
Zaira saat ini berada di kelas 12, kedatangan Zaira tentu membuat seisi kelas tersebut di buat tercengang terlebih lagi Irfan sang ketua OSIS. Irfan beranjak dari duduknya tatkala melihat Zaira yang tengah berdiri di ambang pintu dengan mata yang berkelana ke penjuru isi kelas.
Ada yang suka melihat Zaira, ada yang mencibir meremehkan dan ada pula sebagian yang mencemoohnya namun Zaira tidak peduli yang dia pedulikan saat ini adalah bicara dengan seseorang yang sudah membuat seorang Meliani yang terkenal cuek bila putus cinta tapi hari ini begitu rapuh.
Irfan berjalan menghampiri Zaira namun setelah Irfan sudah berada di dekatnya Zaira malah berjalan melewatinya begitu saja dan menuju seseorang yang duduk di sudut pojok.
Semua pandangan mata mengikuti langkah Zaira yang berjalan menghampiri siswa yang tengah duduk di bangku pojok sambil mendengarkan musik menggunakan headset.
Zaira melepas paksa headset dari siswa yang tidak lain adalah Mario.
" Ikut gue!" Zaira menarik paksa tangan Mario.
Mario yang tahu kondisi fisik Zaira tanpa melakukan penolakan langsung mengikuti langkah Zaira.
Semua yang berada di dalam kelas dibuat melongo. Zaira datang terang-terangan ke kelas mereka dan mengajak Mario pergi begitu saja.
Zaira mengajak Mario keluar saat melewati ruang guru Zaira sempat berpapasan dengan Azka namun Zaira terkesan cuek baginya menyelesaikan masalah Lia lebih penting untuknya saat ini.
Azka terkejut dengan sikap cuek Zaira yang tidak biasanya. namun karena takut terjadi kesalahpahaman Azka memilih untuk menghampiri Zaira.
" Kalian_?" tanya Azka menatap Zaira dan Mario bergantian.
" Daripada banyak tanya udah ikut aku aja yuk!" Zaira menarik tangan Azka dan Mario mengikutinya dari belakang. suasana yang tiba-tiba ramai membuat Zaira mengerutkan keningnya. Kenapa para murid keluar kelas semuanya. semua pandangan mata mengarah kepada Zaira, Azka dan juga Mario yang berjalan santai mengikuti pasutri didepannya.
Suasana kelas nampak sepi hanya ada Zaira cs yang masih tertinggal di sana. ternyata tadi sewaktu Zaira keluar ternyata ada pengumuman kalau hari ini semua siswa-siswi diliburkan karena kepala sekolah dan kepala yayasan yang tidak lain adalah papa Sam akan mengadakan rapat dadakan. ternyata Dewi Fortuna berpihak kepadanya batin Zaira.
Zaira bernafas lega dengan begitu dia bisa dengan leluasa membawa Azka dan Mario menemui Lia.
Zaira masuk ke dalam kelas bersama dua pria tampan yang berjalan di belakangnya.
" Za !" ucap Mona, Mia dan Indah tercengang saat melihat kedatangan Zaira bersama dua orang laki-laki yang berjalan dibelakangnya apalagi laki-laki itu adalah Mario.
Lia masih dalam posisi yang sama tubuhnya masih bergetar tapi tidak sekuat tadi.
Mario terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya. sementara Mia, Mona dan Indah saling melempar pandangan.
" Lia gue dan yang lainnya keluar dulu ya, gak baik masalah itu dibiarkan berlarut-larut. sebaiknya loe selesaikan masalah loe, meskipun sebenarnya gue tuh gak tau apa-apa tapi ya semoga aja langkah yang gue ambil ini gak salah. kalau pun salah ya gue minta maaf!" ucap Zaira cengengesan lalu menarik tangan Mia, Mona dan Indah yang masih diam membeku di tempatnya.
Azka hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang telah dilakukan istri kecilnya itu. Untung saja kondisi kelas saat ini dalam kondisi sepi.
••••••••••••••••
Mario perlahan berjalan menghampiri Lia lalu mendudukkan dirinya di bangku samping Lia.
Lia masih menyembunyikan wajahnya dia tidak tahu kalau ucapan Zaira itu sungguh-sungguh pergi meninggalkannya.
Lia berhenti menangis lalu menegakkan badannya dan betapa terkejutnya Lia saat melihat orang yang berada di sebelahnya adalah Mario.
