
Miska kini sudah pulang dari rumah sakit dan berada di kediaman orang tuanya.
" Sayang, apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu itu?" tanya mama Rika yang saat ini tengah duduk di tepi tempat tidur sedangkan Miska duduk bersandar di kepala ranjang.
" Iya mah, Miska sudah tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini" ucapnya sendu
" Tapi alangkah baiknya kamu pertimbangkan lagi nak, apalagi sekarang bisa mama lihat dengan jelas nak Roni sudah banyak berubah dan sepertinya dia juga sudah ada perasaan sama kamu!" terang mama Rika
Miska terdiam dan menundukkan wajahnya
" Keputusan Miska sudah bulat mah!" sahut Miska
" *Dulu Miska yang selalu memandang jijik terhadap Roni mah karena sering gonta-ganti cewek dan tidak tahu malu mesra-mesraan di depan umum, tapi sekarang justru Miska malu terhadap diri Miska sendiri mah yang sudah kotor dan menjijikkan" batin Miska
" Miska sudah tidak pantas menjadi isteri Roni mah*!"
Tok...
Tok..
Tok...
Pintu di ketuk dari luar Miska dan mama Rika menoleh ke asal suara.
" Sebentar ya mama bukain pintunya dulu" Miska mengangguk
Ceklek
Pintu kamar Miska terbuka, seorang pria tampan berdiri dengan setia menunggu di depan pintu.
" Ada apa nak Roni?" tanya mama Rika
" Maaf mah, papa dan daddy menunggu Miska di ruang keluarga" ucap Roni memberitahu
"Baiklah nak Roni nanti mama dan Miska menyusul"
" Iya mah"
Miska dan mama Rika saat ini sudah berada di ruang tamu bersama dengan yang lainnya.
" Sayang!" panggil Bambang dan dengan perlahan Miska mendongakkan kepalanya
" Maafkan Miska dadd!" ucap Miska sendu
" Kamu tidak perlu minta maaf sayang, semua keputusan memang berada di tanganmu tapi apa boleh daddy meminta waktu satu bulan lagi nak, setidaknya beri putra daddy kesempatan untuk menebus kesalahannya dan jika dalam waktu sebulan kamu memang tetap pada pendirian mu yang ingin berpisah dengan Roni daddy tidak bisa melarang nak" ucap Bambang dengan berat hati
" Dadd!" lirih Miska
" Daddy begitu menyayangi kamu sayang, kamu sudah daddy anggap seperti putri kandung daddy sendiri"
" Dadd, sudahlah. jika ini yang terbaik buat Miska kita harus menghormati keputusannya" sela Roni
" Ayo dadd kita pulang, beri Miska waktu, jangan terlalu memaksakannya apalagi dia baru saja pulang dari rumah sakit kondisinya belum pulih benar!" ucap Roni berusaha untuk mengerti posisi Miska
" Iya dad, apa yang dikatakan Roni ada benarnya, jangan terlalu membebani pikiran Miska" Mommy ikut menimpali
" Baiklah kalau begitu, mari kita pulang" Bambang beranjak dari duduknya di ikuti oleh Roni dan mommy Sarah.
Setelah berpamitan mereka pun akhirnya pergi meninggalkan kediaman rumah Miska, walaupun berat karena sudah terbiasa beberapa bulan ini berbagi kamar dengan Miska Roni berusaha untuk bersikap biasa.
"Semoga cepat sembuh dan sampai bertemu di sekolah!" ucap Roni sebelum beranjak pergi.
" Mah, pah... Miska pamit ke kamar dulu!" pamit Miska
Setelah Roni pergi Miska masuk ke dalam kamarnya, Miska berusaha memejamkan matanya namun berkali-kali bayangan kelam terus saja menghantuinya.
" Sayang " suara mama Rika membuyarkan lamunannya
" Iya mah, ada apa?" tanya Miska beranjak dari tidurannya.
" Ini ponsel kamu, Roni kemarin memberikan ponsel ini ke mamah tapi mamah lupa ngasihnya ke kamu!" tutur mama Rika
" Terima kasih mah" ucap Miska mengambil ponselnya dari tangan mamanya
" Sepertinya teman-teman kamu sangat mengkhawatirkan kamu sayang, banyak pesan yang masuk dan juga panggilan tak terjawab" terang mama Rika
Seketika Miska teringat dengan Khanza, sehari aja enggak ada kabar tentang dirinya pasti tuh anak sudah kalang kabut.
