Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Sup ayam kampung


__ADS_3

" Gadis itu?" gumam seorang laki-laki yang berada di dalam mobil saat netranya melihat seorang gadis berjalan gontai ditengah derasnya air hujan yang menerpa tubuhnya.


Entah kenapa laki-laki itu merasa tidak asing melihat seorang gadis dibawah guyuran hujan tengah menangis sesenggukan. dia pun langsung menepikan mobilnya dan entah ada dorongan dari mana hatinya tergerak begitu saja dan memutuskan untuk mengikuti langkah gadis tersebut.


Ingin tertawa tapi takut dosa ingin memeluknya takut dihakimi massa jadi dia lebih memilih untuk memperhatikannya dari kejauhan berdiri dibawah payung ungu yang ia pegang dan netranya terus tak bergeming menatap lekat ke arah gadis yang menangis begitu menyayat hati.


Laki-laki itu lama kelamaan tidak tega melihat gadis tersebut tersapu hujan yang semakin lama semakin deras apalagi dia melihat gadis yang tidak lain adalah Mita itu tubuhnya bergetar karena kedinginan.


Dengan langkah perlahan laki-laki tersebut berjalan menghampiri Mita dia berdiri tepat berada di belakang Mita.


Mita merasakan kejanggalan ketika hujan yang turun semakin deras tapi tubuhnya justru tidak merasakan air hujan yang menimpa tubuhnya, Mita pun akhirnya berhenti menangis lalu mendongakkan wajahnya dia terkejut karena tidak melihat siapa-siapa di hadapannya tapi dia melihat ada payung berwarna ungu yang ada di atas kepalanya, Mita pun langsung memutar tubuhnya menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya Mita saat matanya menangkap sosok seorang laki-laki dewasa memiliki paras yang tampan tengah berdiri tegak memayungi dirinya dan laki-laki itu tersenyum tipis menambah ketampanan dua kali lipat wajahnya.


Mita dengan kasar mengusap air matanya yang masih keluar dari kelopak matanya. pria itu tertawa kecil melihat tingkah lucu Mita yang nampak menggigit bibir bawahnya. Mita seperti anak kucing yang sedang mencari ibunya di tengah hujan basah kuyup.


Melihat tubuh Mita yang bergetar karena kedinginan laki-laki berlesung pipi itu langsung membuka jaket yang ia kenakan dan langsung memakaikannya ke Mita, awalnya Mita hendak menolak tapi karena rasa dingin yang sampai menusuk ke dalam tulang, Mita akhirnya mau tidak mau terpaksa memakai jaket tersebut.


" Aku akan mengantarmu pulang" ucap laki-laki tersebut namun belum sempat Mita menjawab tubuh Mita langsung terkulai lemas dan dengan spontan laki-laki tersebut melempar payung yang dipegangnya kesembarang arah dan langsung menyambar tubuh Mita hingga terjerabah ke dalam dada bidangnya.


Dengan cepat laki-laki tersebut menggendong Mita ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Disepanjang perjalanan laki-laki tersebut terus memandangi wajah cantik Mita yang nampak sedikit pucat. " Apa sebenarnya yang terjadi dengan mu gadis kecil?" gumam laki-laki tersebut.


" Kenapa kau nampak begitu menyedihkan sekali, apa yang membuat mu sampai seperti ini?" gumam Arta yang sesekali menoleh ke arah Mita yang masih memejamkan mata.


Alih-alih mengantarkan Mita pulang laki-laki tersebut malah membawa Mita ke apartemen miliknya.


Mita mengerjapkan matanya setelah beberapa jam tidak sadarkan diri, Mita terperanjat kaget saat tiba-tiba netranya menangkap ada yang berubah pada dirinya apalagi dia tersadar berada di tempat yang asing.


" Aaaaa..." teriak Mita saat sadar kalau baju yang ia kenakan kini telah berbeda.


Mendengar suara teriakan Mita, laki-laki tersebut langsung menerobos masuk kedalam kamar miliknya yang kini ditempati oleh Mita.


" Ada apa?" tanya laki-laki itu cemas dan tanpa merasa berdosa langsung masuk begitu saja.


