
Zaira dan sahabat-sahabatnya kini tengah berada di rumah sakit tepatnya di ruangan dimana Mita masih setia memejamkan mata.
Saat mereka datang pemandangan yang mereka lihat seperti hari-hari biasanya, ada dokter Ariel yang tengah duduk di kursi tunggu yang berada di sisi kanan brankar Mita.
Kali ini pemandangannya tidak biasa karena wajah dokter Ariel terlihat sangat pucat, Zaira nampak cemas melihat keadaan sang kakak yang terlihat berantakan dan pucat.
" Kak, apa kak Ariel sedang sakit?" tanya Zaira mengkhawatirkan keadaan dokter Ariel.
Dokter Ariel tersenyum lalu mengacak-acak rambutnya " Kakak gak apa-apa Al"
" Tapi wajah kakak pucat banget " Zaira mengajak dokter Ariel duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut
" Kakak jika kakak sedang tidak enak badan, sebaiknya kakak pulang aja dulu istirahat kak, atau aku panggil om Malik saja ya bagaimana, biar om Malik yang memeriksa keadaan kak Ariel." pinta Zaira
" Al kakak beneran gak apa-apa, kakak hanya kecapean aja, semalam pasien yang kakak tangani cukup banyak Al " Elak dokter Ariel seraya tersenyum.
" Kak!" rengek Zaira agar dokter Ariel mau diperiksa dan beristirahat.
" Kakak baik-baik aja Al, kamu jangan terlalu khawatir dengan keadaan kakak Al. ingat ibu hamil tidak boleh banyak pikiran!"
" Iya kak aku tahu, tapi melihat kakak seperti ini aku khawatir kak. sebaiknya kakak pulang dan istirahat ! lagi pula disini ada kami yang akan menjaga dan menemani Mita kak" Zaira terus membujuk kakaknya itu
" Tidak Al, kakak ingin tetep disini." dokter Ariel menoleh ke arah Mita yang masih terpejam.
" Kakak ingin menemaninya Al, kakak ingin saat Mita membuka matanya orang pertama yang dilihatnya adalah kakak Al!" ucap dokter Ariel sendu.
" Kak!" Zaira mengusap punggung dokter Ariel memberi energi semangat " Jika Kakak terus memaksakan fisik kakak yang butuh istirahat , kak Ariel bisa jatuh sakit nantinya kak. tubuh kakak juga butuh perhatian kak, dia juga butuh istirahat. kak, istirahat ya jangan sampai kakak jatuh sakit, pikirkan kesehatan kakak kalau kak Ariel sakit lalu siapa nanti yang akan menjaga Mita?" tanya Zaira membuat dokter Ariel menoleh ke arahnya.
" Jika Mita tahu kak Ariel bersikap seperti ini, aku yakin Mita pasti akan marah ".
Dokter Ariel membuang napasnya kasar.
" Baiklah kakak beristirahat di ruang praktek saja" ucap dokter Ariel
" Kak pulanglah dulu, lihat penampilan kakak jelek sekali, bersihkanlah tubuh kakak terlebih dahulu agar saat Mita membuka matanya tidak melihat kakakku yang jelek seperti sekarang" ejek Zaira agar dokter Ariel mau pulang dan istirahat.
" Kamu benar Al, baiklah aku pulang dulu. jika ada apa-apa tolong kabari kakak ya Al!" pinta dokter Ariel.
Zaira pun mengangguk, Zaira tersenyum senang karena akhirnya kakaknya mau juga untuk pulang. Zaira tahu belakangan ini dokter Ariel jarang beristirahat. Setiap selesai praktek dia selalu keruangan Mita, mengajaknya bicara dan terus memandangi wajah pucat yang masih memejamkan matanya itu.
Mia menatap iba melihat perubahan pada raut wajah sang dokter yang biasa terlihat segar dan tampan hari ini terlihat jauh berbeda sangat pucat dan berantakan.
