
Saat ini Zaira sedang duduk bersama Azka di sebuah restoran menunggu kedatangan Kelin yang sedikit terlambat akibat terjebak macet.
"Awas saja kalau sampai genit-genit!" gumam Zaira pelan namun masih terdengar oleh Azka.
Mendengar gumaman Zaira membuat Azka mengulum senyumnya dan mata Azka pun tak beralih dari wajah Zaira yang hari ini berpenampilan jauh berbeda dari biasanya. Hari ini Zaira nampak seperti wanita dewasa yang tidak akan ada yang tahu jika sebenarnya dia masih duduk di bangku SMA. Ya ini semua tidak lepas dari peran dua sahabatnya yang memang pandai merias wajah siapa lagi jika bukan Mona dan Mia yang sejak dulu cita-citanya ingin menjadi perias profesional.
Ya Saat tadi berada di taman Zaira menceritakan semuanya kepada para sahabatnya tentang Azka yang ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu dan Zaira tidak ingin Kelin sampai mengenalinya kalau dia adalah adik kelasnya Irfan yang merupakan adik sepupu dari Kelin sendiri.
Jadi Zaira meminta tolong kepada Mona dan Mia untuk makeover dirinya.
" Mas kenapa sih kok ngeliatin akunya kayak gitu banget?" tanya Zaira yang merasa risih karena terus ditatap oleh Azka yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
" Kamu beda banget yang hari ini, jujur aja kalau aku tidak tahu dari awalnya aku pasti tidak akan mengenali kamu loh yang, kamu nampak lebih dewasa" puji Azka sambil tersenyum tipis
" Kalau mas gak kenal ini aku terus mas akan tergoda gitu dan lupa kalau di rumah sudah ada isteri?" ketus Zaira.
" Ya gak gitu juga kali yang. aku kan cintanya sama kamu ya gak akan tergodalah, orang aku sukanya kamu yang godain aku" jawab Azka sambil tertawa kecil
" Alah gombal, mana ada kucing yang gak akan tertarik kalau dikasih ikan. gratis lagi" ucap Zaira dengan nada meremehkan.
" Ada, mas" ucap Azka pongah
" Buktikan!" tegas Zaira
" Siapa takut!" tantang Azka dengan seringai senyum dibibirnya.
Azka dan Zaira masih belum memesan makanan, hanya ada 2 gelas minuman saja yang ada di atas meja mereka.
" Mas, aku ke toilet dulu ya!" pamit Zaira yang merasa ada panggilan alam.
" Mau mas temenin?" Tawar Azka
" Gak usah mas aku bisa sendiri, kalau mas temani aku yang ada nanti kak Kelin-ci nyariin mas" tolak Zaira lalu berdiri celingak-celinguk mencari letak toiletnya.
" Itu disana!" tunjuk Azka yang tau arah pandang Zaira yang celingukan .
" Yaudah aku pergi ya, tapi ingat loh ya jaga tuh mata!" pesan Zaira sebelum beranjak pergi.
" Iya bawel!" sahut Azka
Zaira pergi ke toilet untuk memenuhi hajatnya dan tidak lama dari kepergian Zaira seorang wanita cantik dengan langkah tergesa-gesa berjalan masuk ke sebuah restoran.
Namun karena langkahnya tidak hati-hati ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Brukkk
" Maaf..maaf.. maaf saya tidak sengaja!" ucap Kelin wanita ya berjalan dengan tergesa-gesa itu.
" Tidak apa-apa" ucap seorang pria yang kira-kira tidak jauh seumuran dengannya.
" Ini!" ucap pria itu memberikan tas Kelin yang terjatuh.
" Terima kasih" ucap Kelin dengan sopan.
" Maaf saya harus pergi, sekali lagi saya minta maaf tuan!" ucap Kelin kepada pria yang ditabraknya.
" Tidak apa-apa, mari silahkan!" ucap pria tersebut mempersilahkan Kelin pergi masuk ke dalam restoran.
" Terima kasih!" ucap Kelin sebelum pergi
Kelin dengan langkah cepat langsung masuk ke dalam restoran tersebut sementara pria tersebut masih memandanginya sampai Kelin hilang tidak terlihat lagi.
" Cantik juga!" gumamnya setelah itu dia pergi meninggalkan area restoran tersebut.
