
Di gajebo taman belakang Lia dan ke empat sahabatnya tengah asik bersenda gurau.
Apa pun mereka buat menjadi bahan pembicaraan.
Ya seperti saat ini Mona merasa begitu penasaran dengan sikap Mamanya Lia yang begitu perhatian terhadap Zaira.
" Li loe gak ngerasa cemburu gitu sama nyokap loe?" tanya Mona
" Cemburu, maksud loe apa sih Mona?" tanya Lia balik membuat Mona memutar bola matanya kesal.
" Ishh ini anak tumben loadingnya lemot?" kesal Mona.
" Ya emang gue gak ngerti maksud loe apa, cemburu gimana sih maksud loe Monalisa?" tanya Lia lagi.
" Ya cemburu dengan sikap nyokap loe yang sampai segitunya dengan Za, bahkan tadi pagi juga nyokap loe yang menyempati datang kesekolah." ucap Mona.
Lia menghela napasnya panjang. " Mona buat apa gue cemburu. Kalau mama sayang dan perhatian sama Za itu bagus dong, secara kan loe juga tahu nyokapnya Za jauh gak disini. kasihan gue sama Za dia pasti kangen banget sama nyokapnya. Setidaknya perhatian yang mama gue berikan kepada Za bisa mengurangi sedikit kerinduan Za terhadap nyokapnya." jelas Lia membuat Mona mengaguk mengerti.
" Nyokap loe benar-benar keren banget Li, salut gue" ucap Mona.
" Ya begitulah nyokap gue" Lia merasa bangga.
" Kalau gitu gue ikutan menginap di sini aja dah Li" ucap Mona membuat Lia dan yang lain mengernyitkan dahi.
" Mau ngapain loe Mon pakai mau nginep segala?" tanya Indah
" Ya kali aja gitu gue bisa kaya Za diperhatiin nyokapnya Za, syukur-syukur bisa di jadiin calon menantu!" jawab Mona bercanda
" Percaya diri sekali anda, memangnya kakaknya Lia mau gitu sama loe?" telak Indah
" Ya siapa tau Ndah, seleranya kakaknya Lia itu kaya gue!" sahut Mona percaya diri
" Halu loh!" timpal Mita
"Lah ngapa pada sewot ya, yang adiknya aja biasa aja tuh, bukan begitu calon adik ipar?" Mona menaik turunkan alisnya.
" Bukan!" sahut Lia tegas.
" Ha..ha..!" jawaban Lia membuat yang lain ikut mentertawakan Mona.
" Wah jahat kalian!" Mona memberengut.
" Oia, Li kakak loe kemana? kok dari tadi kita di sini gak ngeliat kakak loe?" tanya Indah yang jadi penasaran dengan sosok kakaknya Lia.
" Ada, paling lagi di kamar sama isterinya!" jawab Lia santai.
" I... istri, maksud loe kakak loe itu udah nikah gitu?" tanya Mona terkejut.
" Emang yang bilang belum siapa?" Lia balik bertanya.
" Kita itu udah sahabatan lama loh Li, masa kakak loe nikah gak ngasih tau kita sih?" Mona sedih.
" Gue juga awalnya gak tau kalau kakak gue itu sudah nikah, gue tau setelah seminggu dari hari pernikahan mereka " terang Mona
" Kok bisa?" Indah menatap Lia tak percaya
" Ya karena mareka nikah dadakan" jawab Lia santai.
" Nikah dadakan?" tanya Mona, Indah dan Mia bersamaan.
" Biasa aja dong nanyanya sampai barengan gitu" ucap Lia terkekeh kecil.
" Li apa kakak loe nikah karena udah_?" tanya Mona menggantung membuat Lia menepiskan tangannya ke udara.
" Wusssss... ngaco!" sargas Lia. " Mereka itu nikah karena di jodohin, bokapnya masuk rumah sakit dan sebelum meninggal keinginan terakhirnya ingin melihat putri kesayangannya itu menikah. Ya udah akhirnya pernikahan mereka dipercepat dan mereka juga nikahnya di rumah sakit." terang Lia.
