
" Io!" lirih Lia saat melihat Mario berbalik badan dan melangkah pergi.
Rangga tercengang begitu juga dengan Yoga yang baru saja selesai dari toilet melihat Mario berada di rumah Lia, apalagi saat mereka melihat Lia yang pergi begitu saja mengejar Mario.
Mario datang ke rumah Lia karena merasa perasaannya tidak enak dan merasa bersalah terlebih saat ia pergi dengan sikapnya yang dingin, Mario takut Lia salah paham, meskipun sejujurnya ada rasa kecewa tapi Mario tidak ingin Lia menjadi terbebani pikirannya oleh sikapnya tadi. Jadi Mario memutuskan untuk kembali ke rumah Lia untuk meminta maaf.
Betapa terkejutnya Mario saat masuk ke dalam rumah Lia dengan suguhan pemandangan yang ada di depan matanya, senyumnya langsung memudar saat melihat tangan Rangga melingkar di pinggang Lia, sakit dan kecewa itulah yang dirasakan oleh Mario saat melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat.
Mario merasa kecewa dan marah, bukan tanpa alasan Mario marah dan kecewa terhadap Lia karena dia tahu dengan jelas kalau Rangga adalah laki-laki yang pernah mengisi hati Lia dan tidak menutup kemungkinan jika Lia masih menyimpan perasaan terhadap Rangga yang dulunya adalah sahabat baiknya.
Lia menatap nanar motor yang baru saja melesat kencang pergi dari dihadapannya. sakit itulah yang Lia rasakan saat ini, Lia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis karena yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana kondisi Mita sahabatnya yang dinyatakan koma, untuk masalah Mario Lia yakin Mario bukanlah tipe orang yang mudah percaya dengan penglihatannya saja, mungkin saat ini Mario hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Lia kembali masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai.
" Lia itu tadi Mario bukan?" tanya Yoga memastikan. Lia tidak menghiraukan pertanyaan Yoga,ia hanya menghembuskan napasnya kasar.
" Kalian berdua_?" tanya Yoga lagi yang langsung dipotong oleh Lia.
" Gue mau berangkat sekarang!" ucap Lia sambil berbalik badan dan keluar rumah tanpa menghiraukan pertanyaan Yoga
Rangga dan Yoga hanya saling pandang dan menggidikan bahu masing-masing lalu menyusul Lia.
***
Mobil Lia dan mobil Yoga kini sudah berada di parkiran rumah sakit. mereka keluar dari mobil dan tanpa sengaja mereka bertemu dengan Mona, Mia dan juga Indah yang ternyata baru sampai juga.
Mona dan Indah senyam-senyum saat melihat Lia yang datang bersama dengan Rangga walaupun ada Yoga juga bersamanya. kecuali Mia yang nampak murung memikirkan keadaan Mita.
" Baru sampai juga loe Li?" tanya Mia dan Lia hanya mengangguk pelan, entah kenapa rasanya saat ini Lia terasa begitu berat untuk sekedar berbicara.
" Li loe bareng mereka?" tanya Mona pelan dan lagi-lagi Lia hanya mengangguk.
" Kayaknya udah ada yang kita lewati nih!" goda Indah yang malah dapat tatapan tajam dari Lia.
" Biasa aja kali Li ngeliatinnya!" Indah bergidik ngeri.
" Loe sih ngomongnya gak disaring, setidaknya liat sikon!" ucap Mia mengingatkan
" Ya sorry, kali aja kita memang terlewat cerita kalau ternyata mereka udah jadian!" sahut indah yang belakangan ini jadi lebih bawel dan cerewet.
Lia hanya mendengus kesal, malas meladeni ucapan omong kosong dari Indah yang hanya akan buang-buang tenaga saja batin Lia.
Mereka kini sudah berada di depan ruang perawatan Mita, disana sudah ada Rosa mamanya Mita dan juga dokter Ariel yang masih setia menunggu dan menemani Mita.
" Assalamu'alaikum!" ucap Lia dan teman-temannya.
" Wa'alaikum salam!" jawab Rosa dan dokter Ariel yang menoleh bersamaan ke arah Lia dan teman-temannya kemudian beranjak dari duduknya.
" Sayang, lihat teman-teman kamu sudah datang, cepat bangun ya sayang!" ucap dokter Ariel berbisik di telinga Mita.
