Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Nana yang baru selesai dari toilet berjalan gontai menghampiri Khanza dan yang lainnya.


" Loe kenapa Na, kok kayak gak semangat gitu sih?" tanya Hana


" Gue enggak apa-apa, cuma lagi lemes aja sedikit" ucap Nana


" Loe sakit?" Nana geleng


" Kamu kenapa, apa lagi mikirin kasus yang terjadi di sekolah?" tanya Aldy membuat Nana seketika menoleh ke sumber suara


Deg


Entah kenapa Nana merasa berdegup saat mendengar suara Aldy ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan. Nana dengan cepat menggelengkan kepalanya membuyarkan apa yang ada di kepalanya.


" I...iya pak!" Nana jadi gugup sendiri dan tidak berani menatap wajah Aldy.


" Duh jantung gue enggak boleh kayak gini!" gumam Nana dalam hati


" Loe kenapa Na kok bengong?" tanya Hana membuyarkan lamunan Nana


"Ya?" beo Nana yang terkesiap dari lamunannya.


" Emm... gue enggak kenapa-napa"


Miska yang sedari tadi diam tapi matanya menatap Nana penuh selidik ada perasaan aneh yang dia rasakan.


Nana duduk di samping Miska dan sesekali dia memperhatikan Aldy yang sedang berbicara dan bercanda dengan Khanza.


Apa yang dilakukan Nana tidak lepas dari tatapan mata Miska.


" Ada yang gak beres!" gumam Miska dalam hati


" Mas masuk dulu ya sayang, ingat jangan kebanyakan makan mangganya nanti sakit perut!" pesan Aldy seraya beranjak dari duduknya


" Iya mas, bawel ih!" kesal Khanza


Nana diam-diam memperhatikan Aldy yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah.


" Jaga pandangan jangan sampai dari rasa penasaran menjadi kebablasan, ingat sebagus apapun milik orang tidak baik dipandang terlalu lama apalagi milik sahabat sendiri!" bisik Miska yang langsung membuat Nana melotot.


Nana tidak menyangka apa yang dilakukannya sedari tadi berada di dalam pengawasan Miska.


" Loe sahabat gue dan Khanza juga sahabat gue tapi enggak mungkin gue berada di tempat yang salah gue pasti memilih mana yang pantas gue jaga" bisik Miska lagi dan Nana menunduk karena malu.


" Loe kenapa Na dari tadi diam aja, gak kayak biasanya loe kayak gini?" Hana merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Nana


" Gue udah bilang gue enggak Kenapa-napa" sahut Nana


" Ya elo bilang enggak kenapa-napa tapi muka loe kusut gitu" ucap Miska


Nana hanya tersenyum kecut menatap Miska yang juga tengah menatapnya sengit.


Setelah lama berada di rumah orang tua Khanza Miska dan yang lainnya pun pamit undur diri.


" Za kita pulang ya!" ucap Hana yang beranjak dari duduknya


" Loh kok cepat banget pulangnya?" tanya Bu Khodijah yang baru keluar dari rumah hendak pergi ke warung.


"Ini sudah terlalu lama bu, tuh lihat rujaknya aja sampai ludes!" sahut Miska


" Maaf ya enggak di kasih apa-apa cuma dikasih rujak doang!" ucap bu Khodijah

__ADS_1


" Enggak apa-apa bu justru lebih enak sambil rujakkan kaya gini bu!" jawab Miska


Setelah pamit kepada bu Khodijah tiba-tiba Nana berbicara yang langsung mendapat lirikan tajam dari Miska


" Za pak Aldy mana? kita mau pamit pulang nih!" ucap Nana menatap lekat ke arah pintu rumah bu Khodijah


" Mungkin lagi di kamar, biasa paling lagi ngerjain tugas kantornya" sahut Khanza


" Pak Aldy sekarang sudah enggak ngajar ya,?" tanya Nana antusias


" Tadi gue lihat pak Bagaz yang mengajar di kelas X" lanjutnya


" Iya!"


" Loe tadi masuk sekolah?" Nana mengangguk


" Masuk, bosen gue di rumah terus. biarin orang mau bilang apa juga " sahut Nana


" Ya bagus deh, kalau tidak bersalah kenapa juga harus takut" tutur Khanza


" Loe sendiri kenapa belum masuk ke sekolah?" tanya Nana


" Suami gue belum mengizinkan " jawab Khanza


" Ya udah Za kita pamit, salam aja sama pak Aldy!" ucap Miska lalu merangkul leher Nana mengajaknya pergi.


Setelah teman-temannya pulang Khanza beranjak masuk ke dalam rumah dan meletakkan piring dan gelas kotor di Wastafel lalu mencucinya.


