Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Baby Zia rewel


__ADS_3

Jam pulang sekolah


Hampir semua siswa-siswi SMA Darma Bangsa sudah pada pulang menuju rumahnya masing-masing hanya tinggal beberapa murid saja yang masih belum pulang salah satunya Lia dan kawan-kawannya.


" Mon loe kenapa sih dari tadi diam terus?" tanya Mia yang merasa khawatir dengan sikap Mona akhir-akhir ini.


" Gue gak apa-apa" sahut Mona dengan sekilas mengulas senyum diwajah sendunya.


" Tapi muka loe pucat banget Mon, loe sakit? bagaimana kalau loe gue antar ke dokter?" tawar Mia yang takut Mona kenapa-napa.


" Gak usah gue gak apa-apa kok, mungkin cuma ngantuk aja kali soalnya semalam gue gak bisa tidur" jawab Mona tersenyum tipis


" Gak bisa tidur kenapa?" tanya Mita yang berjalan mensejajarkan dengan langkah Mona dan Mia.


Mona tidak menjawab hanya menoleh kepada Mita dan melempar tersenyumnya saja.


" Apa loe mimpi itu lagi Mon?" kali ini Lia yang bertanya.


Mona menoleh ke kebelakang ke arah Lia yang baru saja datang bersama Mario. " Iya Li, gue juga gak tau kenapa mimpi itu datang terus-menerus " Mona menghela napasnya berat


" Mimpi apa Mon?" tanya Mia yang merasa sudah sangat penasaran.


" Gue mimpi ada seorang cowok, yang datang nemuin gue. gue merasa kenal sama tuh cowok .tapi wajahnya asing di mata gue" jawab Mona


" Mungkin itu jodoh loe kali Mon" suara Indah menyahuti dari belakang yang berjalan bersama Dion


Mona tersenyum " jodoh gue di mimpi ya Ndah?" ucap Mona terkekeh


" Ya siapa tau tuh orang akan muncul di dunia nyata loe Mon" ucap Mia


" Betul tuh apa kata Mia" ucap Indah yang setuju dengan Mia


Deg


Deg


Deg


Mona terdiam dan sedetik kemudian dia teringat dengan seseorang yang dilihatnya sewaktu kembali dari kantin dan melihat seorang murid laki-laki yang baru keluar dari ruang kepala sekolah.


" Apa cowok itu ya, wajahnya gak asing dan samar-samar memang rada mirip sih" batin Mona.


" Tapi mana mungkin sih" Mona menepis pemikirannya sendiri.


" Mona loe lagi mikirin apa, wah loe lagi mikirin tuh cowok yang ada di dalam mimpi loe ya?" ledek Mia


" Ngaco!" elak Mona lalu berjalan ke arah mobilnya karena mereka sudah berada di parkiran.


" Mona ke rumah Za yuk, gue kangen nih dengan baby Zia!" teriak Mia.


" Oke, nanti sore ya kita ketemu di rumah Za!" sahut Mona


" Oke" Mia mengacungkan tangannya yang membentuk huruf O.


" Mita loe bagaimana, ikutkan ke rumah Za?" tanya Mia yang tengah menunggu jemputannya.


" Iya nanti gue nyusul" jawab Mita yang langsung berjalan menuju ke arah mobil yang baru saja tiba.


" Pacaran teruuusss... nasib jomblo!" ucap Mia membuat sahabatnya itu terkekeh melihat tingkah Mia yang absurd.


" Siapa yang jomblo?" tanya seseorang yang sudah berdiri di belakang Mia.


Deg


" Astaga, ngagetin aja!" ucap Mia mengelus dadanya yang terjingkrak kaget.

__ADS_1


Mobil Mona sudah meluncur sedari tadi begitu juga dengan mobil Lia dan Mita yang baru saja dijemput.sedangkan Indah sudah pergi lebih dulu karena dia pulang bersama Dion menggunakan sepeda motornya. hanya tinggal Mia yang tertinggal di sekolah.


" Loe siapa?" tanya Mia melihat siswa yang berdiri di hadapannya dengan tatapan aneh.


" Gue putra!" ucap cowok tersebut dengan santainya.


" Loe murid baru?" tanya Mia


Cowok yang bernama Putra bukan menjawab malah tersenyum lalu pergi begitu saja meninggalkan Mia yang tercengang dengan sikap cowok yang gak jelas menurutnya itu.


