Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Ikhlaskan Bunda


__ADS_3

Mama Maria dan papa Sam kini tengah berada di dalam pesawat jet pribadinya menuju pulang ke ibu kota sementara jenazah bunda Aryani berada di jet milik tuan Alex bersama dengan Arta dan juga Mario.


Mereka berangkat dari kota x menuju ibu kota pagi-pagi buta, pesawat sampai sekitar jam 10 pagi dan jenazah bunda Aryani langsung dibawa ke kediaman rumahnya.


Mama Maria dan papa Sam setelah mereka sampai di ibu kota mereka juga langsung menuju ke kediaman bunda Aryani yang disana sudah ada Mita, Lia, Indah, Mia dan juga Mona. Mereka semua turut membantu proses pengurusan jenazah terutama Yoga, Dion dan Sendy yang bertugas sebagai penyambut kedatangannya.


Banyak para pelayat yang datang sekedar untuk ikut turut berbelasungkawa. mereka tidak menyangka kalau bunda Aryani akan pergi secapat ini.


Isak dan tangis melingkupi seluruh ruangan, para pelayat datang silih berganti dan mereka pun merasa sangat sedih kehilangan sosok bunda Aryani yang dikenal sangat baik dan ramah terhadap siapa saja.


Lia terus menangis karena merasa sangat kehilangan sosok seorang bunda Aryani, mama Novi tak henti-hentinya menguatkan dan memeluk menantunya itu.


Begitu juga daddy Alex melihat sang menantu yang begitu terpukul dan sedih karena kehilangan sosok bundanya ia dapat turut merasakan kesedihan yang dialami sang menantu.Papa Alex pun menghampiri Lia lalu memeluknya saat mama Novi sudah mengurai pelukannya.


" Nak ikhlaskan bundamu, jangan memberatkannya dengan airmata mu ini sayang. Bunda mu kini sudah tenang disana. bundamu orang yang sangat baik insyallah surga adalah tempat kembalinya. Jangan terus bersedih karena jika kamu merasakan sedih yang berlarut-larut kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mu sayang, dia pasti akan merasakan apa yang mamihnya rasakan saat ini dan bundamu juga pasti akan merasa sedih melihat kamu seperti ini.!" ucap papa Alex membuat Lia tersadar akan keadaan dirinya yang tengah hamil.


Lia memang bukan anak kandung bunda Aryani akan tetapi setelah Zaira menjadi kakak iparnya bunda Aryani seakan tidak membedakan dirinya dengan Zaira begitu juga dengan Lia yang selalu ditinggal pergi oleh mamahnya keluar kota membuat Lia selalu bersikap manja dengan bunda Aryani terlebih setelah dirinya hamil. bunda Aryani yang sering menggantikan posisi mamanya untuk menemani Lia dan menjadi penasehatnya.


" Maafkan Meli pah, mah. Meli pasti sudah membuat dedek bayi sedih! Ucap Lia sendu


" Tidak perlu minta maaf sayang, sekarang hapus air matamu ya. ikhlaskan bunda dan tunjukkan ketegaran kamu kepada nak Za, dia sangat membutuhkan dukungan dari kita semua terutama kamu dan teman-temanmu yang lain!" ucap papa Alex yang mengurai pelukannya dan mengusap air mata Lia.


" Terima kasih mah, pah!" Bunda Aryani tersenyum tipis lalu mengusap lembut pucuk kepala Lia.


" Iya sayang, sekarang kita hampiri mamah sama papah kamu dulu yuk, mereka baru saja tiba!" papa Alex merangkul Lia begitu juga mama Novi mereka berjalan menghampiri mama Maria dan papa Sam yang baru masuk ke dalam rumah dan dibelakang mereka ada Mario dan Arta.


Lia langsung berhambur memeluk mama Maria, Isak tangisnya kembali pecah.


" Sayang sudah ya jangan menangis! Walau sesedih apapun kita harus kuat demi Za dan juga demi kandunganmu sayang!" ucap Mama Maria yang mengkhawatirkan keadaan Lia yang tengah berbadan dua seraya mengurai pelukannya.


" Ini sudah takdir sayang , sudah jangan menangis lagi ya!" ucap mama Novi yang sedari tadi setia menemani Lia sang menantu lalu mengusap punggung Lia demi memenangkannya.


