Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season ke 2 Khanza


__ADS_3

Khanza sudah diperbolehkan pulang dan sikap Aldy semakin over protective pada isteri dan calon ibu dari anaknya itu.


" Mas aku ingin melihat keadaan Nana boleh ya?" pinta Khanza


" Boleh tapi dengan syarat!" sahut Aldy


" Syarat apa mas?" tanya Khanza


" Kamu harus kuat melihat kondisi Nana bagaimana pun keadaannya, karena jika kamu sedih maka bukan hanya berpengaruh pada kesehatan kamu sendiri tapi juga pada Nana, karena Nana pasti tidak mau kamu bersedih"


" Apa terjadi hal buruk pada Nana mas?"


" Untuk saat ini mas sendiri belum tahu pasti bagaimana kondisi Nana yang sebenarnya, tapi mas berharap bagaimana pun kondisi Nana kamu harus tetap sabar dan kuat"


" Iya mas" jawab Khanza


Setelah selesai berkemas Aldy lebih dulu turun untuk meletakkan barang-barang Khanza ke dalam mobil, Aldy kembali lagi kedalam ruangan Khanza dan mengantarnya ke tempat dimana Nana sedang dirawat


" Miska, semuanya!" sapa Khanza setelah sampai di tempat Nana dirawat


" Khanza!" Miska menoleh lalu beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Khanza


Miska dan Khanza saling berpelukan " Ka bagaimana keadaan Nana?" tanya Khanza setelah mengurai pelukannya


" Belum ada perkembangan Za, Nana masih belum sadarkan diri" jawab Miska


" Sebaiknya kalian duduklah dulu tidak baik ibu hamil berdiri terus!" ucap Roni yang sudah mendekat ke arah Khanza dan Miska


" Iya betul, ayo bicaranya sambil duduk!" ucap Aldy


" Dimana Hana?" tanya Khanza karena tidak melihat keberadaannya


" Hana, Billy dan bang Haris pulang dulu untuk ganti baju" jawab Miska dan Khanza mengangguk mengerti


Keadaan Nana belum ada perkembangan, ia masih dalam keadaan koma. Haris , Hana dan Billy pun sudah datang kembali, meninggalkan Nana di rumah sakit rasanya membuat Haris tidak tenang sepanjang waktu. Haris sangat takut terjadi sesuatu pada Nana


" Bang Haris harus yakin kalau Nana pasti akan segera sadar, Nana gadis yang kuat dia pasti bisa melewati ini semua bang!" ucap Roni pada Haris


" Terima kasih Ron, semoga saja Nana bisa melewati ini semua dengan baik"


" Amin" ucap semua yang ada di depan ruang ICU tempat dimana Nana dirawat


Beberapa dokter dengan tergesa masuk ke dalam ruang ICU untuk mengecek keadaan Nana dan setelah sekitar 1 jam berada di dalam ruangan tersebut mereka pun akhirnya keluar, Haris yang sudah cemas sedari tadi langsung menghampiri salah satu dokter tersebut yang tidak lain adalah dokter Malik


Melihat Haris menghampiri sang dokter Hana dan yang lainnya pun ikut menghampiri dokter Malik


" Dokter bagaimana keadaannya dok?" tanya Haris dengan degup jantung yang berpacu sangat cepat

__ADS_1


Dokter Malik menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Haris " Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan punya rencana lain" ucap dokter Malik dengan suara berat dan sontak saja hal tersebut membuat Haris dan yang lainnya lemas seketika bahkan Khanza hampir saja terjatuh jika Aldy tidak dengan cepat menangkap tubuhnya begitu juga Miska yang sempat lemas dan dengan sigap Roni menariknya ke dalam pelukannya.


Hana menangis dalam pelukan Billy, Haris sudah luluh kelantai karena tak sanggup lagi menopang tubuhnya.


Nicko menghampiri Haris seraya mengusap punggungnya memberinya kekuatan


Luna pun ikut menangis, ia juga merasakan kehilangan sosok Nana.


" Abang enggak percaya kalau kamu pergi meninggalkan abang secepat ini Na, kamu tega Na ninggalin abang" ucap Haris disela isak tangisnya


" Bang, jangan seperti ini, Nana pasti sedih melihat abang kayak gini, Nana juga enggak mau bang ninggalin abang tapi ini memang sudah takdir bang yang tidak bisa kita pungkiri, abang harus kuat, Nana pasti tidak mau melihat abang terpuruk seperti ini" ucap Nicko menguatkan Haris


" Nana...!" tangis Khanza pecah begitu juga dengan Miska dan Hana mereka merasa sangat kehilangan sosok Nana, sahabat baik mereka.


" Gue enggak nyangka loe akan pergi secepat ini Na" ucap Hana disela isak tangisnya


" Loe jahat Na, loe ninggalin kita semua. bahkan loe belum liat anak gue lahir" Khanza menangis dalam pelukan Aldy


" Sabar sayang!" Aldy mengusap-usap punggung Khanza yang bergetar hebat


" Kenapa Nana pergi secepat ini?" Miska menangis dalam pelukan Roni


Mereka semua menangis, berat rasanya menerima kenyataan kalau orang yang mereka sayangi pergi untuk selama-lamanya.


Terlintas dalam memory mereka akan kebersamaan mereka dengan Nana.


