasar membuat pegangan tangan Mario akhirnya terlepas.
" Loe jangan kurang ajar ya!" tunjuk Zaira dengan tegas.
" Loe gak usah munafik, gue tahu loe itu cewek macam apa. pantas selama ini loe nolak semua cowok yang nembak loe" ucap Mario dengan senyum yang sulit di artikan.
" Termasuk loe?" tambah Zaira dengan berani.
" Loe!" tunjuk Mario dengan penuh amarah.
" Kenapa, memang benarkan?" Zaira berusaha untuk tidak lemah dihadapan cowok yang terkenal nekat dan bereng*ek.
" Loe tahu loe berhadapan dengan siapa?" Mario menatap nyalang ke arah Zaira.
__ADS_1
" Gue gak peduli siapa loe, yang gue pinta loe sekarang jangan pernah ganggu gue lagi kalau gak- !" ancam Zaira yang langsung dipotong oleh Mario.
" Kalau gak apa?" Mario mencekal pergelangan tangan Zaira dengan kuat sampai Zaira meringis kesakitan.
" Loe itu milik gue dan loe harus mau menjadi pacar gue, ngerti?" ucap Mario penuh penekanan.
" Gak akan, lepas!" teriak Zaira dan berusaha melepaskan tangannya namun semakin ia berontak semakin erat Mario menggenggam pergelangan tangan Zaira.
Mario tersenyum kecut lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Zaira yang dengan cepat melangkah mundur.
" Loe..loe mau apa, jangan gi*a loe?" tanya Zaira dengan gugup karena Mario semakin nekat.
" Sudah gue bilang bukan loe itu harus jadi milik gue, dan sekarang mari kita bersenang-senang sayang!" Mario menyeringai jahat.
" Loe jangan macam-macam Rio, gue mohon lepasin gue!" Zaira merasa ketakutan karena Mario termasuk orang yang nekat dan Zaira takut Mario berbuat hal gi*la.
" Ha...ha...!" Mario tertawa jahat dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zaira yang sudah membentur dinding dan tidak bisa bergerak lagi.
Tubuh Zaira bergetar, ia begitu takut Mario akan menyakitinya. " Mario!" panggil Zaira lirih namun hal itu semakin membuat Mario semakin tertarik untuk berbuat lebih.
Saat jarak diantara mereka semakin terkikis dan hampir saja Mario mendaratkan bibirnya di bibir Zaira bogeman mental sudah lebih dahulu mendarat di wajah Mario.
" Bere**sek!" Geram pria dewasa yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Azka melampiaskan amarahnya kepada Mario yang sudah berani-beraninya mengganggu dan melecehkan isteri kecilnya. Dengan membabi buta Azka memukuli Mario tanpa ampun sampai beberapa siswa yang melihatnya dengan cepat langsung melerai dan menahan tubuh Azka yang tidak memberi ampun sedikit pun kepada Mario yang sudah babak belur.
Mario bukannya takut dan merasa bersalah ia malah tersenyum getir dan seakan ada maksud tertentu di balik senyumnya.
Azka dan Mario dibawa ke ruang guru BK, begitu juga Zaira yang tidak henti-hentinya menangis. ada yang merasa kasihan melihat Zaira ada pula yang mencibir karena tidak suka dengan Alzaira.
" Za!" panggil Mita dan Lia yang menghampiri Zaira saat berjalan menuju ruang guru BK.
" loe gak apa-apa kan Za, sebenarnya apa yang terjadi sama loe Za?" tanya Lia cemas.
Zaira hanya menggeleng dan lagi-lagi tangisnya pecah mengingat kejadian yang tadi menimpanya.
Lia merasa terkejut karena Zaira terlihat begitu terguncang tanpa banyak kata lagi Lia langsung membawa Zaira ke dalam pelukannya.
__ADS_1
" Za!" Lia mengusap punggung Zaira lembut mencoba menenangkan. Azka yang melihat Zaira menangis semakin dibuat geram dan tangannya pun mengepal dengan kuat.
Lia yang melihat sorot kemarahan di wajah sang kakak mencoba menenangkan dengan isyarat matanya lalu menggeleng pelan memberitahu kalau Zaira akan baik-baik saja.