
Pagi menjelang Mona membuka matanya perlahan setelah sekian lama beristirahat ia pun merasakan tubuhnya terasa lebih baik.
Mona menatap ke arah kursi yang berasa di samping brankarnya dan seketika mata Mona membulat sempurna karena ternyata Yoga benar-benar tidak pergi meninggalkannya dan menemaninya semalaman.
" Yo..!" Mona menepuk bahu Yoga yang tertidur di kursi
Yoga yang merasa ada yang menepuk bahunya langsung terperanjat dan membuka matanya.
" loe udah bangun, sorry gue ketiduran" ucap Yoga seraya merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
" Loe tidur di sini?" pertanyaan Mona yang sebenarnya tidak perlu dijawab pun sudah tahu jawabannya dengan apa yang sudah dilihatnya sendiri saat ini
" Iya, sorry gue ketiduran" Yoga beranjak dari duduknya
" Loe mau minum?" tanya Yoga dan Mona mengangguk pelan dengan mata yang terus melihat kearah Yoga
Yoga meraih gelas diatas corner dan menuangkan air kedalam gelas lalu menyodorkannya kepada Mona.
Mona meraih gelas dari tangan Yoga lalu meneguk air tersebut hingga setengahnya lalu memberikan kembali gelas tersebut kepada Yoga
" Terima kasih!" ucap Mona dan Yoga hanya menjawab dengan senyumnya.
" Loe mau kemana?" tanya Mona saat melihat
Yoga hendak melangkah pergi.
" Gue mau ke kamar mandi, cuci muka!" jawab Yoga
setelan beberapa menit Yoga keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar.
" Apa loe mau ke kamar mandi, cuci muka atau yang lainnya?" tanya Yoga menatap kearah Mona
" Iya, gue mau ke toilet dulu!" ucap Mona yang menyingkirkan selimutnya lalu beranjak turun dari tempat tidur.
" Gue bantu!" ucap Yoga meraih tangan Mona
" Gak usah, gue bisa sendiri kok " tolak Mona dengan sopan
" Yaudah hati-hati!" Yoga berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut seraya menunggu Mona yang berada di dalam kamar mandi.
Ceklekk
Pintu ruangan Mona terbuka menyembulah sepasang kekasih dari balik pintu.
" Assalamu'alaikum!" ucapnya
" Wa'alaikum salam!" sahut Yoga
" Loh Mona nya kemana?" tanya Mita yang datang bersama Arta
" Lagi di dalam kamar mandi" sahut Yoga
" Kamu gak sekolah Yo?" tanya Arta
" Gak kak mau menemani Mona disini" jawab Yoga.
" Sebaiknya loe berangkat sekolah aja Yo, gue gak apa-apa kok" ucap seorang gadis yang baru keluar dari kamar mandi.
Mita dan Arta menoleh ke arah Mona. " Loe sudah baikkan Mon?" tanya Mita yang mengikuti Mona berjalan ke arah brankarnya lalu naik dan duduk bersandar
" Iya gue udah gak apa-apa, loe kok kesini sih Mit, apa loe gak takut kesiangan?" tanya Mona yang melihat Mita malah datang menemuinya bukannya berangkat ke sekolah.
" Ini gue sengaja kesini dulu, bawain sarapan buat loe. ini masakan spesial loh Mon" ucap Mita sedikit berbisik
" Spesial?" Mona menautkan alisnya
" Iya, ini sup ayam kampung yang khusus kak Arta masak buat loe, biasanya kalau gue lagi sakit atau lagi sedih kak Arta selalu masakin gue ini. loe coba deh pasti loe akan suka dan semoga mood loe serta kondisi loe semakin membaik" tutur Mita
" Serius kak Arta sendiri yang memasaknya?" tanya Mona yang seakan tidak percaya
" Serius!" jawab Mita.
" Gak bohong, aku cuma membantu Mita aja kok selebihnya dia yang memasak" ucap Arta sedikit merendah.
