
Pulang sekolah
Di parkiran sekolah Zaira tengah menunggu Lia dan Mia yang sedang ke toilet, sementara Indah dan Mona berjalan menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari mobil Lia.
" Cihh... Gadis sok polos tapi suka godain laki-laki dewasa parahnya lagi guru sendiri dijadikan sasaran" cibir seorang siswi yang berjalan bersama kedua temannya dan menatap Zaira dengan tatapan benci.
Putri Anastasya yang merupakan anak kelas 12 yang kini berjalan mendekati Zaira bersama kedua sahabatnya yaitu angel dan Rara.
" Eh anak yang sok jual mahal dan sok kecakepan. jangan sombong dulu loe karena udah bisa bebas gitu aja dari perbuatan kotor loe yang malah menjadikan Mario sebagai tumbal kebejatan loe ya" Dengan kasar Putri mendorong dada Zaira hingga membuat Zaira mundur beberapa langkah.
" Mau loe apa sih, gue gak ada urusan ya sama loe loe pada" kesal Zaira yang malah menyulut emosi Putri dan teman-temannya.
" Loe ngaca dong, ya setidaknya sadar dirilah. siapa loe itu? berani-beraninya loe godain Mario dan tadi ngapain loe deket-deketin Irfan, loe tau Irfan itu cowok gue dasar cewek mur*han loe!" ucap Angel yang menghina Zaira membuat Zaira mengepalkan tangannya kuat. Dari kelas 10 Angel memang sudah ngefans dengan Irfan namun berkali-kali ia menyatakan perasaannya irfan selalu saja menolaknya.
"Awas aja loe kalau gue lihat loe berani deket-deketin Irfan lagi!" ancam Angel.
Putri menyenggol bahu Angel " Kita pergi!" ajaknya saat melihat Lia dan Mia.
" Li itu!" tunjuk Mia dan Lia langsung melihat ke arah yang di tunjuk Mia.
" Shit!" Ucap Lia yang berlari meninggalkan Mia begitu saja menghampiri Zaira yang sedang diganggu oleh Putri dan kedua temannya.
Mia ikut berlari mengejar Lia yang berlari mengarah ke tempat Zaira berada.
Tapi sayangnya saat Lia tiba dihadapan Zaira, Putri, Angel dan Rara sudah pergi duluan.
" Loe gak apa-apa Za?" tanya Lia dengan napas ngos-ngosan kemudian disusul oleh Mia.
" Gue gak apa-apa kok, thanks ya!" ucap Zaira biasa saja walaupun sebenarnya dalam hatinya sakit atas ucapan Angel yang mengatakan dirinya wanita mur*han.
" Yakin loe gak apa-apa Za, tuh nenek sihir gak pada nyakitin loe kan Za?" tanya Mia yang terlihat khawatir karena memang sudah hafal siapa Putri dan kedua temannya itu. Putri sangat ambisius jika sudah menginginkan sesuatu dan dia juga memang terkenal anak yang sombong dan arogan bahkan suka meremehkan orang.
" Iya gue gak apa-apa, mereka cuma nyapa gue tadi" bohong Zaira.
" Iya gue percaya, dia nyapa loe kan? nyapa ngajak perang" ucap Lia yang merasa yakin pasti Putri sudah berbuat macam-macam dengan Zaira.
" Sudah yuk ah, jangan bahas dia lagi. ayo kita berangkat sekarang aja " ajak Zaira yang tidak mau membahas sikap Putri dan teman-temannya karena bagi Zaira itu sangat tidak penting.
" Za!" panggil Lia saat mereka sudah ada di dalam mobil
" Iya, ada apa?" tanya Zaira yang lagi-lagi melempar pandangannya ke sisi jendela mobil.
" Loe udah minta izin kak Azka kan kalau kita mau ke rumah sakit?"
" Sudah, katanya kalau nanti dia tidak sibuk dia akan jemput gue disana" sahut Zaira.
" Tunggu dulu kak Azka ? bukannya suami loe itu pak Bagaz ya Za? kok gue jadi telmi gini ya?" tanya Mia yang merasa bodoh sendiri.
" Iya, emang menurut loe siapa?" tanya Zaira balik
" Lalu kak Azka itu siapa dan kenapa loe harus pamit sama dia?" tanya Mia yang seketika berubah menjadi bingung sendiri.
" Nanti loe bakalan tau sendiri!" ucap Lia yang langsung masuk ke dalam mobilnya yang sedetik kemudian disusul oleh Zaira dan Mia yang duduk di belakang.
