Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
mengatakan yang sebenarnya


__ADS_3

Di sebuah ruangan Presdir PT DINATA Grup Azka duduk di sofa tepatnya di hadapan pemilik perusahaan terbesar tersebut.


" Ada apa kamu datang sepagi ini, tidak biasanya kekantor pada saat jam pelajaran?" tanya papa Sam seraya beranjak dari duduknya.


" Pah ada yang ingin aku bicarakan tentang Za isteriku" jawab Azka


" Ada apa dengan Za?" papa Sam berubah khawatir


" Za baik-baik saja tapi tidak tahu soal nanti"


" Maksudmu apa bicara seperti itu?


" Pah, semalam anak dari wanita itu membicarakan tentang pamannya Za yang sudah meninggal itu. Za terkejut dan menanyakan perihal pamannya kepada Azka pah, bagaimana ini pah apa yang harus Azka lakukan?" tanyanya bingung


" Memang sudah saatnya Za tahu, kau cari waktu untuk menceritakan semuanya kepada Za, jangan sampai anak dari wanita itu yang lebih dulu menceritakan semuanya kepada Za!" papa Sam memberi saran.


" Tapi Azka_" pria itu bingung harus menceritakan dari mana.


" Ceritakan semuanya, biar dia tidak salah paham" jawab paman Sam


" Tapi bagaimana kalau dia syok dan tidak bisa menerima kenyataan ini?" Azka menjambak rambutnya sendiri frustasi.


" Semoga saja Za bisa menerima kenyataan ini"


" Semoga saja pah"


" Ya sudah cepat sana kembali mengajar!" titah papa Sam.


" Iya pah, Azka pamit!" ucap Azka seraya mencium punggung tangan papa Sam.


🖤


Sepeninggal Azka dari kantor ia langsung meluncur kesekolah SMA Darma Bangsa.


Saat tiba di sekolah tersebut Azka bertemu dengan pak Aldy yang kebetulan baru selesai mengajar.


" Pak Aldy bisa kita bicara sebentar?" tanya Azka


" Ada apa ya pak Bagaz?"


" Ada hal yang perlu kita bicarakan dan ini penting!"


" Baiklah!" jawab pak Aldy yang sebenarnya merasa malas


" Kalau begitu kita bicara diluar, jam pak Aldy kosongkan?" tanya Azka karena dia tahu jam ngajar pria tersebut.


" Iya"


" Mari ikut saya" ajak Azka


Saat sampai di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari area sekolah hanya menyebrang jalan saja Azka memilih tempat duduk yang sedikit pojok.


" Ada hal penting apa yang ingin pak Bagaz tanyakan sebenarnya?" tanya pak Aldy langsung pada intinya.


" Sebaiknya kita pesan kopi dulu pak Aldy biar lebih santai!" ucap Azka.


Setelah memesan kopi tidak lama pesanan pun datang, Azka menyesap kopinya sedikit tapi tidak dengan pak Aldy dia hanya memandang penasaran dengan Azka yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya.


" Pak Bagaz sebenarnya anda ini ingin bicara apa dengan saya?" tanya pak Aldy penasaran.


" Baiklah langsung pada intinya saja" Azka menghela napasnya panjang sebelum memulai pembicaraannya.


" Apa tujuan mu sebenarnya mengatakan tentang paman Alzaira, apa kau tahu kepergian bundanya saja sudah membuat seorang Alzaira sangat terpukul bahkan dia sampai tidak sadarkan diri, bahkan hampir dua pekan dia seperti mayat hidup."


"Setiap hari ia hanya menangis dan menangis tidak ada semangat untuk hidup. susah payah kami berusaha untuk mengembalikan keceriaannya tapi kemarin kau hampir saja membuat dia kembali terpuruk dengan mengatakan tentang keadaan pamannya diwaktu yang kurang tepat."