" ihhh, apa sih orang ini beneran kamu yang masak juga" ucap Mita
" Mit loe gak takut apa kalau gue suka dengan masakan ini?" tanya Mona memincingkan matanya
" Maksud loe?" tanya Mita yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Mona
" Ya loe puji-puji masakan kak Arta terus dari tadi padahal kak Arta sendiri enggan untuk mengakui ini masakannya. eh Loe terus memuji masakannya terus yang loe mau kasih ke gue, loe gak takut gitu kalau dari lidah lalu turun ke hati dan gue jadi saingan loe secara loe kan belum menikah dengan kak Arta?" ucap Mona santai namun langsung membuat Yoga mengeraskan kepalan tangannya.
" Kalau soal hati gue sih gak bisa mencegahnya Mon, dari lidah turun ke hati?" Mita tersenyum mengulang kata-kata Mona.
" Mungkin bukan cuma ada satu Mona yang mengatakan hal seperti itu diluar sana tapi selama hatinya kak Arta masih terkunci rapat dan hanya ada nama gue di dalamnya gue gak akan pernah takut Mona karena gue juga yakin kok kalau kak Arta tidak akan membiarkan pintu hatinya terbuka untuk memberi peluang orang lain masuk kedalamnya. Buat apa kak Arta mencari gue selama ini kalau buat main-main aja sih Mon" ucap Mita membuat Arta langsung menoleh dan menatap gadisnya lekat.
" Sayang!" cicit Arta dan Mita tersenyum kepadanya.
" Udah sana berangkat ke sekolah jangan main pandang-pandangan disini deh, sudah kayak dunia serasa milik berdua aja" ucap Mona geleng-geleng kepala.
__ADS_1
" Ya loe sih yang mancing-mancing!" ucap Mita
" ikan kali dipancing!" ucap Mona lalu tertawa
Mita ikut tertawa melihat Mona yang nampak sudah kembali ceria.
" Mon jangan lama-lama loe bolosnya, gue bete duduk sendiri tau!" ucap Mita
" Iya sabar besok juga gue udah masuk kok?" jawab Mona santai
" Masuk kemana Mona? besok akhir pekan!" ucap Arta membuat keduanya tertawa kembali.
" Terlalu bersemangat kesekolah hari libur pun ingin masuk sekolah juga" ucap Mita.
" Oiya Mit , apa Zaira tahu soal gue disini?" tanya Mona
" Za belum tahu, makanya buruan loe sembuh dan cepat pulang biar Za gak khawatir" sahut Mita
" Iya, gue juga udah gak apa-apa kok paling nanti sore gue minta pulang, bete gue disini terus" tutur Mona
" Bagus deh, nanti kalau sudah mau pulang kabarin ya" ucap Mita
" Loe mau jemput gue emangnya?"
" Gak, gue mau numpang makan aja dirumah loe" sahut Mita dengan kekehan
" Wah parah loe Mit, gak gratis dong itu!" tunjuk Mona ke arah kotak yang berada di atas corner
" Mona sayang, di dunia ini gak ada yang gratis loh ya!" ledek Mita
" Wah sahabat gak ada akhlak " ucap Mona seraya geleng-geleng kepala lalu menepuk jidatnya sendiri
Mita tertawa melihat tingkah Mona, " Udah ah gue berangkat dulu, pokoknya loe kalau mau pulang kabarin gue dulu!" pamit Mita sambil mengingatkan Mona.
" iya bawel!" Mita terkekeh lalu pergi bersama Arta meninggalkan Mona berdua dengan Arta.
Mita dan Arta sudah pergi dari ruang perawatan Mona, sebelum pergi ke kantor Arta memang mengantar Mita terlebih dahulu ke sekolah.
Setelah kepergian Mita dan Arta di dalam ruangan tersebut hanya tinggal Mona dan Yoga yang nampak begitu canggung terlebih Mona walaupun antara percaya dan tidak percaya kalau laki-laki yang ada bersamanya saat ini adalah Yoga, cowok yang sudah membuat hidupnya benar-benar di buat jungkir balik.
Mona menghela nafasnya berat lalu menoleh ke arah Yoga yang tengah duduk di sofa sambil berkutat dengan ponsel ditangannya.
" Yo!" panggil Mona yang sebenarnya merasa sedikit canggung dan aneh di lidahnya saat memanggil nama itu tapi dengan wajah yang masih sulit Mona.
