Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Ke Rumah Bunda


__ADS_3

Wajah Zaira merona merah rasanya ingin sekali dia menghilang sekarang karena malu bermesraan di meja makan.


" Kamu kenapa sayang?" tanya mama Maria yang kebetulan melihat adegan mesra putra dan menantunya di meja makan saat ia dan suaminya baru pulang dari rumah sakit menemani Lia.


" Tidak Kenapa-napa kok mah!" sahut Zaira tersipu malu.


Mama Maria mengulum senyum melihat tingkah Zaira yang tersipu malu. ia paham kenapa menantunya bersikap seperti itu.


" Papa tidak menyangka kalian sebucin ini!" ledek sang papah


"Pah!" Azka mendelik tajam kepada papanya karena tidak ingin Zaira semakin malu karena diledek sang mertua, apalagi saat ini wajah Zaira sudah merah seperti kepiting rebus.


Papah Sam tertawa kecil melihat anak dan menantunya yang nampak salah tingkah.


Zaira menundukkan wajahnya merasa malu sementara Azka bersikap santai.


Mama Maria yang melihat Zaira terus menunduk merasa gemas dengan tingkah sang menantu.


" Tidak usah malu sayang dulu juga mamah sama papah seperti kalian merasa dunia milik berdua dan yang lainnya cuma ngontrak" ucap mamah Maria seraya terkekeh sendiri mengingat masa lalunya yang begitu bucin dengan papa Sam.


" Mamah justru merasa bahagia melihat kemesraan kalian seperti tadi. semoga hubungan kalian akan terus seperti ini bahagia saling mencintai dan memahami satu sama lain. hidup harmonis sampai menua bersama!" ucap mama Maria yang membelai pucuk kepala Zaira dengan lembut.


" Terima kasih mah!" ucap Zaira merasa sangat bahagia memiliki mertua yang begitu menyayanginya dan sangat pengertian.


" Ka, Za sebaiknya kalian menginap lagi ya disini mamah masih kangen sama cucu mama yang cantik dan menggemaskan ini!" ucap mama Maria seraya mengambil baby Zia dari pangkuan Zaira.


" Iya Ka, Za sebaiknya kalian menginap lagi aja disini papa sama Mama masih kangen dengan putri kalian. lusa mama sama papa mau ke kota x dan bunda kamu juga ikut Za" tutur papa Sam memberitahu.


" Bunda ikut?" tanya Za memastikan kembali apa yang baru didengarnya.


"Iya sayang, katanya dia ingin belajar berbisnis dan meneruskan mengurus perusahaan ayah kamu yang sekarang di urus oleh pamanmu Doni!" tutur papa Sam menjelaskan.


" Tapi Bunda kok gak bilang apa-apa ya sama Za!" ucap Zaira sendu


" Mungkin bunda kamu tidak ingin kamu kepikiran dan membuat kamu terbebani sayang" Mama Maria menepuk punggung tangan Zaira


" Iya sayang apa yang dikatakan mama mungkin benar, bunda pasti tidak ingin merepotkan kita jadi dia yang ingin menangani semuanya sendiri!" tutur Azka menenangkan hati Zaira yang Azka tahu Zaira sangat menyayangi bundanya.


" Za ingin ke rumah bunda, boleh?" tanya Zaira yang diangguki oleh mama Maria .


" Tentu saja boleh sayang, kalian memang harus menemui bunda kalian" ucap mama Maria


" Iya mah nanti malam Azka dan Zaira akan pergi ke rumah bunda" sahut Azka


❄️


Malam pun tiba Zaira dan Azka kini sudah berada di rumah bunda Aryani. Zaira memeluk bundanya dengan mata yang sudah basah dengan air mata.


" Kamu ini seperti anak kecil saja, bunda itu perginya juga dengan mama dan papah kamu, jadi gak usah khawatir sayang bunda pasti akan baik-baik saja disana" ucap bunda Aryani seraya mengusap lembut punggung Zaira yang sedikit bergetar.


" Maafin Za ya bund karena Za belum bisa membahagiakan Bunda!" Zaira sesekali mengusap air matanya yang semakin lama semakin deras.


" Kamu hidup bahagia bersama suami dan anak kamu itu sudah cukup untuk bunda merasakan kebahagiaan dari kamu sayang" ucap bunda Aryani


" Bunda harap kamu bisa menjadi isteri yang baik untuk suami dan anak-anak kamu nantinya. jangan bersikap egois dan jika ada masalah langsung dibicarakan selesaikan dengan baik-baik. " Bunda menasihati.