" Alzaira pernah mengalami stres dan syok berat oleh karena itu sekecil apapun berita yang harus disampaikan kepada Zaira harus dipertimbangkan terlebih dahulu dampak yang akan terjadi dengan mentalnya. oleh karena itu kami semuanya belum memberitahu kepada Zaira tentang bagaimana bundanya meninggal"


Deg


Pak Aldy seketika diam membeku mencerna setiap ucapan Azka


" Za memang sering bertanya perihal bagaimana bundanya meninggal tapi untuk saat ini mental Za belum begitu kuat menerima kenyataan pahit ini apalagi jika dia tahu yang melakukannya adalah bibinya sendiri"


" Kau pasti sudah tahu bukan siapa pelakunya, apa kau kira setelah dia tahu hal ini dia akan bisa menerimanya?"


" Kamu mengungkit masalah pamannya yang aku tahu dia itu adalah ayah sambung mu bukan?" tanya Azka membuat pak Aldy terkejut.


" Kau sudah tahu?" tanya Pak Aldy


" Aku tahu dengan jelas siapa paman Doni. jika kau menghargai paman Doni setidaknya kamu jaga perasaan Za, setelah kau menceritakan tentang pamannya, Za sekarang kembali lebih banyak diam karena teringat kembali dengan bundanya dan rasa penasaran tentang penyebab kematian bundanya semakin besar"


" Tapi walau bagaimanapun Za harus tahu" ucap pak Aldy


" Ya aku tahu itu tapi tidak untuk sekarang, setidaknya tunggu sampai keadaan mentalnya kuat menerima kenyataan ini"


" Iya, tapi kapan?"


" Itu bukan urusan mu pak Aldy"


" Itu urusan ku karena aku adalah saudara yang masih ia miliki. dan aku berharap dia mau ikut bersamaku "


Azka tersenyum kecut. " Percaya diri sekali anda, apa kau pikir setelah Za tahu jika yang melakukan itu adalah mama dan adik kamu sendiri apakah Za masih mau menerima begitu saja" sahut Azka


" Kau!" geram pak Aldy


" Sebaiknya anda fokus saja dengan mengajar jangan ikut campur dengan masalah Za!"


" Lalu apa kamu pikir setelah Za tahu jika kau sudah membohonginya apa dia juga akan memaafkan mu?" tanya pak Aldy


" Za juga pasti akan membencimu karena kau sudah membohonginya" sarkas pak Aldy

__ADS_1


" Itu bukan urusan mu!"ucap Azka dingin


"Jika kau masih ingin mengajar di SMA Darma Bangsa sebaiknya mengajarlah dengan baik jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadi muridmu" ancam Azka sebelum beranjak dari duduknya.


"Dan satu lagi jangan coba-coba mendekati Zaira"


"Apa hakmu melarangku mendekati Zaira.?"


" Aku tahu kalian itu memang dijodohkan tapi Za berhak memilih bukan!" Azka mengerutkan keningnya mendengar hal konyol itu.


" Za memang berhak memilih dan tentunya ia berhak memilih aku suaminya"


Jlepp


Pak Aldy seakan tercekat mendengar pengakuan Azka kalau dia adalah suaminya.


Pak Aldy tersenyum kecut lalu tertawa " Kalian dijodohkan dan belum tentu Alza benar-benar mencintaimu pak Bagaz dan aku yakin dengan seiring berjalannya waktu Alza pasti akan memilih ku" ucap pak Aldy yang tidak percaya begitu saja dengan pengakuan Azka


" Jangan terlalu banyak bermimpi!" ucap Azka lalu beranjak pergi


" Kurang ajar, awas saja akan aku buktikan kalau Alza pasti akan memilihku dan meninggalkan mu pak Bagaz" gumam pak Aldy seraya menatap punggung pak Azka yang berlalu begitu saja.


Azka langsung pulang ke rumahnya karena hari ini pun Zaira tidak masuk sekolah.


Ceklekk


Azka melihat Zaira tengah berada di taman belakang duduk bersama mama Maria.