" Cowok aneh!" decak Mia lalu masuk ke dalam mobilnya.


...☄️☄️☄️...


menjelang sore dirumah yang tidak terlalu besar dan juga tidak begitu kecil sepasang suami istri tengah disibukkan dengan tangisan seorang bayi yang tidak juga mau berhenti.


" Mas baby Zia kenapa sih kok rewel banget ya?" ucap Zaira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Mas juga tidak tahu sayang, apa perlu kita bawa ke dokter aja?" tanya Azka


" Jangan dulu deh mas mending mas telpon mama atau kalau gak telpon bunda tanya apa sih yang menyebabkan bayi tiba-tiba rewel?" pinta Zaira


" Yaudah mas ke kamar dulu ya ponsel mas ada di kamar, mas telpon mama aja ya" Azka pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya yang dia taruh di atas nakas dan Zaira mengangguk.


" Sayang kamu kenapa sih nak kok rewel kayak gini sih sayang, kamu kenapa baby?" tanya Zaira kepada bayi mungil yang ada dalam buaiannya dan sudah menitikkan air matanya.


Baby Zia masih menangis padahal sudah diberi asi oleh Zaira. badan baby Zia juga tidak panas tapi apa yang membuat baby Zia tidak mau berhenti menangis. Zaira benar-benar merasa bingung karena ini adalah pengalaman pertama baginya sebagai seorang ibu mengurus bayinya sendiri.


" Sayang!" panggil Azka yang baru saja datang dari kamarnya


" Bagaimana mas, apa kata mama?" tanya Zaira sambil menimang baby Zia yang masih menangis dalam gendongannya.


" Kata mama coba lihat dulu popoknya pup apa gak, atau popoknya nyaman atau tidak dipakai baby Zia" sahut Azka memberitahukan apa yang tadi mamanya katakan sewaktu ia menelponnya di dalam kamar.


Zaira langsung membaringkan baby Zia diatas kasur kecil yang dia gelar di lantai ruangan TV. lalu mengecek popoknya. " Gak mas, baby Zia gak pup dan kayaknya popoknya gak bermasalah mas" ucap Zaira setelah mengecek popok putri kecilnya.


Zaira mengangkat baju baby Zia yang masih menangis lalu memeriksa perutnya,


" Gak mas, baby Zia gak kembung" Zaira kembali menggendong baby Zia yang masih saja menangis.


" Yaudah kalau begitu kita bawa ke dokter aja ya sayang, mas siap-siap dulu" ucap Azka hendak beranjak pergi ke kamar namun langkahnya terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka.


Ceklekk


Azka dan Zaira menoleh ke arah suara pintu yang terbuka dari luar.


" Assalamu'alaikum!" ucap Lia dan Mario yang menyembul dari balik dinding dan berjalan masuk menghampiri penghuni rumah.


" Wa'alaikum salam" jawab Azka dan Zaira bersamaan.


Lia terkejut melihat baby Zia yang menangis tidak seperti biasanya.


" Baby Zia kenapa Za kok nangis?" tanya Lia yang langsung menghampiri Zaira yang sedang menggendong baby Zia yang masih menangis


" Gak tau nih Li sudah dari tadi nangis gak mau berhenti" sahut Zaira seraya menimang-nimang baby Zia agar diam namun tetap nihil.


" Ini juga mau gue bawa ke dokter aja, takut kenapa-napa habis nangisnya gak mau berhenti" ucap Zaira yang sudah nampak frustrasi menghadapi bayinya yang rewel.


" Coba sini Za biar gue gendong, kali aja diam!" pinta Lia dan Zaira mengangguk lalu memberikan baby Zia kepada Lia.


Di gendongan Lia baby Zia masih tetap saja menangis.


" Duh sayang, cantik kesayangannya aunty Lily kenapa nangis sayang? cup cup cup... sayang, jangan menangis lagi yang cantik!" ucap Lia yang berusaha untuk mendiamkan baby Zia namun ternyata sama saja baby Zia masih tidak mau berhenti menangis.


" Sayang, sini aku yang gendong!" pinta Mario.

__ADS_1


" Memang pusing kamu sudah hilang?" tanya Lia yang khawatir dengan kondisi kesehatan Mario.


" Sudah dong bertemu dan melihat baby Zia yang cantik dan ngegemesin kayak gini pusing uncle Io langsung sembuh ya sayang, cup cup jangan nangis ya cantik!" ucap Mario seraya mengambil alih baby Zia dari gendongan Lia.