" Emm... kakak ipar loe cantik gak Li?" penasaran Mona.
" Mona Apaan sih loe nanya sampai segitunya?" ucap Mia mendorong pelan Mona.
" Ya kali aja gitu masih dibawah gue kecantikannya, jadi gue kan masih ada kesempatan buat deketin, siapa Li nama kakak loe itu dari tadi ngomongin tapi gak tau namanya.?" tanya Mona membuat yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Kak Azka!" sahut Lia.
" Azka, nama yang keren" puji Mona.
" Ya terus loe mau apa emangnya Mona?" tanya Mia geregetan.
" Gue penasaran mau lihat, tampan gak sih kakaknya Lia, tampan mana sama Mario dan Irfan?" Mona ngebayangin wajah-wajah cowok-cowok ganteng di sekolahnya.
" Ya gantengan kakaknya Lia gue rasa sih" jawab Indah.
__ADS_1
"Sok tau loe Ndah, kaya udah pernah ketemu aja sama kakaknya Lia" ejek Mona.
" Ya gue sih nebak aja ya Mon, secara loe liat sendiri kan Lia aja cantik masa kakaknya gak ganteng apalagi loe tau kan bokap dan nyokapnya Lia itu tampan dan cantik. dari situ juga udah jelas kali Mona" terang Indah.
" Iya juga sih" Mona manggut-manggut.
" Oia, Li apa mereka saling cinta secara mereka itu kan nikah karena perjodohan?" tanya Mona lagi yang masih saja penasaran dengan sosok kakaknya Lia
" Yang gue lihat sih akhir-akhir ini kak Azka udah bucin banget sama isterinya" jawab Lia sumringah mengambil cemilan lalu memakannya.
" Ya, gak ada celah dong ya?" celetuk Mona
" Maksud loe, loe mau jadi pelakor gitu. ihhh... amit-amit Mona, sadar Woyyy!" sarkas Mia menoyor kepala Mona.
" Ha...ha... bercanda kali Mi, lagi pula gue juga sadar kali tipe kak Azka pastilah wanita seumurannya, bukan kaya kita-kita yang masih bau kencur. "Ucap Mona gemes lalu mencubit pipi Mia.
" Itu sadar" celetuk Indah.
" Sia*an loe Ndah!" Mona meninju pelan bahu Indah.
Seketika Mona melirik ke arah Mita yang dari tadi diam saja tanpa komentar apa-apa mengenai pernikahan kakaknya Lia.
" Mita!" panggil Mona yang membuat Mita yang sedang bermain ponsel berhenti dan menoleh ke Mona.
" Kenapa?" tanya Mita datar lalu kembali menatap ke layar ponselnya.
"Loe kok gak kaget gitu sih dengar kakaknya Lia udah nikah, dan loe juga kenapa dari tadi diam aja gue perhatiin loe lagi ada masalah?" tanya Mona penasaran pasalnya dari tadi semenjak Mita menerima telepon entah dari siapa, wajah Mita nampak berubah seperti tengah terjadi sesuatu.
Mita menggelengkan kepala lalu kembali menoleh ke Mona. " Emangnya kalau udah nikah kenapa? dan kenapa juga harus kaget justru, kita tuh seharusnya senang karena kakaknya Lia sudah menemukan jodohnya"
terang Mita.
" Iya juga sih, tapi loe kenapa dari tadi diam aja?" tanya Mona yang masih penasaran dengan raut wajah Mita yang tidak seperti biasanya.
" Gue? emang gue kenapa? gue gak kenapa-napa" jawab Mita tersenyum yang dipaksakan.
" Tapi loe gak kaya biasanya, apa jangan-jangan loe patah hati ya pas tahu kalau kak Azka itu udah nikah?" tanya Mona ngasal.
Mita tersenyum miring " Mona... Mona.... ngawur loe tau gak!" kesal Mita.
" Ya abis loe dari tadi diam aja"
" Ya sorry, tadi gue terlalu fokus ngebales pesan dari bokap gue" ucap Mita yang entah kenapa raut wajahnya terlihat berbeda dari biasanya.
