
Zaira saat ini sedang berada di sebuah mall bersama dengan dua wanita cantik meskipun berbeda generasi dengan Zaira tapi kecantikan keduanya tetap masih terlihat.
Selesai makan bebek goreng bumbu rujak bunda Aryani mengajak Zaira untuk berjalan-jalan ke sebuah mall bersama mama Maria tentunya. Bunda Aryani sengaja mengajak Zaira pergi keluar karena lusa bunda akan pergi ke desa melihat kedua orangtuanya dan kebetulan Mama Maria ingin ikut selagi papa Sam tidak ada jadwal keluar kota jadi kemungkinan besar mereka bertiga lusa akan pergi ke desa.
Awalnya Zaira ingin ikut tapi bunda melarangnya selain Zaira yang harus sekolah kondisi jalan di sana pun masih sangat jelek, jadi sangat beresiko untuk Zaira yang dalam keadaan hamil.
" Bunda!" rengek Zaira bergelayut manja di lengan sang bunda
" Tidak sayang, nanti ya kalau kamu sudah melahirkan baru kita berangkat bersama-sama. untuk saat ini perjalanan jauh apalagi kondisi jalan disana tidak sebagus disini. jalan disana banyak yang rusak nak jika tubuh kamu terguncang-guncang maka cukup beresiko nak untuk bayi kamu!" ucap Bunda Aryani.
" Benar itu Za, nanti saja ya kalau kamu sudah melahirkan kita berangkat kesana bareng-bareng sama suami kamu juga!" ucap Mama Maria ikut menimpali.
" Ya bunda!" Zaira mengerucutkan bibirnya.
" Jangan dimancung-mancungin itu bibir!" Bunda Aryani mencomot bibir Zaira dengan gemas membuat Mama Maria tergelak.
" Sayang, apa kamu sudah menghubungi suami kamu kalau kamu pergi sama mama dan bunda kamu?" tanya mama Maria saat mereka tengah duduk di sebuah restoran yang ada di dalam mall tersebut.
" Sudah mah tapi nomor mas Azka gak aktif" Sahut Zaira sambil memilih menu makanan yang ada di restoran tersebut.
" Mungkin batrenya lowbat sayang!" ucap Bunda Aryani.
" Iya bund!"
" Kamu sudah pesan makan sayang?" tanya Mama Maria
" Za pesan yang ini saja mah!" Zaira menunjuk ke salah satu menu yang ada di buku menu.
Puas jalan-jalan di mall Zaira memutuskan untuk pulang dan pada saat berada di lobi mall tersebut ketika menunggu sopir mama Maria datang menjemput Zaira selintas seperti melihat sosok laki-laki yang sangat dikenalnya duduk dengan seorang wanita yang cukup cantik dan sedikit seksi di sebuah kedai makan yang berada di luar mall tersebut.
Pandangan mata Zaira terus mengamati sosok laki-laki tersebut yang kini terhalang oleh badan si wanita, karena merasa sangat penasaran Zaira kakinya perlahan terangkat dan mengayuh ke arah sosok laki-laki tersebut berada, bunda Aryani dan Mama Maria yang melihat Zaira pergi begitu saja tanpa pamit langsung mengikutinya.
" Sayang kamu mau kemana nak, sebentar lagi mang Ujang datang sayang!" panggil Mama Maria tapi tidak direspon oleh Zaira membuat mama Maria dan bunda Aryani menjadi cemas.
" Sayang!" panggil bunda Aryani namun Zaira tetap melangkah tanpa menoleh.
Mama Maria dan bunda Aryani saling menatap satu sama lain merasa bingung dengan sikap Zaira.
Mama Maria dan bunda Aryani memilih mengikuti kemana Zaira pergi dan seketika mata keduanya membulat sempurna tatkala netra keduanya menangkap sosok pria yang sangat mereka kenal.
" Astaghfirullah haladzim!" ucap bunda Aryani secara spontan dan menutup mulutnya dengan tangan.
" Mar itu_!" ucap bunda Aryani menunjuk dengan ekor matanya ke arah seseorang yang ingin Zaira hampiri.
Flashback on
" Bagaz!" teriak sesepi yang memanggil Azka dari belakang
" Kamu?" ucap Azka dalam keterkejutannya
" Apa kabar sayang?" tanya seorang wanita yang tengah berdiri di hadapan Azka
" Baik!" jawab Azka singkat
" Kamu semakin tampan ya, jadi semakin cinta deh aku!" ucap wanita itu dengan nada menggoda.
" Sebaiknya jaga bicaramu Kelin, kita sudah bukan siapa-siapa lagi!" ucap Azka tegas
" Waww... kau tetap saja ya Gaz tidak berubah, dingin dan cuek tapi aku suka!" ucap Kelin tergelak
" Maaf aku permisi!" ucap Azka yang merasa malas meladeni Kelin. namun baru beberapa langkah tiba-tiba tangan Kelin menariknya.
