
Selepas dari kantin Khanza memilih untuk pulang bersama ibunya.
" Kamu pulang sama ibu apa udah izin sama suami kamu?" tanya bu Khodijah
" Sudah bu, Za tadi sudah mengirim pesan katanya nanti jika pekerjaannya sudah selesai mas Aldy akan menyusul"
" Ya sudah kalau begitu ibu tenang jadinya" bu Khodijah, bi Ratna dan Khanza naik ke dalam mobil yang biasa digunakan untuk mengantar bu Khodijah membawa barang dagangannya.
" Bu Izan mana?" tanya Khanza saat sudah sampai di rumah ibunya
" Tadi izin katanya mau main footsal sama teman-temannya" sahut ibu seraya membawa barang-barangnya ke dalam dapur.
" Biar Za aja yang bawa ini bi!" Khanza mengangkat termos besar yang biasa dibuat menaruh nasi.
Setelah selesai membantu ibunya Khanza pamit masuk ke dalam kamarnya.
" Duh kangen banget sama nih kamar" Khanza langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Karena merasa lelah akhirnya Khanza pun tertidur.
" Assalamu'alaikum!" ucap seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu
"Wa'alaikum salam" sahut bu Khodijah yang berjalan ke arah pintu depan
" Ya ampun nak Aldy ibu kira siapa" Aldy masuk lalu menyalami punggung tangan Bu Khodijah
" Khanza nya ada bu?" tanya Aldy seraya mengedarkan pandangannya
"Ada lagi di kamar" sahut bu Khodijah
"Kalau begitu,saya pamit ke kamar dulu ya Bu" ucap Aldy lalu diangguki oleh bu Khodijah
"Iya nak Aldy"
Ceklekk
Aldy membuka pintu kamar Khanza netranya langsung fokus pada benda yang bergulung di bawah selimut.
" Lelah banget ya kamu sayang tidurnya pules banget sih!" ucap Aldy seraya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur
Aldy mengecup singkat kening Khanza lalu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah hampir 20 menit berada di dalam kamar mandi Aldy pun keluar lengkap sudah dengan baju gantinya.
" Duh masih anteng banget sih tidurnya" gumam Aldy mengguncang pelan bahu Khanza
" Sayang bangun dong, kita pulang yuk!" Aldy membangunkan Khanza namun tidak ada pergerakan sama sekali sampai akhirnya muncul ide jahil di benak Aldy.
Perlahan namun pasti Aldy mendekatkan wajahnya ke wajah isterinya ditatapnya bibir ranum milik Khanza dan dengan gerakan pelan Aldy menempelkan benda kenyal itu ke bibirnya.
Aldy menyapunya dengan lembut karena tidak ada penolakan Aldy pun semakin memperdalam l*****nnya.
Khanza melenguh sedetik kemudian ia pun membuka kedua matanya dan betapa terkejutnya Khanza saat wajah Aldy begitu dekat dengan wajahnya.
Khanza langsung mendorong tubuh kekar Aldy seraya mengerucutkan bibirnya " Mas ih mesum orang lagi tidur juga modus banget!" kesal Khanza
"Bukannya modus sayang, tapi memanfaatkan kesempatan yang ada" jawab Aldy dengan santai
" Ihh... ngeselin" Khanza memukul dada Aldy namun bukan teriak sakit Aldy malah tertawa senang.
" Emmmm... mas pakai parfum apa sih, kok baunya gak enak gini sih. mas belum mandi ya?" tanya Khanza seraya menutup hidungnya.
"Ini parfum yang biasa aku pakai sayang, mana ada bau sih wangi iya, mas juga pulang tadi langsung mandi " sahut Aldy yang tidak terima dibilang bau
" Tapi sumpah mas,bau kamu enggak enak banget bikin aku pusing dan mual" Khanza menutup mulutnya karena tiba-tiba rasa mual sudah menggelitiknya
" Bau apa sih sayang? kamu jangan bercanda deh gak lucu tahu" Aldy mencium tubuhnya sendiri.
" Beneran ih aku enggak bohong, baunya tuh enggak enak banget.mandi dulu sana mas!" Khanza menggeser duduknya menjauh dari Aldy
" Ya ampun sayang aku udah mandi baru juga selesai masa harus mandi lagi. enggak mau ah?" tolak Aldy membuat Khanza kesal dan memberengut.
