Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Season 2 Khanza


__ADS_3

Usai menikmati makan malam bersama, Khanza dan keluarganya berangkat bersama tuan Sam dan mama Maria menuju ke kota x.


Sesampainya di kota x mereka langsung menuju kesebuah penginapan yang tentunya sudah dipersiapkan oleh tuan Sam untuk mereka beristirahat terlebih dahulu karena keesokan harinya mereka harus pergi ke rumah sakit menemui mamanya Aldy yang tengah di rawat.


Hari ini Khanza dan Izan izin tidak masuk sekolah dan tentunya mereka mendapatkan izin langsung dari pemilik yayasan. Khanza yang sudah bangun lebih pagi kini tengah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


Sedari semalam Khanza tidak bisa tidur dengan nyenyak, pikiran dan hatinya begitu gelisah membayangkan dirinya yang akan segera berstatus menjadi isteri orang.


Khanza berkali-kali menghembuskan napasnya panjang, meskipun sudah berusaha untuk menenangkan hatinya tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisah dan juga kegugupannya.


Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya kalau Khanza akan menikah diusia yang terbilang sangat muda terlebih orang yang akan menjadi suaminya kelak adalah gurunya sendiri.


" Guruku suamiku" batin Khanza seraya menatap dirinya sendiri di pantulan cermin yang ada di hadapannya.


" Apa aku bisa menjalani semua ini dengan baik?" gumam Khanza


" Insyaallah bisa sayang" jawab Bu Khodijah yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya


" Asalkan hatimu ikhlas dan ridho menjadikan nak Aldy sebagai pendamping hidupmu, semua pasti akan berjalan dengan baik nak. percayalah semua ini pasti akan ada hikmahnya. pesan ibu jadilah isteri yang baik nak, tanggung jawab ibu akan beralih kepada suamimu kelak, hormatilah suamimu dan juga jaga kehormatannya, jangan membantah segala ucapannya selama ucapannya menyeru pada kebaikan. kamu adalah putri ibu yang sangat ibu sayangi dan kamu juga putri ibu yang berbakti. Setelah ijab qobul diucapkan oleh nak Aldy dan para saksi menyatakan sah maka saat itulah kamu harus berbakti kepada suamimu" pesan bu Khodijah kepada putrinya sebelum berangkat ke rumah sakit untuk melangsungkan acara ijab qobul.


" Bu..!" Khanza tidak bisa menahan kesedihannya lagi ia pun terisak dalam pelukan sang ibu.


" Kak... Bu.. sebenarnya apa yang terjadi kenapa kak Khanza harus menikah bu? kakak masih sekolah kenapa menikah?" tanya Izan yang tengah berdiri di ambang pintu dan sempat mendengar ucapan bu Khodijah dengan Khanza


" Ada satu hal yang masih belum kamu pahami Izan, suatu hari kamu pasti akan mengerti" ucap Khanza yang sudah mengurai pelukannya lalu menghapus air matanya dengan kasar.


" Tetapi kenapa kakak harus menikah, lalu bagaimana dengan sekolah kakak?" tanya Izan yang mengkhawatirkan keadaan kakaknya


" Kakak masih bisa sekolah seperti biasa tapi dengan syarat kamu tidak boleh mengatakan tentang pernikahan kakak dan pak Aldy pada siapapun" sahut Khanza


" Sebenarnya ada apa kak, kenapa kakak harus menikah dengan pak Aldy ?" tanya Izan yang semakin penasaran.


" Dan kenapa pernikahan kakak harus di tutup-tutupi?" lanjutnya lagi


" Izan ini masalah orang dewasa yang belum cukup kamu pahami dan kamu masih terlalu dini untuk mengetahui hal semacam ini." ucap Khanza seraya mengacak-acak rambut Izan gemas.


Tok


Tok


Tok


Suara pintu kamar Khanza di ketuk oleh mama Maria yang sudah berdiri di ambang pintu, mama Maria datang untuk menjemput mereka pergi ke rumah sakit.


" Mama!" seru Khanza menoleh ke arah pintu kamarnya yang diketuk, begitu juga dengan bu Khodijah dan Izan yang ikut menatap ke arah pandangan mata Khanza dan melihat wanita cantik paruh baya yang nampak begitu anggun


"Apa kalian sudah siap?" tanya mama Maria seraya tersenyum


" Sudah mah!" sahut jawab Khanza yang sudah beranjak dari duduknya


Setelah semua selesai dengan aktifitasnya masing-masing Khanza dan yang lainnya mengikuti langkah mama Maria menuju ruang tamu yang sudah ada tuan Sam yang tengah duduk manis dengan gawai ditangannya


" Pah!" seru mama Maria yang melihat tuan Sam tengah duduk manis sambil mengetik sesuatu di layar ponselnya.