Lia bangkin dari duduknya " Loe!" tunjuk Lia kesal dengan laki-laki yang dengan santainya duduk di sampingnya.
Mario menarik tangan Lia hingga Lia Jatuh terjerabah di atas bangkunya.
" Duduklah dulu!" pinta Mario.
Lia memasang wajah jutek dia merasa kecewa dengan laki-laki yang kini tengah duduk di sampingnya.
" Gak nyangka seorang Meliani bisa menangis juga?" godanya
Lia melotot dan menatap tajam Mario yang malah nampak santai dan senyam-senyum sendiri.
"kemana Zaira dan yang lainnya?" tanya Lia dan Mario hanya menggidikan bahunya.
Lia berdiri dan hendak melangkah pergi namun lagi-lagi tangannya di cekal oleh Mario.
" Duduklah atau_" Mario tidak melanjutkan kata-katanya
" Atau apa?" tanya Lia menantang
" Atau ku bawa kamu pergi ke KUA" jawab Mario membuat Lia mendelik tajam
" Sudah jangan menatap ku seperti itu membuatku semakin tidak sabar menunggu" ucap Mario santai namun membuat Lia mendengus kesal.
" Sudahlah Io jangan banyak ngegombal dihadapan ku, sebaiknya kamu pergi saja sana aku tidak mau dibilang sebagai pepacor." ucap Lia jutek
__ADS_1
" Pepacor?" tanya Mario menaikan satu alisnya
" Perebut pacar orang" sahut Lia
Mario seketika tertawa mendengar penuturan Lia" kamu ini lucu sekali, tidak mau di sebut pepacor, memangnya pacar siapa yang mau kau rebut hem?" tanya Mario masih sambil tertawa.
" Sudahlah aku sedang malas berdebat!" Lia membereskan buku-bukunya dan Mario dengan cepat menarik tangan Lia menghentikan kegiatannya.
" Kamu ini mau apa sih?" kesal Lia beranjak dari duduknya
" Aku sudah berusaha melupakan kamu, berusaha untuk tidak menghiraukan kamu berusaha untuk tidak melihat kamu dan kamu_" Lia menghentikan kata-katanya karena dadanya yang terasa sesak dan tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya. Air mata Lia sudah menggenang di pelupuk matanya sebisa mungkin Lia menahannya agar tidak menetes.
Mario yang melihat Lia tidak seperti biasanya hanya tersenyum tipis lalu perlahan tangannya meraih tubuh Lia dan menariknya ke dalam pelukannya. awalnya Lia memberontak namun Mario semakin mengukuhkan dekapannya.
Lia menangis di dalam dada bidang Mario rasanya terasa begitu nyaman. Mario membiarkan Lia menangis sepuasnya setelah merasa cukup Mario menguraikan pelukannya dan menangkup wajah Lia yang nampak sembab.
Mario mengusap sisa air mata Lia yang mengalir di pipinya.
" Sudah jangan menangis lagi, jelek tau!" ledek Mario menyentil hidung Lia membuat Lia mencibikkan bibirnya.
" Dengar baik-baik My Lily, siapa yang bilang kamu ini pepacor? apa kamu jangan-jangan sedang mendekati pacar orang iya? apa si serangga itu?" ucap Mario yang berpura-pura marah.
" Kamu jahat malah menuduhku yang tidak-tidak" kesal Lia memukul dada bidang Mario berkali-kali.
" Hei, hentikan!" Mario menangkap kedua tangan Lia dan menatapnya lekat " Siapa yang menuduhmu yang tidak-tidak? aku sudah dua kali melihat kamu dan si serangga itu sedang_" ucap Mario terpotong
" Sedang apa? apa yang aku lakukan sama dia tidak seperti yang kamu bayangkan. semua itu terjadi karena ketidak sengajaan, kamu salah paham Io. aku ingin menjelaskan tapi kamu malah pergi begitu saja. seminggu ini kamu juga tidak pernah menghubungi ku. setiap kali aku telpon nomormu selalu tidak aktif. kalau kamu memang menganggap aku sudah tidak penting lagi. bilang aja sejujurnya tapi tidak membiarkan aku merasa bersalah terus menerus.!" tutur Lia menjelaskan dengan air mata yang kembali menetes.
