
Setelah keluar dari rumah sakit Nana benar-benar pulang ke rumah keluarga Dinata, mama Maria tidak mengizinkan gadis itu pulang ke rumahnya sendiri karena khawatir Nana akan kembali bersedih jika teringat dengan kedua orangtuanya.
Keesokan harinya pagi-pagi Nana sudah bersiap-siap untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya yang belum pernah ia datangi sama sekali, Hana dan Billy mereka berdua lah yang selalu setia menemani sahabatnya yang satu itu.
Haris tidak bisa pergi menemani Nana karena untuk beberapa hari kedepan dia harus disibukkan dengan pekerjaannya yang sempat terbengkalai, sewaktu Nana masuk rumah sakit Haris sampai mengenyampingkan pekerjaannya dan terlalu fokus dengan kesembuhan Nana, hingga sekarang dia harus bekerja keras untuk mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sesampainya di sebuah pemakaman mata Nana langsung tertuju pada dua makam yang tertera nama kedua orang tuanya.
Deg
Hati Nana mencelos, tubuhnya seolah kehilangan raganya kaki Nana tiba-tiba terasa lemas, hampir saja ia tersungkur ke tanah jika tidak dengan cepat Billy dan Hana menopang berat tubuhnya.
" Nana loe enggak apa-apa?" tanya Hana yang nampak begitu khawatir
Nana yang pipinya sudah basah dengan air mata hanya menggeleng pelan.
" Na, kalau loe masih belum kuat, kita pulang aja ya!" ajak Billy karena takut Nana kenapa-kenapa
" Gue enggak kenapa-napa, gue kuat kok !" jawab Nana dengan suara terdengar pelan
" Tapi elo_" ucapan Hana menggantung
" Bantu gue kesana ya, gue ingin melihat mereka!" potong Nana menunjuk ke arah dua makam yang ada di hadapannya dengan ekor matanya
Hana dan Billy akhirnya membantu Nana berjalan menghampiri dua gundukan makam orang tuanya.
Nana berjongkok di depan dua makam tersebut, tubuhnya bergetar hebat rasa sesak menghantam dadanya. tak ada kata-kata yang dapat keluar dari bibirnya hanya linangan air mata yang kembali tumpah dan membasahi wajah pusatnya.
Hana mengusap-usap punggung Nana, dia tau betapa terguncangnya hati sahabatnya itu. dulu dia pun pernah berada di posisi yang sama karena itu Hana tak sanggup melihat kesedihan Nana yang sangat menyayat hatinya.
" Na, mama dan papa loe udah tenang disana, loe yang ikhlas ya! gue tahu ini berat gue pun pernah berada di posisi loe tapi demi ketenangan mereka loe harus bisa mengikhlaskan kepergian mereka" ucap Hana
Nana menghapus air matanya, ucapan Hana kembali mengingatkan dia dengan kata-kata Zaira sewaktu di rumah sakit.
Nana menoleh ke arah Hana lalu tersenyum
" Gue enggak apa-apa, gue hanya kangen sama mereka" Hana mengangguk paham
" Iya gue ngerti" Hana menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Nana.
" Loe sahabat gue yang kuat dan hebat calon kakak ipar gue yang tangguh dan mandiri!" ucap Hana membuat Nana mengembangkan senyumnya
" Terima kasih calon adik ipar" balas Nana keduanya pun terkekeh begitu juga dengan Billy turun merasa lega melihat sahabatnya bisa kembali tersenyum
" Mah, pah... Nana baik-baik aja kok disini, mama sama papa enggak usah khawatir Nana pasti bisa kok melewati ini semua karena walaupun dunia kita sudah berbeda Nana yakin dari sana kalian pasti bisa melihat Nana.
Nana akan berusaha untuk tidak manja dan cengeng lagi, Nana akan belajar hidup mandiri. ya walaupun mungkin sedikit sulit tapi Nana akan terus berusaha untuk membuat kalian bangga" ucap Nana dengan air mata yang kembali menetes
" Mah.... Pah... maafin Nana ya, Nana belum sempat membahagiakan kalian, maaf Nana selalu merepotkan mama dan papa"
" Nana sayang kalian berdua" tubuh Nana kembali bergetar walaupun dia berusaha untuk tegar tetap saja jika dihadapkan dengan situasi yang seperti itu hati siapa yang tak tergetar dan mampu menahan air matanya agar tak lolos.