" Mona sama si Indah mana?" tanya Mia seraya mengedarkan pandangannya keluar.
" Tuh mobil mereka!" tunjuk Zaira saat mobil Mona melaju mendekat ke arahnya.
Lia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan Zaira langsung memasang seatbeltnya.
Mereka semua pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mita yang masih di rawat.
Sekitar 20 menit akhirnya mobil yang di kendarai Lia dan Mona tiba di rumah sakit Cahaya Medika.
Lia, Zaira dan Mia turun dari mobil tidak lama dari mereka Mona dan Indah pun turun dari dalam mobil.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar perawatan Mita.
" Assalamu'alaikum!" ucap Mereka serempak memasuki kamar rawat Mita.
" Wa'alaikum salam" sahut Rosa dan juga Mita.
" Kalian" Mita nampak berbinar melihat kedatangan para sahabatnya.
Zaira menghampiri Rosa dan di ikuti oleh yang lainnya mereka semua menyalami Rosa.
" Gimana keadaan loe Mit?" tanya Zaira
" Alhamdulillah Za gue udah sehat, besok juga dokter sudah memperbolehkan gue pulang" jawab Mita yang nampak gembira.
" Syukur Alhamdulillah" jawab Zaira dan teman-temannya serempak.
Tokkkk... tokkkk... tokkkk..
Pintu terbuka muncul dokter Ariel bersama seorang suster yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
" Selamat sore Mita!" sapa dokter Ariel
" Sore dokter" sahut Mita yang nampak gugup.
" Bagaimana kabarnya hari ini, apa ada keluhan?" tanya dokter Ariel
" Tidak ada dokter" jawab Mita yang sudah jedag jedug detak jantungnya tidak beraturan.
" Kondisi kamu sudah sangat baik, jika sudah tidak ada keluhan lainnya besok pagi kamu sudah boleh pulang" tutur dokter Ariel menjelaskan.
" Iya dokter terima kasih" ucap Mita.
" Kalau sudah tidak ada keluhan lainnya,saya permisi ya. Jangan lupa diminum ya obatnya" pesan dokter Ariel.
" Iya dokter" Mita tersipu malu-malu.
Dokter Ariel melihat kesekitar dan pandangan matanya bersitatap dengan Zaira.
" Alzaira!" Sapa dokter Ariel saat melihat Zaira.
" Kak" Zaira menjawab sapaan dokter Ariel dengan perasaan yang sulit di ungkapkan
" Emmm.. bisa kita bicara sebentar!" pinta dokter Ariel membuat semua yang ada di dalam ruangan tersebut saling melempar pandangannya.
Lia membuang muka merasa tidak suka melihat Zaira berdekatan dengan laki-laki lain.
" Al !" panggil dokter Ariel lagi karena belum mendapat jawaban dari Zaira.
" Emmmm... " Zaira nampak bingung, disatu sisi memang dia sangat merindukan kakaknya Ariel dan ingin sekali menceritakan semuanya kepada dokter Ariel tentang apa yang telah terjadi selama ini namun disisi lain dia juga tidak ingin kisah masa lalunya bersama dokter Ariel menjadi pemicu masalah yang dapat merusak hubungannya dengan suaminya kelak.
" Maaf kak untuk saat ini aku rasa aku tidak bisa" tolak Zaira dengan halus.
" Baiklah kalau begitu tapi lain waktu kakak harap kamu tidak akan menolak lagi Al"
" Aku akan usahakan kak" ucap Zaira yang tidak ingin mengecewakan seorang pria yang kini hanya dianggapnya sebagai kakak tidak lebih.
" Baiklah, kalau begitu mari semuanya saya permisi dulu " pamit dokter Ariel yang keluar dari ruangan tersebut di ikuti oleh seorang suster.
Setelah dokter Ariel keluar semua pandangan mata mengarah ke Zaira.
" Kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanya Zaira yang merasa risih
" Emmmm.... sayang mama keluar dulu " ucap Rosa yang tidak mau mengganggu kebersamaan putrinya dengan sahabat-sahabatnya.
" Mama mau kemana?" tanya Mita
" Gak deh ma"
" Za loe kenal sama dokter Ariel?" tanya Mita antusias setelah mama Rosa pergi ke kantin.
" Iya Za kok loe bisa seakrab itu sama tuh dokter, bahkan kemarin kalian sampai berpel_" ucapan Indah terpotong oleh tatapan Lia yang begitu tajam.
