
Di Taman
Sepulang sekolah Zaira, Lia, Mita, Mia, Mona dan Indah memilih untuk mampir ke taman kota. Awalnya Zaira menolak karena pak suami pasti akan melarangnya namun karena Lia yang ikut membujuknya mau tidak mau akhirnya Azka mengizinkannya.
" Ngapain sih kita kesini?" tanya Zaira dan Lia hanya menggidikan bahunya.
" Ya kapan lagi sih kita jalan kayak gini, kalau ke mall itu kan bisa membahayakan kita semua jadi mending di sini aja cari aman!" sahut Mona karena yang mengajak untuk jalan-jalan ditaman kota ya idenya si Mona.
" Bentar deh, itu bukannya kak Rangga ya?" tanya Mona yang menunjuk ke salah satu pengunjung taman tersebut.
Deg
Detak jantung Lia seakan terhenti mendengar Mona menyebut nama Rangga.
" Loe salah lihat kali Mon!" tanya Mita yang sebenarnya di dalam hati kecilnya ada rasa khawatir.
" Bukannya kak Rangga itu sedang di_!" ucapan Indah terhenti
" Dia sudah di bebaskan!" sahut Azka yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
" Mas!"
" Kak Azka!"
" Pak Bagaz!"
ucap mereka bersamaan saat menoleh ke arah belakang .
Azka duduk di samping Zaira, lalu menyodorkan jus mangga untuknya.
" Wah pak Bagaz pilih kasih nih muridnya bukan Zaira doang loh pak, kita juga murid bapak masa yang dikasih jus Za doang sih pak kita juga kan mau!" kata Mona meledek sang guru
" Iya kalian memang murid saya semua tapi isteri saya kan cuma satu, iyakan sayang?" Azka menaik turunkan alisnya dan menarik bahu Za agar lebih mendekat ke arahnya.
" Pak suami ini ditempat umum loh tidak malu bersikap seperti ini didepan murid-murid bapak loh ini!" sahut Zaira.
" Kenapa harus malu, mereka sudah tahu kamu isteri saya!" jawab Azka santai sambil mengelus-elus perut Zaira dan yang di elus perutnya asik minum jus pemberian pak suami.
" Dasar bucin!" cibir Lia
" Gak apa-apa bucin sama isteri sendiri ini" sahut Azka.
" Mas ih malu tau, jangan kayak gini dong mas kalau lagi ditempat umum begini. bagaimana kalau ada murid kamu yang lainnya lihat?" Zaira menyingkirkan tangan kekar yang sedari tadi bertengger di perutnya. selain malu di lihat orang apalagi ia masih menggunakan seragam sekolah dia juga merasa geli dan tidak nyaman.
" Iya... iya!" Azka menggeser duduknya.
"Mas, tadi mas bilang kalau kak Rangga sudah bebas. kok bisa mas?" tanya Zaira yang penasaran dengan ucap Azka saat baru datang.
" Karena dibutakan oleh cinta Rangga sampai mau dimanfaatkan Putri. Rangga sudah mengakui semua kesalahannya dan orang tua Rangga tuan Ronald kemarin mendatangi papa ke kantor dan memohon kepada papa untuk membebaskan putranya itu, dia berjanji akan mengawasi putranya itu dengan ketat dan lulus sekolah ia akan mengirim Rangga keluar negeri." Terang Azka
" Rangga adalah putra satu-satunya dari keluarga Ronald, satu-satunya penerus perusahaannya kelak, tuan Ronald merasa kecewa dengan apa yang telah dilakukan putranya itu dan beliau pun sudah berkali-kali meminta maaf kepada papah, walaupun awalnya sebenarnya papa menolak keras tapi papa juga memikirkan masa depan Rangga kedepannya kelak, masa depan yang masih panjang yang rusak akibat kebodohannya sendiri. papa merasa kasihan kepada tuan Ronald apalagi isterinya sampai masuk rumah sakit setelah mengetahui keadaan yang menimpa putranya itu." lanjut Azka
"Papa sudah memikirkannya dengan matang dalam mengambil keputusan tersebut dengan syarat jika Rangga sampai berbuat macam-macam lagi maka orangtuanya sendirilah yang akan mempertanggungjawabkan semuanya" tutur Azka lagi
" Tapi apa itu tidak terlalu beresiko mas?" tanya Zaira khawatir
" Sayang bukankah kita juga tahu selama ini Rangga itu sebenarnya anak yang baik hanya karena cinta dia berubah seperti itu" sahut Azka
" Iya juga sih Za benar apa yang dikatakan pak Bagaz, yang kita tahu Rangga itu orangnya kan pendiam dan gak banyak tingkah, gak kayak si biang masalah tuh si Mario. kalau dia gue masih ragu, ya walaupun akhir-akhir ini dia udah sedikit berubah " ucap Indah.