" Gue gak apa-apa, kalian gak usah khawatir" ucap Mita dengan senyum yang dipaksakan.
" Kalau ada apa-apa Loe cerita aja sama kita-kita Mit, kita itu udah lama sahabatan kalau ada masalah kita selesaikan bersama-sama, jangan di pendam sendiri Mit!" ucap Lia tulus.
" Iya Mit, benar kata Lia " timpal Mia
Disaat mereka masih asik mengobrol tiba-tiba ada seseorang yang datang memberi salam.
" Assalamu'alaikum!" ucap seseorang yang membuat Lia dan sahabat-sahabatnya menoleh ke sumber suara bersamaan.
" Wa'alaikum salam!" sahut mereka dengan kompak.
" Wah lagi pada kumpul ni Ceritanya?" sapa orang tersebut.
" Eh.. iya kak" Sahut Lia yang terkesiap dari lamunannya karena terkesima dengan ketampanan pria yang ada dihadapannya saat ini. "Sudah lama gak ketemu kak Sendy semakin tampan aja!" goda Lia membuat Sendy tersipu malu karena di goda anak kecil menurutnya.
" Bisa aja kamu Mel" ucap Sendy mengibaskan tangannya ke udara dengan senyum tipisnya.
Melihat senyuman Sendy yang membuatnya terlihat semakin tampan ya meskipun ketampanannya masih jauh dibandingkan dengan Azka sudah bisa membuat para cewek-cewek yang ada disekitarnya saat ini terpesona sampai tidak berkedip.
" Oya Mel, kakakmu ada?" tanya Sendy
" Ada kak lagi atas?" jawab Lia
" Di kamarnya?" tanya Sendy yang langsung di angguki oleh Lia.
" Yaudah, kak Sendy ke atas dulu ya mau menemui kakak kamu dulu!" ucap Sendy.
" Iya kak!" sahut Lia yang bersikap merasa biasa saja saat Sendy ingin menemui kakaknya karena dari dulu memang seperti itu setiap kali Sendy datang mencari Azka tanpa basa-basi selalu langsung ke kamar Azka.
" Li.. Lia.. itu siapa, ganteng banget?" tanya Mona penasaran dengan sosok cowok yang baru saja dilihatnya.
" Iya Li itu siapa?" Tambah Indah.
" Itu kak Sendy, sahabat sekaligus asisten pribadinya kak Azka di kantor" jawab Lia memberitahu.
" Loe gak naksir Li sama dia?" Lia menggelengkan kepalanya
__ADS_1
" Gak lah, dia itu sudah gue anggap kaya kakak gue sendiri"jawab Lia Jujur.
*
*
*
Sendy menaiki anak tangga tujuannya adalah kamar Azka, ia sudah berkali-kali menghubungi nomor Azka tapi nomornya tidak aktif, karena ada hal file penting yang harus Azka tanda tangani terpaksa Sendy datang menemuinya.
Seperti kebiasaannya dulu setiap kali datang ke kamar Azka tanpa mengetuk pintu Sendy main masuk saja dan hari ini pun sama karena memang dia tidak mengetahui status sahabat sekaligus bosnya yang kini sudah beristri tanpa mengetuk pintu Sendy langsung masuk ke kamar Azka.
Sungguh kejutan luar biasa untuk Sendy " Sore bos ad.. da_" Sendy langsung berbalik badan dengan keterkejutannya dan segera pergi keluar.
Sementara dua insan manusia yang sudah membuat Sendy gelagapan saling menggerutu.
Azka kesal karena Sendy sudah mengganggu kesenangannya sementara Zaira menggerutu gara-gara Azka yang terus memaksanya tadi membuat ia merasa malu karena kepergok asistennya suaminya.
" Mas tuh kan ihhh!" kesal Zaira yang merasa sangat malu karena kepergok Sendy saat Azka berada diatasnya dan sedang menciuminya.