" Astaghfirullah!" ucap Miska spontan dan langsung mengaktifkan ponselnya
" Ada apa sayang?" tanya mama Rika bingung
" Khanza mah, tuh anak pasti khawatir banget sama Miska dan sekarang dia pasti sedang panik karena gak ada kabar dari Miska hampir seminggu" jawab Miska seraya menghubungi nomor Khanza.
Drettt....
" Hallo, assalamualaikum!"
" Wa'alaikum salam, Miska?"
" Apa ini pak Aldy?"
" Iya"
" Kamu kemana saja menghilang begitu saja tidak ada kabar?"
" Iya pak maaf, emmm... kalau boleh tau Za nya ke mana ya pak?" tanya Miska
" Za baru saja tidur, karena mengkhawatirkan kamu pola makannya jadi tidak menentu, dan sekarang Za berada di rumah sakit karena kemarin sempat hampir jatuh pingsan!" terang Aldy
__ADS_1
" Oh ya ampun Za, gue minta maaf!" gumam Miska
" Za di rawat di rumah sakit mana ya pak?"
" Di rumah sakit Darma Bangsa Medika"
" Tapi kamu enggak usah khawatir, besok juga sudah di perbolehkan pulang apalagi kalau tahu kamu menelponnya"
" Baiklah kalau begitu pak, sampaikan saja salam maaf saya pada Za!"
" Iya nanti akan saya sampaikan"
Sambungan telepon pun terputus.
" Ada apa ?" tanya mama Rika
" Za masuk rumah sakit mah"
" Oh ya ampun, sakit apa?"
" Za beberapa hari ini sangat mengkhawatirkan Miska sampai pola makannya gak nentu, begitulah Za selalu saja memikirkan orang lain" ucap Miska sendu
" Apalagi jika Za sampai tahu masalah yang terjadi sama gue, dia pasti akan semakin khawatir" batin Miska.
3 hari berlalu baik kondisi Miska maupun Khanza kini sudah sama-sama membaik, setelah bertelepon dengan Miska, Khanza merasa lega walaupun di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang Miska sembunyikan dari dirinya.
Khanza tidak ingin memaksa Miska untuk bercerita melihat kondisi sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja dia sudah sangat bersyukur.
Sementara Nicko tidak tinggal diam, dia bersama Billy mencari tahu siapa yang sudah memberinya obat tidur pada kejadian beberapa waktu yang lalu dan membawa Miska pergi.
Mereka kini sudah kembali ke sekolah beberapa hari tidak masuk membuat teman-teman sekelasnya ikut khawatir.
" Khanza, Miska!" teriak Hana dan Nana bersamaan saat melihat kedua sahabatnya itu masuk ke dalam kelas
" Hana... Nana ...!" teriak Miska dan juga Khanza
" Kalian ini sakit kok bisa kompakan gitu sih!" cerocos Hana
" Itu namanya kita sehati ya enggak Za?" Miska menyenggol bahu Khanza
" Yoi, itu pasti!" tawa Khanza
" Untung aja kalian enggak hamil barengan ya coba kalau bareng repot ngidamnya barengan!" seloroh Nana
Deg
Miska terdiam, tiba-tiba hatinya bergemuruh hebat mendengar kata hamil detak jantungnya berpacu begitu cepat, bayangan kelam itu terlintas kembali dalam ingatannya.
" Hamil? bagaimana seandainya gue...... tidak itu tidak boleh terjadi... itu tidak mungkin.... tidak.....!" Miska geleng-geleng kepala menapik semua segala kemungkinan.
" Miska elo kenapa?" Khanza membuyarkan lamunannya
" Ya?" Miska nampak bingung sendiri
" Kalau elo emang masih kurang enak badan kenapa loe tadi masuk sekolah?" cemas Hana
" Gue enggak apa-apa kok, di rumah terus juga bosan gue, kangen juga sama kalian" ucap Miska membuat ketiga sahabatnya merasa haru dan memeluknya.