" Iya bund!"


" Bunda disana berapa lama?" tanya Azka yang tengah memangku baby Zia


" Bunda juga belum tahu pasti, tapi yang jelas bunda ingin usaha yang selama ini ayah kamu rintis dari nol bisa kembali bangkit dan berjaya lagi" jawab bunda Aryani


" Maaf ya bund, Azka belum bisa bantuin bunda sebenarnya Azka ingin membantu mengurus perusahaan ayah tapi tugas Azka disekolah belum bisa Azka tinggalkan ditambah lagi papah juga menyerahkan urusan kantor pusat pada Azka" ucap Azka yang sejujurnya merasa tidak enak karena tidak bisa membantu bundanya.


Bunda Aryani tersenyum tipis " Gak apa-apa Ka, bunda tahu kesibukan kamu, yang terpenting buat bunda sesibuk apapun yang kamu jalani sekarang kamu tetap harus menjadikan keluarga sebagai prioritas utama. Usaha boleh maju tapi keluarga tidak boleh diabaikan dan di sia-siakan. pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga" tutur bunda Aryani memberi petuah


" Iya bunda, pesan bunda akan selalu Azka ingat " ucap Azka


" Cucu bunda yang cantik malam ini bobo sama Oma ya sayang?" ucap bunda Aryani yang tiba-tiba berpaling pada baby Zia yang imut dan menggemaskan


" Tapi bund_" belum selesai Zaira bicara Azka sudah memotong ucapannya.


" Apa bunda gak apa-apa tidur dengan baby Zia, nanti tidurnya bunda keganggu dengan tangisannya kalau tiba-tiba bangun malam hari?" Bunda Aryani tersenyum dan menciumi pipi gembul baby Zia yang sangat menggemaskan apalagi dengan suara celotehannya yang tidak jelas


" Gak apa-apa bunda malah senang ada yang menemani bunda tidur, apalagi lusa bunda kan mau pergi jadi untuk mengobati rasa kangen bunda izinkan malam ini bunda tidur dengan putri kalian ya?"


Zaira menoleh ke Azka seakan meminta jawaban " Ya sudah gak apa-apa kalau memang tidak merepotkan bunda" ucap Azka


" Jelas tidak sayang, bunda tidak pernah merasa direpotkan kok" ucap bunda Aryani lalu beranjak dari duduknya dan membawa baby Zia kedalam kamarnya.


" Mas telpon mamah gih, bilang kita menginap di rumah bunda malam ini takut mereka menunggu kita !" ucap Zaira yang merasa tidak enak dengan mama Maria karena tadi sudah bilang akan menginap lagi disana.


" Iya sayang mamah dan papa pasti mengerti kok !" Azka mengacak-acak rambut Zaira gemas.


Azka beranjak dari duduknya lalu meraih benda pipih yang berada di saku celananya.


Azka menghubungi mamanya dan memberitahu kalau mereka tidak pulang dan akan menginap di rumah bunda Aryani.


" Bagaimana mas ?" Zaira melingkarkan tangannya di lengan Azka menunggu jawaban.


" Iya mamah tidak mempermasalahkannya sayang, mamah mengerti kok!" jawab Azka membuat Zaira lega.


" Syukurlah!" Azka mengernyitkan keningnya


" Kenapa kok kayaknya lega banget?" tanya Azka membuat Zaira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Gak Kenapa-napa sih mas cuma merasa gak enak aja karena tadi sudah terlanjur mengiyakan keinginan mereka" jawab Zaira membuat Azka terkekeh mendengarnya


" Kamu ini kayak sama siapa aja sih, mamah itu pasti mengerti sayang jadi kamu gak perlu khawatir lagi ya!" Azka merangkul bahu Zaira dan mengajaknya untuk pergi ke kamar milik Zaira.


Setibanya di dalam kamar Azka dan Zaira bersandar di headboard dan saling bertukar cerita dan disela obrolan mereka tiba-tiba ponsel Zaira berbunyi.


Tring


Tanda suara pesan masuk, Azka menoleh ke arah Zaira yang tengah meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.


" Siapa?" tanya Azka


" Biasa grup chat cewek-cewek kece!" jawab Zaira seraya tangannya membuka ponselnya.


