Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Di dalam kamar calon ibu muda itu kini tengah memasang wajah cemberut, sejak masuk ke dalam kamar mantan gadis itu pun tidak henti-hentinya menggerutu tidak jelas membuat Aldy geleng-geleng kepala melihat tingkah sang isteri.


" Sayang!" panggil Aldy seraya menarik tangan Khanza dan membawanya ke dalam pelukan.


" Ada apa hem?" tanya Aldy mengurai pelukannya sebentar


" Ibu itu apa-apaan sih mas, mengizinkan si Sof buntut menginap di rumah ini?" kesal Khanza


" Huss... tidak baik bicara seperti itu!" dengan cepat Khanza mendongak lalu menatap Aldy dengan tatapan marah lalu melepaskan pelukannya.


" Oh jadi mas merasa senang iya ada si Sof buntut di rumah ini?" ketus Khanza


" Bukan seperti itu sayang, mas gak bilang seperti itu"


" Itu tadi, seakan mas tuh senang dengan keberadaan wanita itu melihat tatapannya saja aku sudah kesal" keluh Khanza


" Kenapa kamu cemburu hem?" gelak Aldy


" Siapa yang cemburu" elak Khanza membuang pandangannya


" Tidak usah marah-marah enggak jelas gitu sayang, gak baik buat perkembangan anak kita" Aldy mengelus perut Khanza. " Lagi pula sedari tadi mas tidak menanggapinya jadi buat apa kamu cemburu dengan wanita yang jelas-jelas jauh dibawah kamu hem." Aldy kembali merengkuh pinggang Khanza mengikis jarak lalu mengecup lembut keningnya.


" Kita hanya tinggal satu malam di sini besok kita akan pulang ke apartemen jadi tidak usah memikirkan hal yang tidak penting seperti itu" lanjutnya


" Mas hanya mencintai isteri mas seorang dan tidak akan ada wanita yang bisa menandingi isteri kecil mas yang satu ini" Aldy yang sudah tidak tahan akhirnya menarik tengkuk Khanza dan me******** dengan lembut.


Khanza yang memang selalu terbuai dengan sentuhan lembut sang suami hanya bisa pasrah dan menerima setiap sentuhan lembut yang di lakukan sang suami.


Aldy menyudahi aktivitasnya setelah melihat Khanza yang sudah kelelahan, dia tidak ingin mengambil resiko dan membuat isterinya kecapean. Dengan senyum yang mengembang Aldy menyelimuti tubuh Khanza yang sudah terlelap lalu mendaratkan kecupan sayang di keningnya.


" Terima kasih ya sayang!" ucap Aldy selepas mendaratkan kecupannya


Aldy beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai dengan aktivitas mandinya Aldy dengan lembut membangunkan Khanza untuk membersihkan diri namun karena rasa ngantuk dan lelah yang berbaur menjadi satu membuat calon ibu muda itu memilih untuk melanjutkan tidurnya.


Aldy hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja sang isteri yang enggan beranjak.


Karena merasa kasihan Aldy dengan telaten akhirnya memutuskan untuk mengelap tubuh sang isteri yang lengket akibat ulahnya itu dengan air hangat.


Dengan penuh kelembutan Aldy mengelap tubuh Khanza sampai dengan susah payah Aldy harus menahan gejolak yang ada pada dirinya.


Aldy berkali-kali menghela napasnya panjang dan setelah selesai ada rasa lega tersendiri pada dirinya.


Bukan hanya mengelap dan membersihkan tubuh Khanza yang berkeringat, Aldy juga dengan telaten memakaikan baju ganti pada tubuh Khanza.


Pagi menyapa suara ketukan pintu dari luar kamar membangunkan sepasang suami istri yang tengah tidur dengan saling berpelukan.


" Siapa sih ih pagi-pagi udah ganggu orang tidur aja?" dengus Khanza yang baru saja membuka kelopak matanya merasa terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya.


" Mas Aldy, mas.... mas Aldy...Khanza... apa kalian sudah bangun? ayo sarapan ibu sudah menunggu di meja makan" teriak Sofy dari balik pintu


Khanza yang tahu si pemilik suara adalah wanita yang sudah membuatnya kesal semalam hanya diam saja tidak berniat menyahut.