" Hem!" sahut Yoga lalu menoleh ke arah Mona.
" Loe kenapa masih di sini?" tanya Mona membuat Yoga mengerutkan alisnya
" Bukan begitu, ini jam sekolah jadi seharusnya loe itu berada di kelas bukan disini" sahut Mona dengan raut wajah kesal
" Gue malas, toh nanti juga gue ngulang-ngulang juga kan?" jawab Yoga santai
" Kenapa loe gak ikut ujian susulan aja sih?" tanya Mona yang menurutnya sangat disayangkan kalau Yoga harus mengulang satu tahun lagi
" Gue gak bisa memaksakan diri gue untuk belajar dengan kondisi gue yang sebenarnya masih belum begitu pulih 100%!" sahut Yoga
" Maksud loe?" tanya Mona yang nampak bingung
Yoga beranjak dari duduknya dan menghampiri Mona duduk di kursi samping brankar Mona
" Gue sebenarnya belum pulih 100% masih harus menjalani perawatan intensif tapi gue maksa untuk rawat jalan aja, gue gak bisa lihat loe terus bersedih karena kepergian gue Mon." ucap Yoga
" Kak Arta dan anak buahnya menemukan gue pada saat gue berada di rumah sakit terbesar di kota B" ucap Yoga
Flashback on
Mobil yang Yoga kendarai tiba-tiba oleng karena Yoga mengemudi dalam keadaan mabuk berat. jalan yang licin ditambah kondisi jalan yang penerangannya kurang baik membuat Yoga hilang kendali dan membanting setirnya ke kanan hingga membuat mobil yang Yoga kendarai menghantam sebuah pohon dan oleng hingga berada di tepi jurang. yoga hanya bisa pasrah dengan kondisinya yang bisa saja membuat nyawanya melayang.
Yoga memejamkan matanya dan seketika yang terlintas adalah wajah Mona, Yoga ingin sekali menelepon Mona untuk yang terakhir kalinya namun naas baru saja meraih ponselnya dari saku celananya tiba-tiba mobil bergerak dan tergelincir ke bawah. Yoga menjerit ketakutan dan seketika mobil itu tersangkut di sebuah pohon besar.
" Aku masih ingin hidup aku tidak mau mati dalam keadaan seperti ini!" gumam Yoga menjerit dalam hati.
Brukk
Mobil Yoga bergeser dan sedikit lagi terhempas ke bawah jurang dan disaat mobil itu meluncur ke bawah Yoga yang memang sedari tadi berusaha untuk keluar dari dalam mobil akhirnya berhasil keluar dari dalam mobil namun sial meskipun dia tidak jatuh ke jurang bersama dengan mobilnya Yoga sempat terjatuh ke tepi jurang yang cukup banyak batu besar hingga membuat Yoga tidak sadarkan diri.
Hampir 2 bulan Yoga tidak sadarkan diri dan pada saat ia sadar ia hanya melihat dua orang asing yang berada di dekat tempat tidurnya.
" Kamu sudah sadar nak?" pertanyaan itu yang pertama kali Yoga dengar setelah koma selama hampir 2 bulan lamanya.
Yoga nampak bingung melihat keadaan sekitarnya. " Aku dimana?" tanya Yoga yang nampak asing dengan pemandangan yang dilihatnya
" Kamu berada di rumah kami nak!" sahut seorang wanita paruh baya yang duduk di tepi tempat tidur
" Ke... kenapa aku bisa ada di sini?" Yoga hendak bangun namun di cegah oleh wanita tersebut.
" Istirahatlah dulu nak, kondisimu masih belum pulih benar jadi pelan-pelan saja!" ucapnya dengan suara yang begitu lembut.
" Nak boleh kami tahu, siapa nama mu?" tanya suami dari wanita tersebut
__ADS_1
" Namaku Yoga!" jawab Yoga dengan sesekali menatap ke sekelilingnya.
" Nak Yoga sebaiknya nak Yoga beristirahat lah dulu , nanti sore akan ada dokter yang memeriksa keadaan nak Yoga!" ucap wanita tersebut
" Tapi bagaimana bisa aku berada di sini, di rumah kalian?" tanya Yoga yang nampak kebingungan.