" Assalamu'alaikum" ucap Azka


"Wa'alaikum salam" sahut Zaira dan mama Maria seraya menoleh ke arah keduanya


" Mah, kapan datang?' tanya Azka yang mencium punggung tangan mamanya bergantian dengan Zaira yang menyalami punggung tangan Azka.


" Sudah lumayan lama, kamu baru pulang mengajar?" tanya mama Maria


" Enggak mah, tadi ke kantor papa setelah itu pergi ke sekolah sebentar ada urusan" sahut Azka


" Hai.. sayang!" sapa Azka meraih baby Zia dari pangkuan Zaira


" Mas sudah bersih-bersih belum?" tanya Zaira karena suaminya baru pulang langsung menggendong baby Zia


" Sudah tadi, sebelum kemari mas bersih-bersih dulu!' sahut Azka


" Seharusnya kalian bicara berdua, biar baby sana Oma dulu ya sayang!" ucap mama Maria beranjak dari duduknya dan membawa baby Zia masuk ke dalam rumah.


Azka dan Zaira cukup lama terdiam, tidak ada yang mau memulai pembicaraan karena Azka pun bingung harus memulainya dari mana.


" Mas!" panggil Zaira yang sedari tadi diam dan menunduk.


" Hem?" Azka menoleh dan langsung menarik Zaira kedalam pelukannya.


" Mas apa tidak ada yang ingin mas katakan?" tanya Zaira mengurai pelukannya lalu mendongak menatap lekat netra Azka.


" Mas bukan sengaja ingin merahasiakan semua ini dari kamu, hanya saja mas merasa takut... takut kehilanganmu lagi sayang, mas takut kamu syok dan tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi" tutur Azka


" Mas, meskipun kenyataannya begitu menyakitkan tetap aku berhak tau mas" lirih Zaira dan menitikkan air mata.


" Mas tahu sayang kamu berhak tahu tapi rasa takut mas begitu besar sehingga mas tidak berani mengatakan semuanya kepada mu sayang" ucap Azka sendu


"Jika mama tidak mengatakannya, apa mas akan terus merahasiakan semua ini dari ku mas, dan tidak akan memberitahu ku?" tanya Zaira membuat Azka terdiam sejenak.


" Mas pasti akan memberitahu mu tapi mencari waktu yang tepat"


"Kapan?"


" Mas juga tidak tahu"


" Sampai aku tahu semuanya dari orang lain?" Zaira mendelik tajam


Jlepp


Azka menatap sendu ke arah Zaira merasa sangat bersalah karena selama ini sudah merahasiakan tentang penyebab kematian bunda Aryani.


Dan seketika Azka teringat dengan ucapan pak Aldy kalau Zaira pasti akan merasa sangat kecewa dan membenci Azka jika Zaira tahu hal yang sebenarnya.


" Apa kau akan membenciku?" tanya Azka membuat Zaira diam dan membuang pandangannya ke arah lain.


" Mas akui dalam hal ini mas sudah melakukan kesalahan besar, tidak seharusnya mas merahasiakan ini dari kamu mungkin karena rasa takut mas yang terlalu besar sehingga mas tidak memikirkan kedepannya kalau suatu saat kamu pasti akan mencari tahu juga" tutur Azka dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Saat hari dimana kau tahu bunda meninggal, kamu jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. mas begitu takut karena kamu terus diam saja. keesokannya kamu sadar dan hal itu membuat mas merasa sangat senang namun ternyata kamu memang sudah sadar tapi jiwamu seakan masih berada di dunia yang lain. sedih dan sakit rasanya setiap kali melihat mu dengan tatapan mata yang kosong. baby Zia pun tidak bisa membuat mu sadar dan kembali ke dunia nyata." lirih Azka yang sudah tak kuasa menahan tangisnya.


" Dan betapa aku takut setelah kau mengetahui hal ini. laki-laki itu bilang kau akan membenciku karena aku sudah merahasiakan hal ini padamu dan dia bilang akan merebut mu dari ku" Azka menundukkan wajahnya dan menangkup dengan kedua tangannya.


