Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Sore hari mama Maria dan papa Sam langsung bertandang ke rumah Khanza.


Tok


Tok


Tok


" Assalamu'alaikum?"


" Bu sepertinya ada tamu" ucap Khanza yang samar-samar mendengar suara ketukan pintu dan orang mengucap salam dari luar


" Coba kamu lihat siapa yang datang!" titah bu Khodijah yang tengah berkutat di dapur bersama Khanza


" Iya bu Khanza lihat dulu siapa yang datang" ucap Khanza beranjak dari duduknya dan pergi untuk membukakan pintu


" Assalamu'alaikum!" ucap mama Maria yang kembali mengucapkan salam


" Wa'alaikum salam!" jawab Khanza seraya membuka pintu


Ceklekk


" Mama, tuan Sam!" ucap Khanza sedikit terkejut dengan kedatangan tamu yang bertandang di sore hari ke rumah kecilnya


" Silahkan masuk mah, tuan!" ucap Khanza sopan seraya memberikan jalan untuk tamunya masuk


" Terima kasih sayang!" ucap mama Maria lembut


" Panggil papa aja nak Khanza biar lebih akrab dan enak didengar!" pinta tuan Sam pada Khanza seraya tersenyum


" Emmmm.." Khanza sedikit ragu dan takut-takut karena dia merasa tidak pantas untuk memanggil papa pada tuan Sam yang merupakan orang besar yang namanya sudah terkenal sampai ke mancanegara sementara dirinya siapa hanyalah butiran debu.


" Tidak usah sungkan sayang, kami malah merasa senang jika kamu menganggap kami seperti orang tua kamu sendiri" ucap mama Maria yang tahu akan keresahan hati seorang Khanza


" I..iya mah.. pah... ini sungguh seperti mimpi untuk Khanza, di izinkan memanggil mamah dan papah pada orang sehebat kalian benar-benar diluar dugaan dan ini sungguh merupakan sebuah kehormatan besar untuk Khanza" ucap Khanza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Khanza sudah lama merindukan sosok ayah, ap... apa boleh Khanza memeluk tuan?" tanya Khanza terbata karena tidak kuasa menahan tangisnya.


" Oh ya ampun sayang kenapa kamu menangis?" tuan Sam mendekati Khanza dan langsung menariknya ke dalam pelukannya


" Tentu saja boleh nak, karena itu juga yang papah harapkan. kamu boleh peluk papah setiap kali kamu merindukan ayahmu, jangan bersedih lagi ya sayang, mulai sekarang anggap aku adalah papamu, apapun yang kamu rasakan kamu keluhkan katakan pada papahmu ini ya jangan bersedih lagi ya sayang" tuan Sam mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah Khanza yang nampak memerah karena menangis.


" Anggap kami adalah keluarga mu nak!" ucap mama Maria dan Khanza pun mengangguk


" Terima kasih mah, pah! " ucap Khanza lalu tersenyum seraya menghapus jejak airmatanya yang masih menetes di pipi


" Oiya, mah ... pah duduk dulu akan Khanza panggilkan ibu sekalian buat minuman" ucap Khanza


" Tidak usah repot-repot sayang" ucap mama Maria


" Tidak repot kok mah, sebentar ya mah, pah Khanza tinggal dulu" ucap Khanza yang langsung berjalan menuju dapur di mana Bu Khodijah berada


" Siapa yang datang nak?" tanya bu Khodijah kepada Khanza yang baru saja muncul dari balik pintu


" Mamah dan papah" jawab Khanza membuat bu Khodijah mengerutkan keningnya


" Mamah dan papah siapa?" tanya bu Khodijah


" Ya? oh itu mah maksud Khanza mama Maria dan papa Sam" jawab Khanza seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Kamu ini tidak sopan memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa nak. itu terlalu lancang, kita ini siapa nak" ucap bu Khodijah


" Tapi itu atas permintaan mereka mah agar Khanza memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa" sahut Khanza

__ADS_1


" Sebaiknya ibu temui mereka dulu, Khanza mau buatkan minuman sebentar" ucap Khanza yang hendak membuat minuman


Bu Khodijah beranjak dari duduknya dan langsung berjalan menuju ruang tamu untuk menemui tuan dan nyonya Sam


" Tuan.. nyonya.." sapa Bu Khodijah membuat kedua orang tersebut beranjak dari duduknya dan tersenyum ramah


" Apa kabar bu Khodijah?" sapa mama Maria yang berjabat tangan lalu cipika cipiki pada Bu Khodijah


" Alhamdulillah baik, nyonya sendiri bagaimana kabarnya?" tanya bu Khodijah seraya mempersilahkan tamunya untuk duduk kembali