" Gue juga kangen sama loe" Khanza
" Gue juga" Hana
"Iya, kita semua kangen sama elo " Nana
" Woyyy pelukan kok enggak ngajak-ngajak sih?" protes Nicko yang baru datang menghampiri
" Nicko!" beo Miska
" Ko, bagaimana keadaan loe?" tanya Miska
" Baik, justru loe yang bagaimana kabarnya tiba-tiba menghilang gitu aja" sahut Nicko membuat wajah Miska kembali berubah sendu tapi sedetik kemudian ia berusaha untuk bersikap biasa
" Gue enggak apa-apa, cuma waktu itu gue ketemu sama anak om gue terus dia bawa gue pulang ke rumahnya" Miska memberi alasan
" Oh gitu" ucap Nicko tersenyum getir
" Elo bohong sama gue Ka, padahal gue tahu Bayu yang sudah membawa loe pergi. semoga aja dia tidak melakukan hal yang lebih sama loe" batin Nicko
Setelah beberapa jam berlalu kini waktunya jam istirahat, Khanza yang sudah diwanti-wanti oleh sang suami untuk segera keruangannya karena kondisi kesehatan Khanza yang belum terlalu fit jadi mau tidak mau pada jam istirahat Khanza harus ke ruangan sang suami untuk beristirahat di sana dan dengan terpaksa ia tidak bisa ikut dengan para sahabatnya pergi ke kantin.
"Ka loe kenapa?" tanya Hana saat langkah Miska tiba-tiba terhenti.
Miska bergeming pandangannya lurus ke depan menatap laki-laki yang tengah berbicara dengan teman-temannya.
" Ka, Miska?" Nicko yang berada di belakangnya menepuk bahu Miska
Miska terkesiap dan menoleh ke arah Nicko, melihat mata Miska yang berkaca-kaca membuat hati Nicko berdesir merasakan seperti ada sesuatu yang sudah terjadi antara Miska dan Bayu laki-laki yang berada di sudut kelas.
" Loe dan_" Nicko tidak melanjutkan kata-katanya apalagi saat melihat kemarahan yang begitu besar pada diri Miska.
Miska dengan langkah tegas menghampiri Bayu dan_
Plakk
Satu tamparan keras mendarat tepat dipipi Bayu membuat Bayu yang tidak siap langsung terhuyung ke belakang.
" Berengsek.... Baj***an !" maki Miska membuat beberapa siswa dan siswi yang tidak jauh dari mereka berada langsung menoleh dan seketika mereka menjadi pusat perhatian.
" Miska!" ucap Hana dan Nana yang terkejut dengan apa yang sudah Miska lakukan.
__ADS_1
Roni hanya menatap mereka dari jauh, apalagi saat itu ada Nicko yang berdiri seakan ingin melindungi Miska.
Ada rasa marah, benci dan ingin menarik Miska lalu membawanya pergi dari sana tapi Roni tidak memiliki keberanian sebesar itu entah kenapa ia begitu takut Miska akan marah dan membencinya.
Miska yang sudah tidak sanggup lagi melihat wajah Bayu akhirnya memilih pergi, membuat semua orang yang berada di tempat itu nampak bingung.
Hana dan Nana setengah berlari mengejar Miska.
" Miska!" teriak Hana dan Nana
Miska terus saja berlari tidak menghiraukan panggilan kedua sahabatnya itu sementara Nicko mencengkeram kuat kerah baju Bayu dan hendak melayangkan bogeman mentahnya namun ditahan oleh Billy.
" Cukup Ko, loe enggak ada bukti yang kuat dan yang ada nanti elo yang malah kena masalah!" ucap Billy mengingatkan
Nicko berusaha mengendalikan dirinya sementara Bayu hanya diam karena dia sadar akan kesalahannya.
Miska kembali ke dalam kelas dan berusaha untuk bersikap biasa.
Khanza yang baru saja dari ruangan Aldy nampak bingung melihat Miska berada di dalam kelas sendirian dengan wajah yang nampak murung.
" Loe kenapa Ka?" tanya Khanza hati-hati
Miska menoleh saat Khanza duduk di bangku sebelahnya.
" Gue enggak apa-apa" jawab Miska tersenyum kecut
" Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa tadi di luar gue mendengar loe menampar Bayu. apa sebenarnya yang terjadi Ka?"