" Kamu?" ucap Mita seraya memeluk tubuhnya sendiri.


" Apa yang kamu lakukan kepada ku hah?" tanya Mita langsung menangis dan meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk dilempar ke arah laki-laki yang sudah membawa Mita ke apartemen miliknya.


" Tenang dulu.. hei tenangkan dulu dirimu!" ucapnya meminta Mita untuk tenang.


" Tenang katamu setelah apa yang kamu lakukan kepada ku!" teriak Mita histeris


" Dengarkan aku dulu, aku tidak melakukan apa-apa percayalah!" ucapnya meyakinkan Mita


" Bohong!"


" Untuk apa aku berbohong, kamu cuma salah paham. ini tidak seperti yang kamu bayangkan, percayalah!"


" Aku tidak percaya" Mita meraih bantal dan memukuli laki-laki tersebut berkali-kali, spontan laki-laki itu yang tidak lain adalah Arta langsung menangkap bantal yang dipegang Mita.


" Aku tidak berbohong, percayalah! aku menyuruh seorang pelayan wanita di apartemen ini untuk membantu mu menggantikan bajumu yang basah. kamu begitu kedinginan sampai menggigil aku mana tega melihat mu seperti mayat hidup." ucap Arta


" Kau!" tunjuk Mita lalu mengendalikan emosinya akibat perkataan pedas Arta


" Sudahlah, sebaiknya kamu makan dulu, ayok!" ajak Arta


" Aku tidak lapar, aku mau pulang!" tolak Mita tegas


" Iya setelah kau makan, aku akan mengantarkan mu pulang nona" ucap Arta


" Aku bilang aku tidak lapar" ucap Mita kembali menolak tawaran Arta


"Kukukkriuuuuukkkkkkkkkkk..... " Arta menahan tawanya mendengar suara protes dari perut Mita yang minta diisi.


" Mulut mu bisa berkata tidak lapar nona, tapi rupanya perutmu itu belum kau ajari untuk bekerja sama" ucap Arta sambil tersenyum lalu beranjak keluar dari kamarnya.


Mita mendengus kesal dan memukuli perutnya berkali-kali karena sudah membuatnya malu didepan laki-laki yang tidak dikenalnya.


" Hei apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba tangan Mita dicekal oleh Arta. karena Mita tidak juga muncul maka Arta memutuskan untuk kembali lagi ke kamar untuk memanggilnya namun Arta malah melihat Mita memukuli perutnya sendiri.


" Apa kamu sedang_?" pertanyaan Arta sedikit menggantung" Apa jangan-jangan kamu ini isteri orang?" tanya Arta lagi yang takut terjadi kesalahpahaman.

__ADS_1


" Iya aku ini isteri orang, jadi antarkan aku pulang sekarang juga!" ucap Mita yang tiba-tiba muncul ide untuk mengelabuhi laki-laki dihadapannya.


" Baiklah kalau begitu nona, aku akan mengantarmu pulang tapi sebelum pulang sebaiknya kamu makanlah dulu, wajahmu juga masih pucat. aku tidak akan berbuat macam-macam tenanglah. aku tidak mungkin menyakiti seorang wanita, apalagi berstatus isteri orang" ucap Arta meyakinkan Mita


" Baiklah kalau begitu, tapi setelah itu kamu harus mengantarkan aku pulang" ucap Mita lagi


" Iya nona, mana mungkin aku menahan isteri orang di sini" ucap Arta lagi.


setelah perdebatan panjang akhirnya Mita dan Arta kini tengah duduk di meja makan.


" Kau beli di restoran mana semua makanan ini?" tanya Mita seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


" Kenapa memangnya, apa rasanya tidak enak?" tanya Arta mengerutkan keningnya


" Bukan begitu justru masakan ini sangat enak, ini pasti masakan dari restoran bintang lima" ucap Mita yang begitu menikmati makanan yang ada di atas meja.


" Apa kau menyukainya?" tanya Arta


" Sepertinya begitu, aku bisa mengajak teman-temanku datang ke restoran tersebut jika kau tidak berkeberatan" ucap Mita


" Aku pasti sangat berkeberatan karena masakan yang kau makan tidak ada di restoran mana pun jika pun ada pasti rasanya akan berbeda" ucap Arta


" Maksudnya? apa semua makanan ini kamu yang memasaknya?" tanya Mita asal


" Menurutmu?" Arta balik bertanya


" Itu tidak mungkin"


" Kenapa tidak mungkin?"