" Jika kamu memang sudah bosan dan sudah mendapatkan wanita lain setidaknya kamu jujur io, tidak membuat aku merasa tercampakkan seperti ini!" Lia kembali terisak sementara Mario mengernyitkan dahinya.
" Wanita lain? maksudnya?" tanya Mario bingung
" Jangan berbohong lagi padaku Io, kamu sudah punya pacar lagi kan setelah seminggu kita tidak bertemu?" tanya Lia menghapus air matanya kasar
" Pacar? kamu ini bicara apa sih?" tanya Mario memastikan
" Kata anak-anak kamu tadi bersama wanita lain" ucap Lia jujur
" Wanita lain?" tanya Mario yang sedetik kemudian ia malah tertawa.
" Wanita lain mana ada, selain kamu ya mana ada pacar yang lain yang. lagi pula mana bisa kamu disebut pepacor kalau pacar yang kamu maksud aja pacar kamu sendiri, ada-ada saja kamu yang" ucap Mario mengacak-acak rambut Lia gemas.
" Wanita yang mereka maksud mungkin Denise adiknya Gladis yang baru saja masuk ke sekolah ini" tutur Mario menjelaskan.
Lia mendengarkan penuturan Mario dengan serius. " Jadi yang mereka maksud pacar kamu itu adik sepupu kamu?" tanya Lia dan Mario mengangguk pelan.
" Makanya apa-apa itu di cari dulu kebenarannya jangan main telan mentah-mentah omongan orang" ucap Mario menarik kembali Lia ke dalam pelukannya.
"Terus kenapa selama ini kamu tidak menghubungi aku dan nomor kamu juga tidak aktif dan tadi kamu_" Mario memotong ucapan Lia.
" Aku tidak menghubungi kamu karena akhir-akhir ini papa meminta aku membantunya dalam mengurus proyek papa yang baru dan kamu tahu proyek tersebut adalah proyek kerjasama antara papa aku dan papa kamu" tutur Mario menjelaskan
" Dan aku juga tidak mau mengganggu perhatian kamu untuk sahabat kamu Mita" ucapnya lagi.
" Selain itu Aku juga bersama pak Bagaz dan asistennya itu sudah mencari tahu semuanya tentang papanya Mita, tuan Andy yang ternyata selama ini dia terlilit banyak hutang kepada rentenir dan semua itu akibat ulah isteri mudanya itu." Mario menjeda ucapannya.
" Mita ingin di jodohkan kepada rentenir tua yang sudah beristri karena papanya Mita tidak bisa melunasi hutang-hutangnya. jadi Mita dijadikan alat pelunas hutang" tutur Mario membuat Lia tercengang tidak percaya akan nasib buruk Sahabatnya itu.
" Aku dan pak Bagaz beserta asistennya itu sudah mendatangi kediaman tuan Andy dan kamu tahu ternyata isteri muda tuan Andy itu sudah pergi melarikan diri dengan meninggalkannya banyak hutang"
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lia
" Dia terkena serangan jantung dan sekarang berada di rumah sakit " Lia mengangguk pelan
" Terus bagaimana dengan nomor ponselmu yang tidak aktif?" tanya Lia kembali ke topik pembicaraan
" Apa ada alasan yang bisa diterima secara logis?" tanya Lia menyelidik
" Kalau soal itu aku akui aku minta maaf, jujur saja aku merasa sangat cemburu melihat kamu dengan si serangga" jawab Mario pasang wajah cemberut.
" Aku cuma ingin menenangkan hatiku agar tidak berpikiran sempit. ya sedikit ingin tahu juga sih bagaimana reaksi kamu jika aku kita berjauhan, kira-kira kamu itu kangen gak sama aku atau kamu jangan-jangan malah jadian sama cowok yang sudah lama kamu sukai itu!" goda Mario sambil pasang wajah kecewa.
" Apaan sih, nyebelin tau gak!" kesal Lia yang hendak memukul lengan Mario namun lebih cepat gerakan Mario yang langsung menangkap tangannya.
__ADS_1
Mario tertawa sementara Lia memberengut
" Jadi bagaimana ini, kamu kangen gak sama aku?" tanya Mario
" Gak!" Lia memalingkan wajahnya yang sudah semerah tomat
" Benar gak kangen?" tanya Mario lagi
" Gak, kamu nyebelin!" Lia memukul-mukul Mario dan Mario tertawa lepas.
" Iya ampun.. ampun sayang, iya maaf!" Mario berhenti tertawa
" Bagaimana, mau maafin aku gak?"