Aldy semakin mengikis jarak namun Khanza semakin merasa mual dan pusing
"Mas sana ih aku mual" protes Khanza
" Jangan bercanda lagi dong sa_" belum selesai dengan kata-katanya Aldy dibuat terkejut dengan Khanza yang bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
" Hoekk..... Hoekk...!" Didalam kamar mandi Khanza mengeluarkan semua isi perutnya yang memberontak ingin segera di keluarkan.
Tokk
Tokk
Tokk
"Sayang kamu kenapa, cepat buka pintunya!" seru Aldy dari luar
Ceklekk
Khanza membuka pintu kamar mandi membuat Aldy terkejut bukan main melihat Khanza dengan penampilan acak-acakan dan wajah yang sangat pucat.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Aldy cemas membantu memapah Khanza berjalan menuju tempat tidur
" Aku hanya mual dan sedikit pusing, mas baunya enggak enak sumpah aku kembali mual ini!" gerutu Khanza melihat Aldy yang tidak kunjung beranjak pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
" Iya...iya... mas akan mandi, jangan jauhi mas lagi ya sayang" ucap Aldy yang langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi untuk yang kedua kalinya, Aldy terparkir tidak memakai minyak wangi ia takut Khanza kembali mual dan menjauhinya
Ceklekk
Aldy mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan Khanza di dalam kamar.
" Ish, kemana? dia sudah nyuruh orang mandi dua kali sekarang malah menghilang gitu aja"
Aldy keluar dari kamar dan mencari Khanza disekitar rumah tapi lagi-lagi dia tidak menemukan keberadaan isteri kecilnya itu.
" Bu Khanza kemana ya?" tanya Aldy saat berpapasan dengan bu Khodijah yang baru saja masuk ke dalam rumah
" Oh Khanza itu lagi di luar sama Izan dan teman-temannya" jawab bu Khodijah seraya menunjuk ke arah Khanza dengan ekor matanya.
Aldy menghela napas panjang saat melihat Khanza yang sedari tadi di carinya tengah asik bersenda gurau dengan beberapa teman-teman Izan.
" Za!" suara bariton yang cukup mengagetkan Khanza, Izan dan juga teman-temannya
"Eh mas udah selesai mandinya?" tanya Khanza tanpa dosa
" Hem!" jawab Aldy malas
"Loh ini bukannya pak Aldy ya guru matematika di SMA Darma Bangsa?" tanya Dodot salah satu teman Izan
" Iya, kamu kenal saya?" tanya Aldy balik
" Wah kalau soal kenal sih tentu saja tidak pak tapi kalau sekedar tahu iya" jawab Dodot sambil cengengesan.
" Pak Aldy ini fotonya banyak terpajang di rumah" jawab Dodotpolos
" Maksudnya apa ya Dot?" bukannya Aldy yang bertanya tapi Khanza
" Eh itu kak Za, em.... mbaknya Dodot itu suka banget kayaknya sama pak Aldy sampai setiap hari menempel foto pak Aldy di kamarnya. makannya pas lihat pak Aldy saya langsung tahu" jawabnya jujur
" Mbak kamu suka sama pak Aldy?" Dodot mengangguk " Memangnya mbak kamu itu siapa Dot?" tanya Khanza yang semakin penasaran
" Mbak Siska" jawab Dodot yang langsung membuat Khanza dan Aldy saling melempar pandangan.
" Sampai segitunya?" gumam Khanza yang masih bisa terdengar
" Iya kak Za, bahkan mbak Siska sampai bilang sama ibu kalau pak Aldy ini calon suaminya. apa benar begitu pak?" tanya Dodot yang begitu polos dan lugu
Glek
Aldy terasa susah menelan salivanya saat Khanza menatapnya dengan tajam
" Ngaco, mbak mu itu ngarang. dia itu mungkin hanya kagum sama saya" jawab Aldy datar
" Oh begitu ya pak" Dodot mengangguk mengerti
" Dek kakak masuk dulu ya" pamit Khanza kepada Izan
" Loh kok masuk kak, enggak jadi ngambil buah mangga nya?" tanya Izan
"Sudah enggak ke pingin" jawab Khanza datar lalu ngeloyor pergi begitu saja
" Zan apa karena gue ya kak Za kayaknya marah gitu?" tanya Dodot yang merasa bersalah kepada Izan dan Khanza
Sudah jangan diambil hati, mungkin karena terlalu capek mengerjakan banyak tugas sekolahnya jadi sedikit sensitif" ucap Aldy lalu pamit menyusul Khanza
" Benar apa kata kak Aldy, enggak usah di pikirin, kak Khanza lagi capek kali jadi mau istirahat" Jawab Izan santai
" Serius Zan, gue jadi enggak enak ini"
" Iya, tenang aja kak Khanza orangnya baik kok lagian kenapa juga dia harus marah sama elo?"