" Alhamdulillah baik " jawab mama Maria disertai senyuman


" Apa ada hal penting yang tuan dan nyonya ingin sampaikan hingga menyempatkan diri datang ke rumah kami?" tanya bu Khodijah terus terang


" Iya bu, memang ada hal penting yang harus kami sampaikan kepada bu Khodijah dan juga nak Khanza" jawab mama Maria


Obrolan terhenti sejenak saat Khanza membawakan minuman dan cemilan untuk tuan Sam dan mama Maria


" Silahkan diminum mah, pah!" ucap Khanza setelah meletakkan minuman yang ia bawa ke atas meja


" Terima kasih sayang!" ucap papa Sam


"Duduklah nak!" pinta mama Maria dan Khanza pun duduk di samping bu Khodijah


" Begini nak Khanza, bu Khodijah, mungkin ini terlalu mendadak dan cukup mengejutkan untuk kita semua tapi kami mewakili nak Aldy dan keluarganya ingin meminta kesediaan nak Khanza agar bersedia menikah dengan nak Aldy besok pagi!" ucap tuan Sam membuat Khanza tersedak dengan salivanya.


" Uhuk... uhuk...!" bu Khodijah langsung menepuk-nepuk punggung Khanza dan mama Maria dengan cepat memberi Khanza minum


" Maksudnya bagaimana ya tuan?" tanya bu Khodijah yang nampak sedikit bingung


Khanza sudah mulai terlihat tenang dan menatap tuan Sam untuk menunggu penjelasannya.


" Mamanya Aldy masuk rumah sakit dan keadaannya bisa dibilang cukup memperihatinkan. Dia mengatakan berharap bisa melihat anaknya menikah sebelum ajal menjemputnya. Awalnya Aldy menolak karena takut hal itu akan membebanimu nak Khanza tapi mama bilang ke Aldy untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada kalian, soal bersedia atau tidaknya nak Khanza itu terserah nak Khanza dan bu Khodijah yang terpenting kami sudah memberitahu. Dan mama percaya nak Khanza adalah gadis yang baik yang pasti akan mengerti posisi Aldy saat ini." Tutur mama Maria


" Kalau boleh tau apa sebenarnya kesalahan fatal yang sudah dilakukan mamanya nak Aldy?" tanya bu Khodijah ingin tahu


Karena bu Khodijah dan Khanza akan menjadi bagian dari keluarga Aldy mau tidak mau tuan Sam akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi termasuk keinginan mamanya Aldy tersebut.


" Astaghfirullah!" ucap bu Khodijah yang nampak syok mendengar cerita tuan Sam


" Apa bu Khodijah merasa keberatan dengan pernikahan mereka?" tanya mama Maria


Bu Khodijah menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan mama Maria


" Saya tidak berhak menghakimi kesalahan yang dilakukan oleh seseorang nyonya, apalagi jika orang tersebut sudah bertaubat dan menyesali semua perbuatannya. saya hanyalah manusia biasa yang juga tidak luput dari salah dan dosa. Jika Allah saja Maha Penerima taubat bagaimana dengan saya yang hanya manusia biasa dengan segala kekurangan yang ada" ucap bu Khodijah


" Buat saya bukan masalah dengan kesalahan yang pernah mamanya nak Aldy perbuat, asalkan ia sudah bertaubat dan mengakui semua kesalahannya dan nak Aldy pun memperlakukan putri saya dengan baik dan tidak menyakiti hatinya" lanjutnya lagi


" Masya allah... ibu sungguh orang yang baik tidak salah kami memilih Khanza untuk dijadikan menantu" ucap mama Maria


" Kami yang seharusnya berterima kasih kepada nyonya dan tuan yang sudah memperlakukan putri saya Khanza seperti putri kalian" Sahut bu Khodijah


" Lalu bagaimana dengan nak Khanza sendiri? apa kamu masih mau menerima nak Aldy sebagai calon suamimu?" tanya tuan Sam kepada Khanza yang sedari tadi tidak berhenti meremas jemari tangannya sendiri dengan wajah yang menunduk


" Nak Khanza!" panggil mama Maria yang melihat Khanza diam saja


" Khanza!" panggil bu Khodijah menyentuh lembut tangan putrinya yang nampak sedikit gemetar


" Ya?" Khanza mendongak dan pandangan matanya menatap ke arah ibu, mama Maria dan tuan Sam bergantian.