" Iya mah" Lia dirangkul mama Novi untuk duduk di tikar


" Bagaimana keadaan Za?" tanya mama Maria kepada Sendy yang baru datang dari rumah sakit bersama Mia.


" Za sudah sadar tapi kondisinya cukup memprihatinkan mah!" jawab Mia yang sudah menitikkan air mata.


" Za...!" Lidah Mia seakan tercekat saat ingin mengatakan kondisi Zaira saat ini, ia tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi ditambah tangisnya yang semakin terisak.


Mita berjalan menghampiri Mia lalu memeluknya dan mengusap punggungnya.


" Tenangkan diri loe Mi, kita harus bisa melewati semua ini dengan baik kita harus kuat jangan perlihatkan kesedihan kita. karena Za membutuhkan kekuatan dan dukungan dari kita semua" tutur Mita yang menyuruh Mia untuk tidak menangis padahal airmatanya sendiri pun sudah lolos begitu saja.


Mia menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk menenangkan dirinya.


Melihat Mia begitu terisak mama Maria pun semakin khawatir dengan keadaan Zaira saat ini apalagi Mia sampai tidak bisa bicara apa-apa tentang kondisi Zaira yang sebenarnya.


" Pah, mama mau melihat keadaan Za ya pah, papa urus semuanya disini ya pah biar mama menemani Za di rumah sakit, mama sangat mengkhawatirkan keadaan Za pah!" tutur mama Maria yang pipinya sudah basah dengan air mata.


" Mah, jika mama mau kesana mama harus kuat ya mah melihat kondisi Za yang hanya diam saja tidak mau berinteraksi dengan siapapun termasuk dengan Azka." tutur Sendy menceritakan kondisi Zaira yang walaupun sudah sadar tapi dia hanya diam dengan pandangan mata yang kosong.


" Iya mah, memang sebaiknya mama temani Za di rumah sakit kasihan juga Azka jika dia sendirian menghadapi dan menemani Zaira dalam keadaan seperti itu. semoga saja setelah bertemu dengan mama dia bisa menerima kenyataan ini mah!" ucap papa Sam


" iya pah, Semoga saja pah. aku pamit ya pah" ucap mama Maria


" Iya mah!"


" Mamah, biar aku antar ya!" ucap Mario.

__ADS_1


" Tidak usah Rio, sebaiknya kamu temani Meli dan ajak dia istirahat sekalian lihat keadaan baby Zia " ucap Mama Maria


"Iya Rio, sebaiknya kamu ajak Lia istirahat. temani dia, tidak baik terlalu bersedih disaat dia tengah hamil kasihan bayinya!" ucap Arta yang datang menghampiri keduanya.


" Iya kak, tapi mamah?"


" Biar aku yang mengantar dan menemaninya!" sahut Arta


" Iya Rio biar Arta saja yang menemani mama, titip Meli ya, hibur dia mama tau dia juga pasti merasa sangat kehilangan" tutur mama Maria


" Iya mah, kalau begitu hati-hati ya kak , mah!"


" Iya!"


Mario langsung menghampiri Lia dan mengajaknya untuk beristirahat awalnya Lia menolak tapi dengan permintaan Mario yang tegas demi kesehatan dan keselamatan bayi yang ada di dalam kandungannya akhirnya Lia pun menurut.


" Aku tahu kamu sedang sedih, akupun sama sayang merasakan apa yang kamu rasakan. tapi jangan membuat kesedihan itu berpengaruh buruk terhadap kesehatan kamu dan juga calon bayi kita sayang!" ucap Mario saat mereka tengah berada di dalam kamar Zaira dan disana juga sudah ada baby Zia bersama bi Ningsih.


" Yang dikatakan den Rio itu benar non Lia, kesehatan non dan dedek bayi harus dijaga dengan baik. kita semua memang sedang sedih tapi jangan sampai non Lia mengabaikan kesehatan non dan dedek bayi!" ucap bi Ningsih.


" Iya maaf!" ucap Lia sendu dan menundukkan wajahnya di hadapan Mario.


" Tidak perlu minta maaf sayang, sekarang sebaiknya kamu istirahat ya.!" Mario membantu Lia untuk merebahkan diri, Mario menyelimutinya sampai pinggang lalu mendaratkan kecupan di kening Lia tanpa menghiraukan keberadaan bi Ningsih yang sedang menemani baby Zia yang tengah tidur di sofa bed yang ada di kamar Zaira tersebut.


