
" Makanlah!" titah Mario tegas membuat wanita cantik yang ada di hadapannya mengumpat kesal pasalnya sudah sedari tadi Mario bersikap dingin kepadanya.
"Tidak mau!" tolaknya ketus
" Aku bilang makan ya makan tidak ada penolakan" kesal Mario
" Kenapa sih kamu jadi dingin kayak gini?" kesalnya.
" Menurut mu?" Mario balik bertanya.
"Ya aku gak tahu, kamu tadi juga main pergi gitu aja"
" Aku kesal dengan diri aku sendiri dan aku juga merasa sangat bersalah karena sudah melakukan semua itu padamu" ucap Mario sendu
" Maksudnya kamu menyesal melakukannya?" wajahnya sudah memerah menahan sedih
" Iya, aku menyesal melakukan itu karena hampir saja aku melukai orang yang sangat aku sayangi, aku melakukannya karena pengaruh obat hingga aku melakukan itu dengan sedikit kasar bahkan tadi aku hampir khilaf dan melakukannya lagi dengan mu" ucap Mario
" Kamu tahukan perjalanan ke sini cukup beresiko, kenapa kamu bisa mengabaikan semua itu. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kalian!" lanjutnya lagi
" Lalu bagaimana kalau aku tidak datang, bisa saja kamu _" ucap Lia wanita yang kini tengah berada di hadapan Mario dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Itu tidak mungkin sayang, aku lebih baik mati daripada aku melukai hati isteri yang sangat aku cintai!" ucap Mario membuat Lia semakin terisak
" Sedari tadi aku berusaha untuk menghindar karena aku masih berusaha untuk mengendalikan diri aku, karena aku tidak mau menyakiti isteri dan anak aku lagi!" ucap Mario
" Maaf !" ucapnya Lia lirih.
" Sudahlah lupakan!" ucap Mario
" Tapi bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanya Mario penasaran.
" Kenapa memangnya, kamu kecewa iya?" tanya Lia dengan tatapan tajam
" Bukan begitu sayang, aku hanya terkejut dan khawatir kamu kenapa-napa, dan maaf kalau semalam aku sudah membuat kamu kelelahan aku bahkan melakukannya dengan sedikit kasar!" ucap Mario dengan perasaan bersalah.
" Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan juga bayi kita sayang!" lanjutnya
" Walaupun jujur aku sangat bersyukur karena kamu ada disini sayang!" Mario menarik wanita yang sangat ia cintai kedalam pelukannya.
" Sayang, ceritakan kepadaku bagaimana bisa kamu ada di kamar ini?" tanya Mario yang teringat kalau Lia belum menjawab pertanyaannya.
Lia menarik napas panjang sebelum menceritakan semuanya dari awal sebelum ia dibawa ke rumah sakit.
Flashback on
" Hiks... Hiks..." Lia kembali menangis saat semua temannya sudah pulang dan hanya ada Zaira, Azka dan juga Mita sementara mama Novi sedang pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan.
" Kamu kenapa lagi?" tanya Azka yang tengah duduk di tepi tempat tidur
__ADS_1
" Kak aku ingin bertemu dengan Mario kak, aku mohon kak!" Lia semakin terisak
" Mas, kasihan Lia jika dia seperti itu terus tidak baik untuk kandungannya!" ucap Zaira.
" Tapi sayang saat ini Meli sedang hamil, tidak mungkin melakukan perjalanan ke Jepang" ucap Azka
" Sebaiknya mas konsultasikan ini dengan dokter Dinda mungkin dia bisa memberi solusi?" pinta Zaira
" Baiklah kalau begitu aku temui dokter Dinda dulu!" Azka pamit pergi menemui dokter Dinda
Setelah dokter Dinda mengatakan usia kandungan Lia yang sudah menginjak 13 Minggu itu menandakan aman untuk Lia melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat.
" Bersiap-siaplah, kita akan berangkat ke Jepang sekarang. kakak sudah meminta Sendy menyiapkan jet pribadi papah yang kebetulan tidak dipakai!" tutur Azka.
" Benarkah kak?" Lia nampak berbinar
" Tentu saja sayang!" ucap Azka
" Kak Arta juga sudah gue beritahu nanti dia yang akan menjemput loe Li!" ucap Mita
" Terima kasih Kak, terima kasih Mit!"
" Iya sama-sama"
" Ayok sekarang cepat loe bersiap-siap untuk bertemu suami loe!" seru Zaira
" Baru juga ditinggal seharian sudah segitunya!" goda Mita
Akhirnya dengan menggunakan jet pribadi milik papahnya Lia kini sudah sampai di Jepang setelah menempuh waktu kurang lebih 3 jam, sewaktu Mario menelpon Arta sebenarnya saat itu dia tengah menjemput Lia.