" Apa yang sedang kamu pikirkan nak Khanza?" tanya tuan Sam


" Tidak ada pah!" ucap Khanza lalu menundukkan pandangannya kembali

__ADS_1


" Apa kamu merasa keberatan menikah dengan Aldy?" tanya tuan Sam


" Apa karena mendengar latar belakang orang tuanya nak Khanza berubah pikiran?" lanjutnya


" Maaf, bukan itu yang Khanza pikirkan, hanya saja rasanya terlalu cepat Khanza harus menikah di usia Khanza yang sekarang." ucap gadis tersebut dengan wajah sendu


" Sayang, mama mengerti apa yang kamu pikirkan tapi kamu jangan khawatir walaupun kamu menikah diusia yang terbilang masih sangat muda, kamu masih bisa kok meneruskan pendidikan kamu dan menggapai impian-impian kamu. Putri-putri mama yang lain juga mengalami hal yang sama kok, mereka menikah di usia muda Zaira dan Meli, Alhamdulillah sekarang mereka bisa menjalani rumah tangga mereka dengan baik dan tanpa mengorbankan impian mereka. Dengan seiring berjalannya waktu mama percaya kok kalian berdua pun sama, kelak akan bisa melewati semuanya dengan baik. " ucap mama Maria yang mengerti bagaimana perasaan Khanza saat ini


Khanza menoleh ke arah ibu Khodijah seakan meminta jawaban dari sang ibu tercinta dan Bu Khodijah yang mengerti arti tatapan putrinya akhirnya mengangguk sebagai jawaban.


" Baiklah mah, Khanza bersedia!" ucap Khanza pelan


" Alhamdulillah, terima kasih ya sayang" mama Maria langsung berhambur memeluk Khanza


" kalau begitu sekarang sebaiknya kalian berkemas-kemas karena nanti malam kita langsung berangkat ke kota x" ucap mama Maria setelah mengurai pelukannya.


Khanza dan bu Khodijah beranjak dari duduknya dan mereka pergi ke kamar masing-masing untuk berkemas. setelah selesai mengemas barang miliknya Khanza pergi ke kamar Izan untuk mengemas barang adiknya itu karena saat ini Izan belum pulang dari sekolah karena ada latihan footsal.


" Assalamu'alaikum!" ucap Izan yang baru saja pulang dari latihan footsal.


" Wa'alaikum salam" jawab mama Maria dan tuan Sam bersamaan


" Baru pulang nak Izan?" sapa mama Maria


" Ah iya nyonya?" jawab Izan seraya menyalami punggung tangan dua orang tersebut


" Emmmm... Izan masuk dulu ya mau bersih-bersih" pamit Izan sopan


" Iya silahkan sayang!" ucap mama Maria yang terus mengembangkan senyumnya


Izan masuk ke dalam kamarnya dan nampak terkejut melihat Khanza yang sedang mengemasi barang-barang miliknya ke dalam tas.


" Loh kak kenapa baju-baju Izan dimasukkan ke dalam tas?" tanya Izan yang menghentikan gerakan tangan Khanza yang tengah memasukkan bajunya ke dalam tas


" Hari ini kita akan pergi ke kota x dan sebaiknya sekarang kamu bersih-bersih dulu sana. biar baju kamu kakak yang beresin" ucap Khanza


" Pergi ke kota x, untuk apa kak?" tanya Izan yang penasaran.


" Nanti juga kamu akan tahu, sekarang udah sana cepat mandi. bau tau!" ucap Khanza seraya menjepit hidungnya.


" Iya Izan mandi" Izan pun langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mengemas baju milik adiknya Khanza keluar kamar dan langsung menuju dapur.


" Bu sini Khanza bantu!" Khanza mengambil alih kegiatan ibunya yang tengah menggoreng ayam


" Wangi benar, sedang masak apa bu Khodijah?" tanya mama Maria yang tiba-tiba muncul di dapur


" Ini lagi mau masak ayam goreng kecap sama tumis jamur tiram nyonya" jawab bu Khodijah


" Wah sepertinya enak " ucap mama Maria yang mendekat ke arah Khanza yang tengah sibuk menggoreng ayam


" Apa ada yang bisa mama bantu?" tanya mama Maria


" Ma sebaiknya mama tunggu saja disana nanti kecipratan minyak!" ucap Khanza yang takut mama Maria terkena cipratan minyak panas karena keadaan dapurnya yang sangat sempit


" Gak apa-apa, mama juga sudah terbiasa kok didapur" mama Maria menghiraukan ucapan Khanza.


Mereka pun akhirnya masak bersama dan sesekali mereka tertawa menceritakan tentang Khanza kecil.


Setelah selesai mama Maria menghampiri tuan Sam yang berada di ruang tamu dan saat melihat suaminya yang ternyata tertidur mama Maria hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekatinya.


" Kamu pasti kecapean ya pah sampai ketiduran gini!" gumam mama Maria yang duduk di bangku sebelahnya lalu tersenyum tipis memandangi wajah lelah sang suami yang tengah tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2