"Apa semuanya sudah siap sayang?" tanya tuan Sam yang melihat kedatangan sang isteri


" Sudah pah!" ucap mama Maria menunjuk dengan ekor matanya ke arah Khanza, ibu dan adiknya.


" Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang!" tuan Sam beranjak dari duduknya berjalan lebih dulu dan mereka mengekor di belakangnya


Setelah 15 menit perjalanan mereka pun kini sudah sampai di depan rumah sakit.


" Ayo sayang masuk!" mama Maria merangkul bahu Khanza yang masih diam saja berdiri di depan pintu ruang perawatan mamanya Aldy.


" Tidak apa-apa sayang, semua pasti akan berjalan dengan baik!" ucap mama Maria yang mengerti akan gelisahan Khanza.


" Ayo masuk!" ajak mama Maria kembali lalu Khanza menatap sekilas manik mata mama Maria yang nampak begitu tenang dan sedetik kemudian Khanza pun mengangguk dan beriringan masuk ke ruangan tersebut bersama mama Maria.


" Assalamu'alaikum!" ucap papa Sam yang lebih dulu masuk ke ruangan tersebut.


" Wa'alaikum salam" jawab bu Titin mamanya Aldy


" Tuan sudah datang?" sapa bu Titin yang melihat tuan Sam datang bersama asisten pribadinya dan juga bu Khodijah dan Izan dibelakangnya


" Bagaimana keadaanmu?" tanya tuan Sam


" Tidak lebih baik sebelum aku melihat putraku menikah" jawabnya sendu


" Bersabarlah, sebentar lagi keinginan mu akan terwujud jadi semangatlah untuk sembuh" ucap tuan Sam


" Lalu dimana Aldy?" tanya tuan Sam yang tidak melihat keberadaan Aldy di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


" Dia pergi keluar dengan Aris" jawab bu Titin dan tuan Sam mengangguk mengerti


" Oiya, perkenalkan ini Bu Khodijah dan yang ini putranya Izan" ucap tuan Sam saat teringat dengan keberadaan bu Khodijah.


" Saya bu Khodijah!" ucap bu Khodijah memperkenalkan diri


Bu Titin tersenyum dan menyambut uluran tangan bu Khodijah " Saya Titin mamanya Aldy!" ucap bu Titin yang juga memperkenalkan diri


" Saya sudah banyak mendengar cerita anda" ucap bu Khodijah


Ceklekk


Pandangan mereka semua teralihkan kearah pintu yang terbuka dan menyembulah dua wanita cantik yang beda generasi.


" Nah itu putri bu Khodijah namanya Khanza" tuan Sam memperkenalkan Khanza yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut bersama mama Maria.


" Khanza? nama yang cantik secantik wajahnya" ucap bu Titin memuji


" Assalamu'alaikum tante, bagaimana keadaannya?" sapa Khanza yang berjalan mendekati bu Titin bersama mama Maria lalu menyalami punggung tangannya


" Wa'alaikum salam, sudah jauh lebih baik setelah melihat gadis secantik kamu " sahut bu Titin


" Tante terlalu memuji berlebihan" ucap Khanza tersenyum ramah.


" Loh nak Aldy nya mana jeng?" tanya mama Maria yang tidak melihat keberadaan Aldy


" Tadi pamit keluar bersama Aris" jawabnya sambil tersenyum


Ceklekk


Pintu ruangan tersebut kembali dibuka dan muncullah sosok pria tampan bersama 2 orang pria paruh baya dan dibelakang mereka ada seorang dokter senior bersama asistennya yang juga baru datang untuk memeriksa keadaan bu Titin.


" Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikum salam" jawab serempak Khanza dan yang lainnya.


" Pah, mah!" Aldy mendekati tuan Sam lalu menyalami punggung tangannya begitu juga kepada mama Maria dan Bu Khodijah


" Permisi!" ucap seorang dokter senior yang tidak lain adalah dokter Malik.


" Dokter!" ucap Aldy


" Maaf saya mau memeriksa kondisi kesehatan pasien" ucap dokter Malik


Khanza, bu Khodijah dan mama Maria yang berdiri tidak jauh dari brankar bu Titin langsung menggeser dan memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Sekitar 15 menit memeriksa kondisi kesehatan bu Titin dokter Malik menghampiri Aldy dan tuan Sam yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur pasien


" Bagaimana keadaan ibu saya dokter?" tanya Aldy antusias


" Alhamdulillah kondisi pasien sudah jauh lebih baik dari yang kemarin, mungkin karena hati bu Titin sedang senang jadi kondisinya kesehatannya semakin meningkat" jawab dokter Malik.


