Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Semenjak peristiwa itu Khanza tidak lagi pergi ke cafe tempat biasa ia bekerja, bu Khodijah melarang putrinya untuk bekerja lagi disana.


" Bu Khanza masih ingin bekerja!" ucap Khanza sendu


" Tidak, ibu melarang kamu untuk bekerja lagi disana. ibu tidak mau hal buruk kembali menimpa mu" sahut Bu Khodijah yang baru saja pulang dari kantin sekolah.


" Sebaiknya kamu bersih-bersih dan setelah itu bantu ibu memasak karena nanti malam akan ada tamu yang datang" lanjut Bu Khodijah seraya berjalan menuju dapur


" Tamu? tamu siapa bu yang akan datang ke rumah kita?" tanya Khanza yang mengekor bu Khodijah di belakang


" Tuan Sam dan isterinya akan datang kesini bersama nak Aldy. mereka akan datang melamarmu" jawab bu Khodijah


" Melamar? bu apa tidak bisa acaranya dibatalkan saja, Khanza belum siap untuk menikah Bu" ucap Khanza memohon


" Nak, sebelum semuanya tersebar di muka umum dan menjadi gosip bulan-bulanan semua orang setidaknya kalian sudah sah menjadi suami isteri" ucap bu Khodijah penuh rasa khawatir dengan nasib dan masa depan putrinya.


" Tapi bu_!"


" Bukannya kamu sudah menerima keputusan ibu dan tidak ingin ibu kecewa?" tanya bu Khodijah seraya menarik napas panjang.


" Iya bu, Khanza akan menuruti kemauan ibu. maaf jika Khanza sudah mengecewakan ibu" ucap Khanza lirih dan menundukkan pandangannya


" Maafkan ibu sayang, ibu juga tidak ingin semua ini terjadi tapi apa boleh buat mungkin ini adalah takdir tuhan yang mempertemukan jodoh mu dengan keadaan seperti ini. ibu cuma bisa pasrah dan ikhlas jika semua ini sudah suratan takdir yang tertulis untuk kita. jangan bersedih lagi nak jalani semua ini dengan baik, ibu yakin nak Aldy adalah orang yang baik tidak mungkin juga tuan Sam meminta nak Aldy menikahimu jika dia bukan orang yang baik" tutur Bu Khodijah membelai lembut rambut putrinya itu.


" Sekarang pergilah ke kamar, bersihkan dirimu setelah itu bantu ibu ya!" titah bu Khodijah


" Iya bu!" Khanza pun pergi ke kamarnya sementara bu Khodijah duduk lemas di salah satu kursi meja makan.


Bu Khodijah menitikkan airmatanya merasa sedih akan nasib yang menimpa putrinya.


Setelah selesai bersih-bersih Khanza segera keluar dari kamarnya dan menghampiri ibunya yang tengah berkutat di dapur.


" Bu!" panggil Khanza saat bu Khodijah tengah sibuk memotong sayuran


" Sudah selesai?" tanya bu Khodijah


" Sudah bu, apa yang bisa Khanza bantu bu?" tanya Khanza yang sudah berada di samping bu Khodijah


" Tolong kamu cuci semua sayuran ini juga ikan yang ada di dalam kulkas!" seru bu Khodijah


" Baik bu" Khanza pun melaksanakan apa yang diperintahkan bu Khodijah


Dengan telaten Khanza mengerjakan tugasnya dan tiba-tiba terdengar suara Izan yang cukup membuatnya sedikit terkejut


" Hallo semuanya!" ucap Izan yang baru pulang dari sekolah


" Astaghfirullah Izan!" tegur bu Khodijah yang kesal dengan sikap Izan yang sudah mengejutkannya.


" Anak ngeselin, pulang sekolah bukan beri salam dulu malah main masuk aja ngagetin orang tua lagi" cerocos Khanza


Izan hanya cengengesan mendengar ucapan sang kakak.


" Iya maaf, assalamu'alaikum!" ucap Izan seraya meraih tangan bu Khodijah untuk salam takzim.