" Dasar pengganggu, biar mas beri pelajaran tuh anak!" Geram Azka. " Mas keluar dulu ya sebentar, kamu mandi aja dulu gih!" Azka beranjak keluar namun sebelum itu ia mendaratkan satu kecupan manis di kening Zaira.
Zaira masuk ke dalam kamar mandi setelah Azka keluar kamar untuk menemani Sendy.
*
*
*
Setelah melihat adegan yang seharusnya tidak dilihatnya Sendy lebih memilih untuk bergabung dengan Lia dan teman-temannya.
tentu saja setelah ia menetralkan rasa keterkejutannya.
"Aku gak nyangka bos seperti itu, sebelumnya bos gak pernah sampai diluar batas kaya gitu, apa jangan-jangan cewek itu yang sudah merayu si bos ya dan siapa ya wanita yang ada dikamar bos itu, kok mereka berani melakukan begituan di rumah ini ? atau jangan-jangan dia itu salah satu dari teman Meli? gumam Sendy dalam hati sambil melangkah menuju Lia dan teman-temannya berada.
" Mel!" panggil Sendy saat sudah berada tidak jauh dari Lia dan teman-temannya berada.
Meli menoleh begitu juga dengan teman-temannya melihat ke arah sumber suara bariton yang memanggil namanya.
" Kak Sendy, sini Kak gabung!" tawar Lia.
" Mel, boleh gak kita bicara sebentar?" tanya Sendy
" Boleh, memang ada apa ya kak? kak Sendy sudah menemui kak Azka kan?"
" Emmmm....!" Sendy hanya tersenyum tipis dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Melihat reaksi Sendy seketika Lia membekap mulutnya sendiri setelah ia teringat akan sesuatu yang sempat ia lupakan.
" Kak Sendy jangan bilang kalau kak Sendy langsung masuk ke kamar kak Azka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Lia menebak.
Sendy hanya menyengir dan mengangguk pelan.
" Mel kakak mau tanya, sia_?" ucapan Sendy terpotong.
" Kak kita bicara disana saja ya, gaess sebentar ya!" ucap Lia menunjuk ke meja makan.
" Iya!" jawab teman-temannya kompak.
" Ayok kak!" Lia berjalan lebih dahulu dan Sendy mengikuti dari belakang.
Saat ini keduanya tengah duduk di ruang meja makan. " Kakak mau tanya apa tadi?" tanya Lia to the points.
" Emmmm... itu yang sedang bersama Azka siapa? jangan bilang kalau gadis itu salah satu teman kamu ya Mel?" tanya Sendy yang sudah sangat penasaran.
" Memangnya kak Sendy gak tau?" Lia balik bertanya.
Sendy menggeleng. " Iya kak Sendy benar jika bertanya dia teman aku" ucap Lia membuat Sendy semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
" Jadi gadis itu teman kamu Mel, dan kamu membiarkan saja kakak kamu dengan teman kamu itu berduaan di dalam kamar? apa kamu tidak mikir apa yang akan mereka lakukan didalam kamar berduaan?" tanya Sendy dengan nada sedikit meninggi. " Lalu bagaimana jika mama dan papa kalian tahu Mel?" tambahnya lagi.
" Kenapa memang kalau mereka tahu?" tanya seseorang yang sudah berdiri di belakang mereka.
" Ka!" Sendy berdiri dari duduknya dan menghampiri Azka.
" Loe sudah gak waras Ka, ingat Ka dia itu teman adik loe. apa yang barusan kalian lakukan itu salah. dan kalau tuan dan nyonya sampai tahu hal ini mereka pasti akan kecewa banget Ka sama loe!" ucap Sendy mengingatkan sampai lupa ia bicara dengan siapa.
Azka hanya tertawa simpul mendengar ocehan Sendy membuat Azka geli sendiri.
" Sudah nyerocosnya?" tanya Lia kepada Sendy
__ADS_1
Sementara Azka hanya menahan tawanya.
" Mel kalau kakak gagal memberi kamu keponakan salahkan saja dia ya!" ucap Azka menimpali. sementara Sendy yang mendengar ucapan Azka barusan membulatkan matanya.