Indah duduk di kursi yang tadi di tempati oleh dokter Ariel. Indah tengah mengajak Mita berbicara menceritakan kehebohan yang terjadi di sekolah tadi tentang Lia yang menangis di dalam kelas membuat Lia kesal dan mereka saling berada mulut saling mengejek dan sesekali diselingi oleh tawa keduanya.
Sementara Mona diam-diam memperhatikan dokter Ariel yang masih berbicara dengan Zaira.
Dokter Ariel memutuskan untuk pulang menuruti keinginan sang adik, dan pada saat dokter Ariel berpamitan kepada sahabat-sahabat Mita diam-diam Zaira menangkap sesuatu yang berbeda dengan tingkah Mona.
Dokter Ariel sudah pergi kini Mita ditemani oleh ke lima sahabatnya. Zaira dan yang lainnya tengah mengajak Mita berbicara, mereka bergantian bercerita namun ada hal yang aneh yang saat ini Zaira rasakan, Mona ya Mona, gadis itu yang biasanya paling berisik dan paling heboh saat ini malah lebih banyak diam tersenyum pun seperti sangat dipaksakan.
Mona duduk di sofa menghela napasnya kasar menatap lekat ke arah Mita yang masih memejamkan mata dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Zaira berjalan menghampiri Mona dan mendudukkan dirinya di samping Mona, Zaira tersenyum dan mengusap pelan bahu Mona.
" Loe kenapa?" tanya Zaira dengan menyunggingkan senyumnya
Mona menoleh ke arah Zaira dan membalas senyuman Zaira " Gue gak kenapa-napa" jawab Mona berbohong
" Mon, elo mungkin bisa membohongi orang lain tapi loe gak bisa membohongi diri loe sendiri" ucap Zaira
" Gue memang gak tahu alasan apa yang udah membuat loe kayak gini sekarang Mon, tapi satu hal yang perlu kita sadari Mon, kita memang diharuskan banyak-banyak memohon dan berharap kepada Allah tapi kita juga tidak boleh memungkiri Mon, sekeras apapun kita ingin memiliki apa yang kita inginkan Mon tapi tetap tangan Allah yang menentukannya." ucap Zaira membuat Mona terdiam sambil menundukkan pandangannya.
" Gue...!" ucap Mona terpotong
__ADS_1
" Gue tahu, tapi mulai sekarang loe buang deh Mon jauh-jauh perasaan loe itu sebelum loe terlanjur jatuh lebih dalam lagi" Zaira menepuk pundak Mona
" Mereka hebat ya Za, menyembunyikan hal ini dari kita semua dan bodohnya gue malah salah paham mengartikan setiap kebaikannya" ucap Mia
" Loe gak bodoh kok Mon, loe itu cewek hebat dan pintar!" puji Zaira membuat Mona tersenyum.
" Loe tuh ya Za paling pintar emang bikin orang ge'er. mulut loe manis pantas saja pak Bagaz bucin sama loe" Mona merangkul bahu Zaira
" Tetap aja Za gue malu sama diri gue sendiri "
" Malu kenapa?" Zaira tengah mengelus-elus perutnya yang sempat bergerak.
" Malu dengan diri gue sendiri, yang ternyata suka dengan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain." Sahut Mona sendu
" Mona kita tidak akan pernah tahu dimana hati kita akan berlabuh, mungkin saat ini hati loe sedang berada di pelabuhan yang salah akibat hempasan badai ombak yang muncul dan menerjang dengan tiba-tiba tapi loe masih bisa memutar kembali Mon ke pelayaran dan berlabuh pada pelabuhan yang sesungguhnya."
terang Zaira.
" Ini mungkin akan terdengar aneh dan sangat memalukan ya?" Mona tertawa getir.
" Hey, kemana Mona yang gue kenal? Mona itu selalu bersikap optimis dan percaya diri. loe itu cuma lagi baper aja Mona nanti juga loe bakal baik sendiri, loe juga nanti bakal ketemu deh sama yang baper dan bucin abis sama loe, sabar aja ya Mon" Zaira memeluk Mona dari samping.
" Babang Yoyo juga boleh Mon, dia kan naksir berat sama loe" bisik Zaira membuat Mona melotot.
