Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kelin-ci


__ADS_3

Lia sangat marah setelah tahu penyebab kenapa Zaira begitu terluka. Lia juga menyesal karena sudah membahas tentang mantan dengan kakaknya tadi sewaktu di ruang TV dan entah kenapa sangat kebetulan sekali hari itu juga Kelin menghubungi kakaknya lagi.


Di kamar kakaknya Lia memberitahu Azka perihal Zaira yang tadi menangis sesenggukan bahkan sangat sulit untuk memberhentikannya menangis.


" Kak, Za itu sahabat baik aku, jadi aku tahu banget Za itu orangnya seperti apa. Za selalu berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja setiap kali ada masalah. Dia sangat pandai menyembunyikan kesedihan dibalik senyumannya itu kak" tutur Lia bercerita.


" Kakak tahu tentang dokter Ariel kan?" tanya Lia


" Hemmm, Za sudah menceritakan semuanya kepada kakak" jawab Azka seraya menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


" Za tadi bercerita tentang rasa cintanya terhadap dokter itu"


Deggg


Azka terperanjat saat Lia mengatakan rasa cinta Zaira terhadap dokter Ariel.


" Perasaan cinta Zaira terhadap dokter itu katanya entah kenapa seketika lenyap begitu saja setelah seseorang dinyatakan SAH sebagai suaminya. perasaannya terhadap dokter itu telah ia kubur dalam-dalam, ia selalu berusaha untuk menerima kakak dan belajar mencintai kak Azka tapi hari ini dia justru terlihat begitu menyedihkan karena dia merasa begitu takut, dia takut jatuh cinta kepada kakak dan semakin jatuh lebih dalam lagi. dia takut disaat dia sudah mencintai kak Azka justru kak Azka akan berpaling dan pergi meninggalkan dirinya. mungkin karena itulah Zaira tadi sempat begitu terpuruk apalagi ia sempat mendengar secara langsung kakak yang sedang bertelponan dengan mantan kekasih kakak itu" penuturan Lia panjang lebar.


Azka hanya menghela napasnya berat rasa bersalah semakin besar terhadap isterinya.


" Zaira itu tidak pernah dekat dengan laki-laki lain selain ayahnya dan dokter itu kak. Zaira juga tidak pernah berpacaran bahkan dia sama sekali tidak peduli walaupun ada yang mengatakan dia itu gadis yang tidak normal. apa kakak tau? karena hampir semua siswa disekolah yang menyatakan cintanya kepada Zaira selalu Za tolak." Lia menepuk bahu Azka sebelum pergi.


" Za itu sangat mencintai kakak dan begitu takut kehilangan kakak tapi kalau kakak tidak mencintainya dan hanya menyakiti hati Za aja sebaiknya kakak lepaskan Za. karena dia berhak bahagia kak. Ingat kak dokter Ariel sepertinya sangat mencintai Za tadi waktu di rumah sakit dia begitu mengkhawatirkan Za. jadi semua terserah kakak memperjuangkan hati Za atau membiarkan Za kembali kepada cinta masa lalunya yang aku yakin masih setia menunggu Za kembali ke sisinya" ucap Lia yang melangkah dan berlalu pergi keluar dari kamar kakaknya.


Azka terdiam dan membeku ditempat setelah mendengar penuturan Lia adiknya sendiri yang juga merupakan sahabat baik isteri kecilnya mengenai Zaira.


" Za!" lirihnya. Azka mengacak-acak rambutnya frustasi, entah mengapa kali ini ia merasa begitu bodoh tidak peka dengan keadaan sekitar termasuk kepada Zaira.


" Tidak... itu tidak boleh terjadi" ucap Azka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya teringat dengan semua kata-kata yang Lia ucapkan kepada dirinya.


" Za tidak boleh berpaling dariku. aku akan memperjuangkan cinta isteriku itu dan dokter itu tidak akan aku biarkan mendekati Zaira lagi" ucap Azka mengepalkan tangannya kuat.