Deg
Lia merasa sedikit tersentil oleh ucapan Indah barusan, pasalnya orang yang diceritakan oleh indah adalah orang yang saat ini sudah mengisi hatinya.
Zaira menoleh ke Lia yang nampak diam karena ucapan indah barusan. Zaira yang menyadari hal itu langsung menyenggol lengan Azka.
" Mas!" tunjuk Zaira ke Lia dengan dagunya.
" Biarkan saja!" sahut Azka santai.
" Li loe kenapa kok diam aja dari tadi?" tanya Mona yang melihat Lia diam saja
" Mungkin lagi mikirin babang Rangga kali!" ledek Indah.
" Udah aman Li kalau loe mau deketin tuh anak, ya walaupun kak Rangga udah pernah melakukan kesalahan tapi apa salahnya Li kasih kak Rangga kesempatan" ucap Indah lagi.
" Loe ngomong apa sih Ndah, udah deh Ndah gak usah comblang-comblangin Lia kayak gitu!" ucap Mita menimpali.
" Tau nih si Indah, ngapain juga sih loe ngebahas tuh serangga.?" ucap Mia kesal
" Loe kenapa dih Mi sewot gitu, suka juga loe sama kak Rangga?" tebak Indah.
" Ngaco!" sahut Mia.
" Sudah-sudah, gak usah bahas itu lagi!" ucap Lia.
" Yaudah yuk ah balik !" Lia beranjak dari duduknya
" Kok balik sih Li?" tanya Mona
__ADS_1
" Loe marah Li?" tanya indah
" Gak, gue cuma rada pusing aja dari tadi!" ucap Lia yang memang merasa sedikit pusing kepalanya ditambah lagi mendengar ocehan indah tentang sang pujaan hatinya.
" Loe sakit Li?" kali ini Zaira yang bertanya dengan rasa khawatir.
" Gue gak apa-apa Za, cuma pusing sedikit aja kok" Lia menepuk bahu Zaira dan tersenyum tipis
" Yakin kamu dek gak apa-apa?" tanya Azka
" Yaelah kak, kayak gak tau adiknya aja sih. aku gak apa-apa kak. cuma mau istirahat di rumah" Lia beralasan
" Yaudah kalau gitu kita pulang aja, loe pulang gue antar atau _!" tanya Mona menggantung
" Dia pulang bareng gue aja, sekalian gue mau menginap di rumah mama malam ini!" ucap Zaira.
" Seriusan loe Za?" tanya Lia berbinar
" Seriuslah masa bohong!"
" Loe tidur di kamar gue ya Za!" pinta Lia memelas
" Ishh, enak aja. gak bisalah!" protes Azka
" Lia kalau loe tidur sama Za, yang ada pak Bagaz tuh ya bakal mandorin loe terus semalaman di depan pintu kamar loe Li!" goda Mita.
" Wah, parah loe Mit kalau ngomong bisa tepat!" timpal Mia yang langsung mengundang tawa yang lainnya.
...🍃🍃🍃...
Mita baru saja sampai di depan rumahnya dan betapa terkejutnya Mita saat melihat sosok laki-laki paruh baya yang duduk di ruang tamu bersama ibunya.
" Sayang kamu sudah pulang, sini nak duduk!" ucap Rosa meminta Mita duduk disampingnya.
Mita hanya bisa pasrah dan menurut apa yang diperintahkan sang mama.
Mata Mita terus menatap tajam ke arah pria paruh baya yang juga sedari tadi tak lepas menatapnya.
" Mah, sebaiknya Mita ke kamar aja ya mah. mau ganti baju dan bersih-bersih, gerah gini!" ucap Mita pamit kepada sang mama.
" Tunggu sebentar, ada yang ingin papa bicarakan dengan kamu!" ucap Andy yang tidak lain adalah papanya Mita.
" Saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi tuan!" ucap Mita menohok.
Andy mengepalkan tangannya kuat dan menatap tajam ke arah Rosa. " Kamu memang tidak becus mengurus anak, lihat saja putrimu sudah bersikap tidak sopan dengan orang tua sendiri!" sarkas Andy kepada Rosa.
