Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kebimbangan


__ADS_3

Saat ini Lia dan Mario tengah duduk di sebuah ruangan yang biasa Mario gunakan untuk memeriksa semua laporan tentang kedai tersebut.


Lia menatap tegang wajah laki-laki yang kini tengah duduk di hadapannya. Lia dan Mario sengaja izin pamit kepada yang lain karena tidak ingin merusak suasana yang ada.


Mario tahu kekhawatiran yang ada di benak Lia saat ini dengan lembut Mario mengusap punggung tangan Lia seakan berkata semua pasti akan baik-baik saja.


" Kak!" panggil Lia lirih membuat laki-laki yang kini berada di hadapannya mendongak seraya tersenyum.


Laki-laki itu tersenyum lalu menoleh ke Mario seakan memintanya persetujuannya. setelah Mario mengangguk pelan laki-laki meraih tas yang dibawanya lalu mengeluarkan amplop coklat yang ada di dalam tas tersebut.


Lia menatap lekat amplop yang laki-laki itu letakkan di atas meja.


" ini?" ucap Lia penuh tanya


" Buka saja!" ucap Mario menyuruh Lia membuka amplop tersebut.


Lia meraih amplop yang ada di atas meja lalu perlahan jari lentiknya membuka amplop tersebut. mata Lia seketika membola dan menutup mulutnya dengan tangannya merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya.


" I..ini?" ucap Lia terbata-bata


" Ini bohongkan? ini pasti salah orang!" ucap Lia yang nampak ragu dengan foto yang baru saja ia lihat, Lia menatap Mario seolah bertanya dan Mario hanya bisa mengelus lembut punggung Lia.


Laki-laki yang duduk di hadapannya yang tidak lain adalah Arta langsung menjelaskan kepada Lia dan Mario tentang informasi yang telah ia dapat beberapa hari lalu.


Lia nampak terkejut dan sedikit berpikir keras saat wajah sahabatnya tiba-tiba muncul dalam benaknya ketika Arta mengatakan berita yang didapatnya.


" Lalu bagaimana dengan Mita kak?" tanya Lia begitu terdengar lirih


" Mita?" tanya Arta mengerutkan keningnya.


" Mita adalah tunangannya dan sekaligus sahabat baik isteriku kak . karena itu aku meminta bantuan kakak untuk mencari tahu tentang dokter itu." ucap Mario yang paham dengan arti raut kebingungan di wajah Arta langsung memberitahu siapa Mita.


" Tunangan?" tanya Arta memastikan


" Iya kak, bahkan mereka hampir saja menikah jika saja Mita tidak menerima pesan dari nomor tidak dikenal tentang foto itu." ucap Lia memberitahu.


" Lalu apa rencana kalian sekarang?" tanya Arta kepada Mario dan Lia


" Aku tidak tahu kak, rasanya aku tidak akan sanggup untuk mengatakannya langsung kepada Mita, apalagi Mita selalu mengatakan ingin dokter Ariel sendiri yang mengatakannya langsung" ucap Lia sendu.


Semenjak Mario mengatakan ingin meminta bantuan kepada Arta untuk mencari informasi mengenai dokter Ariel, hampir setiap hari Lia diliputi rasa penasaran sekaligus cemas. terlebih hari ini sesaat sebelum turun dari mobil Mario mengatakan kepada Lia kalau Arta yang tidak lain adalah kakak sepupunya sekaligus asisten pribadinya ingin bertemu dengan mereka dan tentu saja hal itu membuat rasa penasaran Lia menjadi bertambah dua kali lipat. apalagi mereka janjian ditempat yang sama dimana disana juga akan ada Mita.


" Kalau seperti itu keadaannya, saran kakak kalian berpura-pura saja tidak tahu tentang masalah ini. apalagi kemungkinan besar dokter itu juga memang dilanda kebingungan untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada sahabatmu itu. ya walaupun kakak nilai dia terlalu egois jika terus menerus menundanya. karena bagaimanapun sahabatmu lah disini yang sangat di rugikan" tutur Arta.