" Aku harus menemui Zaira sekarang, aku tidak mau kehilangan dia. aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini." gumam Azka


" Akhhhhh..... kenapa aku begitu bodoh!" runtuk Azka menyalahkan dirinya sendiri lalu beranjak dari duduknya dan pergi keluar menuju kamar adiknya Lia.


Tokkkk.... Tokkkk.... Tokkkk


" Li !" panggil Mona saat mendengar ketukan pintu kamarnya.


" Siapa?" teriak Lia dari dalam tapi tidak dijawab oleh Azka dia malah kembali mengetuk pintu.


Lia mendengus kesal lalu turun dari tempat tidur berjalan menuju pintu.


Ceklekk


" Kak Azka, ngapain ke sini?" tanya Lia pelan karena terkejut dengan kedatangan sang kakak.


" Kakak mau ketemu dengan Za, Mel" sahut Azka seraya mengintip ke arah dalam kamar tapi di tepuk oleh Lia.


" Kak tadikan sudah aku bilang Za nya sudah tidur" kesal Lia mendorong Azka yang hendak menerobos masuk.


" Izinkan kakak masuk Mel, kakak ingin membawa Za kembali ke kamar kakak. tolonglah Mel kakak dan Za hanya ada kesalahpahaman aja. kakak ingin menjelaskan semuanya pada Za. jadi biarkan kakak membawa isteri kakak ya Mel!" ucap Azka sedikit memohon.


Lia yang tidak pernah melihat kakaknya bersikap seperti itu sampai memohon kepada dirinya akhirnya Lia hanya bisa pasrah.


" Tapi kakak harus janji jangan pernah sakiti Za lagi kalau sampai kakak membuat Za menangis aku akan membawa Za pergi dan aku pastikan kakak tidak akan bisa menemukannya lagi" ancam Lia sebelum mengizinkan Azka masuk ke dalam kamarnya untuk membawa Zaira.


Azka masuk ke dalam kamar Lia, sontak Mia, Mona dan Indah terperanjat melihat Azka yang sudah berada di dalam kamar Lia.


" Pak Bagaz mau apa?" tanya Mia spontan.


Azka tidak menjawab pertanyaan Mia. tatapannya fokus hanya ke arah seorang gadis yang tengah meringkuk di balik selimut.


Azka perlahan melangkah mendekati Zaira, senyumnya terukir " Maaf !" hanya kata itu yang meluncur dari mulutnya.


Azka dengan sangat hati-hati meraih tubuh Zaira yang masih berada di alam mimpi tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan apa yang tengah Azka lakukan.


Dengan berjalan perlahan Azka menggendong tubuh mungil Zaira membawanya pergi ke kamar mereka. Ketiga sahabat Zaira hanya tercengang menatap kepergian Azka yang tengah menggendong Zaira sahabatnya.


Sesampainya di dalam kamar dengan sangat hati-hati Azka meletakkan tubuh Zaira di atas kasur.


Zaira hanya menggeliat sebentar dan tidak lama kemudian ia kembali terlelap. Azka hanya tersenyum tipis menatap lekat wajah Zaira yang begitu manis dan menggemaskan. wajah polos Zaira saat tidur begitu menggoda Menurut Azka dan tanpa sadar ternyata wajahnya sudah berada sangat dekat dengan wajah Zaira.


Azka sungguh tidak kuasa menahan dirinya lagi, berada di dekat sang isteri selalu membuatnya begitu candu. Azka mengecupnya sekilas namun tidak ada pergerakan sama sekali dari Zaira.

__ADS_1


" Apa kamu benar-benar sangat kelelahan sayang, sampai tidak terusik sedikit pun." ucap Azka pelan dengan seringai senyum tipis yang menghias wajah tampannya.


