Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Calon ayah yang baik


__ADS_3

Usia tidak bisa menjadi tolak ukur atas sikap kedewasaan seseorang. terkadang usia yang masih terbilang sangat muda pun bisa bersikap lebih bijak dan lebih dewasa dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapinya dari orang yang usianya bahkan lebih matang.


Sikap lembut dan penuh kasih sayang yang ada pada seorang pria tampan yang masih berstatus pelajar ketika menimang baby Zia sampai bayi mungil nan cantik itu tertidur dengan lelapnya membuat senyuman calon ibu muda yang ada di sampingnya itu mengembang sempurna bahkan tanpa terasa ia pun menitikkan air matanya.


" Sayang, kenapa menangis? apa kamu merasakan perut kamu ada yang sakit hem?" tanya Mario begitu cemas saat melihat gadis cantik eh bukan gadis lagi tapi calon ibu muda yang duduk di sampingnya tengah mengusap air matanya sambil tersenyum.


" Gak ada sayang, aku tuh benar-benar merasa kagum aja sama kamu" sahut Lia seraya melemparkan senyumnya


" Kagum?" Lia mengangguk Pelan


" Kagum kenapa?" Lia tersenyum lalu mengelus rambut bayi mungil yang masih berada di dalam gendongan Mario.


" Aku kagum karena sikap lembut kamu kepada baby Zia benar-benar membuat aku menghangat. apa nanti kalau bayi kita sudah lahir kamu akan seperti ini juga?" tanya Lia sambil menunduk dan mengusap perutnya yang masih rata.


" Dasar bodoh, ya tentu saja sayang bahkan lebih dari ini. aku ingin belajar menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak. mencurahkan mereka dengan kasih sayang dan cinta yang banyak sebanyak yang aku miliki." ucap Mario sambil terkekeh.


" Berarti semua hanya untuk anak-anak kita saja, ibunya tidak!" ucap Lia dengan sendu.


Ah Mario ternyata lupa saat ini isterinya tengah hamil muda yang pastinya mudah sekali baperan dan juga sensitif dengan kata-kata seperti itu saja bisa merasa terabaikan.


Mario tersenyum lalu menyenggol bahu Lia pelan. " Kamu itu ibunya sudah pasti akan mendapatkan cinta dan kasih sayang dariku lebih dari segalanya bahkan dari diriku sendiri, karena kamu adalah nyawaku sayang" ucap Mario begitu lembut membuat Lia langsung meleleh di buatnya.


" Terima kasih sayang" Lia menyandarkan kepalanya di bahu Mario.


" Sayang, baby Zia sudah tertidur pulas sebaiknya kita pindahkan saja ke kamarnya!" ucap Lia yang melihat Mario pasti sudah pegal.


" Iya sayang!" Mario pun beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah Lia menuju kamar baby Zia.


Mario dengan sangat hati-hati meletakkan baby Zia di dalam box bayi agar tidak terbangun.


" Za dan kakakmu kemana?" tanya Mario setelah meletakkan baby Zia ke dalam box bayinya.


" Mereka bertengkar" jawab Lia santai


" Bertengkar?" Lia mengangguk


" Kenapa?" tanya Mario seraya mengernyitkan alisnya


" Kak Azka tadi memancing emosi niatnya bercanda eh malah jadi salah paham saat aku bilang jadi maksud kak Azka yang menghamili Zaira itu Mario" ucap Lia dengan santainya tapi malah membuat Mario terbatuk-batuk.


" uhukk... uhukk" Mario melotot bisa-bisanya isterinya itu bicara seperti itu dengan santainya.


" Ka.. kamu bicara seperti itu?" tanya Mario dan Lia mengangguk.


" Ya ampun sayang, kenapa kamu bisa bicara seperti itu mana mungkin juga aku, ah sudahlah kau ini !" Mario langsung melenggang pergi keluar dari kamar baby Zia.


" Kenapa memangnya aku juga kan cuma bercanda" gumam Lia dan langsung menyusul Mario.


Saat ini Mario tengah duduk di ruang TV, Lia datang menghampirinya lalu duduk di sebelahnya.