" Kamu ini serius sekali, aku hanya bercanda Gaz, apa tidak bisa kita bicara sebentar saja!" pinta Kelin
" Maaf Kelin tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" ucap Azka dingin.
" Aku hanya ingin meminta maaf kepada mu Bagaz, aku menyesal karena sudah banyak melakukan kesalahan sama kamu.!" ucap Kelin
" Aku sudah memaafkan kamu !" ucap Azka
" Kalau kamu memang sudah memaafkan aku setidaknya beri aku kesempatan untuk makan bersama kamu, ya anggap saja sebagai penebus dosa aku ke kamu!" ucap Kelin mengiba.
__ADS_1
" Maaf Kelin aku tidak bisa!" jawab Azka
" Ayolah Gaz, belum tentu kita bisa bertemu lagi bukan, anggap saja ini pertemuan perpisahan kita!" ucap Kelin membujuk
Azka nampak berpikir sejenak setelah itu dengan terpaksa mengiyakan keinginan Kelin.
" Baiklah!" ucap Azka
" Yes, akhirnya. lihat saja Bagaz kau pasti akan kembali ke dalam pelukan ku!" batin Kelin
Mereka pun akhirnya pergi ke sebuah kedai yang tidak jauh dari mereka berada.
Kelin tetaplah Kelin di kedai tersebut bukannya membuat Azka merasa nyaman dengan permintaan maafnya tadi tapi malah merasa menyesal karena sudah mengiyakan keinginan Kelin yang ternyata hanyalah akal-akalannya saja agar bisa kembali mendekati Azka.
" Sayang, kamu mau minum apa?" tanya Kelin dengan nada yang sangat manja di depan pelayan kedai tersebut.
Azka hanya mendelik sebal dengan sikap Kelin yang dibuat-buat.
" Jus jeruk saja!" sahut Azka datar
Setelah pelayan tersebut pergi Kelin tetap tidak berubah dia tetap bersikap seolah Azka adalah kekasihnya.
" Kelin! panggil Azka dengan aura dingin
" Iya sayang, kenapa?" tanya Kelin dengan nada yang dilembut-lembutkan.
" Aku tidak suka dengan sikap kamu Kelin, bukankah sudah aku katakan dengan jelas kalau kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi !" tegas Azka
" Sayang jangan seperti itu, aku tahu sebenarnya kamu masih sayangkan sama aku?" Kelin menyentuh tangan Azka yang langsung ditepis oleh Azka " Aku tahu hanya karena wanita yang dijodohkan oleh orang tua kamu itu kamu jadi menjauhiku. iya kan? kamu sebenarnya masih sayang dan cinta sama aku?" ucapnya lagi.
Azka menggeleng-gelengkan kepalanya merasa menyesal karena sudah membuang waktunya untuk orang seperti Kelin.
Azka beranjak dari duduknya dan hendak pergi namun Kelin mencegahnya. " Aku tahu kamu terpaksa menikahinya dan kamu tidak mencintainya" ucap Kelin dengan yakin
" Cukup Kelin cukup?" tegas Azka
" Aku pikir permintaan maafmu itu sungguh-sungguh tapi apa, kamu masih sama seperti yang dulu Kelin aku muak dengan segala kemunafikanmu!" sarkas Azka
Mata Azka membulat tatkala melihat sosok wanita yang ada di hadapannya berdiri menjadi tameng didepannya. Zaira menatap tajam ke arah Kelin lalu menoleh ke arah suaminya.
" Sayang!" panggil Azka yang hendak meraih tangan Zaira namun ditepisnya.
Kelin terkejut mendengar Azka memanggil wanita yang ada di hadapannya dengan sebutan sayang apalagi wanita tersebut perutnya terlihat membuncit. usia kandungan Zaira yang sudah 5 bulan ditambah saat ini dia memakai baju long dress simple sehingga lekuk tubuhnya yang berisi sedikit terlihat.
" Tidak, tidak mungkin wanita itu tengah hamil, tapi perutnya_?" batin Kelin.
" Sayang!" Azka kembali memanggil Zaira dan meraih tangannya.
" Jadi dia isterimu?" tanya Kelin dengan wajah yang mengejek. " Dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ku, aku tahu kau pasti hanya kadihankan sama dia karena dia hanyalah gadis yatim!"
Deg
Zaira diam bembeku mendengar ucapan Kelin.
" Kau!" geram Azka mengepalkan tangannya.