Azka kembali mengecup bibir mungil Zaira namun lagi-lagi sama, Za sama sekali tidak terusik, hingga dengan jahilnya Azka berkali-kali mengecup bibir isterinya sampai pada akhirnya tindakan Azka kepergok oleh Zaira.


Mata Zaira membulat sempurna tatkala melihat wajah Azka berada didepan matanya bahkan bibir mereka pun masih menempel.


Zaira terkejut dengan spontan langsung mendorong Azka dengan sangat kuat sampai mampu membuat seorang Azka yang berbadan kekar itu terhempas ke lantai.


" Awww!" pekik Azka seraya berdiri dengan wajah memberengut.


"Kenapa aku bisa berada di sini? bukankah aku tadi di kamar Lia?" gumam Zaira pelan tapi masih bisa didengar oleh Azka.


" Kamu itu tadi tidur sambil berjalan sayang" ucap Azka berbohong.


" Itu tidak mungkin!" sanggah Zaira.


" Kamu terlalu merindukan suamimu ini sayang, jadi tanpa sadar kamu kembali ke sini" goda Azka tersenyum menyeringai.


" Aku tidak percaya dengan seorang pembohong" ucap Zaira Ketus lalu memberingsut turun dari tempat tidur.


Azka merasa tersentil dengan kata-kata Zaira lalu dengan cepat ia menarik tangan Zaira yang hendak pergi keluar dari kamar suaminya.


" Kamu mau kemana?" tanya Azka sedikit tegas


" Bukan urusanmu" ketus Zaira hendak kembali melangkah namun lagi-lagi Azka mencegahnya.


" Tentu menjadi urusanku, aku suamimu jika kau lupa" ucap Azka yang mulai terbawa emosi.


" Suami yang tidak pernah memikirkan perasaan isterinya, suami yang tengah asik melepas rindu dengan mantan kekasihnya" runtuk Zaira dengan air mata yang kembali menetes.


" Apa maksudmu?" tanya Azka sedikit meninggikan suaranya.


" Kau membentakku?" sulut Zaira yang ikut meninggikan suaranya.


" Mas minta maaf_" lirih Azka


" Mas bisa jelasin semuanya, kamu jangan seperti ini sayang. kamu hanya salah paham" Azka melembutkan suaranya berusaha mengendalikan dirinya.


" Salah paham? jika kepergok bilangnya salah paham, jika tidak pasti kalian bersenang-senang bukan dibelakangku. hanya aku saja yang terlalu bodoh" ucap Zaira dengan suara keras.


" Cukup sayang, semua tidak seperti apa yang ada di benakmu saat ini, dengarkan mas dulu. Setidaknya beri mas waktu untuk bicara setelah itu terserah kamu maunya bagaimana!" Azka menekan kedua bahu Zaira lalu menangkup wajahnya agar mau mendengarkan ucapannya.


" Dengarkan mas dulu setelah itu keputusan ada di tanganmu.!" pinta Azka dengan suara yang sangat lembut.


Azka menghela napas panjang sebelum akhirnya menjelaskan semuanya kepada Zaira isteri kecilnya yang selalu membuatnya gemas dan selalu ingin bersama-sama di setiap waktu.


Azka menatap wajah Zaira lekat namun yang di tatap memalingkan wajahnya ke arah lain. Azka tersenyum tipis melihat isterinya yang tengah merajuk.


" Sayang dengarkan mas baik-baik, apa yang kamu dengar tadi itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan"


"Cihh, mau berdalih" runtuk Zaira pelan namun masih terdengar oleh Azka.


" Terserah kamu mau bilang mas apa tapi dengarkan mas dulu" pinta Azka


" Cepat katakan sebelum aku berubah pikiran!" ketus Zaira.


Lagi-lagi Azka hanya menghela nafas panjang mencoba bersabar.