" Kalian sudah datang!" sapa Rosa
" Iya tante!" jawab Lia yang langsung menyalami tangan Rosa dan diikuti oleh teman-temannya.
" Bagaimana keadaan Mita tante?" tanya Lia
__ADS_1
" Keadaan Mita saat ini stabil, kondisi fisiknya terbilang tidak ada yang begitu membahayakan tapi_!" dokter Ariel yang mewakili Rosa menjawab pertanyaan Lia menjeda ucapannya
" Tapi apa dokter?" tanya Lia penasaran
" Luka hatinya yang terlalu dalam membuat Mita merasa nyaman dengan dunianya saat ini. Mita seakan tengah menghindari rasa kecewanya, kesedihannya dan juga kebenciannya. dia seperti enggan kembali kedunia nyatanya karena merasa dunia sudah tidak adil kepadanya. Dicampakkan begitu saja lalu tiba-tiba dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dia suka membuat Mita memilih untuk tetap pada zona amannya saat ini. hal dimana cukup membahayakan Mita jika terus menerus dalam kondisi seperti ini. jadi dengan kedatangan kalian semua semoga Mita bisa kembali bersemangat dan yakin jika masih banyak orang-orang yang sayang sama dia. " ucap dokter Ariel menjelaskan.
" Ajaklah Mita berbicara, meskipun keadaannya seperti ini tapi dia masih bisa mendengar suara kalian semua, siapa tahu setelah mendengar suara kalian bisa memicu Mita untuk kembali sadar!" ucap dokter Ariel lagi berusaha untuk menenangkan hatinya sendiri.
Dokter Ariel menghampiri Mita dan sedikit berbisik " Sayang teman-teman kamu sudah datang, aku pergi dulu ya sebentar, kamu bangun ya ajak mereka berbicara!" bisik dokter Ariel lalu mengelus pucuk kepala Mita sebelum beranjak pergi.
" Kalian ajaklah Mita berbicara, aku pergi dulu!" ucap dokter Ariel yang pamit undur diri.
Saat membuka pintu ternyata dokter Ariel berpapasan dengan Zaira yang baru saja tiba bersama Azka.
" Kak!" sapa Zaira
" Al, apa kabar?" tanya dokter Ariel dengan ramah.
" Alhamdulillah baik kak" jawab Zaira
" Syukurlah" dokter Ariel tersenyum tipis
" Kak, bagaimana kondisi Mita?" tanya Zaira sedikit ragu-ragu.
" Bisa kita bicara Al?" tanya dokter Ariel lalu menoleh ke arah Azka seakan meminta izin.
" Ini tentang Mita!" ucap dokter Ariel yang tahu akan sikap dingin Azka terhadapnya.
Azka lalu mengangguk pelan, dan melirik ke arah Zaira yang juga tengah meliriknya.
Setelah mendudukkan dirinya di kursi tunggu dokter Ariel menarik napas panjang sebelum memulai berbicara " Al kakak mohon bantu Mita Al" ucap dokter Ariel lirih membuat Zaira dan Azka saling melempar pandang.
" Kamu dan yang lainnya itu adalah Sahabat-sahabatnya Mita Al, jadi kakak berharap kalian bisa membantu Mita untuk kembali mengingat momen-momen kebersamaan kalian selama ini. tentunya momen yang bisa membuatnya merasa bahagia, agar memori dan kenangan buruk yang melekat erat dalam alam bawah sadarnya saat ini bisa terhapuskan Al" Terang dokter Ariel menjelaskan.
" Maksud kakak apa? sebenarnya apa yang terjadi dengan Mita kak? " tanya Zaira khawatir
" Al saat ini Mita dalam keadaan koma!" tutur dokter Ariel membuat Zaira menutup kedua mulutnya dengan tangan dalam keterkejutannya.
" Koma, tidak mungkin kak! kemarin kami habis jalan bersama kak, tidak mungkin Mita dalam keadaan koma sekarang kak" sahut Zaira tidak percaya, Azka langsung merangkul Zaira dalam dekapannya yang tengah terisak.
" Al jangan seperti ini kakak mohon Al, Mita saat ini sangat membutuhkan kamu dan juga sahabat-sahabat kamu yang lain. jika kalian seperti ini Mita akan bertambah sedih dan merasa bersalah terhadap dirinya sendiri Al. kita harus bisa membuat Mita kembali bangkit Al, menyemangatinya dan memberi keyakinan kepadanya kalau semua orang menyayanginya dan menginginkan dia kembali sadar!" pinta dokter Ariel. meskipun hatinya sebenarnya sakit melihat keadaan Mita yang seperti ini tapi sebisa mungkin ia harus tetap kuat dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Mita pasti akan segera sadar.