" Ini beneran enak"


" Lalu, masalahnya dimana jika aku yang memasak ini semua?" tanya Arta


" Jadi benar kau yang memasak?" Arta mengangguk tegas.


" Ini_?" Mita membulatkan matanya saat Indra perasaannya menikmati sup ayam kampung yang rasanya sedikit berbeda dari yang biasanya ia makan. Rasa sup ayam kampung masakan Arta seakan mengingatkan Mita kembali ke masa kecilnya.


" Ada apa?" tanya Arta yang sedikit khawatir.


" Sup ini apa kamu yang memasaknya?" tanya Mita dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


" Iya, aku yang memasaknya, apa rasanya tidak enak? jika tidak enak jangan dimakan nanti kau bisa sakit perut!" ucap Arta menarik mangkuk yang berisi sup ayam kampung tersebut dari hadapan Mita.


Seketika Mita menepis tangan Arta dan memegangi mangkuk tersebut.


" Siapa bilang tidak enak, justru sup ini rasanya sangat sangat sangat enak" ucap Mita yang tanpa sadar telah menitikkan air mata dan langsung memakan sup tersebut dengan lahap


" Kalau memang enak lalu kenapa kamu malah menangis?" tanya Arta


" Tidak apa-apa, aku hanya_" Mita menggantungkan kalimatnya.


" Hanya apa?" tanya Arta yang semakin penasaran dengan sosok gadis yang kini berada di hadapannya.


" Tidak apa-apa lupakan saja" ucap Mita Kembali menikmati sup ayam kampung miliknya.


" Kenapa masakan ini sepertinya pernah aku rasakan sebelumnya ya? tapi dimana ?" tanya Mita dalam hati


" Apa kau merasakan sesuatu yang beda dengan sup yang aku buat?" tanya Arta dan Mita menggeleng pelan


" Aku sudah selesai, ayok antarkan aku pulang" ucap Mita


" Iya, baiklah!" ucap Arta beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya.


...☄️☄️☄️☄️...


Mita dan Arta kini tengah berada di dalam mobil, karena sehabis makan apalagi udara setelah hujan pasti rasanya cukup dingin dan hal itu pasti akan membuat seseorang menjadi mengantuk seperti halnya Mita yang merasa sangat mengantuk dan tiba-tiba dia malah tertidur.


" Hai nona, jangan tidur aku tidak tahu harus mengantarkan mu pulang ke mana !" ucap Arta


" nona!" panggil Arta mengguncang bahu Mita

__ADS_1


" ehh, kamu mau mengambil kesempatan dalam kesempitan ya?" sarkas Mita yang malah menuduh Arta yang tidak-tidak.


" Hai nona jika kamu tidur lantas aku akan mengantarkan kamu kemana, kembali ke apartemen ku lagi ?" Mita merasa malu sendiri dan wajahnya bersemu merah


" Ini sudah malam aku juga butuh istirahat nona" ucapnya lagi.


" Benar juga dia kan sudah nolongin gue dan kalau gue tidur dia mau mengantar gue pulang kemana, dia kan gak tau alamat gue. Duh kenapa gue jadi gampang seudzon gini ya sama orang?" Batin Mita


" Hia nona!" panggil Arta lagi membuat Mita terkesiap dari lamunannya


" Ah iya maaf, jalannya lurus saja nanti jika ada pertigaan jalan belok kiri dan terus saja tidak jauh dari situ rumah ku" ucap Mita


" Baiklah nona!" ucap Arta yang kembali menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas kembali.


Sekitar 20 menit akhirnya mobil tersebut sampai di depan rumah Mita.


" Apa ini rumah mu?" tanya Arta


" Iya, kenapa memangnya?"


" Tidak apa-apa, bagus!"