"Tapi apa aku bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa kak disaat aku melihat wajahnya yang setiap hari terlihat murung?" Lia nampak sedih.


" Sayang, kamu bisa memberitahu Mita pelan-pelan nanti, tapi sebelum kamu menceritakan semuanya kamu harus memastikan terlebih dahulu suasana hatinya" ucap Mario.


" Tapi Io aku gak tega melihat Mita bersedih"


" Semakin cepat dia tahu maka semakin cepat pula Mita mengambil keputusan untuk menentukan masa depannya sayang" ucap Mario menenangkan hati Lia


" Iya apa yang kamu katakan memang ada benarnya tapi bagaimana cara mengatakannya?"


" Cari waktu yang tepat, kalau tidak ajak dia ke suatu tempat yang bisa membuat dia merasa tenang baru setelah itu dengan perlahan kamu ceritakan semuanya. untuk masalah kedepannya biarkan Mita sendiri yang menentukan apakah masih mau menerima dokter Ariel atau memilih untuk menyudahinya" ucap Arta memberi sedikit masukan kepada Lia


" Benar apa yang dikatakan kak Arta sayang, ya syukur-syukur dokter itu sudah lebih dulu mengatakannya kepada Mita" Mario menambahi.


" Baiklah kalau begitu" ucap Lia seraya tersenyum hambar.


" Ya sudah kak Arta silahkan lanjutkan menikmati baksonya, kalau ada yang kurang kakak bilang saja ya sama Mario" ucap Lia seraya beranjak dari duduknya.


" Aku pamit kembali yang lain ya Io, kak Arta!" pamit Lia yang diangguki oleh keduanya.


Lia menghampiri tempat di mana teman-temannya berada, Lia berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.


" Bagaimana baksonya, ada yang mau tambah gak nih?" tanya Lia pada saat sudah bergabung dengan yang lainnya.


" Gue sudah pesan dua kali Li, ajib baksonya enak banget tempatnya juga keren abis" ucap Indah yang diacungkan jempol oleh Mia.


" Loe kok bisa sih Li tahu tempat sekeren ini?" tanya Mona.


" Loe emang gak tau Mon, ini kedai milik Mario loh yang dia buat sedemikian rupa untuk melamar Lia?" ucap Zaira membuat para sahabatnya tercengang

__ADS_1


" Serius loh Za?" tanya Mona


" Seriuslah" jawab Zaira


" Jadi kedai ini dibuat Mario buat loe Li?" tanya Mona lagi kepada Lia.


Lia hanya tersenyum menjawab pertanyaan Mona.


" Gak nyangka ya Mario bisa seromantis itu!" Ucap Mia


" Iya, bukan cuma romantis dia itu benar-benar sudah bikin Lia bak putri raja"timpal Indah


" Terlalu berlebihan loe Ndah" ucap Lia


" Loe gak tau aja Li kalau disekolah tuh loe sama Mario menjadi trending topik setiap hari, apalagi saat loe sering berangkat bareng laki loe, bikin orang pada iri ngeliatnya. ya secara loe kan tahu sendiri Mario itu dulunya kayak apa, dan semenjak Mario sama loe mereka jadi sering nungguin loe berdua di gerbang sekolah kalau pagi " ucap Indah


" Ngapain?" tanya Lia


" Ya cuma buat ngeliat Mario doang, soalnya Mario kalau lagi sama loe doang dia tersenyum selebihnya pasti dia kembali bersikap dingin dan cuek" sahut Indah.


" Loe memang hebat ya Li bisa menaklukan manusia sedingin Mario!" ucap Mona


" Es balok kali dingin!" sahut Lia cengar-cengir.


" Oiya Li, Mario mana?" tanya Azka yang baru datang dari toilet


Lia menoleh ke arah Azka " Lagi bersama kak Arta kak diruangannya" sahut Lia


" Apa ada urusan kantor yang penting sampai Arta datang kesini mencari Mario?" tanya Azka


" Gak ada kak tadi kak Arta cuma kebetulan mampir aja kok" sahut Lia sedikit berbohong.