" Kak, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mita, kenapa dia bisa seperti itu kak?" tanya Zaira yang masih terisak.
Dokter Ariel mau tidak mau menceritakan kejadian yang dialami oleh Mita sampai membuatnya seperti saat ini kepada Zaira dan Azka.
Tangan Azka mengepal kuat rasanya begitu geram dengan sikap semena-mena papanya Mita. Zaira pun menutup mulutnya tatkala mendengar apa yang diceritakan oleh dokter Ariel. Zaira tidak menyangka jika selama ini ternyata Mita menyembunyikan kesedihannya dibalik sikapnya yang kuat dan ceria.
" Kak!" panggil Zaira lirih
" Kakak tidak tahu harus bagaimana lagi Al, kakak merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dan melindunginya Al" ucap dokter Ariel lirih membuat Azka dan Zaira saling melempar pandang.
" Kak, apa kakak dan Mita_?" Zaira menggantungkan pertanyaannya.
Ariel mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menghembuskan napasnya kasar " Mita yang selama ini telah menyadarkan kakak bahwa keegoisan dan ambisi kakak yang berlebihan atas perasaan kakak kamu adalah salah. dia yang membuat kakak keluar dari belenggu cinta yang kakak buat sendiri. dia yang sudah membebaskan kakak dari semua kebodohan kakak, dia selalu datang sebagai penyemangat kakak, selalu ada disetiap Kakak membutuhkan tempat bersandar, dia juga yang membuat kakak yakin kalau cinta yang sesungguhnya itu pasti ada untuk kakak dan tanpa kakak sadari ternyata Mita lah wanita yang selama ini kakak inginkan sebagai pendamping hidup kakak. Katika kakak tidak lagi berjumpa dengannya barulah kakak sadar kalau ternyata kakak sudah jatuh cinta dengan gadis yang ternyata senyumnya, tawanya, ketegarannya, keceriaannya, kedewasaannya itu semua hanyalah topeng belaka karena dibalik itu semua kakak baru tahu kalau ternyata dia juga gadis yang rapuh yang membutuhkan seseorang untuk melindunginya dan kakak merasa gagal karena tidak bisa menjaga dan melindunginya Al!" tubuh dokter Ariel bergetar hebat, Zaira yang masih tercengang dengan penuturan tentang perasaan dokter Ariel terhadap Mita perlahan tangannya terulur untuk mengusap punggung kakaknya itu sebagai penghibur dan memberi kekuatan untuknya.
__ADS_1
Azka meraih ponselnya dan mengetik sesuatu lalu mengirimkannya ke Sendy sang asisten.
" Kak, Mita butuh kakak untuk selalu berada di sisinya aku yakin kak kekuatan cinta yang besar untuk Mita pasti akan mampu membuat Mita kembali sadar. kakak jangan putus harapan kak, Mita adalah gadis yang kuat. aku yakin kak Mita tidak akan menyerah begitu saja. mari kita sama-sama kak memberi Mita kekuatan dan semangat untuk bangkit dan semoga saja cinta dan kasih sayang yang kita berikan bisa membawa Mita kembali!" tutur Zaira memberi semangat kepada sang kakak.
Azka mengusap bahu dokter Ariel sebagai bentuk penyemangat.
" Terima kasih Al, Bagaz!" ucap dokter Ariel tersenyum tipis.
•••••
Di dalam ruangan Mita
Mia, Mona dan Indah tengah terisak melihat keadaan Mita yang begitu sangat memperihatinkan, sementara Lia duduk di kursi sisi ranjang Mita sambil menggenggam tangan Mita mengajaknya berbicara. Walaupun Mita masih memejamkan mata tapi indera pendengarannya masih berfungsi sempurna dia masih bisa merespon bila ada yang berbicara dengannya. Mita terkadang menitikkan air matanya.
Lia menatap iba ke Mita, sungguh dia tidak menyangka sahabatnya yang selalu ceria dan terlihat kuat ternyata disisi lainnya ia sangat rapuh dan menyedihkan. Lia mengajak Mita berbicara mengenang semua kenangan mereka sewaktu bersama-sama.