" Itu pujian atau sindiran?" Mita memincingkan matanya


" Ya ampun nona kenapa pikiran mu selalu saja berburuk sangka kepada ku" ucap Arta menepuk jidatnya sendiri


" Ya sudah aku turun sekarang, terimakasih karena sudah menolong dan mengantarkan aku pulang!" ucap Mita sebelum keluar dari dalam mobil.


" Sama-sama, lain kali jangan menangis ditengah hujan lagi ya, apalagi di jalan raya selain itu berbahaya itu juga sesuatu yang kekanak-kanakan" ucap Arta membuat Mita membulatkan matanya sempurna.


" Apa? jadi kau anggap ini kekanak-kanakan begitu, iya?" Mita terpancing emosi mendengar kata kekanak-kanakan.


" Maksud ku bukan seperti itu, sebaiknya kalau kamu mau menangis setidaknya menangislah di rumah atau kamu bisa mencariku. ini ambillah kartu nama ku!" ucap Arta yang langsung meletakkan kartu namanya ke tangan Mita.


Mita hanya menatap tangannya yang terdapat kartu nama Arta.


" Simpan saja siapa tahu suatu hari kau membutuhkan bantuan ku" ucap Arta


" Tidak terima kasih" ucap Mita yang hendak memberikan kembali kartu nama tersebut.


" Simpan saja nona, tenang saja aku tidak akan mengganggu rumah tangga mu nona" ucap Arta


" Ya?" tanya Mita bingung


" Sudahlah, sebaiknya sekarang cepat sana turun aku tidak mau nanti suamimu salah paham!" titah Arta membuat Mita tercengang mendengar kata suami.


" Suami?" beo Mita


" Iya, nanti suami mu men_" Arta menjeda ucapannya. " Atau jangan-jangan kamu belum bersuami tapi sudah?" Arta menatap ke arah perut Mita yang masih rata


" Sudah apa?" sarkas Mita yang mengerti dengan arah pembicaraan Arta.


"Kamu pikir aku ini wanita apa, hah? jangan sembarangan menilai orang" kesal Mita yang langsung turun dari dalam mobil.


" Hei nona maafkan aku!" teriak Arta dari dalam mobil yang sedikit menyembulkan kepalanya di jendela pintu mobil.


Mita hanya menoleh sekilas dan mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya.


" Oh Tuhan kenapa dia menggemaskan sekali apa benar dia sudah menikah? ya ampun bahkan aku sampai lupa bertanya siapa namanya" gumam Arta dalam hati.


" Selamat malam nona semoga saja kita bisa bertemu kembali ya, dan semoga kau belum menikah" ucap Arta sambil memperhatikan Mita yang tengah mengetuk pintu rumahnya dan tidak lama menyembul seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.


Arta tersenyum ke arah Mita yang tengah masuk ke dalam rumahnya setelah itu baru ia pergi meninggalkan area rumah Mita dengan perasaan yang tidak dapat di artikan.


Arta sampai di apartemennya dan langsung merebahkan tubuhnya di kamar yang berukuran cukup luas. Arta memejamkan matanya dan membayangkan wajah cantik Mita yang tiba-tiba mengganggu pikirannya.


" Gadis itu sekilas wajahnya mirip sekali dengannya, apa jangan-jangan itu memang dia ?" gumam Arta berdialog dengan dirinya sendiri


" Sup itu?" ucap Arta yang tiba-tiba teringat dengan Mita saat menikmati sup ayam kampung buatannya. Arta tersentak dari lamunannya dan langsung beranjak dari duduknya berjalan menuju lemari pakaiannya dan membuka laci kecil dan mencari sebuah kotak.


Arta mengambil kotak yang berada di laci lemari pakaiannya dan membawanya ke tepi kasur. Arta dengan perlahan membuka kotak tersebut dan melihat foto yang nampak telah sedikit usang. Arta terus memperhatikan foto seorang gadis kecil yang sangat cantik dan juga menggemaskan tengah duduk di sebuah ayunan bersama dengan dirinya yang berdiri di belakang gadis kecil tersebut.

__ADS_1


Gadis kecil itu nampak begitu bahagia tertawa begitu riang bersama dengannya.


" Apa itu kamu gadis kecilku?" gumam Arta menatap lekat wajah gadis cantik di foto yang ada ditangannya.


__ADS_2