Miska bergeming lalu menundukkan wajahnya
" Gue dan Roni bakalan pisah Za" sahut Miska
membuat Khanza terkejut
" Apa? pisah, kenapa? Loe sama Roni kan belum genap 6 bulan menikah"
Miska mengangguk " Tapi gue enggak pantas berada di dekatnya Za, gue... gue ...!" Miska tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
" Elo kenapa Ka, bilang sama gue loe kenapa?" Khanza tidak kuasa menahan air matanya melihat Miska yang begitu terlihat terpuruk
" Gue udah kotor Za, gue jijik sama diri gue sendiri. dulu gue yang memandang jijik pada Roni tapi sekarang gue merasa jijik pada diri gue sendiri Za!" ucap Miska disela isak tangisnya
" Elo ngomong apa sih Ka, maksud loe apa?"
" Bayu.... dia.." Miska kembali menangis
" Bayu kenapa?"
" Dia sudah merenggut kehormatan gue Za!" aku Miska dan tangisnya pun kembali pecah
Jegeeeeerrrrr
Khanza terperanjat kaget, bagai petir menyambar pengakuan Miska membuat Khanza sedikit syok.
" Miska!" ucap Khanza lirih dan langsung menarik Miska ke dalam pelukannya.
" Gue akan membuat perhitungan sama dia!" Khanza mengurai pelukannya dan beranjak dari duduknya. Miska yang tahu watak sahabatnya itu terkejut melihat reaksi Khanza yang nampak begitu murka
" Za!"
" Gue enggak akan membiarkan dia lolos begitu aja, gue akan habisi dia yang sudah berani melecehkan sahabat baik gue!" geram Khanza mengepalkan tangannya di atas meja
" Za, loe enggak boleh kayak gini ya, gue enggak apa-apa kok Za, gue mohon loe tahan emosi loe ya, ingat perut loe Za, amarah loe enggak akan menyelesaikan masalah dan yang ada hanya akan menambah masalah" ucap Miska yang berusaha menenangkan Khanza
" Tapi Ka, dia sudah sangat keterlaluan!" marah Khanza
" Iya gue tau, tapi kalau loe kayak gini yang ada gue malah khawatir dengan keadaan kandungan loe!"
" Gue enggak apa-apa Za"
Khanza sudah jauh lebih tenang dan pada saat bersamaan Hana dan Nana datang.
" Ka loe enggak apa-apa?" tanya mereka
" Enggak, gue baik-baik aja kok!" jawab Miska dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah kejadian itu Bayu tidak berani menampakkan dirinya di depan Miska dan Roni. dia selalu menjaga jarak dan menjauh
Sementara Roni diam-diam selalu memberi perhatiannya kepada Miska, walaupun mereka sudah tidak lagi tinggal bersama dan berencana akan berpisah Roni tetap memanfaatkan peluang yang ada, hampir setiap hari Roni selalu mengirimkan Miska makanan ke rumahnya ya walaupun Miska tidak pernah mau menemuinya tapi Roni sudah merasa senang saat mama Rika memberitahukannya kalau makanan yang selalu ia kirimkan selalu habis dimakan Miska.
" Kalian ini seperti sehati saja ya?" kata mama Rika saat Roni datang ke rumahnya membawakan Miska singkong keju manis yang baru saja Miska inginkan dan mengatakannya kepada mamahnya.
" Benarkah?" tanya Roni seraya tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Iya, dia pasti senang banget!" ucap mama Rika
" Kalau begitu Roni pamit dulu mah, besok Roni akan balik lagi" pamit Roni salim takzim
" Enggak mau menemui Miska dulu?" tanya mama Rika
" Lain kali saja mah, Assalamualaikum!" ucap Roni
Roni keluar dari rumah Miska dengan hati yang entah, ada rasa bahagia tapi ada rasa kecewanya juga karena belum bisa bertemu dengan wanita yang kini sudah mengobrak abrik hatinya.
" Roni!" Suara yang sangat ia rindukan memekik di telinganya. ingin sekali Roni menoleh tapi ia takut kecewa seperti yang sudah-sudah saat menoleh ternyata itu hanyalah halusinasinya saja.
Roni kembali melanjutkan langkahnya namun untuk kedua kalinya namanya dipanggil oleh gadis yang sangat dirindukannya.
" Roni tunggu!" panggil Miska yang setengah berlari menghampirinya.
__ADS_1
Roni menghentikan langkahnya lalu menoleh dan betapa terkejutnya Roni karena Miska kini tengah berdiri di hadapannya
" Miska!" beonya