" Sayang itu !" suara serak Aldy khas bangun tidur mengejutkan Khanza yang sedang menatap ke arah pintu.


" Mas sudah bangun?" tanya Khanza menoleh ke arah Aldy yang melingkarkan tangannya di perut Khanza dan mendusel lembut seraya mendaratkan kecupannya.


" Geli mas" protes Khanza tapi Aldy masih terus mengecupi perutnya gemas


" Mas.... mas Aldy ayok sarapan sudah ditunggu ibu sama yang lain!" suara Sofy terdengar kembali membuat Khanza merasa geram dan hendak beranjak dari tempat tidurnya namun dengan cepat Aldy menahan pergerakannya lalu tersenyum tipis " Biarkan seperti ini, kita sarapan di luar saja bagaimana, Hem?" tawar Aldy masih dengan posisi memeluk perut Khanza.


Khanza mengangguk lalu tersenyum " Iya mas "


" Ya udah sana bersih-bersih setelah itu kita pergi!" Khanza kembali mengangguk lalu beranjak pergi ke kamar mandi


Aldy yang tahu akan ketidak nyamanan sang isteri lebih memilih untuk mengajak sang isteri sarapan di luar dari pada melihat isteri kecilnya menahan kesal melihat sikap Sofy yang berlebihan menurutnya.


" Tolong sampaikan pada ibu kalian sarapan duluan saja!" sahut Aldy dari dalam kamar


" Tapi mas buka pintunya dulu sebentar!" teriak Sofy


" Maaf saya tidak bisa, kamu pergi saja dan sampaikan salam maaf kami pada ibu!" sahut Aldy membuat Sofy mendengus kesal


..." Ini pasti ulah Khanza yang melarang mas Aldy keluar untuk sarapan, awas saja mas Aldy pasti akan membuangnya dan lebih memilih ku!" gumam Sofy...


Sofy kembali ke meja makan dengan wajah kesal

__ADS_1


" Mana Khanza dan nak Aldy?" tanya bi Ratna yang melihat Sofy berjalan dengan lesu


" Katanya kita sarapan duluan saja, Khanza pasti yang melarang mas Aldy untuk sarapan. kasihan mas Aldy pasti lapar, Khanza keterlaluan kalau memang dia tidak mau sarapan ya sudah tapi kenapa harus melarang mas Aldy untuk sarapan bersama kita" sahut Sofy yang langsung nyerocos sok tahu.


Izan mendengus kesal mendengar kata-kata Sofy yang seakan menyalahkan kakaknya Khanza


" Ya sudah tidak apa-apa, mungkin mereka akan menyusul nanti" ucap bu Khodijah bijak


" Ayok makan!" titah bu Khodijah yang langsung di turuti oleh Izan dan bi Ratna tapi tidak dengan Sofy yang malah diam saja


" Kamu kenapa tidak makan?" bisik bi Ratna


" Aku akan menunggu mereka saja!" jawab Sofy membuat bi Ratna kesal


" Kamu jangan macam-macam Sofy cepat sarapan, untuk apa juga kamu menunggu mereka?" Bisik bi Ratna lagi


" Jika kamu bersikap melewati batas jangan salahkan bibi jika bibi mengirimmu kembali ke kota x" ancam bi Ratna


" Apa sih bi, aku tidak melakukan apa-apa" Dengan wajah cemberut Sofy mengambil sarapannya


Sementara di dalam kamar Khanza sedang berdiri di depan cermin memperhatikan perubahan pada tubuhnya yang semakin terlihat berisi


Aldy yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat isterinya sedang bercermin dengan langkah perlahan berjalan menghampirinya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Khanza.


" Mas ih ngagetin aja!" Khanza menoleh ke samping melirik wajah suaminya yang bertopang dagu dibahunya.