" Mah... Pah... maaf ya untuk beberapa hari ini Nana harus meninggalkan rumah kita, Nana akan tinggal di rumah keluarga Dinata. Mama dan papa tau kan mereka siapa? mereka orang-orang hebat yang sangat baik hati. Mama Maria tidak mau Nana larut dalam kesedihan, beliau sudah mengganggap Nana seperti putrinya sendiri, enggak apa-apa ya mah.. pah.. kalau Nana sementara tinggal bersama mereka? Nana kesepian kalau tinggal di rumah sendirian. bagaimana kalau Nana kangen sama mama dan papa? Nana tidak ada siapa-siapa di rumah"
" Mah.. pah... Nana pasti baik-baik disana, mama sama papa enggak usah khawatir ya, sekarang Nana pamit pulang dulu,. besok-besok Nana akan datang lagi mengunjungi kalian"
Nana terdiam sejenak memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya, selesai berdoa ia berdiri di ikuti oleh Hana dan Billy mereka pun akhirnya meninggalkan pemakaman tersebut.
Sesampainya di rumah keluarga Dinata Nana dikejutkan dengan kehadiran para sahabatnya.
Ada Khanza ,Miska dan Nicko yang datang bersama pasangan masing-masing.
Nana langsung berpelukan dengan para sahabatnya itu, mama Maria tersenyum melihat Nana yang terlihat ceria.
" Kalian kapan datang?" tanya Nana dengan wajah cerianya
" Belum lama kok" jawab Khanza
Mereka lalu berbincang-bincang hangat di ruang keluarga, mama dan papa Sam merasa lega melihat rona bahagia di wajah Nana.
" Wah ada banyak tamu nih rupanya?" suara seorang wanita mengalihkan atensi semuanya
" Kak Za" Nana berbinar
" Hai adikku, sudah sehat?" sapa Zaira
" Alhamdulillah Kak sudah" jawab Nana yang menghampiri Zaira lalu menyalaminya seraya cipika cipiki dan tidak lupa pula ia mengalami punggung tangan pria yang berada di sebelah Zaira, siapa lagi kalau bukan gurunya.
" Pak Azka, hai baby Zia " sapa Nana pada baby Zia yang berada dalam gendongan sang papa
" Hai nti Na" sahut baby Zia yang membuat gemas Nana
" Gendong yuk!" ajak Nana dan baby Zia langsung mau tidak seperti biasanya jika dengan orang asing dia selalu menolak dan menangis
__ADS_1
Suasana ruangan tamu menjadi begitu ramai, apalagi baby Zia sangat anteng dan tidak rewel sama sekali.
" Ayok semuanya kita ke taman belakang!" seru Azka yang datang menghampiri isteri kecilnya
" Ada apa mas?" tanya Zaira
" Kita bikin pesta kecil-kecilan menyambut kedatangan Nana di rumah ini" jawab Azka yang langsung membuat Nana terharu dan tak kuasa menahan air matanya
" Loh kok Nana nangis?" Zaira menghampiri Nana sementara baby Zia sudah berada dalam gendongan Billy, gadis kecil itu entah kenapa langsung akrab aja dengan Billy.
" Kamu kenapa?" tanya Zaira dan Nana menggeleng pelan
" Entah bagaimana caranya saya membalas membalas kebaikan keluarga ini, saya merasa sangat terharu dan enggak bisa berkata apa-apa lagi selain terima kasih banyak kak, pak Azka" lirih Nana
Zaira yang turut terharu dengan kata-kata Nana langsung menarik Nana dalam pelukannya
" Tidak perlu sungkan, kita disini semuanya adalah keluarga, kamu merasa senang dan tidak larut dalam kesedihan lagi itu sudah membuat kami disini merasa senang dan lega tentunya, mulai lah buka lembaran baru dengan keluarga baru!" ucap Zaira
" Terima kasih Ka Za!"
" Sama-sama, ayok kita semua pindah ke taman belakang!" ajak Zaira seraya merangkul bahu Nana
Khanza dan teman-temannya beranjak dari duduknya dan mengikuti Zaira dan Nana
Sesampainya di taman belakang mereka semua duduk lesehan di atas karpet yang digelar di rerumputan.