" Kejadian tadi itu hanyalah kebetulan, maafkan mas yang tidak peka terhadap perasaan kamu. mas tahu tadi kamu itu pasti merasa tidak nyaman waktu mas membahas tentang Kelin dengan Meli sewaktu di ruang TV iya kan? mas tadinya hanya ingin menggoda Meli tapi malah mas yang tersandung masalah" ucap Azka mendengus kesal.


" Dan waktu kamu melihat mas sedang bertelponan dengan Kelin, sebenarnya mas sudah berkali-kali mengabaikan panggilan teleponnya termasuk waktu di meja makan"


" Itu karena ada aku" celetuk Zaira Ketus


" Bukan begitu sayang, memang sudah lama mas mengabaikan dia karena mas tidak mau kejadian seperti ini terjadi, kamu salah paham terhadap mas. tapi saat mas ingin agar Kelin tidak lagi mengganggu mas pas bertepatan dengan kamu masuk ke dalam kamar sayang" terang Azka menjelaskan.


" Mas gak mungkin berpaling dari kamu sayang, karena mas amat sangat mencintai kamu"


" Bohong" celetuk Zaira kembali.


" Terserah kamu mau percaya atau tidak sayang, tapi yang jelas mas tidak akan pernah membiarkan kamu pergi meninggalkan mas. karena mas akan mengurung kamu dengan cinta yang mas milik. " Azka menarik lembut dagu Zaira hingga menghadap ke arahnya.


" Tatap mata mas, apa kamu melihat ada kebohongan di mata suamimu ini. mas sangat mencintaimu sayang. jadi mas mohon maafkan mas yang selama ini tidak peka terhadap perasaanmu!" mata keduanya saling menatap lekat Zaira mencoba mencari kebohongan di mata Azka namun yang nampak justru sebuah ketulusan dan kejujuran.


Mata Zaira kembali berkaca-kaca dan dengan cepat Azka menghujaminya dengan kecupan berkali-kali di mata Zaira.

__ADS_1


" Mas mohon maafkan mas ya, mas janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Azka penuh harap dan Zaira pun mengangguk pelan dengan air mata yang mengalir begitu saja.


" Besok mas sudah ada janji akan bertemu dengannya" ucap Azka dan Zaira langsung mendorong tubuh Azka menjauh darinya dengan wajah yang kembali memberengut.


" Dengarkan dulu mas bicara!" Azka menarik Zaira ke dalam pelukannya namun Zaira terus memberontak.


" Mas ingin menemuinya karena mas ingin dia tidak lagi berharap kepada mas, kita selesaikan dengan baik-baik dan mas juga berharap kamu mau menemani mas bertemu dengannya" ucap Azka dan Zaira menggelengkan kepalanya.


" Tidak mas!" tolak Zaira


" Kenapa?" tanya Azka


" Aku tidak mau dia tahu hubungan kita mas karena dia adalah kakak sepupunya Irfan" ucap Zaira.


" Irfan?" Azka menyipitkan matanya.


" Siswa yang menyukai isteri mas ini?" Azka mencubit gemas hidung Zaira.


" Mas ihhh!" kesal Zaira.


" Jadi kamu takut dia tahu kalau kamu itu sudah bersuami dan dia tidak mengejar-ngejar cinta kamu lagi gitu?" tanya Azka pura-pura marah.


" Dih kenapa jadi dia yang marah sekarang?" gumam Zaira dalam hati.


" Mas cemburu?" tanya Zaira


" Cemburu? ya jelaslah mas cemburu. ingat kamu itu isteri mas dan mas gak suka ada laki-laki lain yang mendekati isteri mas " jawab Azka tegas.


Kata-kata Azka membuat jantung Zaira bergetar, oh rasanya meleleh hati Zaira dibuatnya. wajah Zaira bersemu merah membuat Azka semakin gemas melihatnya.