Mario berjalan mendekati bi Ningsih ingin melihat kondisi baby Zia.


" Bi bagaimana keadaan baby Zia, rewel tidak bi?" tanya Mario yang khawatir dengan keadaan baby Zia


" Alhamdulillah, baby Zia hanya rewel sebentar den, mungkin dia kangen dengan mamahnya den!" ucap Bu Ningsih


" Syukurlah bi!" ucap Mario sedikit lega


" Bi kita doakan saja ya bi, semoga Za dalam keadaan baik-baik saja dan bisa menerima semua ini dengan ikhlas! " ucap Mario yang cukup berat untuk mengatakan keadaan Zaira karena takut Lia semakin kepikiran.


❄️


Mama Maria dan Arta langsung bergegas pergi ke rumah sakit, sesampainya di sana mama Maria dengan langkah lebar menuju ke ruang perawatan Zaira.


Ceklekk


Mama membuka ruang perawatan Zaira, ia melihat Azka yang tengah menangis duduk sambil memegang tangan Zaira namun orang yang tangannya sedang dipegang tengah menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


Miris rasanya melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini air mata mama Maria pun lolos tanpa bisa ia bendung.


" Assalamu'alaikum!" ucap mama Maria membuat Azka tersentak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.


" Wa'alaikum salam, mamah!" Azka langsung menghapus air matanya dan beranjak dari duduknya.


" Ka !" mama Maria menepuk-nepuk bahu putranya seolah mentransfer kekuatan untuknya.


"Za mah!" Azka tidak kuasa lagi menahan tangisnya melihat keadaan Zaira yang sungguh memperihatinkan.


Zaira hanya diam tidak mau bicara dan tatapan matanya pun kosong, dia tidak mau berbicara dengan siapapun tapi sesekali dia akan sadar lalu menangis dan terisak.


" Sayang ini mamah nak!" mama Maria memeluk Zaira namun Zaira bergeming dengan pandangannya yang kosong.


Mama Maria mengurai pelukannya dan menangkup wajah Zaira menggesernya hingga menghada kearahnya.


" Sayang kamu harus ikhlaskan semua yang menjadi beban dihati kamu ya sayang, termasuk kesedihan yang sedang kita hadapi saat ini nak!" ucap mama Maria yang berusaha untuk bersikap tenang dan kuat dihadapan menantunya saat ini.

__ADS_1


" Bunda mu sudah bahagia disana sayang bersama ayahmu.Tapi saat ini mungkin mereka sedang bersedih karena melihat putri kesayangannya dalam keadaan seperti ini." mama Maria menjeda ucapannya berusaha untuk tetap bersikap tenang.


" Mereka butuh keikhlasan hati kamu sayang terutama bunda kamu. Meskipun mana tahu ini sangat berat buat kamu buat kita semua tapi kamu harus berusaha sayang. kasihan bunda mu sayang jika kamu terus menerus meratapi dan bersedih dengan kepergiannya. dan juga kasihan putrimu baby Zia yang ingin bersama mamahnya" tutur mama Maria dengan berusaha untuk tidak menangis dengan cara berkali-kali mendongakkan wajahnya agar air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak tumpah.


Azka menghampiri Zaira dan meraih tangannya untuk dikecup. " Sayang, mas mohon jangan seperti ini sayang sungguh mas tidak kuat melihatnya!" ucap Azka dan mama Maria mengusap punggung Azka dengan lembut seakan memberi kekuatan untuk putranya itu.


" Sayang kamu lihat, jika kamu seperti ini terus bukan hanya bunda kamu yang sedih tapi suami dan putri kecilmu juga merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang kamu rasakan saat ini bahkan lebih sakit rasanya melihat keadaanmu yang seperti ini karena merasa diabaikan dengan mu yang lebih memilih hidup larut dalam kesedihan!" tutur Azka yang sudah tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.


" Aku merindukan senyummu sayang sangat merindukanmu...dan saat ini putri kita pun sangat membutuhkan kamu!" ucap Azka lirih dan tidak dapat lagi menahan rasa sesak di hatinya. iapun terisak.


Mama Maria pun tidak sanggup lagi melihat putra dan menantunya yang begitu terpuruk.


Zaira terkesiap saat tangannya sudah basah dengan air mata Azka yang tengah menciumi tangannya itu.