" Kalau begitu kakak kesana dulu ya" ucap Azka iya kak.


" Iya kak" sahut Lia


" Sayang, mas ke ruangan Mario dulu ya!" pamit Azka yang langsung di angguki oleh Zaira.


" Mita loe gak apa-apa?" tanya Lia yang sedari tadi tiada henti memperhatikan Mita.


" Gue gak apa-apa" sahut Mita seraya tertawa hambar


" Syukurlah" ucap Lia yang sebenarnya dalam hatinya dia merasa sedikit bersalah karena belum bisa mengatakan kepada Mita.


" Loe kenapa Li?" tanya Mita balik saat melihat raut wajah Lia yang nampak suram.


" Iya, kenapa?" tanya Lia setelah terkesiap dari lamunannya.


" Loe kenapa melamun?" tanya Mita membuat Lia menggaruk tengkuknya.


" Gak apa-apa" sahut Lia lalu nyengir kuda.


" Dia itu paling lagi traveling memikirkan making love dengan Mario malam ini setelah beberapa hari puasa, bukan begitu nyonya Mario?" goda Zaira


" Wah parah loe Za, bumil ya kalau ngomong gak pakai disaring" ucap Lia


" Maklum Li yang berpengalaman mah beda" timpal indah


" Loe banyak belajar deh Li sama kakak ipar loe yang satu ini" ucap Mona mengusulkan


" Buat apa belajar soal yang satu itu sih sudah ada keahliannya sendiri meskipun belum berpengalaman juga" sahut Lia sambil terkekeh


" Cie yang sudah punya jurus sendiri?" goda Zaira


" Iya dong masa mau ikutan jurus orang sih, cari jurus sendiri buat gaya yang berbeda dari yang lain" ucap Lia begitu absurd


" Udah dong masa ngomongnya ke arah situ sih, kasihan dong sama gue dan Mona yang jomblo gini" ucap Mia


" Gue sih jomblo juga bukan jomblo ngenes ya, gak kayak loe" ucap Mona sedikit menyombongkan diri


" Ya sama aja kali intinya sama-sama jomblo" protes Mia


" Bedalah, kalau gue jomblo laku yang jual mahal kalau loe_" ucap Mona menjeda ucapannya sambil terkekeh

__ADS_1


" Parah loe Mon, loe kira gue gak laku gitu?" sarkas Mia


" Buktinya loe masih jomblo !" ledek Mona


" Ya karena gue memang belum mau pacaran" sahut Mia sedikit beralasan


" Masa sih?" Mona kembali meledek


" Iyalah, kalau gue mau juga gue bisa langsung nikah gak pakai pacaran" ucap Mia


" Iya... iya... gue percaya, gue tunggu deh undangannya" sahut Mona


" Sudah-sudah, kalian kok jadi berdebat gitu sih sesama jomblo" ucap Lia


" Iya nih " timpal indah


" Gaes, sorry ya gue kayak harus pergi sekarang deh!" ucap Mita tiba-tiba membuat semuanya langsung menoleh ke arah Mita yang sudah beranjak dari duduknya.


" Loh kok pergi sih Mit, loe memang mau kemana?" tanya Lia yang merasa sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.


" Gue.... gue mau bertemu dengan mas Ariel. gue mau membawa bokap gue pulang ke rumah aja!" ucap Mita membuat Lia seketika tersentak


" Loe mau bertemu dokter Ariel?" tanya Lia antusias


" Iya, setelah gue pikir-pikir gue sebaiknya mengajak bokap gue pindah dari rumah mas Ariel dan menyewakan rumah untuk bokap gue, walaupun kecil gak masalah" ucap Mita menuturkan rencananya.


" Bagaimana kalau loe gue temani ?" ucap Lia mengusulkan


" Gak usah, gue bisa sendiri kok. loe gak usah khawatir" sahut Mita seraya tersenyum


" Yakin loe gak apa-apa?" tanya Lia memastikan


" Iya loe gak usah khawatir" ucap Mita mayakinkan.