Sementara Kelin setelah masuk ke dalam restoran tersebut pandangannya mengedar keseluruh ruangan dan akhirnya matanya menangkap sosok seorang pria tampan yang selama ini sangat ia rindukan.
" Sayang!" sapa Kelin saat sudah berada di dekat Azka.
Azka menoleh dan dengan tidak tahu malunya Kelin langsung memeluk Azka yang tidak merespon apa-apa.
" Sayang aku kangen banget sama kamu!" ucap Kelin dengan suara manjanya.
" Aduh kalau Za melihat dia kayak begini bisa perang dingin lagi ini dan si Otong puasa lagi dah!" gumam Azka dalam hati.
Azka perlahan mendorong bahu Kelin dan menjauhkannya dari tubuhnya. Rasanya risih semua pandangan mata mengarah kepadanya.
__ADS_1
" Sayang!" panggil Kelin saat ingin kembali bergelayut manja pada Azka namun dengan pergerakan cepat Azka menghindar dan mendorong tubuh Kelin agar tetap duduk di hadapannya.
" Kelin bersikaplah biasa, jangan mengundang perhatian banyak orang!" ucap Azka tegas dan sedikit dingin.
Kelin mendengus kesal karena Azka menolak dirinya namun dengan cepat ia tepis rasa kecewanya demi mendapatkan hati seorang Azka Kembali. " Sayang, terima kasih ya sudah mau datang!" ucap Kelin dengan mata berbinar dan meraih tangan Azka.
Karena takut Zaira melihat apa yang dilakukan Kelin dengan cepat Azka menarik tangannya.
" Kelin maaf, ya walaupun kata maaf itu mungkin tidak akan bisa menghapus kekecewaanmu terhadap ku tapi sekali lagi aku minta maaf kita tidak bisa lagi seperti dulu" ucap Azka lirih namun sedikit lega.
" Sayang kamu ini bicara apa sih?" tanya Kelin yang seakan sudah lupa kalau Azka sudah benar-benar memutuskan dirinya.
" Tolonglah, ubah panggilanmu itu, aku tidak mau ada yang salah paham!" ucap Azka terang-terangan
" Maksud kamu apa sih sayang?" tanya Kelin bingung
" Kelin kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kita sudah lama putus jadi aku harap kamu bisa mencari laki-laki yang lebih baik dari aku," ucap Azka berusaha untuk tenang.
" Gak sayang aku gak mau putus sama kamu" ucap Kelin kekeh.
" Tapi aku sudah tidak bisa denganmu lagi Kelin, karena_" ucapan Azka menggantung.
" Karena apa?"
" Aku sudah menikah"
Jedaarrrrr
" Tidak mungkin, kamu pasti bohong iyakan? aku tahu kamu hanya mengerjai ku" ucap Kelin menyangkal pernyataan Azka.
" Aku tidak bohong" ucap Azka meyakinkan.
Kelin berdiri dan berhambur memeluk Azka sementara Azka terkejut dengan apa yang telah Kelin lakukan, Azka tidak menolak tapi tidak juga membalas pelukan Kelin.
" Aku tahu kamu pasti hanya sedang marah denganku sajakan dan ingin mengerjai ku saja. aku tahu kamu masih mencintai aku jadi mana mungkin kamu memutuskan aku begitu saja" ucap Kelin disela pelukannya.
" Maafkan aku sayang, aku janji akan selalu meluangkan waktu untuk kamu dan aku akan segera mungkin mengurus kepindahanku kesini dan menetap tinggal disini bersamamu setelah itu kita menikah" ucap Kelin dengan percaya dirinya.
" Tapi aku sudah menikah Kelin" ucap Azka memperjelas ucapannya lagi.
" Itu tidak akan mungkin" sentak Azka
Azka dengan segera melerai pelukan Kelin, dan betapa terkejutnya dia saat netranya menangkap sosok wanita yang sedari tadi mungkin sudah berdiri dan melihat yang seharusnya tidak dilihatnya.
Azka menyuruh Kelin duduk walaupun pandangan matanya selalu tertuju pada wanita yang berdiri tidak jauh jarinya.
Dengan kasar Azka menghembuskan napasnya yang terasa begitu berat.