" Wa'alaikum salam" sahut bu Khodijah dan Khanza bersamaan


" Ibu sama kakak sedang masak apa sih, tumben masak sebanyak ini?" tanya Izan


" Nanti malam akan ada tamu yang datang jadi kamu jangan pergi ke mana-mana hari ini!" sahut bu Khodijah memberitahu putranya


" Tamu siapa bu, tumben ada tamu yang mau datang ke rumah kita?" tanya Izan yang jadi penasaran


" Jangan banyak bertanya, sebaiknya sekarang kamu bersih-bersih lalu bantu ibu beres-beres rumah ya!" ucap bu Khodijah


" Iya bu" Izan pun berlalu pergi ke kamarnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Khanza sedang berada di depan cermin memperhatikan pantulan dirinya di cermin tersebut.


" Aku berharap ini hanya sebuah mimpi" lirihnya


Tok


Tok


Tok


" Kak!" panggil Izan dari balik pintu


" Iya Zan, masuk aja!". sahut Khanza

__ADS_1


Ceklekk


Pintu terbuka dari luar dan Izan langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Khanza


dan duduk di tepi tempat tidur.


" Kak sebenarnya ada apa sih, kenapa pak Sam dan isterinya datang ke rumah kita? ada pak Aldy juga lagi" tanya Izan yang semakin penasaran


" Apa mereka sudah datang?" tanya Khanza menoleh ke arah adiknya itu


" Sudah, makanya aku kesini karena ibu menyuruh ku memanggil kakak" sahut Izan dan Khanza langsung beranjak dari duduknya


" Kalau begitu ayok kita keluar!" ajak Khanza


" Kak, apa kakak sudah melakukan kesalahan?" tanya Izan yang langsung membuat langkah Khanza terhenti seketika


Khanza menoleh ke belakang menatap Izan yang masih setia duduk di kasur kakaknya.


" Apa kakak membuat masalah di sekolah ?" tanya Izan yang belum puas dengan pertanyaannya yang belum juga mendapat jawaban dari Khanza.


Khanza tersenyum tipis lalu mengajak Izan untuk keluar bersamanya.


" Ayok keluar, tidak enak jika mereka terlalu lama menunggu kita!" bukan menjawab Khanza malah mengajak adiknya keluar.


" Iya kak" Izan pun dengan langkah gontai mengikuti langkah kakaknya menuju ruang tamu.


" Tuan... Nyonya...!" sapa Khanza saat menemui tuan Sam dan mama Maria yang sudah menunggunya.


" Duduk nak!" titah bu Khodijah setelah Khanza menyalami tangan tuan Sam dan isterinya.


Khanza duduk di samping ibu Khodijah dan disebelahnya lagi Izan.


" Jadi kamu yang bernama nak Khanza?" tanya mama Maria tersenyum ramah pada Khanza


"Iya nyonya" sahut Khanza sedikit gugup dan salah tingkah


" Kamu sangat cantik sayang" pujinya


" Terima kasih nyonya, anda terlalu memuji" ucap Khanza tersipu malu


" Tapi benar yang aku katakan, kau gadis yang cantik dan baik sungguh beruntung nak Aldy bisa mendapatkan calon isteri secantik dan sebaik kamu sayang" lagi-lagi mama Maria memuji Khanza, melihat Khanza untuk pertama kalinya membuat mama Maria sudah terlanjur suka. Khanza memang anak yang baik mama Maria tahu itu saat tuan Sam mengatakan tentang kejadian yang menimpanya mama Maria tidak serta merta percaya begitu saja tapi demi kebaikan bersama apalagi Aldy yang dulu sempat menyukai menantunya membuat mama Maria akhirnya setuju dengan rencana tuan Sam yang ingin menikahkan Aldy dengan Khanza.


" Tante bisa membuat Khanza terbang melayang karena terlalu banyak memuji!" seloroh Khanza dengan wajah merona


" Terima kasih tante, maaf maksud Khanza mama!"


" Nah begitu dong!" ucap mama Maria seraya tertawa


" Em... bagaimana kalau tuan dan nyonya kita makan malam terlebih dahulu!" ucap ibu Khodijah disaat suasana sudah sedikit lebih santai


" Duh kedatangan kami jadi merepotkan bu Khodijah" ucap mama Maria yang sedikit sungkan


" Tidak merepotkan kok nyonya, hanya masakan ala kadarnya saja, mari !" ucap ibu Khodijah mempersilahkan tamunya untuk menuju meja makan.