" Loe beneran mau pergi Mit?" tanya Zaira


" Iya Mita, nanti sajalah perginya" timpal indah


" Iya Mita nanti gue temani loe kesananya" ucap Mia mengusulkan


" Gak usah Mi, gue sendiri aja, kalian lanjutkan aja makan-makannya" sahut Mita


" Gue gak apa-apa kok" ucap Mita


" Ya, loe memang seharusnya urus bokap loe sendiri jangan buat dokter Ariel repot-repot mengurus bokap loe terus-menerus. nanti yang ada loe malah jadi hutang budi sama dokter Ariel" ucap Mona sedikit pedas membuat yang lain tersentak mendengar perkataan Mona.


" Loe kok ngomongnya kayak gitu sih Mon?" ucap Lia yang merasa geram dengan sikap Mona yang semakin hari semakin tidak jelas menurut Lia sementara Zaira hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Mona yang baru ia ketahui bersikap begitu dingin kepada Mita.


" Terserah kalian aja, gue mau ke toilet!" ucap Mona yang langsung beranjak dari duduknya


"Mita loe gak apa-apakan?" tanya Lia


" Iya Mita loe gak apa-apakan, ucapan Mona sebaiknya jangan loe masukin ke dalam hati ya!" ucap Zaira


" Iya gue gak apa-apa kok, yaudah ya gue pamit sekarang. salam buat Mario dan pak Bagaz" ucap Mita sebelum pergi


" Iya, loe juga hati-hati ya" ucap Lia


" Iya" sahut Mita


Mita kini sudah keluar dari kedai BakCin, Mita menunggu taksi karena pada saat berangkat Mita datang bersama Mia dan Yoga.


Mita menghela napas dalam-dalam menatap ke arah langit yang nampak sedikit mendung. Mita melangkah perlahan sambil menunggu taksi yang lewat. entah kenapa tiba-tiba Mita merasa tersentil dengan ucapan-ucapan yang Mona lontarkan beberapa hari ini. Mita merasa begitu bersalah karena sudah menjadi beban untuk dokter Ariel terlebih saat memorinya teringat kembali dengan foto yang ada di layar ponselnya.


Mita sesekali mengusap air matanya kasar saat teringat dengan kepingan-kepingan memori yang beberapa hari selalu menghantui pikirannya.


Mita berjalan gontai tanpa ia sadari hujan yang menetes pun semakin lebat. Mita bahkan tidak sadar jika langkah kakinya sudah sampai di sebuah jembatan besar membuat siapapun yang melihat kondisinya merasa sangat iba terlebih saat tubuh Mita bergetar hebat karena rasa sesak di dadanya semakin menghimpit jiwanya. Mita terjerabah di jalan beraspal dengan tangis yang semakin terisak.


tangannya terkepal kuat di lantai beraspal dan sesekali ia hempaskan kepalan tangannya ke aspal yang tidak tahu apa-apa.


Mita lalu memeluk lututnya menumpahkan rasa sakit dan kesedihan yang ia rasakan saat itu. ditengah guyuran hujan lebat Mita berharap bisa melepaskan semua rasa kecewa dan kesedihan yang ia rasakan dan bisa kembali berdiri tegak tanpa merasa belas kasih orang lain.


Seketika Mita tidak merasakan air hujan mengenai dirinya lagi, Mita merasakan ada kejanggalan ketika hujan yang dia tahu masih turun dengan derasnya tapi kenapa dia tidak merasakan sentuhan air hujan itu. Mita nampak bingung lalu mendongak tidak ada siapa-siapa dihadapannya ia hanya melihat payung berwarna ungu cerah berdiri tegak diatas kepalanya. Mita memincingkan alisnya tangisnya pun seketika terhenti Mita lalu berbalik badan dan betapa terkejutnya Mita saat melihat seorang laki-laki berdiri tegak dihadapannya sambil memegang payung untuk memayungi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2