" Syukurlah kalau begitu" ucap Aldy lega.


" Malik!" papa Sam menepuk bahunya


" Ada apa, sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin kau bicarakan dengan ku?" tanya dokter Malik


" Kau ini sungguh pandai menebak" tuan Sam tertawa


" Siapa mereka?" tanya dokter Malik sedikit berbisik


" Kau pasti sudah tahu siapa mereka" jawab tuan Sam


" Memangnya siapa lagi yang ingin kau nikahkan?" bisik dokter Malik


" Kau tentu tahu bagaimana kondisi pasien dan kemarin dia meminta putranya menikah sebelum penyakitnya semakin parah "


" Oh begitu, lalu apa yang bisa aku bantu?" tanya dokter Malik


" Jadilah saksi pernikahan mereka" pinta tuan Sam menunjuk ke arah Aldy dan Khanza bergantian dengan ekor matanya.


Dokter Malik menarik napasnya dalam setelah itu mengangguk pelan " Baiklah itu tidak masalah bagiku" ucapnya santai


Aldy menoleh ke arah Khanza mengajaknya keluar sebelum acara ijab qobul dimulai.


" Khanza bisa kita bicara sebentar?" tanya Aldy


Khanza menoleh ke arah ibunya dan sedetik kemudian bu Khodijah mengangguk


" Iya!" jawab Khanza

__ADS_1


" Ikut aku sebentar" Aldy berjalan lebih dulu dan Khanza mengekor di belakangnya.


🖤


Khanza dan Aldy berada di luar ruangan, mereka duduk di bangku tunggu. untuk beberapa saat keduanya masih terdiam sampai pada akhirnya Khanza membuka suara.


" Apa sebenarnya yang ingin pak Aldy bicarakan, kenapa sedari tadi hanya diam?" tanya Khanza yang sudah jenuh menunggu Aldy bicara tapi masih diam saja


" Apa kamu masih ingin melanjutkan pernikahan ini jika kamu tahu tentang masa lalu keluargaku?" tanya Aldy dengan pandangan mata yang lurus ke depan


" Aku takut kau akan membenciku setelah tahu tentang kesalahan fatal yang sudah dilakukan mamahku" ucapnya lagi dengan menundukkan pandangannya


" Selama masih ada waktu untuk membatalkannya sebaiknya kau batalkan pernikahan ini dan pergilah cari kebahagiaan mu sendiri" lanjutnya


" Kesalahan mamahku cukup besar dan aku tidak mau kau menyesal setelah kita menikah nanti"


Aldy menarik napasnya dalam-dalam setelah itu tersenyum getir.


" Mamah adalah seorang pembunuh dan saat ini masih dalam masa tahanan"


" Jadi sebaiknya batalkan saja pernikahan ini dari pada kau menjadi isteri dari anak seorang pembunuh"


Khanza menoleh ke arah Aldy lalu tersenyum kecut


" Jika aku berada di posisi bapak, apakah pak Aldy akan membatalkan pernikahan ini begitu saja, apakah pak Aldy akan membenci saya setelah tahu saya adalah seorang anak dari seorang pembunuh?" tanya Khanza yang langsung membuat pak Aldy menoleh ke arahnya


" Apakah pak Aldy akan membiarkan harapan terakhir dari seorang ibu yang ingin melihat anaknya menikah tidak dapat terwujud?"


" Saya sudah tahu semuanya pak dan setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. saya tidak pantas menilai baik dan buruknya masa lalu orang lain karena saya sendiri pun tidak luput dari salah dan dosa" ucap Khanza datar


" Setiap orang punya kesempatan untuk bertaubat dan saya rasa mamanya pak Aldy sudah mengakui kesalahannya dan mau bertaubat . jika Allah saja maha pengampun kenapa kita sebagai makhluknya tidak bisa memaafkan kesalahannya." lanjut Khanza


" Aku tidak mau menjadi anak durhaka yang membuat kecewa ibuku untuk kedua kalinya, dan aku juga tidak mau mengecewakan mama Maria yang selalu bersikap baik padaku. meskipun pernikahan kita tidak akan berlangsung lama tapi setidaknya marilah kita bahagiakan mereka, terutama mamanya pak Aldy yang tengah sakit keras." Khanza beranjak dari duduknya sementara Aldy masih duduk mematung dan mencerna setiap ucapan Khanza


Khanza masuk ke dalam ruangan itu kembali dan meninggalkan Aldy begitu saja.