" Aku tahu kau menikahinya hanya karena kasihan, kau tidak pernah mencintainya karena kau hanya mencintaiku. sebaiknya kau ceraikan dia dan kembali kepadaku Bagaz wanita seperti dia jauh dibawah ku!" ucap Kelin meremehkan.
mendengar ucapan Kelin Zaira menyunggingkan senyumnya dan melepaskan tangan Azka yang tengah menggenggamnya. perlahan Zaira berjalan menghampiri Kelin lalu menatap Kelin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Zaira tersenyum kembali didepan Kelin membuatnya menjadi bingung dengan apa yang dilakukan Zaira begitu juga dengan Azka dan bunda serta mama Maria.
" Apa katamu tadi, suamiku hanya mencintaimu? apakah benar seperti itu suamiku?" tanya Zaira seraya tersenyum kecut.
Azka menggeleng pelan " Itu tidak benar sayang!"
" Aku yakin pendengaran Anda tidak bermasalah bukan jadi anda bisa mendengar apa yang barusan suamiku katakan dan satu hal lagi yang harus anda ketahui jika suamiku tidak mencintaiku bagaimana mungkin buah hati kami berada di dalam sini?" ucap Zaira penuh penekanan lalu mengelus perutnya yang terlihat sudah sedikit membesar.
" Kau!" geram Kelin
" Aku lihat anda ini seperti orang yang berpendidikan, cantik dan juga dari golongan keluarga terpandang. akan tetapi amat sangat disayangkan jika penampilan anda bertolak belakang sekali dengan kepribadian anda yang lebih menyukai sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain apalagi sampai berniat ingin merebutnya. itu jauh sekali dari penampilan anda yang seperti wanita baik-baik" ujar Zaira membuat Kelin mengeraskan rahangnya. Zaira berbicara memang sambil tersenyum tetapi kata-katanya sungguh tingkat kepedasannya level teratas.
" Aku percaya jika dulu suamiku mungkin memiliki cinta yang lebih Li untukmu tapi itu dulu sebelum aku berstatus isterinya, dan sekarang aku yakin sepenuhnya dengan suamiku jika saat ini yang ada di hatinya hanyalah aku isteri sahnya yang tengah mengandung buah cinta kami berdua?" lanjut Zaira membuat emosi Kelin semakin memuncak.
__ADS_1
" Kamulah orang yang sudah merusak hubunganku dengannya dan sekarang kau dengan seenaknya menyombongkan diri setelah merebut Bagaz dari ku. dasar wanita mur_!" maki Kelin yang hendak menampar Zaira namun gerakannya yang sudah terbaca langsung ditepis kasar tangannya oleh tangan Zaira hingga membuat Kelin sendiri yang terhempas kebelakang.
" Jangan pernah coba-coba tangan kotormu itu menyentuhku. ingat wanita baik-baik tidak akan menggoda suami orang apalagi memintanya menceraikan istrinya yang tengah hamil!" ucap Zaira tegas membuat para pelanggan dan pelayan kedai tersebut ada yang mencibir dan mengumpat perlakuan Kelin.
Azka, bunda Aryani dan mama Maria merasa terkejut dengan sikap Zaira yang bisa dibilang cukup berani. Azka tidak menyangka kalau Zaira bisa melawan Kelin sampai telak. ia mengira kalau Zaira pasti akan salah paham lalu merajuk, menangis-nangis dan tidak mau ia dekati tapi kali ini ternyata dia salah Zaira justru dengan beraninya menghadapi Kelin.
" Mas ayok kita pergi dari sini , atau kamu masih ingin bersama dengannya?" tanya Zaira sambil tersenyum kecut membuat Azka langsung menggeleng dan meraih tangan Zaira.
Bunda Aryani dan mama Maria hanya geleng-geleng kepala ternyata wanita hamil bisa sangat menyeramkan juga ya seperti induk ayam yang bisa menyerang kapan saja bila Anak-anaknya berada dalam bahaya.
Seperti halnya Zaira yang tidak akan membiarkan ayah dari anak yang berada di dalam kandungannya diganggu oleh pelakor-pelakor yang akan semakin merajalela bila dia diam saja.
Zaira kini pulang bersama dengan Azka, sementara Bunda Aryani dan mama Maria pulang bersama mang Ujang yang sudah datang menunggunya sedari tadi di depan mall tersebut.
...🌠🌠🌠🌠🌠...
Di dalam mobil Zaira diam saja begitu juga dengan Azka yang lebih memilih untuk diam apalagi melihat raut wajah Zaira yang seperti ingin memakan mangsanya hidup-hidup.
Azka berkali-kali menghela napasnya kasar demi mengurangi kegugupan tatkala menghadapi kemarahan sang isteri yang sejak masuk ke dalam mobil hanya diam seribu bahasa.
Azka sudah menoleh berkali-kali tapi pandangan Zaira terus mengarah kesamping jendela. Zaira melipat kedua tangannya di depan dada lalu memejamkan mata. Zaira mengambil napas dalam-dalam sebelum ia hempaskan kasar.