Flashback off
" Apa, jadi kemarin itu kamu sampai sempat dirawat di rumah sakit?" tanya Mario terkejut dengan raut wajah khawatir.
"Lalu bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanyanya lagi
" Aku baik-baik saja, tapi berapa jam tidak melihat kamu rasanya begitu sakit dan menyedihkan. hatiku merasa sangat tidak enak dan ternyata itu adalah firasat seorang isteri yang mampu merasakan ketika suaminya tengah berada dalam bahaya" tutur Lia
" Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kak Azka tidak mengirimku kesini apa kamu akan melakukannya dengan_?" belum selesai bicara Mario langsung membungkam Lia dengan sebuah kecupan di bibirnya.
" Jangan berpikir yang macam-macam, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan pengaruh obat tersebut tapi dengan mudahnya kamu langsung membangkitkan nya kembali sayang!" tutur Mario sedikit menggodanya
" Bagaimana kalau yang berada di kamar itu bukan aku?" selidik Lia
" Ya itu tidak mungkin sayang, bagaimana mungkin kak Arta membiarkan orang lain masuk ke dalam kamar ini!" sahut Mario
" Sudahlah sebaiknya sekarang kamu makan, aku tidak ingin kamu dan bayi kita kelaparan!" Mario mengusap perut Lia lalu mendaratkan kecupan di sana.
" Apa kamu masih marah karena aku menyusul kamu kesini?" tanya Lia dengan wajah sendu
__ADS_1
Mario mengacak-acak rambut Lia gemas " Aku bukannya marah sayang tapi lebih tepatnya terlalu khawatir. kamu tahukan kondisi kamu saat ini tengah berbadan dua aku takut terjadi apa-apa dengan kalian apalagi kamu melakukan perjalanan keluar negeri sendirian" tutur Mario
" Siapa bilang aku sendirian" ucap Lia dengan santai
" Maksud kamu?" Mario mengerutkan keningnya
" Aku kesini ditemani mama Novi" jawab Lia santai
" Apa?" Mario terkejut dan saking terkejutnya Mario sampai menyemburkan air minum yang baru saja diteguknya.
" Terus dimana mama sekarang?" tanya Mario
" Mama tadi bilang akan pergi bersama kak Arta" ucap Lia dan Mario mengangguk
" Apa papah tahu kalau kalian menyusul kesini?" tanya Mario
" Papa tahu karena sebelum berangkat mama izin terlebih dahulu" jawab Lia
" Lalu kamu, apa sudah izin dengan suami datang kesini hem?" Mario mencubit hidung Lia gemas
" Io lepas ih, sakit tahu!" Mario tertawa melihat Lia yang mengerucutkan bibirnya karena kesal
" Terima kasih sayang!" Mario menarik Lia kedalam pelukannya.
Selesai makan Lia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, hari ini dia merasa sangat lelah selain karena lelah akibat perjalanan dia juga merasa kelelahan akibat malam panjangnya bersama sang suami tercinta.
"Sayang kamu tidak bekerja?" tanya Lia karena Mario masih menggunakan baju santainya
" Aku sudah izin dengan kak Arta hari ini aku ingin menemani mu saja disini!" sahut Mario.
" Ayok!" ajak Mario
" Kemana?" tanya Lia bingung
" Apa kamu lupa sayang, ini kamar kak Arta bukan kamarku!" jawab Mario menghampiri Lia yang tengah merebahkan dirinya di atas kasur
" Bukan aku yang lupa sayang tapi kamu yang belum sadar kalau ini adalah kamar kita!" ucap Lia mengedipkan satu matanya.
" Maksudnya?" tanya Mario
" Kak Arta membawa kamu ke kamar yang kak Arta pesan untuk kita!" jawab Lia seraya tersenyum
" Jadi ini bukan kamar kak Arta?" tanya Mario dan Lia mengangguk pelan.
" Lalu baju-baju itu?" Mario menengok ke arah lemari
" Itu baju kamu, aku sudah memindahkannya dari kamar kamu yang lama!" sahut Lia
" Owh ya sudah kalau begitu kita diam saja disini anggap saja ini adalah bulan madu kita!" Mario mengedip-ngedipkan matanya
__ADS_1
" Ish, ganjen!"
" Ganjen sama isteri sendiri itu pahala sayang!" tanpa banyak kata Mario langsung menggendong Lia ala bridal style dan hari ini mereka habiskan waktu bersama hanya di dalam kamar.