" Apa maksudmu? jadi kamu menyalahkan aku yang tidak becus mengurus anak begitu, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri hah?. bukankah kamu juga punya andil dalam mengurus anak!" ucap Rosa telak
" cukup pah, mah. Dari pada kalian bertengkar terus bukankah lebih baik kalian mengintrospeksi diri kalian sendiri!" bentak Mita
" Mita , duduklah dulu ! ada yang ingin papah bicarakan sama kamu!" ucap Andy
" Mah Mita ingin istirahat dulu ya mah, Mita capek mah!" pamit Mita lagi yang ingin beranjak pergi.
" Mita!" pekik Andy
" Sudahlah mas, biarkan Mita istirahat!" tegas Rosa.
" Tidak, Mita dengar! papa ingin menjodohkan kamu dengan anak teman papa" ucap Andy yang akhirnya mampu menghentikan langkah Mita.
Mita menoleh dan tersenyum miris, ia berbalik badan dan kembali menghampiri kedua orang tuanya.
Di depan papanya Mita tersenyum, Andy yang melihat senyum terukir di wajah cantik putrinya nampak senang, ternyata tidak begitu sulit untuk membujuk Mita menerima perjodohan tersebut.
" Kamu Mau kan nak?" tanya Andy dengan senyum mengembang diwajah yang sudah mulai berkeriput.
Mita masih menampakkan senyumnya dihadapan Andy dan tersenyum " Papa datang kesini untuk menjodohkan aku?" tanya Mita dengan senyum yang dipaksakan.
Rosa hanya menggeleng pelan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
" Benar nak, anak teman papa yang akan papa jodohkan sama kamu itu sudah mapan dan dia juga anak yang sukses. kamu pasti akan bahagia menikah dengan dia sayang!" ucap Andy membanggakan calon menantunya itu.
" Benarkah?" tanya Mita
" Iya nak, kamu pasti akan bahagia jika menikah dengannya.!" ucap papanya dengan yakin
" Tahu dari mana papa aku akan bahagia dengannya? toh selama ini saja papa tidak pernah mau tahu aku hidup bahagia atau tidak!" ucap Mita telak
" Jangan bicara tentang kebahagiaan dengan ku tuan!" ucap Mita lagi yang langsung menyulut emosi Andy seketika.
" Mita jaga bicaramu!" bentak Andy
Mita bukannya takut tapi malah tersenyum getir " Aku bukanlah barang yang bisa seenaknya kau buang lalu kau ambil kembali dan dengan mudahnya kau berikan kepada orang lain tuan!" ucap Mita dengan tegas dan berani
Plakk
Satu tamparan melayang kepipi mulus gadis SMA tersebut, Mita memegang pipinya yang terasa panas dan kebas.
" Berbicara tentang kebahagiaan, inikah kebahagiaan yang kau berikan untuk putrimu?" tanya Mita dengan air mata yang menetes. Rosa meringis melihat putri tercintanya mendapatkan tamparan dari mantan suaminya itu.
__ADS_1
" Cukup mas, hentikan!" pekik Rosa sambil terisak.
" Jangan ikut campur kamu!" sentak Andy membuat Rosa tersentak.
" Aku berhak ikut campur mas, karena dia putriku!" Rosa mengusap kasar air matanya.
" Aku tidak mau tahu kamu menerima atau tidak perjodohan ini yang pasti bulan depan kau harus menikah dengannya!" ucap Andy memaksa.
" Aku tidak akan pernah sudi menerima perjodohan itu!" tolak Mita mentah-mentah.
" Terserah yang pasti kau akan tetap menikah!"
" Kau tidak bisa memaksa putriku!" bantah Rosa.
" Aku tidak peduli!" ucap Andy yang seakan tuli dan buta
" Ya kau tidak akan pernah peduli sekalipun putrimu ini mati!" ucap Mita miris
" Sayang!" ucap Rosa lirih dengan terisak
Andy hanya menatap tajam ke arah Mita dengan tangan yang sudah mengepal kuat.
" Silahkan saja papa berbuat sesuka hati papa dengan putri yang terbuangmu ini, toh memang sejak dulu tidak pernah ada cinta dan kasih sayang untuk putrimu ini, dan satu hal yang harus papa tahu sampai kapan pun aku akan selamanya membencimu!" Mita berdiri dan berkata dengan menegakkan wajahnya.
" Hari pernikahan yang papa maksud itu adalah hari dimana papa akan melihat terakhir jasad putrimu papa, jadi silahkan persiapkan pesta semeriah mungkin papa, pesta kematian putrimu!" ucap Mita sambil tertawa getir.
