
Nana terdiam saat semua tengah berkumpul di area parkiran sekolah. papa Sam dan mama Maria sudah pulang lebih dulu karena mendapat kabar Lia, baby Arsal dan Mario sedang berada dalam perjalanan pulang.
" Khanza kamu hebat aku tidak menyangka kamu bisa seberani itu berbicara di hadapan para petinggi sekolah!" puji Zaira seraya menepuk bahu Khanza pelan
Khanza tersenyum malu-malu mendapat pujian dari sang senior " Aku sendiri juga tidak menyangka kak mungkin keberanian itu muncul dari sini" Khanza mengelus perutnya yang masih rata " Tidak mau harkat dan martabat ayahnya dijatuhkan makanya dia meminta bundanya untuk berbicara" ucap khanza lalu tertawa
" Bisa saja bundanya calon anak ayah, tapi walau bagaimanapun tetap saja aku mengucapkan terima kasih untuk keberanian kamu sayang yang sudah menyadarkan kekeliruan sahabat kamu itu " ucap Aldy mengusap lembut pucuk kepala Khanza
Khanza tersenyum " Itu sudah menjadi kewajiban ku mas, tidak mungkin aku diam saja ketika suamiku dipermalukan dan dijatuhkan harga dirinya." sahut Khanza seraya melirik ke arah Nana yang tengah menundukkan pandangannya.
" Ya sudah, Alhamdulillah semua sudah berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita ambil hikmahnya saja dari kejadian ini. tanpa adanya insiden ini mungkin sampai kapan pun kita tidak akan tahu kecurangan yang sudah dilakukan pak Ridwan selama ini" ucap Azka seraya merangkul pinggang Zaira.
" Iya benar apa yang dikatakan pak Azka, setiap kejadian pasti ada hikmahnya" sahut Khanza
" Kalau begitu kami pamit pulang ya Khanza, kamu jaga kandungan kamu dengan baik ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungin aku !" ucap Zaira bersalaman dengan Khanza lalu cipika cipiki.
" Iya kak Za pak Azka terima kasih banyak ya atas bantuannya!" ucap Khanza
" Sama-sama" sahut Azka
" Jaga adik kami dengan baik bro, terutama calon keponakan. ibu hamil terkadang memang sedikit rewel jadi bersabarlah!" pesan Azka kepada Aldy
" Iya, tentu saja jangan khawatir soal itu. terima kasih banyak ya Ka!" ucap Aldy
" Sama-sama, kami pulang dulu kalau ada waktu main kerumah"
" Iya, pak nanti kami akan main, kangen juga dengan baby Zia!" ucap Khanza dengan tersenyum
" Baiklah kami tunggu!" ucap Zaira
Azka dan Zaira sudah masuk ke dalam mobil dan pergi setelah berpamitan kepada Aldy, Khanza dan juga para sahabatnya.
Suasana nampak canggung apalagi saat Miska dan Hana begitu antusias memuji sikap Khanza.
" Sudah tidak usah di bahas lagi, mending kita cari makan yuk lapar nih!" ucap Khanza sambil mengusap perutnya
" Duh kasihan banget ya isteri mas sampai kelaparan!"
" Bukan cuma isteri mas tapi dedek juga lapar" protes Khanza
" Iya iya dua-duanya lapar ya, yaudah yuk cari makan!"
" Yeeee....!" ucap Khanza kegirangan
" Za, ih norak banget sih loe. Udah kayak bocah tau gak!" oceh Miska
__ADS_1
" Biarin aja wleee!"sahut Khanza
" Wah nih bumil ngeselin ya!" Hana tertawa begitu juga dengan Khanza dan Miska mereka tertawa bersama sedangkan Aldy hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Tawa mereka tiba-tiba terhenti saat melihat Nana yang diam saja dengan tubuh yang sedikit bergetar.
Ketiganya menoleh dan berjalan menghampiri Nana lalu memeluknya bersama.
Nana seketika terkejut dan mendongak
" Kalian!" ucap Nana seraya menghapus air matanya
" Sudah enggak usah sedih lagi, semua yang sudah lewat tidak perlu lagi disesali tapi berusahalah untuk memperbaiki, manusia itu tidak akan luput dari yang namanya salah dan dosa karena itulah mari kita sama-sama belajar mengendalikan diri dan menjaga hawa nafsu yang terkadang itulah yang menjerumuskan kita ke hal yang negatif jika tidak bisa mengendalikannya." ucap Khanza sambil tersenyum tipis
" Za loe_!" Nana merasa malu
" Kita cuma manusia biasa Na wajar jika kita berbuat salah namun semua tergantung bagaimana kita menyikapinya, mau memperbaikinya atau membiarkannya jatuh kelembah yang lebih dalam" Khanza menepuk-nepuk bahu Nana pelan.
" Maafin gue ya Za, gue_!"