" Gak mau"
" Kok gitu" Mario pasang wajah sedih
" Iya aku maafin, tapi ada syaratnya"
" Apa?" Mario menatap intens wajah cantik bidadari hatinya itu.
" Emmm.... kamu harus jemput aku kesekolah setiap hari" ucap Lia
" Kalau hanya itu syaratnya, siap Bu bos!" ucap Mario dengan semangat.
" Satu lagi" lanjut Lia
" Apa?" tanya Mario
" Jangan menghindari aku lagi, jika ada yang membuat hubungan kita terasa tidak nyaman alangkah baiknya jika kita bicarakan dengan baik-baik jangan seperti ini lagi, aku gak mau." ucap Lia menyandarkan kepalanya di bahu Mario.
" Iya sayang ku, maaf ya. aku janji deh!" Mario mengusap lembut pucuk kepala Lia
" Tapi kamu benarkan gak ada wanita lain?" tanya Lia takut-takut membuat Mario kembali tertawa.
" Kamu ini ya, mana mungkin aku punya wanita lain setelah aku meminta dengan terang-terangan sama kedua orang tua kamu. apa kamu tahu rasanya itu lebih menegangkan dari pada di panggil kepala sekolah, jantungku terasa ingin meloncat dari tempatnya dan tangan terasa keringat dingin " jawab Mario bila teringat saat meminta izin berpacaran dengan Lia kepada orang tuanya.
" Apa setegang itu?" tanya Lia dan Mario mengangguk.
" Aku itu sudah mengatakan kepada kedua orang tua aku dan juga kedua orang tua kamu untuk serius menjalani hubungan kita ini. aku gak mau kalau nantinya tiba-tiba kamu sampai di jodohkan oleh papa kamu kepada laki-laki lain jadi sebelum itu terjadi aku meminta mu lebih dulu pada papa Sam" tutur Mario menjelaskan
" Serius?" tanya Lia seakan tak percaya
" Aku itu mungkin terkenal berengsek di mata teman-teman kamu, tapi aku janji akan membuktikan kepada mereka kalau kamu itu segalanya buat aku" Jawab Mario dengan serius.
" Uhhh manisnya my Io jadi_" kali ini Lia yang menggantung kata-katanya
" Jadi apa? jadi kepingin cepat-cepat ke KUA?" goda Lia sambil tertawa.
Lia dan Mario tertawa bersama semua kesalahpahaman mereka sudah tidak ada lagi. sementara di luar kelas Mia, Mona dan Indah masih mondar-mandir merasa penasaran dengan hubungan Lia dan Mario terutama Indah. Zaira hanya geleng-geleng kepala melihat mereka yang tidak bisa diam sedang Azka pergi untuk mengikuti rapat.
" Za, maksud loe itu tadi apa kok loe bawa Mario ke kelas dan menyuruh kita buat ninggalin mereka berdua?" tanya Indah
" Loe pasti tahu sesuatu kan Za dan loe menyembunyikan semuanya dari kita, iya kan?" cecar Mona
" Sebenarnya ada hubungan apa sih Za antara mereka berdua?" kali ini Mia yang bertanya.
" Kalian itu ya, kalau bertanya gak kira-kira, satu-satu apa nanyanya" Zaira mendengus kesal karena merasa terpojokkan.
" Jujur aja ya, gue gak tau mereka itu ada hubungan apa, cuma filling gue ngerasa sikap Lia itu berubah saat mendengar si bela menceritakan Mario yang punya pacar baru ya gue kepikiran ke situ aja, awalnya gue kira sama kak Rangga, eh pas gue datang ke kelas kak Mario dia juga gak nolak waktu gue ajak pergi" tutur Zaira menjelaskan
" Ya ialah Za dia gak bakalan nolak kan dia pernah suka sama loe!" celetuk Mona
" Ngaco loe" sarkas Zaira
" Udah yuk ah samperin aja, penasaran gue sumpah" Sahut Indah
" gue takut Lia diapa-apain sama kak Mario berduaan di kelas" ucap Mona menimpali
" Iya benar tuh, yuk ah!" sahut indah dengan semangat.
Baru saja melangkah tiba-tiba mereka dibuat tercengang dengan pemandangan yang ada di depan mata mereka.
__ADS_1
" Itu_". ucap Indah dengan wajah melongo