" Biasa aja Mona matanya, lagi pula apa kurangnya Yoga? dia itu lumayanlah gak jelek-jelek amat, anaknya juga baik gak neko-neko cinta banget lagi sama loe, ya apa salahnya di coba dulu!" usul Zaira
" Cinta kok buat coba-coba!" suara bariton terdengar dari belakang Zaira membuat Zaira terperanjat kaget.
" Mas!" pekik Zaira
Azka mencium kening Zaira lalu duduk di sampingnya.
" Jangan sedih Mon, nanti juga pangeran kamu akan datang dengan sendirinya. sabar aja tunggu waktunya tiba!" pesan Azka
" Loe bisa belajar membuka hati loe buat Yoga Mon, seperti halnya kak Ariel yang pada akhirnya membuka hatinya untuk Mita. loe juga pasti bisa Mona!" Zaira menyemangati Mona
" Gue akan coba!" Mona tersenyum
" Nah gitu dong" Zaira tertawa senang
" Oia, mas sejak kapan datang kok aku gak tau ya?" tanya Zaira beralih pada Azka
" Dari sejak kalian serius banget membahas hati yang tengah retak" sahut Azka sambil tertawa.
" Pak Bagaz, apaan sih!" Mona bersemu
" Gak apa-apa Mon gak usah malu sama laki gue mah, dia mah orangnya asik kok" timpal Zaira
" Asik ya Yang, apalagi kalau lagi di kam_" mulut Azka langsung dibekap oleh tangan Zaira, dia tahu ucapan suaminya akan mengarah ke mana.
Mona tertawa melihat wajah Zaira yang terlihat panik dan geleng-geleng kepala melihat pasutri yang memang kadang suka lepas kontrol.
" Udah Yang gak usah ngomong lagi, kamu mah gak malu apa ngomong gak pakai disaring depan murid mu loh ini" ucap Zaira melototi Azka.
" Emangnya aku mau ngomong apa hem?" goda Azka mencubit hidung Zaira gemas.
" Gak tahu ah!" kesal Zaira.
" Jangan ngambek gitu Za nanti anak loe mukanya pak Bagaz semua loh, elo gak kebagian sedikit pun!" ucap Mona sambil terkekeh.
" Wah Mon jangan gitu dong, enak aja gue yang capek gondol-gondol begini masa mas Azka yang ngambil semuanya" Zaira tidak terima membuat Azka dan Mona tertawa.
" pada ngomongin apa sih, kayaknya seru banget dari tadi?" tanya Lia yang sudah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
" Gak ngomongin apa-apa, cuma lagi bahas Zaira yang gak kebagian andil muka anaknya" Sahut Mona.
" Wah parah loe Mon!" Zaira mencubit lengan Mona membuat Mona malah semakin tertawa.
**************
Zaira dan kawan-kawannya kini sudah pulang di ruangan Mona sudah ada dokter Ariel yang begitu setia menunggu Mita kembali sadar.
" Yang, mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya dokter Ariel lirih.
" Kamu tahu Yang, hari-hari ku terasa berat sekali melewati hari tanpa melihat senyum di wajahmu. Setiap hari aku melakukan operasi dan hari ini aku hampir saja melakukan kesalahan yang sangat fatal, itu karena aku terlalu memikirkan kamu Yang, aku kangen dengan senyuman kamu, suara kamu yang selalu menjadi semangat hidup aku" dokter Ariel mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
" Aku tidak tahu harus bagaimana lagi agar kamu mau membuka mata kamu Mita Paramita, apa aku tidak pantas untukmu dan sebegitu bencinya kamu sama aku sehingga kamu menghukum aku dan tidak mau melihat aku lagi?" tubuh dokter Ariel bergetar hebat.
" Apa kamu tidak merindukan aku Mita, kamu tidak ingin melihat ku? mungkin saat kamu membuka mata kamu nanti kamu akan merasa ilfil sama aku yang jelek dan acak-acakan. mungkin kamu tidak akan menyukai aku lagi yang sudah nampak berumur. aku lelah sayang sampai Aku tidak ada waktu untuk mengurus tubuhku ini. kamu pasti akan mentertawakan aku atau bisa jadi mengusir aku karena tidak lagi mengenaliku yang berubah tua dan jelek" dokter Ariel tertawa hambar.