" Aku... aku hanya tidak kuat melihat mu kembali syok dan menangis!" lirihnya dengan air mata yang berlinang.


" Mas, maafkan aku!" ucap Zaira yang langsung memeluk Azka


" Maaf karena sudah membuat takut dan serba salah, aku... aku tidak marah mas. walaupun aku sempat kecewa karena semua orang seakan membohongi ku tapi setelah mama Maria menceritakan semuanya kepada ku, aku mengerti kenapa kalian semua melakukannya ini kepada ku. kalian hanya ingin melindungi ku agar aku tidak bersedih lagi" ucap Zaira seraya memeluk punggung Azka yang bergetar hebat.


Azka menegakkan tubuhnya lalu menatap sendu wajah cantik Zaira yang basah dengan air mata.


" Apa kau tidak marah? tidak membenciku?" tanya Azka


" Mana mungkin aku membencimu mas yang sudah begitu perhatian dan sangat mengkhawatirkan keadaan ku mas" Zaira kembali memeluk Azka.


" Terima kasih sayang, aku mencintaimu sayang"


" Aku juga mencintaimu mas!" mereka pun berpelukan hangat


" Apapun yang terjadi kita harus bisa melewatinya bersama-sama, jangan biarkan ada celah yang masuk ke dalam rumah tangga kita mas, saling percaya dan memberi kekuatan satu sama lain. aku yakin mas bersama mu dan keluarga kecil kita aku pasti bisa melewatinya dengan baik" ucap Zaira membuat Azka begitu terharu

__ADS_1


" Ternyata kamu sekarang sudah jauh lebih dewasa sayang" Azka mengusap lembut pipi Zaira


" Mama yang mengajariku, mama selalu mengingatkan aku banyak hal meratapi dan terus menangisi bunda hanya akan memberatkan bunda disana, bunda tidak akan tenang jika aku masih menangis dan bersedih" tutur Zaira membuat Azka merasa bangga memiliki isteri seperti Zaira.


" Syukurlah jika kamu sudah bisa menerima semua ini sayang, mas bangga sama kamu" Azka mengecup kening Zaira membuat Zaira tersenyum tipis lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Azka.


"Masuk yuk, kasihan mama sama baby Zia" ajak Azka


"Iya mas!"


Azka dan Zaira masuk ke dalam rumah dan langsung mencari mama Maria yang tengah bersama baby Zia.


" Za, baby sepertinya sudah mengantuk!" ucap mama Maria


" Iya mah, sini biar Za tiduri dulu ya mah!" Zaira mengambil alih baby Zia dari gendongan Mama Maria


Zaira membawa baby Zia kedalam kamar sementara Azka dan mama Maria duduk di ruang TV.


" Ma terima kasih ya mah, berkat mamah Za sekarang benar-benar menjadi lebih dewasa. " ucap Azka


" Sama-sama sayang, mama senang mendengarnya jika Za sekarang bisa bersikap lebih dewasa dan bisa menerima kenyataan ini dengan kepala dingin" tutur mama Maria


" Iya mah, tapi ada satu hal yang mengganjal mah tentang guru baru itu!" ucap Azka


" Aldy maksud kamu?" tebak mama Maria


" Mama tahu?" tanya Azka sedikit terkejut


" Iya, dia adalah anak sambung Doni. dia sudah dianggap seperti putra kandungnya sendiri bahkan Aldy di sekolahkan sampai keluar negeri" tutur mama Maria menjelaskan.


" Dia menyukai Za mah" ucap Azka terus terang


Mama Maria langsung menoleh dan menatap lekat wajah sang putra. " Kamu tahu dari mana Aldy menyukai Za?"


" Dia yang mengatakannya langsung pada Azka mah"


" Apa dia tahu kalian sudah menikah?"