" Dokter ap... apa boleh saya melihatnya?" tanya Haris


" Silahkan!" ucap dokter Malik


Haris masuk ke dalam ruangan dimana Nana berada, Haris masuk saat beberapa perawat hendak melepaskan peralatan medis dari tubuh Nana


" Maaf suster bisa beri aku waktu sebentar?" tanya Haris


Para suster itupun menoleh lalu menatap satu sama lain sedetik kemudian mereka mengangguk dan meninggalkan Haris bersama Nana yang sedang terbujur diatas tempat brankar.


Haris berjalan mendekat ke arah Nana pipinya sudah basah dengan air mata, tatapannya sendu tubuhnya bergetar hebat tatkala netranya menatap wajah pucat wanita yang sangat dicintainya.


" Sayang kenapa..... kenapa kamu tega meninggalkan abang, kenapa?" Isak tangis Haris pun pecah


" Kau tau sayang, kau sudah lulus, kalian semua sudah lulus sekolah, kamu bilang setelah lulus kamu bersedia menikah dengan abang, mana janji kamu sayang?" Haris menghapus air matanya dengan kasar berusaha untuk tersenyum walaupun berkali-kali gagal dan yang ada isak tangisnya yang kembali pecah.


" Kau tahu, dulu banyak wanita yang mengejar ku dan ingin menjadi kekasihku tapi aku selalu menolaknya. entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka sampai-sampai aku berpikir ada yang salah dengan diriku tapi setelah aku melihat mu yang sedang menangis sendirian di sebuah taman entah kenapa rasanya aku ingin sekali mendekat dan menghibur mu dan sejak itulah aku selalu terbayang-bayang wajahmu sampai akhirnya aku tahu kalau ternyata kau itu sahabat baik adikku" Haris mencurahkan isi hatinya dan kembali menangis


Sementara di luar ruangan Khanza berusaha untuk tegar dan kuat menerima kenyataan yang sangat menyayat hatinya


" Mas aku ingin melihat Nana!" ucap Khanza menatap sendu pada Aldy

__ADS_1


" Iya sayang" Aldy merangkul bahu Khanza dan mengajaknya masuk


" Bang boleh aku masuk melihat Nana?" izin Khanza pada Haris yang sedang berdiri di samping brankar Nana


Haris menoleh sambil mengusap air matanya lalu dia pun mengangguk.


Haris berjalan gontai keluar dari ruangan tersebut dan Khanza berjalan mendekat ke arah Nana sedangkan Aldy berdiri di dekat pintu


" Na loe pasti lagi ngeprenk kita semua kan, ini enggak lucu Na, sumpah enggak lucu!" Khanza menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar


" Cepat bangun Loe Na, gue lagi hamil masa loe tega ngeprenk gue kayak gini" Khanza mengguncang bahu Nana


" Gue akan membenci loe, kalau loe enggak mau bangun" ancam Khanza


Aldy yang melihat Khanza semakin tidak terkendali akhirnya menghampiri Khanza dan berusaha untuk menenangkannya


" Mas liat Nana dia jahat mas sama aku sama kita semua, masa dia ngeprenk kita kayak gini. ini enggak lucu kan mas!" Aldy berusaha meraih Khanza kedalam pelukannya tapi Khanza terus saja mengelak dan menghindar


" Na, Loe bangun enggak! kalau loe enggak bangun loe enggak boleh ngeliat anak gue kalau anak gue lahir nanti dan gue akan bilang sama anak gue kalau dia punya aunty yang jahat, enggak mau ketemu sama dia dan malah memilih untuk tidur terus!" ucap Khanza dengan suara yang meninggi


" Gue benci sama loe Na, gue benci!" Khanza memberingsut ke lantai, tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya pun pecah.


Aldy yang melihat Khanza begitu terpukul dengan kepergian Nana merasa tersayang hatinya.


Saat Aldy hendak menghampiri Khanza tiba-tiba Khanza dengan cepat sudah lebih dulu beranjak dari duduknya dan kembali menghampiri Nana


" Loe tau Na loe itu pecundang, apa loe enggak sanggup melihat kemesraan dan kebahagiaan Miska bersama Roni, iya? gue yakin loe masih belum terima iyakan karena Roni lebih memilih Miska? gue tahu loe enggak berani melihat mereka bahagia jadi loe lebih memilih menghindari mereka dengan cara seperti ini iyakan?" teriak Khanza


"Sayang jangan seperti ini, mas mohon" Aldy meraih bahu Khanza


" Ingat kamu sedang hamil" sentaknya namun Khanza malah tertawa kecut


" Loe dengar hamil ? gue sedang hamil dan Miska pun sedang hamil apa loe enggak mau hamil? apa Loe enggak iri sama Miska yang sedang hamil anak Roni?" Aldy mengusap wajahnya kasar entah ada apa dengan isterinya sampai bisa bicara seperti itu pada Nana yang sudah meninggal


" Sayang!" Khanza menepis tangan Aldy yang hendak mendekatinya


" Sebentar mas!" kata Khanza


" Loe terlalu pengecut Na, gue salah menilai loe gue kira loe itu gadis yang kuat dan tangguh bisa melewati semua ini dengan baik tapi ternyata gue salah karena elo lebih memilih untuk menyerah" ucap Khanza pelan


Khanza sudah merasa lelah air matanya pun sedah kering, tubuhnya seketika lemas.


Brukk


Khanza tiba-tiba jatuh pingsan menindih tubuh Nana


" Sayang!" teriak Aldy panik

__ADS_1


__ADS_2