" Tapi selelah apapun aku akan tetap menunggu kamu membuka mata "
" Aku mencintaimu Mita Paramita, hari ini dan selamanya. kembalilah Mita ku, sayang ku, calon ibu dari anak-anakku!" ucap dokter Ariel yang semakin menyesakkan dadanya.
Dokter Ariel kembali terisak lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Mita dan mengecup kening Mita dengan cukup lama sampai air mata dokter Ariel tanpa sadar menetes dan mengalir mengenai mata Mita.
Dokter Ariel menjauhkan wajahnya menatap lekat wajah pucat gadis tercintanya. dokter Ariel ingin beranjak ke toilet ingin membasuh wajahnya namun langkahnya terhenti saat tangan Mita menggenggam jari dokter Ariel dengan mata yang masih terpejam.
Dokter Ariel terperanjat kaget, matanya membulat sempurna senyum pun terukir di wajahnya.
" Sa.. sayang kamu sudah sadar!" tanya dokter Ariel dengan wajah berbinar
Mita masih terdiam hanya ada pergerakan di jari-jarinya saja.
" Aku panggil dokter Malik dulu ya, sayang!" ucap dokter Ariel bersemangat namun tangannya kembali dicegah oleh Mita.
" Tunggu sebentar sayang!" dokter Ariel menekan tombol di dekat tempat tidur Mita dan tidak lama dokter Malik datang bersama seorang suster yang mengekor di belakangnya.
Dokter Malik memeriksa keadaan Mita, sementara dokter Ariel masih menyunggingkan senyumnya saat perlahan mata Mita terbuka dan menatapnya.
" Alhamdulillah, kamu sudah sadar Sayang!" ucap dokter Ariel merasa sangat bahagia.
Mita hanya mengerjapkan matanya yang masih terlihat lemas senyum pun nampak sangat tipis.
" Bagaimana keadaannya dok?" tanya dokter Ariel
" Kamu ini seperti bukan seorang dokter saja" dokter Malik menepuk bahu dokter Ariel " Kamu pasti sudah tahu kondisi pasien yang baru sadar dari koma pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan membiasakan menggerakkan dengan perlahan anggota tubuhnya yang sudah lama tidak digerakkan. mungkin sedikit kaku tapi perlahan semua pasti akan kembali seperti biasa." tutur dokter Malik.
" Ini merupakan perkembangan yang cukup baik, semoga kamu cepat kembali pulih ya" ucap dokter Ariel kepada Mita yang tengah tersenyum tipis. " Untung saja kau segera sadar nona cantik jika tidak maka saat kau terbangun yang kamu lihat pasti hanya seorang laki-laki tua, bertubuh kurus dengan bulu lebat disekitar wajahnya " goda dokter Malik membuat dokter Ariel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Kamu beruntung sekali Mona cantik pacarmu ini sampai mengabaikan dirinya hanya untuk menunggu kamu tersadar" ucap dokter Malik sambil tergelak
" Dokter!" pekik dokter Ariel yang tersipu malu.
" Lihat itu nona pria tua itu mukanya bersemu merah" ucap Dokter Malik membuat Dokter Ariel menjadi salah tingkah sedangkan Mita hanya tersenyum dan menatap lekat dokter Ariel
" Ha... ha ...!" Dokter Malik semakin tertawa melihat dua insan manusia yang tengah tersipu malu-malu tersebut.
" Sudah ya aku pamit, jaga dengan baik gadis mu itu. ingat dia masih sekolah dan baru saja sadar dari koma jadi jangan macam-macam padanya!" goda dokter Malik sebelum pergi.
" Dokter!" ucap dokter Ariel yang merasa gugup saat mata Mita terus menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
...π€...
Maaf ya baru up π€ Semoga up hari ini bisa mengobati ke kecewaan kalian semua βΊοΈ
Simak terus ya kelanjutannya π
__ADS_1