" Ya kali aja gara-gara omongan gue tadi soal mbak Siska"
" Ya enggaklah" Izan tertawa kecil
" Oiya Zan, kok loe manggil pak Aldy kakak sih?" tanya Iman yang sedari tadi hanya menyimak omongan Izan dan Dodot.
" Ya emangnya kakak, dia kan kakak gue" jawab Izan santai
" Maksud loe?" Iman mengerutkan keningnya
" Bukannya kakak loe itu cuma kak Khanza doang ya Za, sejak kapan pak Aldy jadi kakak loe?" tanya Dodot yang juga jadi bingung
" Sejak kak Khanza menikah sama pak Aldy lah" jawab Izan Jujur
" Apa? kak khanza dan pak Aldy sudah menikah? yang serius loh Zan?" Iman nampak terkejut begitu juga Dodot
" Ya gue serius ngapain gue bohong sama kalian. tapi please ya gue percaya sama kalian dan gue harap kalian bisa pegang omongan ini" pinta Izan bicara serius
" Iya, loe tenang aja tapi kok bisa ?" Dodot bertanya-tanya
" Gue juga enggak tahu alasannya, tapi kak Aldy itu orangnya baik banget dan gue lihat sih kayaknya dia sangat sayang sama kak Za"
" Zan!" panggil Dodot tiba-tiba
" Apa?"
" Jangan-jangan kak Khanza marah gara-gara tadi ngomongin mbak gue yang gue bilang pak Aldy itu calon suami mbak gue Zan?"
__ADS_1
" Bisa jadi itu Dot, mungkin kak Khanza cemburu" timpal Iman
" Udah ah biarin aja, itu urusan mereka orang dewasa. kita mah yang penting tugas kita belajar" sahut Izan
" Loe sih enak ya kalau ada yang enggak ngerti tinggal nanya sama kakak ipar loe yang notabene guru" ucap Iman
" Ya kalau kalian mau gue rasa kak Aldy enggak akan keberatan kalau mau belajar bareng sih"
" Serius Zan, mau dong gue" ucap Iman
" Gue juga mau deh!" timpal Dodot
" Iya nanti gue tanyain ya!"
" oke"
Sementara itu didalam kamar Khanza hanya diam dengan wajah yang ditekuk.
" Sayang!" panggil Aldy lalu duduk di samping Khanza
" Sana sana minggir jangan dekat dekat!" ucap Khanza jutek
" Kamu ini kenapa sih sayang?" Aldy mengerutkan keningnya merasa bingung dengan sikap Khanza hari ini
" Udah sana mas pergi aja tuh temui sana calon isteri mas!" ucap Khanza dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Loh...loh...apa maksudnya kamu bicara seperti itu sayang, calon isteri apa? kamu kan isteri mas mana ada calon isteri yang lain, ngaco" ucap Aldy tidak terima dengan perkataan Khanza
" Udah deh mas, enggak usah pura-pura. jadi selama ini mas ada hubungan dengan Bu Siska. secara Bu Siska itu lebih dewasa dan juga lebih cantik iyakan" cerocos Khanza membuat Aldy semakin pusing mendengar omong kosongnya
" Kamu bicara apa sih Khanza Az-Zahra, ngelantur!" Aldy tidak ingin meladeni pembicaraan Khanza yang nantinya malah semakin memancing emosinya.
Aldy lebih memilih keluar dan membiarkan Khanza sendiri untuk menenangkan diri
Ceklekk
Aldy keluar bertepatan dengan ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.
" Ibu!" Aldy sedikit takut bu Khodijah ikut salah paham
" Ada apa? apa kalian ribut?" tanya Bu Khodijah yang sebenarnya merasa tidak enak hati karena ikut campur urusan rumah tangga anaknya
" Hanya salah paham aja Bu" ucap Aldy yang juga tidak enak hati karena ribut di saat berada di rumah mertuanya.