" Kamu kenapa io, marah dengan perkataan aku tadi yang bilang kalau Za ha_ ?" pertanyaan Lia terpotong


" Cukup sayang jangan mengatakan hal itu lagi, aku bukannya marah hanya saja lain kali kalau bicara itu jangan asal keluar saja tanpa dipikir dulu dampak dari ucapan kita, walaupun niatnya hanyalah sekedar bercanda" tutur Mario membuat Lia langsung cemberut.


" Jadi kamu menyalahkan aku?" tanya Lia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mario menghela napasnya berat " Bukan menyalahkan sayang"


" Lalu apa, atau jangan-jangan benar ya kalau kamu dan Za?" ucap Lia menggantung


" Ini yang aku gak suka dari bercandaan kamu tadi. tahu kenapa ?karena sebagai seorang wanita seharusnya kamu tahu bagaimana rasanya jika kamu hamil lalu anak yang kamu kandung di bilang bukan anak aku tapi anak dari laki-laki lain. dengan kamu berkata seperti itu artinya kamu meragukan aku dan juga cinta aku ke kamu" ucap Mario yang langsung beranjak dari duduknya. Lia terkejut dengan sikap Mario yang tidak biasanya.


" Io maaf" ucap Lia lirih.


" Sebaiknya panggil kakakmu kita pulang saja!" ucap Mario dengan nada dingin.


" Io aku minta maaf, aku mengaku salah tidak seharusnya aku berbicara seperti itu. Io jangan marah lagi" ucap Lia yang sudah menitikkan air matanya.


" Aku bukannya marah, aku hanya tidak suka cara bicara kamu yang berbau hal sensitif seperti itu sebagai bahan bercandaan, bagaimana kalau sampai orang lain mendengar dan menjadi salah paham lalu tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu mereka menyebarkannya begitu saja" tutur Mario membuat Lia langsung terdiam.


" Aku tidak mau hal yang kamu anggap sepele seperti itu justru malah membuat rumah tangga kita terusik nantinya. kamu ini sedang hamil sayang, aku tidak mau kamu sampai kepikiran hal-hal yang tidak penting dan malah bisa membuat kamu stres sendiri nantinya." ucap Mario lagi.


" Maafin aku Io" suara Lia terdengar parau kalau sudah begini mana mungkin Mario tega, direngkuhnya tubuh sang isteri kedalam dekapannya lalu mencium keningnya dengan lembut.


" Iya..iya.. sudahlah jangan menangis lagi, nanti anak kita ikutan sedih kalau mommy-nya cengeng kayak gini" ucap Mario seraya mengusap air mata Lia.


" Tapi nanti saja ya pulangnya yang lain juga belum pada datang" rengek Lia dan Mario tersenyum lalu mengangguk.


" Iya sayang" Mario dan Lia kembali duduk dan Mario merebahkan kepalanya dengan paha Lia sebagai bantalannya.


Mario menghadapkan wajahnya ke perut Lia yang masih nampak rata, Mario mengusapnya dengan lembut dan sesekali mendaratkan kecupannya.


" Ekhemm!" Suara deheman membuat Lia dan Mario menoleh ke sumber suara.


" Pantas saja dari tadi orang ketok-ketok pintu gak pada dengar, ucap salam pun gak dijawab taunya lagi asik-asikan disini. Duh nasib yang belum halal" ucap Arta menggeleng-gelangkan kepalanya.

__ADS_1


Mario menggeser duduknya bersikap biasa-biasa saja tapi tidak dengan Lia yang nampak sedikit malu-malu.


" Ini yang punya rumah pada kemana?" tanya Arta


" Lagi bikin adik buat baby Zia" sahut Mario ngasal


" Sok tahu!" ucap Lia menyenggol bahu Mario


" Gak percaya lihat saja nanti kalau mereka sudah keluar" bisik Mario membuat Lia mengernyitkan keningnya.


" Emang enak ya kalau sudah halal" ucap Arta lemas


" Sabar kak, makanya yakinkan tuh yang disamping kakak kalau sudah halal itu enak" sahut Lia melirik ke Mita


" Apaan sih Li" ucap Mita dengan wajah yang sudah memerah.