Lia sesekali menyeka air matanya yang mengalir membasahi pipinya. " Mita loe harus cepat bangun, kasihan nyokap loe Mita kalau loe kayak gini terus. banyak yang sayang Mit sama loe dan soal perjodohan seperti yang nyokap loe bilang ke gue, loe tenang aja Mita, gue bakalan minta bokap gue untuk mencegahnya Mit. dan gak akan ada yang bisa memaksa loe Mit termasuk bokap loe sekalipun. gue pasti akan melindungi loe Mit. jadi gue mohon sama loe Mita, cepat bangun dan lihat kami disini sangat merindukan loe Mita!" ucap Lia dengan air mata yang menetes.
Rangga dan Yoga nampak terharu dengan ikatan persahabatan Lia dan teman-temannya yang begitu erat, saling mendukung dan memberikan semangat satu sama lain.
Ceklekk
pinta terbuka dari luar dan tidak lama menyembul dari balik pintu Zaira dan Azka.
Zaira sedikit terhuyung saat melihat keadaan Mita, untung saja tangan kekar Azka dengan cepat langsung meraih pinggang Zaira dan membawanya ke dalam pelukannya.
Zaira berusaha untuk tetap kuat dan tidak selemah biasanya. dengan langkah perlahan dan pandangan mata yang tidak lepas dari Mita, Zaira mendekat ke arah brankar Mita didampingi pak suami tentunya.
Rangga dan Yoga yang melihat kedekatan keduanya merasa sedikit terkejut ditambah lagi dengan sikap kehati-hatian Azka terhadap Zaira. Yoga terus saja memperhatikan Zaira yang nampak berbeda menurutnya. setelah beberapa menit berada di ruangan tersebut Yoga dibuat tercengang saat tanpa sengaja Yoga mendengar sayup-sayup percakapan antara Zaira dan Mita.
" Mita bangun dong, loe gak boleh iama-lama ya tidurnya. loe harus cepat bangun Mita, apa loe gak mau melihat keponakan loe ini lahir?" ucap Zaira sambil mengusap perutnya.
" Mita, loe tau kan semua orang disini sayang banget sama loe, jadi sebaiknya loe cepatan deh bangun Mit, masa loe tega ngebiarin gue nangisin loe terus, gak kasihan apa loe sama keponokan loe ini?" Zaira tidak kuasa menahan tangisnya ia sesenggukan menangis dalam dekapan sang suami.
" Sudah sayang jangan menangis lagi ya, kasihan Azka jenior jika kamu menangis seperti ini" ucap Azka mengusap-usap punggung Zaira dengan lembut.
Deg
Rangga dan Yoga tercengang mendengar ucapan yang baru saja Azka ucapkan. Azka siapa Azka? Azka junior? pak Bagaz mengelus perut Zaira yang nampak sedikit membuncit, berarti Zaira tengah hamil, Azka adalah pak Bagaz? otak Rangga dan Yoga sepertinya tengah dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya semakin penasaran.
" Pak Bagaz!" ucap Lia seakan memberi kode kepada pasangan suami istri tersebut bahwa di ruangan tersebut ada Rangga dan Yoga.
Zaira yang mengerti akan kode yang Lia berikan langsung bergeser sedikit menjaga jarak dengan Azka.
Lia berjalan mendekati Zaira lalu diikuti Mia,Mona dan Indah. kali ini Azka yang bergeser memberikan ruang kepada Zaira dan para sahabat berkumpul mendekati Mita.
Zaira meraih tangan Mita dan menggenggamnya diikuti oleh Lia dan yang lainnya. " Mita loe dapat merasakan bukan, hangatnya persahabatan kita? kami disini menunggu loe Mita, menunggu loe untuk membuka mata dan bergabung dengan kami disini. !" ucap Zaira sambil terisak
" Gue kangen sama ceramah loe Mita!" ucap Zaira
" Gue kangen sama sikap loe yang sok bijak Mita" ucap Lia
" Gue kangen sama sikap loe yang cerewet Mita!" ucap Mia
" Gue kangen dengan sikap loe yang jahil dan juga sok tau Mita!" ucap indah
__ADS_1
" Gue... Gue kangen sama sikap loe yang selalu bilang gue bodoh dan suka banget menoyor kepala gue. !" ucap Mona dan kelima orang sahabat itupun menangis bersama-sama dan tanpa mereka sadari air mata Mita pun ikut menetes.