
Nana pulang dengan keadaan lesu, mengingat betapa bahagianya Miska bisa begitu disayangi oleh kedua orang tua Roni membuatnya tersentil dan malu karena pernah ingin merebut kebahagiaan itu yang belum tentu bisa menjadi miliknya
Apalagi saat kedua orang tua Roni begitu bangga pada menantunya yang mendapat nilai tertinggi kedua setelah Khanza.
Ya siapa yang menyangka Roni pun bisa mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan menjadi peringkat ke tiga.
Hal itulah yang membuat kedua orang tua Roni semakin sayang pada menantunya itu
" Loe memang hebat Ka, sampai seorang Roni saja bisa berubah 180 derajat ' gumamnya
" Kamu juga hebat kok, bisa mengikhlaskan laki-laki yang kamu cintai hidup bersama sahabat kamu sendiri!" ucap seorang pria yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya
" Bang Haris?" Nana terkejut
Saat ini Nana tengah duduk di sebuah taman yang merupakan tempat untuk pertama kali mereka bertemu
" Sudah jangan memikirkannya lagi, kamu itu cantik dan sudah saatnya kamu move on!' saran Haris membuat Nana terkekeh
" Loh kok malah ketawa?" Haris menatap gemas pada Nana
" Abang itu sok tahu, sok akrab dan sok dekat!" ledek Nana
" Loh emangnya kenapa, kita memang dekat dan kenapa kalau sok akrab? lagi pula kamu itu kan teman HaNa!"
" Haris Nana!" ucapnya lagi sambil ketawa
" Dih bang Haris modus, aku bilangin Hana loh bang!' ancam Nana
" Bilang aja, abang enggak takut biar sekalian aja abang bilang sama Hana nanti buat nemenin abang ke rumah kamu" sahut Haris
" Ke rumah aku, ngapain?" Nana mengerutkan keningnya
" Ya buat ketemu sama orang tua kamu!" jawab Haris santai
" Buat apa?"
" Ya buat ngelamar kamu !"
" Uhukk... Uhukk..!" Nana tersedak salivanya sendiri saat mendengar kata-kata Haris yang ingin melamarnya
" Ngaco!" ucap Nana setelah menetralkan rasa keterkejutannya
" Kok ngaco sih?" Haris nampak kecewa
" Jangan bercanda deh bang, enggak lucu tau !" Nana geleng-geleng kepala merasa konyol ucapan Haris padanya
" Kalau abang serius apa kamu mau menerima abang?" tanya Haris dengan wajah serius
Nana terdiam sejenak menatap wajah Haris yang nampak serius
Deg
Jantung Nana tiba-tiba berdetak dengan cepat, rasa bingung dan ragu berkecamuk di dalam pikirannya.
Bagaimana bisa laki-laki yang baru beberapa kali bertemu dengan santainya berkata ingin melamarnya.
" Apa kamu tidak yakin?" tanya Haris yang tahu akan kegelisahan hati Nana
" Kalau kamu belum bisa memberi jawabannya tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan!" ucap Haris tersenyum lalu mengacak-acak rambut Nana gemas
" Sudah sore, mau pulang sekarang?" tanya Haris
__ADS_1
Nana melihat jam yang melingkar di tangannya dan sudah menunjukkan pukul 4 sore.
" Abang antar ya?" tawar Haris
" Jangan menolak, abang enggak suka ada penolakan!" ucap Haris menyela Nana yang hendak bicara
" Itu namanya pemaksaan" Nana mengerucutkan bibirnya
" Jangan di gituin bibirnya bikin abang pingin cepat-cepat halalin adik cantik " goda Haris yang membuat Nana seketika tersipu malu
" Dih abang bisa banget ngegombalnya" Nana geleng-geleng kepala
" Haha...." Haris malah ketawa terbahak
" Udah berapa banyak cewek yang abang gombalin dan di modusin?" ledek Nana
" Enggak banyak, ya sekitar puluhan cewek mah ada!" Nana melotot mendengar jawaban Haris
Haris tertawa seraya berjalan menuju mobilnya dan diikuti oleh Nana yang tengah geleng-geleng kepala
Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil entah mengapa setelah mendengar Haris bilang puluhan cewek hatinya berdesir, apakah dia akan bernasib sama seperti saat bersama Roni dulu, bahkan Roni punya banyak pacarpun dia tetap bisa menerimanya. tapi kali ini apakah tidak bisa jika dia meminta satu cinta dan tidak terbagi dengan yang lain, sibuk dengan pikiran-pikirannya Nana sampai tidak mendengar suara Haris yang berkali-kali memanggil namanya
" Na... Nana!" Haris menepuk bahu Nana
" Eh iya bang ada apa?" tanya Nana terkesiap dari lamunannya
" Kamu mikirin apa?" tanya Haris menautkan alisnya
" Tidak ada!" Nana menggeleng
" Jangan bohong" selidik Haris
Haris menoleh lalu tersenyum " Apa kamu menganggap serius ucapan abang tadi?" tanya Haris
" Ya itu bisa aja benarkan, siapa yang tahu" Nana mengangkat kedua bahunya
Haris mengacak-acak rambut Nana gemas membuat Nana mengerucutkan bibirnya
" Sudah abang bilang jangan seperti itu!" ucap Haris
" Abang yang terlalu omes"
" Omes?" Haris mengernyit bingung dan Nana menepuk keningnya sendiri seraya geleng-geleng kepala
" Omes, bang Haris otak mesum" sahut Nana lalu tertawa
Haris seketika terdiam menatap Nana dengan tatapan memuja, gadis yang biasa dia lihat termenung, dengan wajah keruh dan lesu bahkan sembab karena sering menangis tapi hari ini begitu terlihat cantik, ceria dan lepas seperti tidak ada beban.