" Ceritanya panjang nak, tapi yang jelas kami ini orang baik kok" ucap wanita paruh baya tersebut membuat Yoga merasa tidak enak hati.
" Maaf Nyonya bukan maksudku _!" ucap Yoga yang nampak tidak enak hati
" Tidak apa-apa, sebaiknya kamu istirahat aku pergi dulu!" ucap wanita paruh baya tersebut.
" Istirahatlah!" ucap pria paruh baya seraya menepuk bahu Yoga pelan.
Setelah kepergian sepasang suami istri paruh baya tersebut Yoga beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi dengan berjalan tertatih, Yoga mencuci wajahnya setelah itu mengeringkannya dengan handuk yang ada di dalam kamar mandi tersebut namun saat melihat kearah cermin betapa terkejutnya Yoga melihat wajahnya sendiri yang berada di pantulan cermin tersebut.
" Si.. siapa itu?" Yoga sampai terjerabah kelantai kamar mandi saat melihat wajah asing yang berada di pantulan cermin.
Yoga berusaha untuk kembali berdiri dengan degup jantung yang berpacu sangat cepat, ia dengan mengumpulkan segenap keberaniannya untuk kembali melihat ke cermin tersebut. Perlahan Yoga melihat ke arah cermin dan seketika matanya membulat sempurna tatkala sadar jika yang berada di dalam pantulan cermin tersebut adalah dirinya sendiri apalagi gerakan yang dilakukannya sama dengan yang ada di cermin.
" Ti.. tidak.. ini... ini tidak mungkin. tidak mungkin!" Yoga nampak syok dengan apa yang dilihatnya, Yoga menggelengkan kepalanya merasa ini seperti mimpi dan berharap ini hanyalah mimpi. Yoga mengusap wajahnya kasar berharap wajah asing yang dilihatnya akan kembali seperti semula namun berkali-kali ia mengusapnya tetap saja hasilnya sama.
Yoga memberingsut ke lantai dengan air mata yang sudah tidak dapat lagi ia tahan.
" Tidakkkkk !" Teriak Yoga yang berada di dalam kamar mandi.
Mendengar jeritan dari kamar Yoga sepasang suami istri paruh baya tersebut langsung bergegas menghampiri Yoga.
Tokk
Tokk
Tokk
" Nak Yoga... nak !" panggil wanita paruh baya yang bernama Lusi tersebut mengetuk pintu kamar mandi dengan perasaan cemas.
" Pak tolong ambilkan kunci cadangan pak, cepat pak!" pinta Lusi dengan perasaan khawatir karena Yoga tak lagi terdengar suaranya
" Baik Bu!" suami Bu Lusi yang bernama pak Iwan langsung bergegas mengambil kunci cadangan
Selang beberapa menit pak Iwan kembali dengan membawa kunci cadangan dan langsung membuka pintu kamar mandi.
Ceklekk
" Nak Yoga!" teriak Bu Lusi yang langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi saat melihat Yoga yang duduk bersandar di dinding kamar mandi dalam keadaan diam dengan tatapan mata yang kosong.
" Pak nak Yoga kenapa ini pak?" tanya Bu Lusi dengan perasaan cemas
" Bukannya sudah bapak ingatkan sama ibu resikonya pasti akan seperti ini!" sahut pak Iwan
" Tapi pak kita memang tidak ada pilihan lain!" tutur Bu Lusi dengan air mata yang sudah menetes.
" Sudahlah Bu jangan menangis lagi, sebaiknya kita bawa nak Yoga kembali ke rumah sakit saja, biar nanti dokter Yudi yang memeriksanya!" ucap pak Iwan yang langsung membopong tubuh Yoga.
Di rumah sakit Yoga ditangani oleh dokter Yudi. kondisi Yoga sudah membaik namun keadaan mentalnya masih sangat syok dengan keadaannya yang sekarang.