Mereka semua menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh mama Maria, keceriaan dan canda tawa pun turut mewarnai hari itu
" Assalamualaikum!" terdengar suara salam dari arah dalam rumah
" Sepertinya ada yang datang!" ucap Zaira yang baru saja hendak berdiri tapi dicegah oleh Azka
" Biar mas aja!" Zaira pun mengangguk
Belum sampai masuk ke dalam tamu yang datang sudah lebih dulu menghampiri ke taman belakang
" Lia!" teriak Zaira yang terkejut melihat kedatangan adik iparnya itu dan langsung berdiri untuk menghampiri
" Kapan datang?" tanya Azka
" Semalam" jawab Mario
Sementara Lia dan Zaira sudah heboh sendiri
" Eh?"
" Kalian datang juga?" mata Zaira berbinar saat melihat Yoga dan Mona
" Iya kami juga datang, enggak disapa?" ucap seseorang lagi yang berdiri di belakang Mona
" Mia, kak Sendy"
" Aaaa.... ada indah dan Dion juga" Zaira merasa sangat bahagia melihat para sahabatnya yang datang bersamaan
Mereka melepas rindu masing-masing, mama Maria sangat senang putrinya datang bersama cucunya. baby Arsal dan baby Zia sedang bermain sama Oma dan opanya sementara para bumil sedang menyantap rujak yang dibuatkan oleh Roni dan Aldy atas permintaan isteri-isteri mereka, Mona dan Zaira yang memang sedang mengandung ikut bergabung dengan Miska dan Khanza mereka nampak langsung akrab begitu juga dengan Lia, Indah dan Mia.
" Kalian kalah star sama mereka!" ledek Mona pada ke tiga sahabatnya Mia dan Indah
" Siapa bilang?" sahut Indah
" Dia udah telat 2 Minggu" terang Dion yang datang menghampiri Indah seraya membawakannya just Alpukat
" Ini sayang just nya!" Dion menyodorkan just buatannya sendiri
" Ini siapa yang buat?" tanya Indah sebelum mengambil just dari tangan suaminya itu
" Buatan aku sendiri lah" jawab Dion
" Ekhemm... ceritanya ada yang lagi ngidam nih, ngidam just alpukat buatan suami" ledek Lia
" Ya begitulah" jawab Dion seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Alhamdulillah akhirnya nyusul juga Indah" ucap Zaira
" Selamat ya ndah" ucap Lia
" Iya terima kasih"
" Kurang lengkap nih rasanya, bumil yang satu lagi enggak datang" ucap Zaira sendu
" Siapa bilang, bumil yang satu ini mah bandel udah hamil besar masih aja ngotot buat dateng kesini" ucap Arta sambil memapah Mita yang tengah hamil besar
" Mita!" teriak semua sahabatnya kompak
__ADS_1
Saat ini Mita tengah hamil 8 bulan, perutnya yang besar karena dinyatakan hamil anak kembar membuat Mita mudah merasa lelah.
Mario yang melihat Mita dengan perut besarnya dengan tanggap langsung membawakan kursi untuk Mita duduk
" Duduk di sini Ka!" ucap Mario pada Arta
" Terima kasih Rio"
" Sama-sama Ka!"
Mereka kini tengah kumpul bersama, walaupun sebenarnya Mia merasa sedih karena belum juga hamil tapi dia tidak mau berkecil hati, mungkin karena dia yang masih bersikap kekanak-kanakan jadi belum siap menjadi seorang ibu.
" Udah enggak usah sedih, mungkin memang belum saatnya. kita masih bisa mencobanya setiap hari" ucap Sendy yang mengerti bagaimana perasaan isterinya
" Iya, Mia loe enggak usah merasa berkecil hati banyak kok yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum di karunia anak, bersabar aja mungkin tuhan ingin kalian pacaran dulu" ucap Mita yang tahu sahabatnya itu sedang sedih
" Iya, Mia loe harus yakin loe juga nanti bakalan hamil kok" sambung Zaira
" Betul Mia, karena hari ini loe bergabung dengan ibu-ibu hamil nanti loe pulang langsung deh ikut kebawa hamil" ucap Lia berusaha menghibur sahabatnya itu
" Amin" Jawab Zaira dan semuanya yang ada di taman tersebut serempak
Mia tersenyum, ia pun mengaminkan doa sahabatnya semoga apa yang diharapkan menjadi kenyataan.
Mereka kini tengah berkumpul bersama-sama Zaira pun tidak lupa mengenalkan Nana yang dia sudah anggap seperti adik sendiri kepada teman-temannya. Lia pun tidak keberatan dengan keberadaan Nana yang akan tinggal bersama kedua orangtuanya, apalagi dia yang memang jarang pulang karena setelah menikah dengan Mario, Lia lebih banyak tinggal di kediaman keluarga suaminya.