Rosa mendengar ucapan Mita semakin terisak, sementara Mita berusaha untuk bersikap seolah semua tidak terjadi apa-apa.
Andy tercengang dengan apa yang Mita ucapkan tapi tetap saja ia bersikap dengan angkuhnya.
" Mas jadi ini yang mas mau, mas menginginkan kematian dari putrimu sendiri?" teriak Rosa histeris
" Kamu sudah mencampakkan kami dan lebih memilih wanita itu, aku sudah bisa menerima kepahitan yang kau berikan itu mas dan kini bahkan kebahagiaan kami pun ingin kau rampas , manusia macam apa kamu ini mas!"
Rosa mengguncang-guncang tubuh kekar pria paruh baya itu, yang sudah memberikan banyak luka dalam hidupnya.
" Aku tidak akan membiarkan kamu merampas kebahagiaan putriku mas, tidak akan!" teriak Rosa.
" Jika kamu memang ingin melihat kematian kami mas lebih baik kau bunuh kami sekarang juga!" tantang Rosa yang berjalan menghampiri putrinya yang diam saja seperti tanpa ekspresi, tatapan matanya tiba-tiba kosong.
" Mita sayang!" Rosa seketika nampak panik melihat Mita yang diam saja, hanya ada tatapan tajam ke arah papanya.
" Mita!" panggil Rosa lagi namun Mita tetap tidak bergeming.
" Mas!" teriak Rosa
Andy berjalan menghampiri Mita dan tatapan Mita terus menatap tajam ke arahnya. Andy yang mendapat tatapan seperti itu nampak sedikit merinding. dia tidak pernah melihat tatapan mata Mita seperti itu tatapan yang akan ingin membunuhnya.
" Mita!" sentak Andy namun Mita tetap tidak bergeming.
" Sayang!" panggil Rosa dengan air mata yang terus menetes.
Plakk
Andy kembali melayangkan satu tamparan ke pipi mulus Mita.
Andy nampak terkejut karena Mita tetap tak bergeming. " Putrimu sudah tidak waras!" Rosa membulatkan matanya mendengar ucapan Andy.
" Cukup mas jaga bicaramu, kamu yang sudah membuat putriku seperti ini. ingat mas jika sampai terjadi apa-apa dengan putriku, aku tidak akan pernah memaafkanmu dan akan aku pastikan kamu dan wanita si*lan mu itu akan hidup menderita selamanya, camkan itu!" ancam Rosa dengan tatapan mematikan.
Andy hanya tertawa meremehkan dan mengabaikan begitu saja ancaman Rosa kepadanya.
" Kau bisa apa hah?" Bentak Andy membuat Mita yang tadinya diam saja langsung menyerang Andy dengan sangat brutal. gadis yang masih memakai seragam sekolah itu memukul, mencakar, menggigit bahkan ingin mencekiknya.
Andy yang dalam keadaan tidak siap akhirnya terkena serangan Mita yang brutal.
" Hentikan... Mita hentikan!" teriak Andy yang berusaha untuk menghindar.
Rosa berusaha untuk mencegah Mita namun tenaga Mita yang mungkin sudah di luar batas kesabaran tidak bisa di cegah oleh Rosa. sampai akhirnya Andy mendorong Mita dengan keras hingga Mita terjatuh dan keningnya membentur pinggiran meja.
Mita terjatuh dan pingsan dengan luka bocor di keningnya. Rosa menangis sejadi-jadinya. Andy yang melihat Mita pingsan bahkan berdarah seakan buta, ia tidak peduli dengan keadaan putrinya tersebut.
" Jika ini yang dia inginkan terserah, urus putrimu itu sendiri, dasar bodoh!" umpat Andy lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan keadaan putrinya.
" Mita, bangun sayang!" Rosa memangku tubuh Mita yang sudah tidak sadarkan diri.
" Mita!" Rosa mendekap tubuh putrinya dengan Isak tangisnya.
Tutt... Tutt...
Rosa yang mendengar suara dering ponsel Mita yang berada di dalam Mita yang masih setia menempel di punggung Mita langsung mencari benda pipih tersebut.
📲 "Hallo!"
" To...to..long put..triku!" ucap Rosa yang sedetik kemudian ikut tidak sadarkan diri.
📲 " Hallo..!"
📲 " Hallo..!"
__ADS_1
Teriak seseorang yang berada di seberang sana dengan keadaan panik.
"