Tepat pada hari dimana mereka menemukan Yoga yang dalam keadaan sekarat Bu Lusi tanpa pikir panjang langsung meminta suaminya untuk segera menolong Yoga dan membawanya ke rumah sakit terdekat namun karena kondisi Yoga yang cukup parah akhirnya sepasang suami istri tersebut membawa Yoga ke rumah sakit B.
Yoga mengalami luka serius di bagian wajahnya sehingga dokter Yudi menyarankan untuk melakukan operasi plastik. Bu Lusi dan pak Iwan setuju saja dengan usulan dokter Yudi namun siapa sangka Bu Lusi malah menginginkan Yoga di Operasi plastik dengan wajah yang mirip dengan almarhum putranya yang meninggal akibat kecelakaan.
Pak Iwan sudah mengingatkan untuk tidak gegabah mengambil keputusan tersebut namun Bu Lusi tetap kekeh dengan keinginannya. Dokter Yudi yang merupakan adik dari ibu Lusi tidak bisa menolak keinginan sang kakak karena bagaimanapun dokter Yudi berhutang budi dengannya, karena ibu Lusi yang sudah membiayai sekolah Yudi sampai menjadi seorang dokter ahli bedah plastik seperti sekarang.
Yoga membuka matanya dan kali ini dia merasa di tempat yang berbeda tapi dia sadar kalau saat ini dia berada di rumah sakit.
Bu Lusi yang melihat Yoga sudah bangun langsung menghampirinya dengan tatapan mata bersalah dan dengan menitikkan air mata Bu Lusi pun meraih tangan Yoga untuk digenggamnya.
" Ma.. maafkan ibu nak!" ucap Bu Lusi dengan air mata yang sudah mengalir deras
" Ada apa dengan ku sebenarnya, ada apa dengan wajah ku?" teriak Yoga dengan histeris.
Pak Iwan yang sedang berbicara diluar dengan dokter Yudi langsung bergegas masuk ke dalam ruang perawatan Yoga dan melihat Yoga yang sedang menangis histeris.
" Nak Yoga tenangkan dirimu!" dokter Yudi memegang kedua bahu Yoga berusaha untuk menenangkan Yoga.
Bu Lusi yang melihat Yoga begitu histeris semakin terisak dan pak Iwan berusaha untuk menenangkannya.
" Kenapa? kenapa bisa begini?" tanya Yoga di sela Isak tangisnya.
Dokter Yudi pun menjelaskan secara detail semua yang telah terjadi kepada Yoga sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengoperasi wajahnya.
Yoga benar-benar belum bisa menerima kenyataan tersebut sampai pada akhirnya dia melihat Bu Lusi yang tengah menangis dan merasa sangat bersalah kepada Yoga membuat Yoga akhirnya mengerti dan bisa menerima kenyataan tersebut.
Mungkin ini semua memang sudah takdir tuhan, cara tuhan untuk memisahkan dirinya dengan Mona yang memang tidak pernah menyukainya dan juga takdir yang pada akhirnya dia bertemu dengan sepasang suami istri yang tengah merindukan putra kesayangannya.
Dan pada saat Yoga pergi untuk kontrol kesehatannya tanpa disengaja ia bertemu dengan Arta entah bagaimana caranya Yoga juga tidak tahu ternyata Arta dengan mudahnya mengenalinya.
Mungkin juga Arta dengan sengaja datang ke rumah sakit tersebut mencari Yoga atau kebetulan Yoga juga tidak tahu, tapi yang Yoga tidak habis pikir Arta pun sudah membantunya untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada kedua orang tua Yoga.
Dengan kondisi wajah Yoga yang sudah berubah membuat kedua orang tua Yoga awalnya merasa tidak percaya dan ragu tapi dengan semua kenangan yang Yoga miliki bersama keluarganya dan juga bukti-bukti yang Arta miliki akhirnya mereka pun percaya kalau yang berada di hadapannya adalah Yoga putra mereka. Arta pun membantu Yoga untuk kembali ke sekolah SMA Darma Bangsa walaupun Arta sudah mengusulkan Yoga untuk mengikuti ujian susulan tapi Yoga menolaknya karena dia belum siap.
__ADS_1
Flashback off
Mona menitikkan airmatanya mendengarkan semua yang Yoga ceritakan.