Zaira ingin melangkah menghampiri Azka dan Kelin walaupun terasa berat tapi dia harus memerankan perannya dengan baik agar tidak ada lagi yang menggangguku bahtera rumah tangganya lagi. apalagi dia tahu Kelin ternyata tidak ingin melepaskan suaminya begitu saja. namun baru saja melangkah tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
" Kau!" pekik Zaira dengan keterkejutannya melihat sosok pria tampan yang berdiri tegap dan gagah dihadapannya.
" Kita perlu bicara!" paksanya yang langsung membawa Zaira pergi dari restoran tersebut tanpa memperdulikan protesan dari Zaira.
Azka terkejut karena matanya tidak dapat menemukan sosok yang ia cari. " Kemana dia pergi?" gumam Azka dalam hati
" Ah sial pasti dia marah" batinnya dan dengan kasar ia menepis tangan Kelin yang menyentuh punggung tangannya.
" Kelin, aku minta maaf. kamu itu wanita yang baik kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. mungkin kita tidak berjodoh aku harap kamu bisa menerimanya." ucap Azka dengan tenang
" Aku tidak mau laki-laki lain selain kamu Bagaz" ucap Kelin tegas
" Tidak Kelin aku tidak bisa, aku sudah menikah dan aku sangat mencintainya" ungkap Azka jujur
" Kamu pasti bohong, aku tahu kalau kamu masih sangat mencintaiku, hanya aku yang pantas kamu cintai, katakan itu sayang"
Kelin kembali meraih tangan Azka yang ada di atas meja menggenggamnya erat.
" Maaf Kelin!" Azka melepaskan tangannya lalu berdiri dan meninggalkan Kelin begitu saja. namun sebelum pergi dari restoran tersebut Azka mencari keberadaan Zaira terlebih dahulu.
Sementara di tempat lain tepatnya di sebuah taman yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Zaira, seorang pria dewasa yang seumuran dengan Azka tengah duduk di bangku kayu bersama seorang wanita cantik dengan rambutnya yang tergerai.
" Kamu beda banget hari ini" ucap pria yang duduk di sebelah Zaira.
Zaira tidak menjawab hanya melempar senyum manisnya.
__ADS_1
"Kamu sudah tumbuh besar ya tambah cantik. tidak terlihat masih SMA tapi lebih pantas jadi_" pria itu tersenyum sendiri membayangkannya.
" Lebih pantas jadi apa memangnya?" tanya Zaira penasaran.
" Lebih pantas jadi istri!" ucap pria tersebut dengan tertawa kecil.
Deg
" Duh gue kok ngerasa aneh gini ya, apa sebaiknya gue juur aja ya?" gumam Zaira dalam hati.
" kok bengong?" tanya pria yang tak lain adalah dokter Ariel itu.
" Hah" Zaira terkesiap " Iya kenapa kak?" tanya Zaira menengok ke arah dokter Ariel yang nampak sedang tersenyum kepadanya.
" Duh kak Ariel kenapa senyum-senyum gitu sih?" batin Zaira.
" Al!" panggil dokter Ariel seraya menyodorkan minuman
" Iya kak" Zaira menatap tangan dokter Ariel yang menyodorkan minuman kepadanya.
" Terima kasih!" ucapnya meraih minuman itu.
" Al, bagaimana kabar kamu?" tanya dokter Ariel lalu menyeruput minuman yang ada ditangannya.
" Alhamdulillah kabar aku baik kak?" jawab Zaira
" Kalau ayah sama bunda bagaimana kabarnya, kakak sudah rindu sama mereka?" tanya dokter Ariel dengan pandangan mata lurus ke depan.
Deggg
Zaira terdiam rasanya seperti hantaman batu besar.
" Al !" panggil dokter Ariel lagi karena Zaira masih diam seribu bahasa.
" Mereka baik-baik saja kan Al?" tanya dokter Ariel yang mulai merasakan hal yang tidak enak.
Zaira menoleh ke arah dokter Ariel lalu tersenyum. " Kabar bunda Alhamdulillah baik kak hanya saja sudah hampir dua bulan ini bunda berada di desa merawat kakek yang sedang sakit kak!" ucap Zaira lalu menghela napas panjang sebelum lanjut bercerita.
" Kalau ayah_" Zaira menunduk menjeda ucapannya rasanya lidahnya begitu kelut untuk berbicara
" Ayah kenapa Al?" tanya dokter Ariel yang sudah dilandasi kekhawatiran.