" Sepertinya masakannya sangat lezat, apa ini semua bu Khodijah yang memasaknya?" tanya mama Maria saat mereka sudah duduk di meja makan dan melihat berbagai masakan yang tersaji di atas meja.


" Tidak semuanya nyonya, sebagian adalah masakan Khanza!" ucap bu Khodijah membuat mama Maria semakin kagum dengan gadis yang tengah duduk di hadapannya saat ini.


" Benarkah, jadi kamu pandai memasak sayang?" tanya mama Maria antusias


" Tidak pandai tante eh maksud saya ma, hanya bisa sedikit itupun belajar dari ibu" jawab Khanza merendah dan tersenyum tipis


" Tapi gadis seusia kamu sudah bisa memasak itu sesuatu yang cukup luar biasa sayang, lain kali kita masak bersama ya!" ucap mama Maria dengan senang


" Iya mah" ucap Khanza tersenyum tipis


Semua makan dengan khidmat, tidak ada pembicaraan yang serius yang menemani acara makan malam tersebut. Aldy sesekali melirik ke arah Khanza namun yang dilirik sedari tadi hanya menundukkan pandangannya saja.


Setelah acara makan malam selesai tiba saatnya mereka berbicara sesuatu yang terbilang serius di ruang tamu.


Khanza membawakan kopi dan juga teh untuk menemani obrolan para orang tua.


Izan membantu kakaknya membawakan cemilan sebagai teman minum kopi.


" Nak Khanza duduklah!" ucap tuan Sam


Khanza duduk di samping bu Khodijah sementara Izan di suruh masuk ke dalam kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolahnya oleh bu Khodijah.


" Izan sebaiknya kamu masuk ke kamarmu ya sayang ada hal yang perlu kami bicarakan nak dan sebaiknya kamu kerjakan saja tugas sekolah mu ya" seru bu Khodijah

__ADS_1


" Iya bu!" ucap Izan patuh.


Hening


" langsung saja ya bu Khodijah" ucap tuan Sam memulai pembicaraannya.


" Silahkan tuan!" bu Khodijah mempersilahkan tuan Sam untuk berbicara terlebih dulu


"Begini bu Khodijah, setelah kami rembukan dan memikirkan secara matang, bagaimana kalau acara pernikahan nak Khanza dan nak Aldy kita percepat saja, saya takut ada orang-orang tertentu yang ingin memanfaatkan situasi ini apalagi jika memang mereka mempunyai rencana tidak baik untuk Khanza dan juga Aldy" tutur tuan Sam menjelaskan


" Kalau saya terserah bagaimana baiknya saja tuan, jika dipercepat juga tidak masalah karena dari pihak saya adalah perempuan jadi menurut saya semakin cepat semakin baik" sahut bu Khodijah


" Baiklah kalau bu Khodijah tidak berkeberatan, lalu bagaimana dengan nak Khanza?" tanya tuan Sam menoleh ke arah Khanza


" Saya terserah ibu saja, apapun yang sudah menjadi keputusan ibu akan menjadi keputusan saya, karena saya tidak ingin melakukan kesalahan lagi yang nantinya membuat ibu semakin kecewa" jawab Khanza dengan wajah sendu


" Bagaimana nak Aldy?" kini tuan Sam beralih bertanya kepada Aldy yang sedari tadi tengah memandangi Khanza yang hari ini terlihat lebih cantik dari biasanya.


" Ya?" Aldy terkesiap dan langsung menoleh ke arah tuan Sam


" Emmmm.... saya ikut saja bagaimana baiknya" jawab Aldy


" Bagus kalau begitu, jadi pernikahan kalian akan berlangsung Minggu depan" ucap tuan Sam yang langsung membuat keduanya terkejut


" Apa, Minggu depan?" ucap keduanya bersamaan


" Tuan menurut Khanza itu terlalu cepat, Khanza belum siap" ucap Khanza protes


" Benar apa yang dikatakan Khanza Om, Minggu depan terlalu cepat menurut ku, kami butuh persiapan!" ucap Aldy