" Kapan dong sayang kita bisa seperti mereka" ucap Arta tiba-tiba terdengar begitu manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Mita membuat Mita seketika menghela napasnya panjang.


" kak ih malu tau" ucap Mita


" Kenapa harus malu sama mereka kamu lihat sendiri tadi mereka aja gak punya malu" sahut Arta dengan suara pelan.


" Ishh aku masih dengar ya kak, walaupun aku dan kak Mario gak tau malu tapi kami sudah halal loh ya kak kalau kakak lupa" ucap Lia protes


" Tuh yang halal yang, kapan dong yang aku boleh halalin kamu?" Arta menggesekkan kepalanya di bahu Mita.


" Mau kakak kapan?" tanya Mita terdengar menantang membuat Arta langsung mendongak dan menatap Mita lekat.


" Kamu serius yang?" tanya Arta tak percaya


" Cuma bercanda" ucap Mita seraya menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Arta yang langsung berubah.


" Aku serius, temui papa aku ya!" ucap Mita dan langsung mendapatkan pelukan dari Arta.


" Iya sayang aku pasti akan bilang ke papa dan juga meminta segera menghalalkan kamu" ucap Arta yang penuh kebahagiaan.


" Cie... cie yang mau menuju halal sampai kita disini gak dianggap" ucap Lia membuat kedua insan yang sedang berbunga-bunga itu langsung menoleh ke arah Lia dan Mario.


" Selamat kak semoga lancar ya sampai hari H!" ucap Mario memeluk Arta setelah beranjak dari duduknya.


" Selamat ya Mita, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. cepat nyusul" ucap Lia memeluk Mita.


" Nyusul apa?" tanya Mita dan Lia langsung mengelus perutnya yang masih rata itu.


" Cepat hamil" sahut Lia


" Harus gencar bikinnya kak kalau bisa sehari 3kali" ucap Mario menggoda sang kakak sepupu.


" Udah kayak minum obat aja Rio" timpal Arta


" Berarti kalian begitu ya, sehari 3 kali?" tanya Mita menutup mulutnya sendiri karena merasa malu dengan ucapannya sendiri.


" Lebih" jawab Mario asal


" Waw!" ucap Arta menepuk bahu Mario spontan


" Ih apaan sih Io, bohong kak, Mita jangan percaya omongan Mario" ucap Lia cemberut.


" Ha... ha.. kalau pun iya juga gak apa-apa kok sayang suami kamu ini sanggup kok" ucap Mario membuat Lia semakin merajuk karena merasa malu dengan Mita


" Sudah ah jangan bicara soal itu lagi, bikin kakak gerah aja, kalian sih enak " ucap Arta sedikit protes


" Yang sabar ya kak" ledek Lia


" Assalamu'alaikum!" terdengar suara beberapa orang mengucapkan salam dari balik pintu.


" Wa'alaikum salam" sahut Lia dan yang lainnya.


Mia, Mona, Indah dan juga Dion masuk ke dalam rumah karena memang pintu rumah yang tidak dikunci setelah tadi Mita dan Arta datang.


" Sudah ada dua pasangan aja disini" ucap Mia


" Sudah lama kalian?" tanya Indah


" Ya lumayan tapi yang punya rumah masih sibuk ngadon kata Mario." sahut Arta


" Serius?" tanya Mia terbelalak


" Jangan percaya Mia, mereka cuma asal nebak" ucap Lia


" Ya sudah kita tunggu dan lihat saja nanti" Mario berjalan ke arah kamar baby Zia karena samar-samar Mario mendengar suara baby Zia yang merengek.


" Mau kemana Mario?" tanya Mita kepada Lia


" Ke kamar baby Zia, tadi baby Zia sempat rewel tapi setelah berada di gendongan Mario dia langsung diam dan berhenti menangisnya" jawab Lia.

__ADS_1


" Jiwa kebapakannya benar-benar keluar ya Mario, meskipun usianya masih terbilang muda tapi dia sepertinya sudah siap 100% untuk menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kalian kelak" ucap Mita sambil menatap Mario yang sedang berjalan sambil menggendong baby Zia.


