Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Pasokan energi


__ADS_3

Lia sesekali menoleh ke arah Mita yang pandangannya terus menatap ke arah depan namun nampak begitu kosong.


" Mit!" cicit Lia namun Mita tetap diam tidak bergeming.


" Mita loe boleh menangis, jangan loe pendam sendiri Mit gue akan selalu ada kok buat loe" ucap Lia.


Mita menoleh ke arah Lia " Gue gak apa-apa Li, loe gak usah khawatir" ucap Mita dengan tersenyum hambar.


" Gue tahu elo Mit, kita sebagai wanita boleh pura-pura bersikap tegar dan kuat tapi cukup dihadapan orang yang membuat hati kita terluka aja Mit, jika loe hanya memendam rasa sakit hati loe sendiri yang ada loe akan merasa sesak sendiri Mit, gue ini sahabat loe apakah sebagai sahabat gue gak ada manfaatnya sama sekali buat loe,?" tanya Lia


" Bukan seperti itu Li, gue sudah berjanji dengan diri gue sendiri gue gak mau menangis di tempat umum lagi, gue mau pinjam satu kamar di rumah loe ya buat gue nangis nanti!" ucap Mita tersenyum tipis.


" Elo ada-ada aja sih Mit, nangis ditahan-tahan nunggu sampai rumah" ucap Lia tergelak


" Gue gak mau dibilang gadis cengeng yang hobby menangis di tempat umum lagi Li" sahut Mita.


" Siapa emangnya yang bilang loe gadis cengeng?" tanya Lia kepo


" Orang yang melihat gue waktu itu menangis di jalan, dia bilang gak ada tempat apa menangis di jalan dan dia bilang gue ini gadis cengeng" ucap Mita yang tiba-tiba teringat dengan Arta.


" Kalau loe mau nangis udah nangis aja Mit ini bukan tempat umum dan orang itu juga tidak akan ada disini, siapa tau dengan begitu hati loe akan terasa lebih tenang, gak usah loe tahan-tahan!" ucap Lia


" Gue harus kuat Li, gue gak boleh rapuh" ucap Mita


" Iya gue tau itu, loe memang gadis yang kuat Mita. nanti loe bisa menangis sepuas loe deh dirumah gue tapi ingat jangan yang aneh-aneh ya!" ucap Lia membuat Mita mengerutkan keningnya


" Aneh-aneh bagaimana maksud loe?" tanya Mita


" Loe boleh menangis sepuasnya tapi jangan sampai loe melukai diri loe sendiri" pesan Lia


" Ya gak akan lah" ucap Mita geleng-geleng kepala.


Tidak berapa lama mobil Lia sudah sampai di kediaman orang tua Mario.


" Ayok masuk!" ajak Lia


" Memangnya gak apa-apa nih loe ngajak gue kesini?" tanya Mita yang nampak tidak enak hati.


" Memangnya kenapa, tenang aja disini sepi kok cuma ada seorang art aja" ucap Lia


" Ayok!" Lia menarik tangan Mita.


" Loe mau disini atau mau langsung masuk ke dalam kamar?" tanya Lia saat mereka berada di ruang tamu


" Gue boleh langsung ke kamar aja gak, gue mau bersih-bersih dulu rasanya gerah banget." Jawab Mita


" Ya boleh dong, ayok!" ajak Lia


" Tapi gue gak punya baju ganti Li" ucap Mita


" Tenang aja di dalam kamar tamu sudah disediakan beberapa baju bersih di dalam lemari kok, loe bisa memakainya. cari yang bisa loe pakai" ucap Lia.


" Terima kasih ya Li!" ucap Mita


" Sama-sama, ayok!" ajak Lia


saat hendak masuk ke dalam kamar tamu Lia dan Mita berpapasan dengan bi Tini.


" Bi!"


" Iya non!"


"Bi kenalkan ini sahabat saya Mita, dia akan menginap di sini bi menemani saya selama Mario pergi ke Jerman" ucap Lia


" Non Mita, saya bi Tini" ucap bi Tini memperkenalkan diri


" Saya Mita bi" ucap Mita seraya tersenyum.