" Enggak usah minta maaf, sebelum loe minta maaf juga udah gue maafin loe kok." ucap Khanza membuat Nana merasa semakin bersalah.
" Kita ini bersahabat, jika salah satu diantara kita melakukan kesalahan sudah sepatutnya kita saling mengingatkan dan merangkulnya bukan malah memusuhinya, benarkan?" Khanza meraih satu persatu tangan sahabatnya.
" Elo benar Za, gue setuju itu" ucap Miska
" Iya Hana, kayak gue yang oleng iya kan?" ucap Nana
" Nah itu sadar!" tawa Hana
" Sadarlah, mata loe melotot ke gue gitu!" tawa Nana yang lalu diikuti Miska dan juga Khanza melihat Hana yang melotot ke arah Nana
" Ya karena gue kesel sama loe, udah dibilangin masih aja ngeyel kalau gue jadi Khanza mungkin tadi gue udah jambak kali loe" ungkap Hana jujur
" Untungnya Khanza enggak kayak elo ya Han" ucap Miska terkekeh
" Iya, enggak kebayang gue kalau Khanza kayak loe, abis kali ya rambut gue!" ucap Nana memegangi rambutnya
" Ya itulah istimewanya isteri kecilku ini!" ucap Aldy membuat ke empat gadis tersebut menoleh ke sumber suara
" Dia wanita yang istimewa dan luar biasa" lanjutnya
" Jangan terlalu banyak memuji mas, takutnya isterimu ini khilaf dan besar kepala" ucap Khanza menimpali
" Duh so sweet banget sih kalian bikin iri aja deh" ucap Hana
__ADS_1
" Awas Na jangan baper!" ledek Miska
" Apaan sih loe Mis" Nana malu sendiri mendengar sindiran Miska
" Saya ucapkan terima kasih atas rasa simpatik kamu ke saya Na, tapi mulai sekarang tolong buang jauh-jauh perasaan kamu itu ya. Khanza itu sahabat kamu dan kamu sendiri juga tahu kan kalau saya itu sangat mencintai sahabat kamu ini. apalagi Khanza saat ini tengah mengandung calon anak saya jadi jangan sampai perasaan kamu yang salah itu membuat Khanza merasa tidak nyaman dan tertekan ya " ucap Aldy mengingatkan Nana
" Iya pak, maafkan saya!" sungguh malu rasanya Nana ingin sekali ia menghilang dari hadapan Aldy dan juga dari ke tiga sahabatnya.
" Mas sudahlah, aku yakin kok Nana pasti sudah mengerti, kemarin itu dia hanya khilaf saja karena terbawa suasana, kagum dengan sang penolongnya, bukan begitu Na!" ucap Khanza berjalan menghampiri Aldy
" Semoga saja!" ucap Aldy yang sempat merasa sedikit kecewa dengan sikap Nana tadi di ruang rapat
" Ya udah yuk kita cari makan dulu biar hari ini mas yang teraktir!" ucap Aldy
" Serius nih pak kita makan gratis?" tanya Hana dengan sumringah
" Ah loe Han, soal makan gratis aja nomor satu!" ledek Miska
" Ya kapan lagi gitu loh Miska kita di traktir pak guru tampan!" sahut Hana
" Awas Han jangan memuji seperti itu nanti loe suka lagi sama pak Aldy" seloroh Miska membuat Nana diam seketika
" Pak Aldy memang tampan tapi bukan tipe gue Mis, masih banyak kali diluaran sana yang jomblo masih muda lagi" sahut Hana tertawa
" Tipe loe yang kayak gimana sih Han?" tanya Miska lagi
" Jelas yang masih muda dong ya"
"Maksud kamu saya sudah tua gitu?" ucap Aldy membuat Hana menutup mulutnya dengan telapak tangannya
" Ehhh... bapak loh ya yang ngomong bukan saya" ucap Hana terkekeh
" Untung kamu sahabatnya Khanza kalau bukan saya kasih nol besar nilai kamu" Aldy geleng-geleng kepala
" Ha...ha... " Hana ketawa dan diikuti oleh yang lainnya.
" Berarti gue beruntung ya Za punya teman kayak loe!"
" Loe beruntung tapi Khanza yang buntung". Seloroh Miska dan mengundang gelak tawa semuanya kecuali Nana yang hanya tersenyum tipis
" Sialan loe Mis!" Hana melingkarkan tangannya di leher Miska
" Cuz lah kalau begitu pak, kita makan aja sebelum si mulut pedas ini kembali bersuara!" Seru Hana seraya membungkam mulut Miska
" Hana tangan loe bau!" Miska menepuk-nepuk pundak Hana kesal tapi Hana malah tertawa.
__ADS_1
Khanza hanya geleng-geleng kepala melihat sikap somplak kedua sahabatnya.
Suasana sekolah yang sudah sepi membuat mereka bebas bersikap sesuka hati tapi tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi tengah memperhatikan mereka.