" Bawaan bayi!" ucap Indah


" Kalian kapan menyusul?" pertanyaan itu meluncur dari bibir Mona begitu saja


" Secepatnya!" sahut Arta


" Serius?" tanya Indah


" Iya, do'akan saja!" ucap Mita


" Tentu saja, semoga kalian bisa segera menyusul Za dan juga Lia menjadi orang tua diusia muda" tutur Mona


" Amin. thanks ya Mon" ucap Mita tersenyum tipis dan Mona pun ikut tersenyum dan mengangguk pelan.


Saat mereka asik mengobrol, sedangkan Mita dan Lia sibuk di dapur membuat cemilan sementara Mona dan Indah yang membuat minuman tiba-tiba terdengar suara dari arah luar.


" Assalamu'alaikum!" terdengar suara bariton dari arah pintu


" Wa'alaikum salam" jawab Mario dan yang lainnya dan tidak berapa lama Sendy masuk bersama seorang pria yang berjalan mengekor di belakangnya.


" loe kesini juga Sendy?" tanya Arta


" Iya, gue mau cari jodoh kali aja Bertemu disini" sahut Sendy


" Iya cari jodoh Sen, jangan kerja terus yang dipikirin!" ucap Arta


" Yang lain mana?" tanya Sendy


" para cewek lagi di dapur" jawab Mario


" Yang punya rumah kemana, kok gak kelihatan?" tanya Sendy


" Sibuk bikin adik buat baby Zia" sahut Arta seraya menggoda baby Zia yang berada di gendongan Mario.


" Yang benar?" tanya Sendy geleng-geleng kepala


" Benar apanya?" tanya seorang bapak muda yang datang menghampiri mereka


" Pinter ya nitipin anaknya" sahut Sendy saat Azka duduk di sofa depan Mario


" Pantas anaknya rewel tadi kepingin di gendong uncle nya, ternyata anaknya merasa kasihan sama papanya yang udah lama gak dapat asupan ya sayang?" ucap Mario sambil tertawa kepada baby Zia yang begitu menggemaskan.


" Kak, baby Zia nampaknya haus" ucap Mario saat baby Zia mulai menggerakkan mulutnya mencari asi sang mama.


Azka segera beranjak dari duduknya dan mengambil baby Zia dari gendongan Mario.


" Biar aku kasih ibunya" ucap Azka lalu pergi ke kamarnya dimana Zaira baru saja selesai mandi.


" Kamu itu bukannya murid yang tadi keluar dari ruang kepala sekolah ya?" tanya Dion kepada seseorang yang berdiri di samping Sendy


" Iya kau benar, namaku Prayoga putra Pratama!" jawabnya seraya tersenyum ramah


" Sudah aku duga!" gumam Mario pelan namun masih terdengar oleh Arta


" Kau sudah tahu?" tanya Arta


" Pirasat aku yang mengatakannya" jawab Mario enteng


" Bagaimana kalau kita ke taman belakang saja" ajak Azka


" Ide bagus" ucap Arta dan berjalan mengikuti Azka begitu juga dengan yang lainnya


" Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Mario saat duduk bersama putra


Putra menaikkan satu alisnya menatap Mario dengan lekat. " Kau mengenalku?" tanya putra membuat Mario tertawa kecil


" Kau meragukan ku?" tanya Mario membuat putra terkekeh.


" Sungguh hebat, kepekaan seorang Mario memang tidak bisa diremehkan" ucap putra bangga


" Jangan berlebihan" ucap Mario


" Keadaan aku baik hanya saja sangat disayangkan aku tidak bisa lulus bersama kalian" ucapnya


" Gak apa-apa, loe bisa bareng gue lulus tahun depan" ucap Dion


" Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Arta


" Apa kau akan berterus terang?" tanya Azka kali ini yang bertanya


" Entahlah!" sahut putra


" Makanan dan minuman sudah siap!" teriak Lia membuat para cowok menoleh ke arah Lia yang berjalan bersama teman-temannya.

__ADS_1


" Kau!" tanya Mia dan Mona bersamaan


__ADS_2