" Bi maaf, tolong buatkan teh hangat ya bi.nanti tolong bawa ke kamar tamu" ucap Lia


" Baik non"


" oiya bi, Mario sama kak Arta mana?" tanya Lia karena tidak melihat keberadaan suami dan kakak sepupu suaminya itu.


" Mereka ada di ruang kerja tuan besar non"


" Oh begitu, yaudah nanti saya kesana, terima kasih ya bi"


" Sama-sama non"


" Ayok Mit!"


" Kak Arta itu siapa?" tanya Mita saat mereka tengah berjalan menuju kamar tamu.


" Kak Arta itu kakak sepupunya Mario sekaligus sekretaris pribadinya dan saat ini mereka pasti sedang membahas tentang keberangkatan mereka ke Jerman besok pagi"


" Mario akan ke Jerman besok pagi?" tanya Mita


" Iya" sahut Lia

__ADS_1


" Berapa lama?"


" Ya kemungkinan 2 Mingguan"


" Selama itu? lalu bagaimana dengan sekolahnya, bukannya sebentar lagi Mario akan ujian ya?" pikir Mita


" Iya sih, tapi ya mau bagaimana lagi." jawab Lia


Tok


Tok


Tok


" Non" teriak bi Tini dari luar


" Iya bi!" sahut Lia dari dalam kamar


" Sebentar ya Mit" Lia beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamar.


" Non, ini teh hijaunya" ucap bi Tini memberikan teh yang dibawanya.


" Terima kasih ya bi" ucap Lia ramah


Setelah itu Lia meraih cangkir teh hijau yang bi Tini pegang dan membawanya masuk ke dalam kamar setelah itu bi Tini sudah pergi kembali ke dapur.


" Ini minum dulu, teh hijau biar loe sedikit tenang" Lia memberikan teh hijau yang dibawanya kepada Mita


" Terima kasih" ucap Mita


" Sama-sama" Lia tersenyum


" Yaudah kalau loe mau bersih-bersih gue tinggal dulu ya" pamit Lia kepada Mita


" Iya, thanks ya Li, maaf ya Li gue jadi ngerepotin loe!" ucap Mita dan Lia tersenyum.


"Gak usah sungkan, kayak sama siapa aja loe" ucap Lia


Lia keluar dari kamar yang Mita tempati saat ini dan pergi mencari Mario ke ruang kerjanya.


Setelah Lia keluar dari kamar tersebut dengan langkah gontai Mita masuk ke dalam kamar mandi, Mita duduk di lantai kamar mandi dibawah guyuran air yang terus mengalir membasahi tubuhnya. Mita menumpahkan semua rasa sakit hatinya dan juga segala kekecewaannya terhadap dokter Ariel dibawah guyuran air shower lalu dia menangis sejadi-jadinya. hatinya begitu sesesak menerima kenyataan bahwa laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya ternyata sudah beristeri bahkan dalam keadaan hamil.


Mita terus menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air yang terus saja mengalir membasahi tubuh Mita yang sudah sedikit bergetar, sampai akhirnya tubuh Mita melemah dan jatuh pingsan karena selain menahan rasa sesak di hatinya dia juga menggigil kedinginan karena hampir selama 3 jam berada di bawah guyuran air.


Sementara Lia yang sedang membantu bi Tini menyiapkan makan malam tidak mengetahui keadaan Mita yang sudah tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Lia yang sedang bersama Mario dan Arta mengira Mita saat ini tengah menenangkan dirinya di dalam kamar.


" Li teman kamu mana?" tanya Arta saat mereka tengah berada di meja makan tidak melihat keberadaan Mita dan Lia sedang membantu bi Tini menyusun makanan di atas meja makan.


" Hari ini adalah hari yang berat buat Mita kak" ucap Lia


" Kenapa memangnya?" kali ini Mario yang bertanya


" Tadi sewaktu aku menjemputnya kami sempat mampir ke kedai soto ayam yang ada di jalan xx, dan tanpa sengaja kami bertemu dengan dokter Ariel yang sedang bersama seorang wanita yang ternyata adalah isteri dokter Ariel." ucap Lia yang kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi di kedai soto tersebut.


" Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Arta yang entah kenapa hatinya merasa sedikit khawatir dengan keadaan sahabat dari isteri sepupunya itu


" Tadi sih dia terlihat baik-baik saja, tapi _" Lia tiba-tiba merasa perasaannya tidak enak saat teringat dengan keadaan Mita.


" Io , kak aku harus melihat keadaan Mita dulu" ucap Lia yang langsung meletakkan piring yang dipegangnya begitu saja.


Lia langsung masuk ke dalam kamar yang Mita tempati namun tidak melihat keberadaan Mita.


" Mit... Mita!" panggil Lia saat mendengar suara gemericik air dari dalam mandi Lia mengetuk-ngetuk pintu namun tidak ada jawaban.


" Mit.. Mita!" teriak Lia lagi karena sudah merasa sangat khawatir ditambah tidak mendapat jawaban dari Mita akhirnya Lia memutuskan untuk mendobrak pintu yang terkunci dari dalam. dengan sekuat tenaga Lia mendobrak pintu kamar mandi tersebut dan saat pintu terbuka betapa terkejutnya Lia melihat Mita yang sudah tidak sadarkan diri duduk di bawah guyuran air shower.


" Mit... Mita, bangun Mit!" Lia menepuk-nepuk pipi Mita namun tidak ada respon sedikitpun.


" Tolong.. Mario... kak Arta tolong!" teriak Lia keluar sebentar untuk memanggil Mario dan Arta yang berada di meja makan.


Karena letak kamar tamu dengan meja makan tidak terlalu jauh Mario dan Arta bisa mendengar teriakan Lia yang terdengar sangat panik membuat Arta dan Mario langsung berlari menghampiri Lia.


" Ada apa?" tanya Mario setelah berada di dalam kamar tamu tersebut.


" Io tolong Mita!" ucap Lia yang sudah menitikkan air mata


Mario dan Arta masuk kedalam kamar mandi dan betapa terkejutnya Arta melihat gadis yang beberapa hari ini sudah mengganggu pikirannya ada di sana dengan keadaan yang sangat menyedihkan.


" Gadis ini" gumam Arta dalam hati dan tanpa pikir panjang dia langsung mengangkat tubuh Mita dan membaringkannya di atas tempat tidur.


" Cepat panggil dokter!" teriak Arta panik membuat Mario yang nampak bingung dengan sikap panik Arta langsung terkesiap.


" Baik kak" Mario langsung menghubungi dokter keluarganya.


" Sudah berapa lama dia berada di dalam kamar mandi?" tanya Arta yang melihat keadaan Mita begitu pucat dan menggosok-gosokkan telapak tangan Mita dengan telapak tangannya.


" Aku tidak tahu pasti kak, tapi tadi tidak lama aku meninggalkannya di kamar katanya dia mau mandi, apakah selama itu dia_? astaga" Lia menutup mulutnya sendiri dengan keterkejutannya.


" Li cepat kamu bantu gantikan bajunya dan matikan AC nya cepat!" ucap Arta tegas

__ADS_1


" Rio cepat kita keluar biar Lia bisa menggantikan bajunya dan suruh bi Tini membuatkan minuman jahe!" ucap Arta lagi.


Lia dibantu bi Tini menggantikan baju Mita yang basah, dan Arta yang memilih untuk membuatkan minuman jahe untuk Mita.


Tidak butuh waktu lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Mita.


" Bagaimana dokter kepadanya?" tanya Lia yang begitu mencemaskan keadaan sahabatnya


" Alhamdulillah, dia tidak apa-apa. dia hanya sedikit demam karena terlalu banyak terguyur air, untung saja fisiknya kuat jadi tidak ada hal yang terlalu sirius, hanya saja sepertinya dia sedang mengalami stres berat. hiburlah dia jangan sampai kejadian ini terulang lagi" ucap dokter yang baru saja memeriksa kondisi Mita.


" Ini aku resepkan obat, tebus ya!" ucap sang dokter sebelum beranjak pergi.