" Mas apa aku boleh membalas chat grup teman-teman?" tanya Zaira takut Azka marah kalau diabaikan


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya!" jawab Azka seraya mengingatkan, karena jika cewek sudah berbalas chat pasti akan panjang urusannya.


" Terima kasih ya mas!" Zaira mendaratkan kecupan di pipi Azka membuat Azka terkejut dan membeku seketika.

__ADS_1


" Ah kenapa rasanya aneh sih, isteriku selalu saja pandai memancing-mancing," gumam Azka pelan namun masih terdengar oleh Zaira. tidak mau berlama-lama Zaira pun memutuskan untuk pergi ke balkon kamarnya.


" Loh yang mau kemana?" tanya Azka yang melihat Zaira beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah balkon.


" Mau duduk di balkon aja mas, takut aku ganggu waktu istirahat mas Azka" sahut Zaira dengan senyum yang mengembang


" Di sofa aja yang, diluar dingin nanti kamu bisa masuk angin!" ucap Azka yang sudah beranjak dari duduknya dan pergi berjalan menghampiri Zaira.


" Mas turun dulu aja ya, sekalian mau isi air!" Azka meraih teko kosong yang ada di atas nakas.


" Iya mas!" Zaira menatap punggung suaminya yang hilang dibalik pintu kamarnya


Mia📩


" Zaaaa!"


Zaira📤


" Apa? berisik tau malam-malam teriak !"


Mia📩


" Loe kenapa tadi gak masuk?"


Zaira📤


" Gak Kenapa-napa cuma lagi sibuk aja hari ini!" jawab Zaira santai


Mona📩


" Loe tahu gak gara-gara loe gak masuk kelas, kayaknya semangat tuh guru menghilang deh!"


Zaira📤


" Masa sih, ngarang aja deh loe!" kesal Zaira


Mona📩


"Gue gak bohong tanya deh sama yang lainnya"


Zaira📤


" Gak perlu, gak penting juga "


Mona📩


"Hati-hati loe Za, suka sama tuh cowok bisa ribet deh urusannya?"


Mita📩


" Jangan bicara kayak gitu loe Mon, pak Bagaz tau bisa ribet nih urusan" Mita mendengus kesal


Mona📩


" Iya maaf!"


Mita📩


" Za loe besok masuk sekolah kan?"


Zaira📤


Mita📩


" Kenapa?"


Zaira📤


" Lusa mama dan bunda akan pergi bersama papa Sam ke kota x"


Mia📩


" Bunda ikut Za?"


Zaira📤


" Iya, bunda malah kayaknya akan lama disana!"


Mia📩


" Kok bisa?"


Zaira📤


" Iya bisa aja, bunda mau meneruskan usahanya ayah yang berada di kota tersebut"


Mia📩


"Oh gitu"


Indah📩


" Terus kabar Lia bagaimana Za?"


Zaira📤


" Alhamdulillah, besok sudah di perbolehkan pulang kok tapi ya gitu harus benar-benar bedrest"


Mita📩


" Ya semoga aja Lia cepat sembuh dan masih bisa masuk kelas"


Lia📩


" Amin!"


Mia📩


" Amin"


Indah📩


" Amin"


Mona📩

__ADS_1


" Za apa tuh guru baru masih menganggap loe adiknya pak Bagaz?'


Zaira📤


" Kayaknya sih begitu"


Mona📩


" Kenapa gak bilang aja sih kalau loe itu isterinya pak Bagaz?"


Zaira📤


" Mungkin untuk saat ini belum waktunya kali ya, kita kan gak tahu bagaimana karakter tuh guru takutnya kalau dia tahu tentang hubungan gue dengan pak Bagaz sekolah kita malah terkena imbasnya"


Mia📩


" Iya juga sih, tapi kalau begini terus apa gak ribet ya nantinya?"


Mona📩


" Gue sih terserah suami gue aja Mon!"


Mita📩


" Ya sudah kalau begitu, kita semua minta maaf Za karena gak bisa bantu loe apa-apa tapi kita tetap mendukung apapun keputusan kalian kedepannya.


kita cuma bisa membantu dengan doa Za semoga pernikahan kalian selalu langgeng dan tidak ada lagi percikan api yang menyala. dan kalaupun ada batu krikil didepan mata semoga aja loe semuanya bisa melewatinya dengan baik!"


Zaira📤


"Itu juga sudah jauh lebih dari cukup kok, terima kasih ya semuanya"


Mita📩


" Iya sama-sama Za"


Mia📩


" Sama-sama Za!"