" Sa_!" ucap Azka terpotong oleh Zaira
" Aku ingin pulang ke rumah bunda!" ucap Zaira yang masih dalam keadaan memejamkan matanya.
" Tapi sa_!" lagi-lagi ucapan Azka terpotong.
" Nanti Lia yang akan mengambil seragam dan juga buku-bukunya" ucap Zaira masih memejamkan mata.
" Tapi Say_!"
" Aku capek, aku mau tidur!" Zaira sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri bersandar pada pintu mobil.
Azka hanya bisa menghela nafasnya berat dan mengumpat dirinya sendiri yang begitu bodoh karena dengan mudahnya percaya begitu saja dengan ucapan Kelin.
Azka sesekali menoleh ke arah Zaira yang masih saja menutup kedua matanya, Azka mengacak-acak rambutnya sendiri merasa geram dengan dirinya sendiri.
" Akh... sial, dasar bodoh!" umpatnya membuat Zaira membuka matanya dan menoleh ke arah Azka.
" Mas mengumpatku? mas mengatai aku bodoh?" tanya Zaira yang sudah menggeser duduknya mengarah kepada Azka yang sedang mengemudikan mobilnya.
Azka terkejut karena tiba-tiba mendengar suara Zaira yang bertanya kepadanya " Mas tidak bermaksud seperti itu sayang, mas bukan mengataimu tapi mas mengatai diri mas sendiri yang bodoh, maafkan suamimu ini sayang!" ucap Azka penuh harap. laki-laki itu lalu membanting setirnya ke kiri.
Azka membuka seatbeltnya dan langsung meraih tubuh Zaira kedalam pelukannya.
" Mas mohon sayang jangan diamkan mas seperti ini, jika kamu mau marah, mau memaki mas, mau memukul mas atau mau menjambak rambut mas juga tidak apa-apa Sayang, tapi mas mohon jangan diamkan mas seperti ini. mas akui mas salah karena sudah mempercayai ucapan wanita itu yang mengatakan menyesal dan ingin meminta maaf sama mas tapi tau-taunya dia malah bersikap seperti itu!" ucap Azka sambil menangis Zaira yang berada di dalam pelukan Azka sudah berusaha memberontak namun dekapan Azka semakin kuat sampai Zaira merasa geram dan kesal.
" Mas jika kamu bersikap seperti ini sama saja kamu ingin membunuhku dan juga anakmu. sesak mas?" ucap Zaira yang sudah merasa sesak karena Azka terlalu kuat memeluknya
" Maaf sayang!" Azka langsung melepaskan pelukannya dan mengusap-usap perut Zaira dengan lembut.
" Maafkan daddy sayang, maaf ya daddy tidak sengaja sudah menyakiti kamu dan juga mommy!" ucap Azka mendekatkan wajahnya ke perut Zaira dan mendaratkan kecupan yang cukup lama disana.
" Tolong ya sayang bujuk mommy kamu supaya tidak pulang ke rumah bunda, daddy mengaku salah tapi mommy jangan tinggalin daddy sendirian di rumah!" ucap Azka memelas
" Tidak keputusan mommy sudah bulat, malam ini mommy mau pulang ke rumah bunda karena besok bunda sama mama dan papa akan pergi ke desa jadi mommy mau bersama mereka sebelum mereka pergi ke desa!" ucap Zaira membuat Azka mendongak dan menatap lekat wajah Zaira
" Jadi kamu pulang ke rumah bunda bukan karena marah tapi karena bunda mau pergi ke desa?" tanya Azka dan Zaira mengangguk.
" Siapa bilang aku tidak marah? mana ada isteri yang tidak marah jika suaminya yang diminta untuk membelikan bebek goreng bumbu rujak Malah tengah asik berduaan dengan sang mantan?" tanya Zaira dengan tatapan tajam
"Ya ampun mas lupa, bebek gorengnya?" ucap Azka merasa semakin bersalah
" Sudahlah mas lupakan, aku sudah tidak minat makan bebek goreng itu lagi karena mas bukan mencari bebek goreng tapi malah bersama bebek montok!" ucap Zaira menyindir
" Iya mas aku salah tapi dia bukan bebek montok sayang karena yang montok itu hanya isteri mas tercinta ini!" ucap Azka mengecup singkat bibir Zaira membuat Zaira memberengut.
" Apalagi?" tanya Azka yang melihat sang ratu kembali murka.
" mas menyamai aku dengan bebek, montok kayak bebek begitu?" ucap Zaira membuat Azka menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
Ah dasar bumil membuat orang gemas saja rasanya. ingin sekali Azka menjitaknya kalau bukan isteri tercinta ahhh untung cinta.