" Mas!" ucap Zaira lirih dan terdengar sangat pelan namun masih bisa terdengar sayup-sayup oleh Azka dan mama Maria.


Azka langsung mendongak dan melihat Zaira dengan tatapan sendunya.


"Sayang!" ucap Azka terkejut dan sedetik kemudian langsung membawa Zaira ke dalam pelukannya.


" Sayang !" Azka menciumi wajah Zaira tanpa rasa malu dengan mama Maria.


" Mas aku mau pulang, aku ingin bertemu dengan bunda!" ucap Zaira begitu lirih membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasa iba.


" Iy.. Iya sayang. mas panggilkan dokter ya sayang untuk menanyakan keadaan kamu sekarang!" ucap Azka seraya beranjak dari duduknya.


" Biar aku saja yang memanggil dokter!" ucap Arta yang langsung pergi keluar ruangan.


" Terima kasih Ta!" ucap Azka sebelum Arta pergi


" Bagaimana keadaan isteri saya dok?" tanya Azka setelah dokter menjalani pemeriksaan kesehatan Zaira.


" Keadaannya sudah membaik hanya tetap harus mengontrol emosinya, jangan terlalu banyak pikiran dan sedih yang berkepanjangan." ucap dokter Malik yang baru saja memeriksa kondisi kesehatan Zaira.


Dokter Malik hanya sebentar pergi melayat ke kediaman Zaira setelah itu kembali ke rumah sakit. Dia tidak bisa berlama-lama berada di luar rumah sakit karena kondisi Zaira yang butuh pengawasannya. Zaira adalah putri dari sahabatnya jadi dia sangat mengkhawatirkan keadaan Zaira saat ini.


" Nak Za, kamu harus bisa mengontrol emosi yang ada di dalam diri kamu ya nak. jangan biarkan kesedihan yang ada di dalam dirimu itu menguasai hati dan pikiran mu dengan berlarut-larut sehingga kamu lupa akan keberadaan orang-orang yang sangat menyayangi kamu dan membutuhkan keberadaan kamu nak. om tahu kamu pasti sangat sedih kehilangan bunda yang sangat kamu sayangi tapi jangan jadikan kesedihan itu membuat orang-orang turut bersedih karena melihat keterpurukan mu nak. apa kamu pikir dengan kamu yang terus bersedih bunda kamu akan tenang? tidak nak Za bunda kamu pasti tengah menangis sekarang melihat putrinya yang terus menerus meratapi kepergiannya. Jadi ikhlaskan bunda kamu sayang, seberat apapun itu kamu harus ikhlas demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan orang-orang yang sayang sama kamu terutama putri kecilmu nak. dia sangat membutuhkan kamu saat ini sayang. dan bunda kamu pun butuh keihklasan kamu agar bisa pergi dengan tenang menyusul ayahmu yang juga sudah bahagia disana'' tutur dokter Malik membuat Zaira kembali terisak tapi kali ini ia akan berusaha untuk tegar dan mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh dokter Malik.


" Ap... apa aku boleh pulang om?" tanya Zaira disela Isak tangisnya


" Jika kamu sudah merasa kuat dan yakin. kamu sudah boleh pulang tapi ingat pesan om harus mengontrol emosi diri kamu!" Jawab dokter Malik


" Iya om, terima kasih ya om!" ucap Zaira yang langsung memeluk dokter paruh baya tersebut.


" Sama-sama nak!" dokter Malik mengusap pucuk kepala Zaira dengan lembut.


" Tapi sebelum pulang kamu harus mempersiapkan mental untuk bersabar dan iklhas menerima kenyataan ini!" pesan dokter Malik


" Iya Om!" sahut Zaira


" Ya sudah kalau begitu om pergi dulu ya, jaga diri kamu dengan baik!" pamit dokter Malik


" Iya om!"


" Terima kasih banyak dokter!" ucap Azka dan dokter Malik tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Azka.


" Kamu harus meningkatkan kesabaranmu lagi nak Za sangat membutuhkan dukungan mu saat ini!" ucap dokter Malik sebelum beranjak pergi.


" Iya dok!"

__ADS_1


Azka sedikit merasa senang melihat wajah Zaira yang tidak sepucat sebelumnya apalagi dengan keadaan Zaira yang sudah nampak lebih tenang Azka bisa bernafas dengan lega.


__ADS_2