Zaira menyudahi chat nya bertepatan dengan pintu yang terbuka dari luar.


Zaira meletakkan ponselnya di atas nakas dan tidak lama kemudian Azka pun menaruh teko kecil beserta gelasnya di atas nakas.


" Sudah selesai chattingan nya?" tanya Azka yang merangkak naik ke atas tempat tidur


" Sudah mas, aku ngantuk soalnya" Sahut Zaira yang kini tengah memejamkan matanya.


" Ya sudah kamu istirahat saja!" Azka mengusap kepala Zaira dengan penuh cinta


" Iya mas" jawab Zaira dengan hati lega


Azka ikut memejamkan matanya dan tidak butuh lama keduanya pun sudah berada di alam mimpi.


Bunda Aryani didalam kamarnya merasa senang karena bisa tidur dengan cucu kesayangannya dan bersyukur karena sebelum berangkat ke kota x Zaira dan Azka beserta baby Zia menyempatkan untuk datang ke rumahnya.


Bunda Aryani tertidur pulas setelah tadi baby Zia yang sempat sedikit rewel karena haus. dan dengan langkah gontai bunda Aryani berjalan menuju kamar Zaira.


Tok


Tok


Tok


" Sayang!" panggil bunda Aryani seraya mengetuk pintu kamar Zaira


Zaira yang mendengar ada suara ketukan pintu langsung beranjak dari tidurnya apa lagi terdengar sayup-sayup suara tangis baby Zia. Zaira menyingkirkan tangan Azka yang melingkar di pinggangnya dan bergegas membukakan pintu kamar.


Azka yang merasakan pergerakan Zaira pun ikut terbangun dan beranjak dari tidurnya.


Ceklekk


" Za baby Zia sepertinya haus!" bunda Aryani memberikan baby Zia kepada Zaira.


" Iya bund Za susui dulu ya bund!" ucap Zaira


" Iya sayang, kalau begitu bunda kembali ke kamar ya!" pamit bunda Aryani mengusap lembut kepala baby Zia yang sudah berhenti menangis.


" Iya bund, terima kasih ya bund!" ucap Zaira


" Sama-sama sayang!" bunda Aryani tersenyum tipis.


Zaira masuk ke dalam kamar setelah melihat bunda Aryani sudah kembali ke kamarnya.


" Baby Zia haus?" tanya Azka seraya mengecup kening sang putri


" Iya papah, baby Zia haus nih habis konser!" ucap Zaira terkekeh


Setelah hampir 30 menit menyusui baby Zia pun tertidur.


Zaira meletakkan baby Zia dengan sangat hati-hati di atas kasur.


" Sudah tidur?" tanya Azka yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zaira.


" Anaknya sudah kenyang sekarang giliran papahnya ya?" Zaira langsung mendongak menatap ke arah Azka yang tengah tersenyum tanpa dosa.


" Mamanya capek mau istirahat!" sahut Zaira


"Sayang sebentar aja kok gak pakai lama!" rengek Azka


" Mas ih apaan sih!" dengus Zaira saat tangan Azka sudah tidak bisa dikondisikan


"Boleh ya?" Azka menaik turunkan alisnya


" Gak boleh!" ketus Zaira


" Sayang please!" Azka merengek manja


" Mas ih kayak anak kecil aja deh!" Azka semakin bersikap seperti anak kecil yang menggemaskan mau tidak mau Zaira pun akhirnya mengangguk pasrah


Mendapatkan lampu hijau Azka pun tidak mau membuang kesempatan namun saat hendak beraksi tiba-tiba terdengar suara tangisan baby Zia yang membuat Azka dengan terpaksa beranjak dan menghentikan aksinya dan membiarkan sang isteri kembali dikuasai oleh baby Zia.


Azka mengacak-acak rambutnya sendiri seraya mendengus kesal namun mau bagaimana mana lagi baby Zia adalah prioritas utama untuk mereka berdua.


Dengan langkah gontai Azka masuk ke dalam kamar mandi dan Zaira hanya bisa tersenyum tipis menatap ke arah pintu kamar mandi.

__ADS_1


" Maaf ya sayang!" gumam Zaira pelan. sebenarnya dia sangat kasihan dengan Azka karena setelah ada baby Zia mereka tidak sebebas biasanya untuk melepas kerinduan belaian satu sama lain.


__ADS_2