Kebahagiaan keluarga Dinata kini terasa lengkap sudah, bertambah lagi putra-putri keluarga Dinata dengan kehadiran Khanza, Miska, Hana dan juga Nana.
Mereka sudah dianggap bagian dari keluarga Dinata sama halnya seperti Zaira dan para sahabatnya.
Mama Maria dan papa Sam tersenyum bahagia melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka yang tengah berkumpul bersama-sama, bahkan sesekali terlihat saling melempar canda dan tawa. keakraban mereka semua menambah kehangatan kebersamaan mereka di taman tersebut.
Zaira pun tidak henti-hentinya mengucapkan puji syukur atas kebersamaan mereka semua
Khanza pun demikian, ia merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Dinata, tidak pernah terbesit sebelumnya ia bisa seakrab dan sedekat ini dengan Zaira dan juga sahabat-sahabatnya terlebih pada Lia yang dulu sewaktu disekolah terkenal dingin, cuek dan jutek.
Tapi setelah mengenalnya ternyata Lia dan juga teman-teman yang lainnya adalah orang-orang yang begitu ramah dan hangat. apalagi Mario suami Lia sempat Khanza membenci laki-laki itu karena terkenal dengan kenakalannya dan juga pembuat onar disekolah tapi setelah bertemu secara dekat ternyata Mario sosok laki-laki yang begitu menyayangi keluarganya dan juga begitu perhatian terhadap isterinya.
" Mas, aku senang bisa mengenal mereka semua, terima kasih ya mas!" ucap Khanza saat mereka tengah duduk berdua sambil melihat semua orang yang tengah asik bercengkrama
" Terima kasih untuk apa?" Aldy mengerutkan keningnya
" Terima kasih karena mas aku bisa mengenal mereka semua" senyum pun mengembang di wajah cantiknya
" Mas juga berterima kasih sama kamu yang sudah bersedia menjadi isteri mas dan mau mengandung buah hati kita" ucap Aldy seraya mengelus lembut perut Khanza yang sudah terlihat menonjol
" Sama-sama mas, aku juga bahagia dengan kehamilan aku mas, rasanya sudah tidak sabar ingin meminangnya" ucap Khanza
" Iya sayang, mas juga sudah tidak sabar" ucap Aldy
" Ayooooo... dua'an aja !" Miska datang bersama Roni lalu duduk di sebelah Khanza
" Ikut gabung dong" Billy datang menghampiri sambil menggandeng tangan Hana lalu duduk di sebelah Aldy
" Eh Nana mana?" tanya Khanza setelah mereka berkumpul semua namun tidak melihat Nana
" Gue disini!" jawab Nana yang tiba-tiba sudah muncul di belakang mereka
" Eh Nana, sini Na!" Hana menepuk tempat kosong di sampingnya. mereka kini sedang duduk di atas rumput sambil menikmati udara sore dikediaman keluarga Dinata, pandangan mereka mengarah pada Zaira dan kawan-kawannya yang sedang tertawa dan nampak begitu penuh kehangatan.
" Semoga persahabatan kita bisa seperti mereka, walaupun kelak sudah memiliki kehidupan masing-masing tapi masih tetap bisa berkumpul seperti itu" ucap Khanza dengan pandangan mata ke arah Zaira dan para sahabatnya
" Amin" jawab mereka kompak
" Yahhh.... kalian semua pada berpasangan, cuma gue doang dong ya yang sendirian" ucap Nana sendu
" Siapa bilang kamu sendirian, kan ada abang neng cantik !" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah duduk di samping Nana
Eh?
" Bang Haris, kok ada di sini bang, bukannya abang itu lagi_" ucapan Nana terpotong
" Soal kerjaan mah bisa belakangan tapi kalau untuk nemenin calon isteri abang harus diutamakan dong ah, masa tega abang biarin kamu gak ada pasangan" sahut Haris
" Idih abang sok sweet banget " bukan Nana yang bicara tapi Hana
" Biar dong, sweet sama cewek sendiri mah enggak apa-apa" sahut Haris
" Iya asal jangan sweet sama semua cewek aja!" timpal Nana
" Ha..ha... ya enggak lah neng" Haris merangkul bahu Nana
Suasana sore yang cerah secerah hati pasangan muda-mudi yang kini disatukan oleh ikatan cinta, yang berawal dari sebuah kebencian dan juga persahabatan kini telah berakhir dengan cinta yang tulus dan ingin selalu membahagiakan.
__ADS_1
...TAMAT...