Tidak lama Aldy sudah masuk kembali dan akhirnya prosesi pernikahan pun diselenggarakan secara sederhana dan hanya disaksikan oleh beberapa orang saja.


Degup jantung Khanza seakan terhenti ketika kata Sah terdengar jelas ditelinganya.


Seorang gadis yang masih berstatus pelajar kini sudah sah menjadi isteri dari seorang Aldiansyah sang guru disekolahnya. Tidak henti-hentinya Khanza meremas jemari tangannya meluapkan rasa gugup yang menggelayuti hatinya.


Aldy menyematkan cincin pernikahannya di jari manis Khanza begitu juga sebaliknya, setelah itu Khanza mencium punggung tangan Aldy dan Aldy membalas dengan mendaratkan kecupan di kening Khanza.


Ada perasaan aneh yang Aldy rasakan saat untuk pertama kalinya ia mencium kening Khanza yang kini sudah berstatus sah dimata hukum dan agama sebagai isterinya.


Setelah acara sungkeman dan pemberian wejangan selesai dan Bu Titin terlihat begitu bahagia karena bisa menyaksikan putra pertamanya menikah tiba-tiba saja hal yang tidak diinginkan pun terjadi.


Bu Titin mama dari Aldy yang tadinya nampak begitu bahagia tiba-tiba saja ngedrop dan tidak sadarkan diri.


Aldy teramat panik melihat keadaan mamanya yang tiba-tiba pingsan, dokter Malik yang masih berada di ruangan tersebut langsung memeriksa keadaan pasiennya dan meminta Aldy dan yang lainnya untuk keluar dari ruangan tersebut.


" Maaf sebaiknya kalian semua keluar dulu biar kami periksa keadaan pasien" ucap dokter Malik.


Aldy nampak begitu cemas begitu juga yang lainnya. Khanza mendekati Aldy yang sedari tadi terus berjalan bolak balik didepan ruangan tersebut.


" Pak, sebaiknya pak Aldy duduk dulu dan tenangkan diri bapak. banyak-banyak berdoa pak semoga mama pak Aldy dalam keadaan baik-baik saja" ucap Khanza mencoba menenangkan hati Aldy.


" Kamu tahu apa tentang mama?" ketus Aldy


Deg


Khanza menarik napasnya dalam-dalam mencoba menahan emosi yang tiba-tiba mencuat begitu saja mendengar ucapan Aldy


"Saya memang tidak tahu apa-apa tentang mamanya pak Aldy tapi saya hanya mengingatkan untuk tenang karena segala sesuatunya ada di tangan Allah, maka dari itu perbanyaklah berdoa meminta kesembuhan dan keselamatan mamanya bapak!" sahut Khanza lalu beranjak pergi begitu saja entah pergi kemana.


Aldy menatap punggung Khanza yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja, ada rasa sesal dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


Aldy mengusap kasar rambutnya dan mendudukkan dirinya dengan kasar di bangku tunggu.


Sementara mama Maria yang melihat sikap pengantin baru yang saling perang dingin itu langsung pergi untuk mengejar Khanza di ikuti oleh Bu Khodijah.


Aldy nampak terkejut ketika ada seseorang yang mendaratkan tangannya di bahunya. Aldy menoleh ternyata tuan Sam yang tengah duduk di sampingnya.


" Belajarlah untuk lebih tenang, kuasai emosi mu. baru beberapa jam kalian sah menjadi suami isteri sudah bertengkar" ucap tuan Sam


Aldy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya perasaannya saat ini begitu kacau.


" Bersabarlah, Khanza hanya ingin sedikit memberikan perhatiannya kepada mu, jika dia tidak tau apa-apa dengan kondisi mamahmu itu memang benar adanya karena hari ini adalah hari pertama untuk mereka bertemu" lanjut tuan Sam.


Aldy menoleh ke arah tuan Sam " Maafkan Aldy pah!" ucap Aldy yang langsung menangis seketika

__ADS_1


" Tidak perlu minta maaf, sebaiknya sekarang kamu banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan mamamu!" ucap tuan Sam dan Aldy pun mengangguk.


Aldy mengedarkan pandangannya namun tetap tidak melihat keberadaan Khanza dan pada saat dia melihat kedatangan mama Maria dan Bu Khodijah hatinya sedikit lega karena dia mengira Khanza ikut bersama mereka namun sedetik kemudian ia baru sadar kalau Khanza tidak ada dan Aldy kembali terduduk lemas seketika.


__ADS_2