" Abang awasssss....!" teriak Nana saat Haris yang tidak fokus menyetir karena pandangannya teralihkan oleh pesona seorang Nana hampir saja menabrak sebuah sepeda motor
Cittttttttttt.......
Haris yang terkejut langsung menginjak rem, mobil yang mendadak berhenti membuat kening Nana terbentur dasboard mobil cukup keras.
" Awwww....!" pekik Nana merasa nyeri di keningnya
" Nana kamu tidak apa-apa?" tanya Haris khawatir dan betapa terkejutnya Haris saat melihat kening Nana yang sedikit memar
" Apa ini sakit?" Haris menyentuh pelan kening Nana
" Aww sakit bang!" keluh Nana
__ADS_1
" Maafin abang ya Na, abang tadi enggak fokus!" ucap Haris seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Abang itu bahaya tau, kalau nyetir itu harus fokus" marah Nana
" Bagaimana kalau tadi sampai nabrak?" lanjutnya
" Iya maaf, abang tidak sengaja" ucap Haris penuh sesal
" Lagian apa sih yang membuat bang Haris sampai enggak fokus gitu?" tanya Nana
" Emmmm.... tawa kamu!" ucap Haris jujur dan seketika Nana pun terbungkam
" Apaan sih enggak jelas!" Nana membuang pandangannya ke arah lain menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Haris yang tahu Nana tersipu malu hanya tersenyum lalu kembali menyalakan mesin mobilnya.
Di sepanjang perjalanan Nana dan Haris nampak diam, tidak ada yang membuka pembicaraan sampai akhirnya mobil pun sampai di depan rumah Nana
" Bang Haris mau mampir dulu apa langsung pulang?" tanya Nana
" Abang langsung pulang aja ya, nanti abang datang lagi kesini bersama Hana!" ucap Haris
" Iya!" jawab Nana
" Berarti kamu sudah siapkan?" Nana mengerutkan alisnya
" Siap apa?" tanya Nana
" Siap abang lamar!" sahut Haris
Deg
Nana membulatkan matanya menatap Haris lekat
" Abang enggak bohong, abang serius dan ucapan abang yang tadi soal cewek yang abang gombalin itu semua bohong" tutur Haris
" Baru kamu wanita yang abang dekati sebelumnya abang tidak pernah pacaran apalagi dekat sama perempuan. karena abang maunya pacaran setelah halal " ucapnya lagi
" Abang punya adik perempuan, karena itu abang tidak berani yang namanya pacaran, abang takut mengecewakan dan membuatnya sakit hati, abang enggak mau perbuatan jelek abang berdampak buruk pada adik abang sendiri" Jawabnya
Nana kagum dengan pengakuan Haris yang menurutnya memang masuk di akal.
" Apa abang sangat menyayangi Hana?" tanya Nana tiba-tiba
Haris tersenyum" tentu saja, dia adik abang satu-satunya" jawab Haris
" Sungguh beruntung Hana punya abang yang begitu perhatian" puji Nana
" Aku juga mau punya abang yang sebaik bang Haris, masih ads setok enggak ya?" seloroh Nana
" Sudah habis stoknya, yang ada sekarang cuma tinggal calon suami" jawab Haris terkekeh membuat Nana memutar bola matanya malas
" Semakin lama bang Haris semakin ngelantur " Nana gelang-gelang kepala lalu membuka pintu mobil.
" Abang serius, tunggu abang datang bersama Hana buat ngelamar dek Nana ya!" ucap Haris serius
Nana tidak menjawab ia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya
Haris pun ikut tersenyum lalu melambaikan tangannya sebelum pergi
Nana masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Haris sudah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1