Khanza dibuat terkejut karena tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


" Ya ampun mas kebiasaan deh bikin orang senam jantung aja!" Khanza memukul tangan Aldy yang masih setia melingkar di pinggangnya


" Mas ih minggir sana, malu nanti ada ibu sama bi Ratna!" Khanza menepuk-nepuk tangan Aldy namun bukannya di lepas Aldy malah semakin mengeratkan pelukannya.


" Mas aku sudah gerak kalau kayak gini!" keluh Khanza


" Ya udah kamu duduk aja sana!" Aldy melepaskan pelukannya dan menggiring Khanza untuk duduk di kursi meja makan.


" Kamu duduk saja biar mas yang mengerjakan" ucap Aldy


" Tapi mas_" ucapan Khanza dipotong


" Enggak ada tapi-tapian!" Aldy berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas kosong lalu membuat susu ibu hamil.


Aldy kembali ke meja makan lalu memberikan susu hamil yang baru saja dia buat kepada Khanza.


" Minum dulu susunya!" ucap Aldy menyodorkan susu ke hadapan Khanza


" Terima kasih mas" Sahut Khanza mengambil susu dari tangan Aldy


" Di habiskan ya!" ujar Aldy


" Iya mas" Khanza tersenyum


" Yaudah mas mau mencuci piring dulu ya!" pamit Aldy


" Mas biar aku aja yang cuci piringnya" Khanza merasa tidak enak hati bila sampai Aldy yang mengerjakannya.


" Kamu itu diam dan duduk manis aja disini ya, mulai sekarang mas akan membantu kamu mengerjakan pekerjaan rumah" ucap Aldy


" Kamu serius mas?" ucap Khanza berbinar

__ADS_1


" Serius, makanya kita pulang ke apartemen aja ya biar nanti pekerjaan rumah mas yang mengerjakan" ucap Aldy merayu


" Emm... biar Za pikirkan dulu ya mas" Aldy berubah sendu


" Ya sudah terserah kamu saja yang penting kamu merasa nyaman" sahut Aldy pasrah dan berjalan menuju Wastafel.


Selesai mencuci piring Aldy masuk ke dalam kamar, Aldy duduk di atas tempat tidur sambil memangku laptopnya.


" Mas!" panggil Khanza


" Hem" jawab Aldy singkat


" Mas marah?" tanya Khanza yang tengah duduk di tepi tempat tidur


" Tidak" jawab Aldy tanpa menoleh


" Mas" panggil Khanza kesal


"Ada apa?" Aldy masih fokus dengan layar laptopnya


" Mas marah karena Za belum jawab Za mau apa tidak pulang ke apartemen kan?" tanya Khanza mengungkapkan isi hatinya


" Tidak" jawab Aldy yang lagi-lagi membuat Khanza mendengus kesal


" Mas kenapa sih dari tadi jawabnya kayak gitu?"


" Mas enggak kenapa-napa, mas cuma tidak enak saja karena terlalu lama menumpang di rumah ibu" jawab Aldy seraya menutup layar laptopnya


" Enggak enak kenapa mas, ibu juga tidak berkeberatan kita tinggal di sini"


" Sayang, sebagai kepala rumah tangga mas merasa tidak becus mengurus keluarga jika hidup saja harus menumpang kepada orang tua. mas ingin kita hidup mandiri itu saja!" ucap Aldy terus terang


" Sebagai kepala keluarga mas seperti tidak punya harga diri jika hidup saja masih menumpang" lanjutnya


" Mas, maafkan Za!" ucap Khanza lirih


" Untuk apa meminta maaf, mas hanya ingin kamu merasa nyaman saja mas tidak ingin membebani kamu apalagi saat ini kamu sedang mengandung anak mas" ucap Aldy seraya beranjak dari duduknya dan bergeser duduk di sebelah Khanza


" Mas Khanza mau pulang ke apartemen" ucap Khanza membuat Aldy tersenyum


" Beneran?" Khanza mengangguk


" Terima kasih ya sayang!" Aldy menarik Khanza kedalam pelukannya


" Iya mas!" Khanza membalas pelukan Aldy


" Sayang" panggil Aldy lembut


" Iya mas" sahut Khanza yang berada di dalam pelukan Aldy


"Mas boleh ya minta itu?" tanya Aldy


"Itu apa mas?" tanya Khanza pura-pura tidak mengerti


" Yang itu tuh.. "


" Itu tuh apa?" Khanza menahan tawanya


" Yang ini!" tanpa banyak bicara Aldy langsung menyerang Khanza.


Khanza yang mendapat serangan dadakan hanya bisa pasrah karena menolak pun percuma pak Gutami nya pasti tidak akan mau melepaskannya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2