" Azka sudah bilang kalau Azka adalah suaminya tapi sepertinya dia tidak peduli mah"


Mama Maria mengusap punggung putranya


" Kamu yang sabar saja, tidak masalah dia menyukai Za yang terpenting adalah bagaimana Za bukankah kamu tahu dengan jelas jika Za sangat mencintai kamu " tutur mama Maria meyakinkan putranya


" Za itu sangat mencintai kamu dan begitu juga dengan mu. jadi untuk apa memikirkan perasaan Aldy yang hanya bertepuk sebelah tangan" lanjut mama Maria


" Iya mah terima kasih sudah meyakinkan hati Azka kalau tidak ada yang bisa memisahkan kami apalagi sudah ada baby Zia ditengah-tengah kami" ucap Azka seraya memeluk mama Maria


" Itu kamu tahu, sudah sekarang apapun yang terjadi kalian harus selalu kompak untuk menjalani krikil dalam rumah tangga. masalah sekecil apapun bisa menjadi besar jika kurang adanya komunikasi dan rasa saling percaya satu sama lain. jadi ingat untuk menjaga komunikasi selesaikan masalah sekecil apapun dengan kepala dingin" pesan mama Maria sebagai wejangan kedepannya untuk putranya.


" Iya mah"


Setelah berbicara panjang lebar dengan Azka mama Maria pamit untuk pulang dan saat hendak keluar Zaira menuruni anak tangga dan langsung menuju mama Maria.


" Mama mau kemana?" tanya Zaira yang tengah menuruni anak tangga


" Mama mau pulang sayang!" Zaira menghampiri mama Maria dan memeluknya


" Mama sering-sering kesini ya mah, Za senang kalau mama ada di sini!" ucap Zaira yang tengah menitikkan air mata


" Loh kok anak mama nangis sih?" mama Maria panik melihat Za yang menangis


"Za gak apa-apa kok mah, Za cuma sedih aja mama mau pulang" Zaira mengusap air matanya dengan cepat lalu tersenyum tipis


" Kamu ini, mama akan sering-sering kesini kalau papa tidak ada jadwal keluar kota sayang"


Mama Maria mengusap pucuk kepala Zaira dengan lembut


" Terima kasih ya mah" Zaira kembali memeluk mama Maria


" Iya sayang, kamu harus bahagia jadi jangan bersedih lagi ya. hidup itu berjalan kedepan jadi lupakan kenangan yang menyakitkan sayang, sekarang fokus dengan masa depan baby Zia yang sangat membutuhkan kasih sayang kalian berdua." pesan mama Maria untuk Zaira


" Iya mah, Za akan berusaha untuk membahagiakan keluarga kecil Za bersama mas Azka" tutur Zaira


" Bagus sayang" mama Maria bangga dengan sikap Zaira yang lebih dewasa.


" Yaudah mama pamit pulang ya sayang" mama Maria pamit kepada Zaira dan Azka


Setelah kepulangan mama Maria, Azka memeluk Zaira dari belakang membuat Zaira terkejut.


" Mas!"


" Biarkan seperti ini sayang!" Azka menjatuhkan kepalanya di bahu Zaira


" Mas nanti ada yang lihat malu loh!" protes Zaira


" Biarkan saja, kita sepasang suami istri jadi wajar jika kita seperti ini" sahut Azka


" Mas, masuk yuk!" ajak Zaira mengusap pipi Azka lembut


" Boleh, tapi mas minta jatah ya?" tanya Azka penuh damba


Zaira diam mengerucutkan bibirnya dan sedetik kemudian Zaira mengangguk pelan.


" Yes!" teriak Azka dan langsung memutar tubuhnya dan mengangkat tubuh Zaira keudara membuat Zaira menjerit takut jatuh.


" Mas turunkan aku!" pekiknya


" Tidak semudah itu sayang" Azka tersenyum genit.


" Mas ih" Zaira mengalungkan tangannya ke leher Azka

__ADS_1


" Jangan banyak protes" Azka dengan langkah cepat membawa Zaira ke dalam kamar dan terjadilah yang seharusnya terjadi.


__ADS_2