" Kenapa hem?" tanya Aldy dengan posisi yang sama


" Mas badan aku terlihat gendut ya sekarang?" tanya Khanza menatap Aldy melalui pantulan cermin


Aldy tersenyum lalu mencium singkat pipi Khanza " Kamu enggak gendut sayang tapi seksi" pujinya


" Gombal" Khanza mengerucutkan bibirnya


" Siapa yang gombal, seorang isteri kalau sedang hamil itu terlihat lebih seksi dimata suami" serunya lagi


" Kamu jangan merasa minder dengan perubahan tubuh kamu yang semakin berisi sayang, nikmati saja proses kehamilan ini dan fokuskan pikiran kamu pada perkembangan si dedek" Khanza tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.


" Iya mas"


" Mau sekalian pulang atau nanti balik lagi mas kesini?" tanya Khanza


"Mas terserah kamu saja sayang, mas ingin senyamannya kamu dan tidak membebankan pikiran kamu" sahut Aldy


" Terima kasih ya mas, duh makin cinta deh jadinya" Khanza melingkarkan tangannya di leher Aldy dan dengan cepat Aldy mengikis jarak lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir khanza


" Mas, udah ah lapar nih!" protes Khanza


" Ya udah ayok, mau langsung atau _" belum selesai Khanza sudah lebih dulu memotong


" Langsung aja deh mas" sahut Khanza cepat.


" Yaudah ambil mas ambil tas sama laptopnya dulu" ucap Aldy seraya berjalan menuju nakas


" Mas baju kotor mas yang sudah aku cuci mau dibawa atau biarkan aja di gantung di kamar mandi?" tanya Khanza saat teringat dengan baju Aldy yang tadi dicucinya


" Biar mas jemur saja diluar titip pada bi Ratna" sahut Aldy seraya berjalan masuk ke dalam kamar mandi mengambil bajunya dan juga baju Khanza yang digantung di dalam kamar mandi.


"Biar aku saja mas!" Khanza ingin mengambil alih baju yang dibawa oleh Aldy


"Enggak usah sayang biar ini mas aja yang jemur kamu siap-siap aja !" tolak Aldy lembut


Khanza sibuk dengan tas Aldy dan juga tas ransel miliknya belum lagi laptopnya dan juga laptop Aldy yang merupakan salah satu barang penting yang selalu dibawanya.


Aldy berjalan keluar dari kamar menuju pintu belakang rumah dan tanpa sengaja ia malah bertemu dengan Sofy yang juga sedang menjemur baju miliknya


" Loh mas Aldy mau ngapain?" tanya Sofy yang langsung berjalan mendekati Aldy


" Mau menjemur pakaian" sahut Aldy memutar bola matanya malas


" Khanza nya memang mana mas kok mas Aldy sendiri sih yang jemur, pasti dia sedang bermalas-malasan ya di dalam kamar. ih dasar isteri macam apa dia sampai menyuruh suaminya yang menjemur pakaiannya" cerocos Sofy membuat Aldy geram sendiri


" Cukup Sofy, ini memang atas kemauan saya sendiri, jadi jangan bicara seolah-olah kamu tahu segalanya tentang saya dan Za" tegas Aldy yang dengan cepat merampungkan menjembur pakaiannya.


" Loh mas Aldy mau kemana?" tanya Sofy yang melihat Aldy sudah menjauh darinya setelah selesai menjemur


Aldy tidak menghiraukan pertanyaan Sofy dan langsung masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


" Bi!" panggil Aldy saat melihat bi Ratna yang sedang berada di dapur memotong sayuran


"Eh den Aldy, iya ada apa den?" tanya bi Ratna yang langsung menoleh ke sumber suara saat Aldy memanggilnya


" Bi saya titip jemuran baju saya dan Khanza ya, kami akan pulang sekarang" sahut Aldy


" Oh iya baik den" sahut bi Ratna


" Dan tolong satu lagi bi, katakan pada Sofy untuk menjaga sikapnya, saya tidak ingin Khanza merasa tidak nyaman atas sikap Sofy yang terlalu berlebihan apalagi saat ini bibi juga tau kondisi Khanza bagaimana, dia itu sekarang mudah sensitif bi" pesan Aldy membuat bi Ratna tertunduk dan merasa malu atas sikap tidak sopan keponakannya itu.


" Saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Khanza dan bayinya bi, jadi sebisa mungkin saya akan menjaga dan melindunginya" lanjutnya lagi


" Iya den saya mengerti" ucap bi Ratna merasa tidak enak dengan Aldy selaku majikannya yang sudah mempekerjakan dirinya pada bu Khodijah.


" Terima kasih bi" ucap Aldy yang langsung bergegas masuk ke dalam kamar


" Sudah siap?" tanya Aldy saat melihat Khanza sudah menggunakan tas ranselnya


" Sudah!" Jawab Khanza


Aldy menghampiri Khanza lalu mengambil alih tas ransel yang berada di punggungnya


" Loh mas?" terkejut Khanza


" Biar mas yang bawakan sayang, kamu bawa ini saja!" Aldy memakai tas ransel milik Khanza dan menenteng laptop miliknya karena laptop Khanza sudah berada di dalam tas ransel.


" Ini!" Aldy memberikan tas kerjanya yang tidak terlalu berat


Khanza mengambil tas milik Aldy dan membawanya.


Khanza dan Aldy keluar dari kamar, ini hari Minggu Izan pun kebetulan sedang berada di ruang TV menonton kartun kesukaannya


" Kak Khanza dan kak Aldy mau kemana?" tanya Izan yang menoleh ke arahnya


" Kakak mau pulang Zan" jawab Khanza


" Tumben ini kan hari Minggu biasanya kakak baru akan pulang besok sore" ucap Izan


Khanza hanya tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Izan


" Kamu belajar yang rajin ya, biar bisa mendapatkan bea siswa ke SMA Darma Bangsa!" pesan Khanza


" Izan akan berusaha belajar dengan giat kak tapi kalau untuk mendapatkan bea siswa Izan minta maaf kalau seandainya Izan tidak bisa menyanggupinya. tapi Izan akan terus belajar kak" ucap Izan membuat Khanza tersenyum


" Iya enggak apa-apa zan, semua itu kan tergantung rezeki, ya kalau memang ada rezekinya, kamu pasti akan mendapatkannya Zan kalau pun belum rezeki insyaallah kakak pasti akan membantu kamu sebisa kakak" ucap Khanza membuat Izan merasa bangga dan bahagia punya kakak sebaik Khanza


" Terima kasih ya kak!"


" Iya" Khanza tersenyum


Aldy dan Khanza pamit pada Izan, bu Khodijah tidak berada di rumah karena sedang pergi ke pasar.


" Salam buat ibu ya Zan kakak pamit pulang!" ucap Khanza


" Iya kak " Sahut Izan menyalami punggung tangan Khanza dan Aldy bergantian sebagai salam takzim


Saat Khanza dan Aldy sudah berada di depan rumah hendak menuju mobil yang terparkir di halaman, bertepatan dengan bu Khodijah yang baru pulang dari pasar bersama bang Rahmat menggunakan motornya


" Bu!" Khanza menghampiri bu Khodijah yang baru turun dari motor


" Kalian pada mau kemana?" tanya bu Khodijah


" Za sama mas Aldy mau pamit pulang bu" sahut bu Khodijah


" Kenapa, kok enggak menginap satu malam lagi? biasanya kalian akan pulang Senin sore?" tanya bu Khodijah seraya menatap Khanza dan Aldy secara bergantian


" Enggak Kenapa-napa kok bu, biasa bu bawaan bayi mungkin Khanza jadi kangen sama kamarnya yang di apartemen" sahut Aldy memberikan alasan


" Iya bu, bawaannya tuh pingin rebahan aja di kamar Za " ucap Khanza membenarkan


" Ya udah kalau begitu kalian hati-hati ya, ingat Za jaga kondisi kamu !"


Khanza mengangguk dan memeluk tubuh bu Khodijah lalu salam takzim, begitu juga dengan Aldy pamit kepada ibu mertuanya itu dan salam takzim


" Mas Aldy!" langkah Aldy dan Khanza yang hendak masuk ke dalam mobil pun terhenti saat seseorang memanggil nama Aldy


Khanza memutar bola matanya malas lalu kembali melangkah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2