" Khanza itu masih kanak-kanak, jadi nak Aldy harus banyak-banyak bersabar ya. maaf kalau Khanza masih belum bisa bersikap dewasa!" ucap bu Khodijah yang membuat Aldy sedikit lega karena bu Khodijah begitu bijak dalam menyikapi masalah anaknya.
" Iya Bu, saya akan berusaha untuk tetap bersabar. hanya saja saya juga sedikit bingung dengan perubahan sikap Khanza yang tiba-tiba saja bersikap keras dan selalu emosi. biasanya semarah apapun dia masih bersikap tenang. untuk kali ini dia begitu sulit untuk saya tenangkan maka dari itu dari pada Khanza semakin emosi dan takutnya saya malah terbawa emosi juga jadi maafkan saya ya Bu kalau saya memilih menghindari Khanza dulu supaya Khanza bisa lebih tenang" tutur Aldy panjang lebar
Bu Khodijah tersenyum. " Terima kasih ya nak Aldy karena sudah mau pengertian"
" Tidak perlu berterima kasih bu, ini memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai suami"
" Iya" Bu Khodijah merasa bersyukur karena Aldy begitu sabar menghadapi Khanza
" Yaudah, Aldy pamit pulang dulu ya bu, nanti kalau Khanza sudah lebih tenang Aldy akan jemput Khanza Bu"
" Iya nak, hati-hati ya di jalan!" Aldy menyalami punggung tangan bu Khodijah
" Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikum salam!"
Terdengar suara deru mobil yang pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Khanza yang mendengar suara mobil Aldy pergi begitu saja bahkan tanpa pamit kepadanya terlebih dahulu semakin salah paham. entah apa yang ada di benak gadis yang sudah bukan gadis itu lagi ia terlihat semakin emosi dan tangisnya pun semakin pecah.
Bu Khodijah yang mendengar suara tangisan dari dalam kamar Khanza langsung bergegas menuju kamar putrinya tersebut.
" Sayang, Khanza kamu kenapa nak?" tanya bu Khodijah dari balik pintu
Tidak ada sahutan dari dalam bu Khodijah hanya mendengar suara tangis yang sesenggukan karena merasa khawatir membuat bu Khodijah langsung masuk ke dalam kamar Khanza.
" Ya ampun nak kamu kenapa sayang?" bu Khodijah langsung menghampiri Khanza yang tengah duduk di lantai sambil memeluk lututnya.
" Ibu..." Khanza langsung memeluk ibunya dengan tangis yang semakin pecah.
" Sudah jangan nangis lagi"
" Tapi mas Aldy jahat banget bu sama khanza, mas Aldy mau menikah lagi, Khanza enggak mau dimadu Bu"
" Huss, ngomong apa sih kamu. mana ada begitu. nak Aldy itu sayang banget sama kamu mana mungkin dia mau berbuat seperti itu"
" Ibu tidak tahu apa-apa, mas Aldy itu punya hubungan rahasia dengan Bu Siska selama ini Bu" tangis Khanza pecah
" Kata siapa? Kamu jangan menuduh suami kamu begitu saja. gak baik sayang"
" Buktinya sekarang mas Aldy pergi, Za yakin Bu dia pasti pergi ke rumah bu Siska"
" Siapa bilang, orang tadi nak Aldy pamit kok sama ibu mau pulang aja, kalau dia disini takut kamu semakin marah dan semakin emosi jadi dia membiarkan kamu tenang dulu baru nanti suamimu itu akan ngejemput kamu pulang!" tutur Bu Khodijah membuat Khanza mulai sedikit tenang.
" Kamu itu kalau punya masalah itu dibicarakan baik-baik jangan asal tuduh sembarangan. gak baik sayang!" pesan bu Khodijah
" Tapi Bu mas Aldy yang_!"
" Sudah jangan bicara lagi, sebaiknya kamu mandi sekarang nanti hubungi suami kamu. minta maaf dan suruh dia jemput kamu. ibu tidak mau dengar keributan macam ini lagi. jika ada kesalahpahaman itu diluruskan bukan malah semakin dibesar-besarkan"
__ADS_1
Khanza tertunduk merasa bersalah dan menuruti apa yang Bu Khodijah katakan.