" Sampai apa?" tanya Mita membuat indah gelagapan sendiri karena takut salah bicara.
" Sampai... sampai berbicara seakrab itu" sahut Indah yang jadi gugup sendiri.
" Oh kirain apa" ucap Mita yang kemudian menatap lekat ke Zaira yang nampak melamun.
" Za!" panggil Mita namun Zaira tidak bergeming.
" Za, Woyyy!" tegur Mona menyenggol bahu Zaira cukup keras hingga akhirnya membuat Zaira terkesiap.
" Ah iya kenapa?" tanya Zaira yang sempat melamun.
" Loe itu melamunkan siapa? ingat loe itu sudah berstatus!" ketus Lia yang tidak suka Zaira berdekatan dengan laki-laki lain selain kakaknya.
" Loe kenapa sih Li kok ketus gitu sama Za?" tanya Mia yang merasa aneh dengan sikap Lia
tapi tidak dengan Mita karena tentu saja dia tahu alasannya.
" Tau ni Lia" timpal Mona yang membuat Lia memutar bola matanya malas.
" Sorry gaess, bukan gue gak mau cerita tapi gue butuh waktu. ceritanya terlalu panjang tapi intinya gue memang kenal sama dokter Ariel. dan maafin gue Li, gue tahu kok batasan gue. Gue juga gak akan menerima permintaan dokter Ariel untuk berbicara berdua dengannya jika tidak ada izin dari suami gue Li." ucap Zaira yang merasa posisinya terasa sulit saat ini.
Sebenarnya jauh di lubuk hati Zaira ia ingin sekali berbicara berdua dengan dokter Ariel, setidaknya dia bisa menceritakan semua kejadian selama kepergian dokter Ariel dari rumah. Melihat dokter Ariel secara tidak langsung mengingatkan Zaira dengan almarhum ayahnya yang dulu memang begitu menyayanginya.
Zaira memilih duduk di sofa dan bersandar menghela napas panjang lalu memejamkan matanya.
Mita merasakan ada sesuatu yang Zaira simpan dan ia yakin itu pasti sangat berat. ia tidak pernah melihat Zaira selemah itu selain saat ayahnya meninggal. Begitu juga dengan Lia entah mengapa melihat raut wajah Zaira yang berubah sendu membuat hatinya tercabik karena sempat berperasangka yang tidak baik.
Lia berjalan menghampiri Zaira sementara temannya yang lain hanya memperhatikan keduanya yang memang sangat dekat di sekolah. " Za !" panggil Lia, Zaira membuka matanya dan tersenyum sekilas.
Lia ikut duduk disamping Zaira dan bersandar " Sorry Za kalau gue tadi sampai mengabaikan perasaan loe, gak seharusnya gue bersikap begitu tanpa tau alasan loe. gue_" Lia menggantungkan ucapannya.
" Gak apa-apa kok, gue juga ngerti posisi loe. mungkin seandainya gue jadi loe gue juga pasti bersikap yang sama" ucap Zaira dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.
__ADS_1
" Ini kenapa sih kok jadi melow gini setelah kedatangan tuh dokter?" tanya Mia yang jadi gak nyaman dengan kebaperan yang terjadi di ruangan tersebut.
" Tau nih, udah gak usah bahas itu dokter lagi. kita percaya kok Za loe nanti bakal cerita sendiri sama kita. kalau saat ini loe belum siap untuk cerita sama kita-kita gak apa-apa kok Za. Udah dong jangan melow lagi. " sahut Mita.
Zaira kembali tersenyum dan beranjak dari duduknya di ikuti oleh Lia dan berjalan menghampiri Mita dan sahabat-sahabatnya.
" Terima kasih ya gaess!" ucap Zaira lalu mereka semua berpelukan.
Zaira dan teman-temannya saat ini sedang bercerita, bercanda dan saling menggoda satu sama lain ya seperti biasa saat mereka sedang kumpul dan tentu saja Indah yang selalu menjadi bahan candaan mereka.
keakraban dan keseruan mereka seketika pudar saat bunyi ponsel dari dalam tas Zaira berdering.
" Za ponsel loe bunyi!" ucap Mia yang posisinya dekat dengan tas Zaira.
" Iya" Zaira lalu membuka tasnya dan meraih benda pipih yang masih berdering.
" Assalamu'alaikum!" ucap Zaira saat menerima telepon.