" Sudah dua bulan kak ayah pergi ninggalin kita semua!" ucap Zaira lirih dan tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.
" Mak... maksud ka.. kamu Al?" tanya dokter Ariel terbata-bata.
" Iya kak ayah sudah pergi " ucap Zaira menoleh ke arah dokter Ariel. dan seketika hati dokter Ariel bergemuruh rasanya begitu sesak menghantam dadanya.
" Mak.. maksud kamu ayah pergi ke luar kota kan Al atau pergi ke luar negeri, iya kan Al?" tanya dokter Ariel menepis rasa kekhawatiran yang kini sedang melanda hatinya menepis segala kenyataan yang muncul di pikirannya.
Zaira menggeleng pelan, melihat ekspresi Zaira yang begitu menyedihkan membuat tubuh dokter Ariel melemas seketika. " Tidak mungkin Al, tidak mungkin" dokter Ariel meletakkan kedua tangannya dikepala dan terus menggeleng menepis kenyataan buruk ini.
" A.. ayah su.. sudah tiada kak, ayah meninggal setelah mengalami kecela-kaan kak!" ucap Zaira terbata-bata lidahnya begitu kelut mengatakan kenyataan pahit yang terjadi kurang lebih dua bulan yang lalu.
" Ayah!" ucap dokter Ariel lirih air matanya sudah tidak dapat ia bendung lagi penyesalan demi penyesalan menghujam batinnya.
" Kak !" panggil Zaira mengusap punggung dokter Ariel yang bergetar hebat.
" Maafkan ayah kak!" ucap Zaira dengan air mata yang terus berlinang. " Ayah sangat kehilangan kakak saat kakak memutuskan untuk pergi dari rumah, setiap hari ayah selalu murung dan selama bertahun-tahun ayah tidak pernah berhenti untuk terus mencari keberadaan kakak" Zaira menceritakan semuanya tentang apa yang telah terjadi dengan ayahnya Setelah kakaknya pergi dari rumah.
" Kak sebenarnya selama ini kakak pergi kemana, kenapa kakak tega meninggalkan kita semua kak?" tanya Zaira yang semakin terisak.
" Maafkan kakak Al, kakak pergi karena kakak ingin membuktikan kepada ayah kalau kakak pasti bisa berhasil Al dan kakak akan kembali setelah menjadi orang yang bisa ayah banggakan. karena kakak sadar diri Al kakak ini bukanlah siapa-siapa, kakak ini hanyalah anak yatim-piatu yang tidak punya apa-apa, tidak punya keluarga selain kalian!" ucap dokter Ariel disela Isak tangisnya.
" Kak!" panggil Zaira
" Al maafkan kakak!" dokter Ariel tiba-tiba menarik Zaira ke dalam pelukannya. mata Zaira membulat rasa bersalah begitu kuat di dalam hati kecilnya terhadap suaminya namun sepersekian detik ia teringat dengan kejadian di restoran tadi seketika rasa bersalahnya melebur begitu saja, kesal itulah yang ia rasakan saat teringat kepada pak suami. dengan sedikit ragu-ragu akhirnya tangan Zaira mengusap pelan punggung dokter Ariel.
Zaira membiarkan dokter Ariel menangis di dalam pelukannya, sampai hampir 10 menit dokter Ariel masih memeluknya. Zaira merasa tidak nyaman selain rasa bersalahnya terhadap pak suami yang tidak dapat ditepis oleh hatinya Zaira juga merasa risih dengan pandangan mata orang-orang yang berlalu lalang di taman tersebut.
" Kak!" panggil Zaira mendorong pelan tubuh kekar yang sedang rapuh itu.
" Kak, kita do'akan saja ayah ya semoga ayah tenang di alam sana, apalagi setelah tahu kakak sudah kembali ayah pasti senang kak." ucap Zaira mengusap bahu dokter Ariel setelah mengurai pelukannya.
" Maafkan aku ayah, aku janji aku tidak akan pergi lagi, aku akan menjaga bunda dan juga Alzaira ayah" ucapannya menengadah ke langit seolah melihat ayahnya disana.
__ADS_1
" Terima kasih kak" ucap Zaira membuat dokter Ariel menoleh dan tersenyum kepada Zaira.