" Kalian tidak perlu mempersiapkan apa-apa, cukup hanya persiapkan diri kalian masing-masing!" ucap mama Maria menimpali


" Ya itu benar, untuk persiapan pernikahan kalian mama Maria yang akan mengurus semuanya" ucap tuan Sam


" Tapi tuan_" Khanza hendak protes


" Sudah sayang kamu tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja. mama tau kamu pasti kecewa dengan keputusan ini, tapi mama berharap kalian bisa menjalaninya dengan baik" ucap mama Maria menenangkan hati Khanza


Setelah acara lamaran selesai tuan Sam dan mama Maria sudah pamit pulang lebih dulu dan hanya tinggal Khanza yang tengah duduk bersama Aldy diteras depan rumah.


" Apa kamu menerima pernikahan itu?" tanya Aldy membuat Khanza langsung menoleh ke arahnya.


" Apa maksud pertanyaan bapak?" tanya Khanza mengerutkan keningnya


" Apa kamu tidak ingin menolak pernikahan kita?" Khanza tersenyum kecut menatap lurus ke depan


" Apa aku bisa menolaknya? dan apa bapak juga bisa menolaknya? kalau bisa sudah dari kemarin pak dan acara lamaran ini tidak akan pernah terjadi!" ucap Khanza lirih


" Aku menerima semuanya hanya karena aku tidak ingin membuat ibu semakin kecewa, dan jika bapak tidak ingin menerima pernikahan kita bagaimana kalau setelah 6 bulan kita berpisah saja dan selama itu kita tidak boleh adanya kontak fisik, tidak boleh ikut campur urusan masing-masing dan hanya terlihat dekat saat di depan ibu, tuan Sam dan juga mama Maria, bagaimana?" usul Khanza mengungkapkan keinginannya


" Baik aku setuju, jangan ikut campur urusan satu sama lain dan setelah menikah kau harus ikut tinggal bersama ku di apartemen milikku" ucap Aldy


" Kenapa harus tinggal di apartemen mu?"


" Ya karena tidak mungkin kita tinggal di sini, di apartemen ku ada dua kamar dan kamu bisa menempatinya. kita akan tinggal di kamar yang berbeda tentunya " Khanza mengangguk mengerti


" Baiklah aku setuju dengan begitu setelah kita berpisah aku bisa meneruskan pendidikan ku dan menggapai semua cita-cita ku" ucap Khanza datar


" Apa cita-cita mu itu begitu penting?" tanya Aldy


" Tentu saja, aku ingin menjadi orang sukses dan bisa memberi kebahagiaan untuk ibuku" jawab Khanza


Aldy akhirnya pamit pulang setelah mengungkapkan keinginannya masing-masing dan sepakat untuk menerima pernikahan itu sampai 6 bulan saja, selama 6 bulan tersebut akan membuktikan kalau Khanza tidak hamil berarti kebenaran itu akan terungkap kalau mereka benar-benar tidak melakukan apa-apa di malam itu.


" Khanza!" panggil bu Khodijah saat Khanza hendak masuk ke dalam kamarnya


" Iya bu" sahut Khanza


" Duduk sini sayang!" bu Khodijah menepuk bangku kosong yang ada di sampingnya


Khanza berjalan menghampiri bu Khodijah dan duduk di sebelahnya.


" Ada apa bu?" tanya Khanza


Bu Khodijah tersenyum tipis lalu mengelus rambut Khanza dengan lembut.


" Sayang ibu mengerti saat ini mungkin di dalam hati kamu tidak bisa menerima keputusan ibu yang sudah menerima lamaran nak Aldy" ucap bu Khodijah membuat Khanza langsung mendongak dan menatap manik mata coklat Bu Khodijah yang nampak sayu.


" Bu!" suara Khanza terdengar serak menahan tangisnya

__ADS_1


" Ibu tahu keputusan ini sangat berat untuk kamu terima sayang tapi kita ambil hikmahnya saja nak, menerima pernikahan itu dengan ikhlas, ibu percaya kamu bisa melewati semua itu dengan baik" tutur bu Khodijah


" Iya bu" Khanza tidak bisa lagi menahan kesedihannya dan langsung berhambur ke pelukan sang ibu.


__ADS_2