"Tapi mas bukan soal itu yang aku maksud. jika mantan kekasih mas si Kelin-ci itu sampai tahu hubungan kita_" ucap Zaira penuh penekanan pada setiap katanya


" Kelin aja sayang gak usah pakai di sebut kata-kata mantan kekasihnya juga!" protes Azka.


" Cihh, segitu aja protes nama mantannya di sebut Kelin-ci!" Decak Zaira dengan kesal


" Bukan masalah kamu sebut nama dia Kelin-cinya sayang tapi kata mantan kekasihnya itu bisa gak tidak usah disebut" ucap Azka membela diri.


" Iya, bagaimana kalau si Kelin-ci itu tahu aku ini istri mas dan terus dia mengatakannya kepada Irfan dan bagaimana kalau ternyata Irfan mengatakannya kepada pihak sekolah dan berita hubungan kita tersebar di sekolah. apa aku masih bisa sekolah?" terang Zaira menjelaskan.


" Aku masih mau sekolah mas dan aku juga tidak mau mas kasus kita kemarin lalu itu muncul lagi dan membenarkan tuduhan Mario terhadap kita, apalagi mas ini kan seorang guru bisa mempengaruhi pekerjaan mas nantinya" lanjutnya lagi.


Azka terdiam sejenak mencerna setiap ucapan Zaira. " Lalu kamu maunya bagaimana?" tanya Azka bingung.


Zaira berpikir sejenak setelah akhirnya menemukan sebuah ide konyol.


" Mas !" pangil Zaira


" Apa?" tanya Azka yang masih nampak berpikir.


" Mas benar ingin menemui Kelin-ci itu?" tanya Zaira memastikan.


" Iya sayang, tapi kalau kamu merasa keberatan mas akan membatalkannya" Sahut Azka


" Bagaimana kalau aku menemani mas menemui si Kelin-ci itu tapi tidak dengan identitas asliku?" ucap Zaira menyampaikan ide konyol itu.


" Maksudnya?" tanya Azka bingung


" Aku akan merubah penampilanku kebetulan disini ada Mona dan Mia mereka pasti bisa membantuku. " tutur Zaira mengatakan ide konyolnya.


" Mas benar-benar tidak paham sayang" ucap Azka yang dibuat bingung oleh ide konyol Zaira itu.


"Aku akan tetap ikut mas untuk bertemu dengannya besok tapi mas jngan memberitahu dia kalau namaku Zaira tapi sebut saja Alza!" ucap Zaira.


" Alza?" tanya Azka mengerutkan keningnya


" Iya nama aku kan Alzaira mas"


" Ya sudah terserah kamu saja sayang tapi kamu sudah maukan memaafkan kesalahan mas!" ucap Azka seraya menarik Zaira ke dalam pelukannya kembali.


" Enak saja, tidak semudah itu ya mas?" ucap Zaira dengan ketus.


" Iya... iya... terserah kamu saja. tapi untuk yang satu ini jangan larang mas ya!" Azka yang sedari tadi sudah tidak karuan di buatnya terlebih saat Zaira terlihat sangat seksi menurut Azka malam ini. akhirnya pertahanannya pun jebol, Azka langsung menyerang Zaira tanpa ampun. Awalnya Zaira memberontak namun akhirnya pasrah juga.


"Sempat-sempatnya disaat orang masih marah, dia malah seenaknya meminta jatah" gumam Zaira tapi masih terdengar oleh telinga Azka.

__ADS_1


Azka tersenyum tipis sebelum akhirnya memberikan Zaira Lum**** kembali. Zaira mendengus kesal dan berkali-kali hendak memberontak namun karena Azka melakukannya dengan sangat lembut akhirnya membuat Zaira luluh juga dan pasrah begitu saja dengan apa yang tengah Azka lakukan terhadapnya tubuhnya.


Peraduan dua insan yang saling merindukan satu sama lain itu pun tidak dapat terelakkan. sampai fajar menyapa baru mereka menyudahi aktivitasnya yang cukup menguras tenaga.


__ADS_2