" wa'alaikum salam, kamu lagi dimana sayang?" tanya Azka dari seberang telpon.
" Masih di rumah sakit" jawab Zaira jujur
" Apa kamu bertemu lagi dengan dokter itu?"
" Iya!" jawab Zaira singkat.
" Apa? jadi kamu datang ke rumah sakit sengaja ya karena ingin bertemu dengan dokter itu?" tanya Azka yang sudah terbakar api cemburu dan langsung beranjak dari meja kerjanya karena saat ini Azka memang sepulang mengajar papa Sam memintanya untuk pergi ke kantor.
Zaira menghela napasnya panjang dan hal itu tentu saja menjadi pusat perhatian para sahabatnya.
" Jangan bisanya marah-marah disitu tanpa tau kebenarannya. sudah cepat kesini jemput isterimu ini sebelum dokter itu menculiknya dan hendak membawanya pergi" Zaira langsung memutuskan sambungan teleponnya . Zaira tersenyum sendiri menatap layar ponselnya dan merasa geli sendiri dengan kata-katanya tadi tanpa ia sadari ke lima sahabatnya sedang menatapnya penuh selidik.
"Ehemmm" Suara deheman menyadarkan Zaira dan langsung menoleh ke arah para sahabatnya yang tengah menatapnya lekat. Zaira yang merasa salah tingkah pun hanya cengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Seketika semuanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Zaira yang lucu menurut mereka.
" Cie si isteri yang minta di jemput suami pake bilang mau diculik segala" goda Mita.
wajah Zaira bersemu merah duh rasanya malu ingin menghilang seketika.
" Za... Za... pakai mengancam segala, udah bucin emang pak Bagaz sama loe?" tanya Mona yang ikut menggoda Zaira.
" Bucin tingkat akut sih ini kayaknya" celetuk Lia
" Seberapa lama ya pak Bagaz sampai kesini dan seberapa bucinnya ya?" penasaran Mona.
" Wah Mon hati-hati iri loe" ucap Indah.
" Iri bilang bos!" sahut Mona
membuat tawa semuanya pecah.
Dengan kecepatan penuh Azka mengendarai mobilnya untung kondisi jalan hari ini tidak sepadat biasanya. hanya butuh waktu 15 menit untuk Azka sampai di rumah sakit Cahaya Medika.
Zaira terkejut saat pintu kamar rawat Mita terbuka dan muncullah seorang pria yang sedari tadi sedang di tunggunya.
" Assalamu'alaikum!" ucapnya
" Wa'alaikum salam" jawab semuanya serempak.
" Hai Mita, bagaimana keadaan kamu?" tanya Azka yang melewati Zaira begitu saja tanpa menyapanya. merasa di cuekin membuat Zaira panas sendiri.
" Alhamdulillah pak sudah baikkan dan besok juga sudah boleh pulang" jawab Mita yang melirik Zaira menekuk wajahnya.
" pak Bagaz naik apa kesinj kok cepat banget sampainya?" tanya Mona
" Naik pesawat jet!" seloroh Azka.
" Cius pak?" tanya indah polos.
" serius, karena saya takut isteri saya diculik jadi langsung buru-buru kesini naik pesawat jet" Azka membual melirik Zaira
" Wah hebat ya pak Bagaz!" dengan polosnya indah percaya dan teman-temannya yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat kepolosan Indah.
ponsel Zaira kembali berdering. seketika wajah Zaira berubah pucat. Zaira nampak gugup antara ingin mengangkat atau mengabaikannya.
Azka menoleh ke Zaira lalu berjalan menghampirinya. Azka meraih ponsel Zaira yang masih berdering melihat nama yang tertera di layar ponsel membuat darahnya mendidih.
Zaira menghela napas dan memejamkan matanya sebentar.
" Untung suamiku datang tepat waktu jika tidak mungkin isterinya sudah di culik" ucap Zaira dengan senyum yang sulit untuk diartikan.
Azka mengembalikan ponsel milik Zaira dan menatapnya dengan tajam. Zaira tertunduk takut melihat api amarah yang tersirat di dalam bola mata Azka.
Suasana nampak tegang tidak ada satupun yang berani bicara termasuk Lia. melihat raut wajah Azka yang berubah garang membuat semuanya bungkam.
__ADS_1
" Aku akan memberimu hukuman!" tegas Azka membuat yang mendengarnya menciut.
Sedetik kemudian." Aaaaaaaaaaaaaa!" teriak Zaira.