" Terima kasih dokter" ucap Lia merasa lega.


" Biar kakak saja yang pergi menebus obatnya!" tawar Arta setelah dokter tersebut pergi.


" Terima kasih ya kak, maaf merepotkan kakak" ucap Lia


" Tidak masalah, santai saja" ucap Arta lalu beranjak pergi.


" Aku tidak menyangka Mita akan seperti ini" ucap Lia lirih setelah Arta keluar dari kamar tersebut.


" Siapa yang tidak sedih jika tunangannya ternyata sudah memiliki isteri bahkan isterinya tengah hamil" ucap Mario memeluk Lia dari samping.


" Aku tidak tahu harus bagaimana, sebagai sahabat aku merasa sangat tidak berguna" ucap Lia lirih


" Jangan bicara seperti itu, justru saat seperti inilah kehadiranmu sangat Mita butuhkan. hiburlah dia !" ucap Mario mengusap pucuk kepala Lia dengan lembut.


Lia lalu duduk di pinggir tempat tidur Mita menatap wajah pucat sang sahabat dengan selang infus ditangannya.


" Mita loe harus kuat ya" ucap Lia


" Loe harus tunjukkan kalau loe bisa hidup tanpa dia" tutur Lia lagi.


Setelah 15 menit Arta sudah kembali dengan membawa obat yang ditebusnya.


" Ini " ucap Arta menyerahkan obat tersebut kepada Lia


" Terima kasih ya kak" ucap Lia


" Sama-sama"


" Bagaimana keadaannya?" tanya Arta dengan menatap ke arah Mita.


" Masih belum sadar kak" ucap Lia


" Li besok aku dan kak Arta akan berangkat pagi-pagi, aku akan berkemas-kemas sekarang"


ucap Mario yang ingin pamit kepada isterinya.


" Tapi Mita_" ucap Lia merasa bingung berada di posisi yang sulit.


" Sudah sana bantu suamimu berkemas, biar dia aku yang menjaganya disini, ingat suami kamu itu cukup lama loh disana jadi sebelum berangkat berikan dia energi biar kerjanya semangat" ucap Arta sedikit menggoda


" Tapi kak bagaimana dengan Mita?"


" Kamu gak usah cemas, kakak akan menjaganya disini, nanti setelah dia sadar kakak akan memberitahu kalian" ucap Arta.


" Baiklah, tapi apa kakak tidak berkemas-kemas?" tanya Lia


" Barang-barang kakak sudah ada di mobil kakak memang rencananya mau berangkat dari sini sekalian" sahut Arta.


" Yasudah aku ke kamar dulu ya kak" ucap Mario " Ayok sayang!" ajak Mario merangkul bahu Lia


setelah Lia dan Mario pergi kini hanya tinggal Arta yang duduk menatap wajah pucat Mita.


" Dasar gadis cengeng yang bodoh!" ucap Arta


" Aku menyuruhmu menangis di dalam kamar tapi bukan berarti di dalam kamar mandi dan sampai seperti ini." ucapnya lagi.


Sementara di dalam kamar Lia dan Mario tengah menyiapkan beberapa barang-barang yang akan dibawa oleh Mario.


" Io, jangan macam-macam ya disana?" ucap Lia


" Macam-macam bagaimana?" tanya Mario


" Ya jaga pandangan mata kamu disana" ucap Lia membuat Mario terkekeh


" Tentu saja sayang, lagi pula aku disana itu untuk bekerja bukan untuk main-main" sahut Mario yang sudah memeluk Lia dari belakang.


" Io!" Lia menepuk tangan Mario yang bergerilya nakal " Lepas ih!" ucap Lia


" Sebentar ya sayang!" ucap Mario sedikit merengek


" io, gak enak dengan kak Arta dan Mita"


" Kak Arta pasti mengerti sayang, boleh ya buat pasokan energi untuk ku selama di Jerman sayang" rengek Mario.


" Baiklah" ucap Lia pasrah

__ADS_1


Dan tidak tunggu lama Mario pun langsung melancarkan aksinya mengisi energi untuk pasokan selama di Jerman.


__ADS_2