" Anak pintar jangan nangis ya sayang cup cup cup... anak cantik gak boleh nangis, nanti cantiknya hilang" ucap Mario sambil terkekeh sendiri saat baby Zia sudah berpindah ke tangannya.


Sungguh diluar dugaan setelah berada di gendongan sang uncle ternyata baby Zia langsung terdiam, bayi kecil nan menggemaskan itu ternyata mengerti pujian dari seorang pria tampan rupanya dan membuat papa dan mamanya serta aunty nya nampak tercengang.


" Io!" Lia tersenyum tipis melihat suaminya begitu pandai mendiamkan baby Zia yang tengah menangis.


" Baby Zia sudah tahu pujian dari pria tampan ya rupanya?" ucap Zaira tanpa sengaja membuat wajah tampan sang suami langsung ditekuk.


" Apa aku kurang tampan sayang?" Azka pasang wajah cemberutnya.


" Cih gitu aja sensi" ucap Lia yang mendengar kata-kata kakaknya walaupun diucapkan dengan suara pelan.


" Ya kamu juga tampan sayang tapi kamu itukan papahnya " ucap Zaira yang tidak tahu bagaimana jalan pikiran suaminya itu yang rupanya pencemburu berat.


" Dengan aku baby Zia tidak mau diam tapi dengan Mario baby Zia langsung diam dan berhenti menangis, aku inikan papanya atau jangan-jangan Mario itu_?" Azka menggantungkan kata-katanya.


" Jangan-jangan Mario itu apa?" bukan Zaira yang bertanya tapi Lia sang adik tercinta yang sudah pasang muka datar.


" Ya jangan-jangan Mario yang sudah_!" Azka kembali menggantungkan ucapannya membuat emosi Lia terpancing sementara Mario tengah membawa baby Zia ke taman belakang karena di ruangan tersebut cukup berisik dengan obrolan unfaedah kakak beradik itu yang bisa saja malah memancing baby Zia kembali menangis.


" Maksud kakak Mario yang sudah menghamili Zaira ?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut bumil yang emosinya naik turun kapan saja karena pengaruh dari faktor hormonal, dan Azka rupanya melupakan hal itu.


" Astaghfirullah haladzim!" ucap Zaira yang hendak menyusul Mario langsung terhenti langkahnya akibat ucapan Lia


" Ngaco!" ucap Azka menyentil kening sang adik.


" Jadi kamu berpikir seperti itu mas?" Zaira malah menoleh ke arah Azka dengan tatapan tajam


" Sayang bu... bukan begitu. mas cuma_!"


" Aku gak menyangka ya mas bisa-bisanya berpikir ke arah sana hanya karena baby Zia yang merasa nyaman berada di gendongan uncle nya sendiri" ucap Zaira yang sudah menitikkan air matanya dan langsung beranjak pergi masuk ke dalam kamar dengan sedikit membanting pintu.


Jebret


" Aduh kok jadi begini sih, padahal kakak tuh cuma bercanda dan mau bilang jangan-jangan Mario yang sudah kangen dengan baby Zia dan kebelet kepingin menggendong bayi" ucap Azka sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Salah sendiri bercanda gak bilang-bilang dan malah mancing-mancing emosi orang, ngomong juga pakai mutar-mutar segala lagi, alhasil noh bini ngambek" ucap Lia geleng-geleng kepala lalu pergi ke taman menghampiri Mario.


Azka langsung menyusul istri tercintanya yang sedang merajuk, untung saja pintu kamar tidak Zaira kunci jadi Azka bisa masuk dengan mudah ke dalam kamar.


Azka melihat Zaira berbaring di atas tempat tidur dengan memunggunginya, dengan perlahan Azka melangkah menghampiri Zaira sambil tersenyum tipis.


" Sayang!" panggil Azka seraya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


Zaira diam saja tidak menghiraukan panggilan dari suaminya.


" Maafin mas ya sayang, tapi sumpah mas gak punya pikiran sampai ke arah situ sayang, mas tadi cuma bercanda tapi siapa yang menyangka kalau Meli malah bicara seperti itu!" ucap Azka menuturkan.


" Mas tadi itu cuma mau bilang jangan-jangan Mario yang sudah kangen dengan baby Zia dan kebelet kepingin menggendong bayi" Azka meraih punggung Zaira agar menoleh ke arahnya


" Terserah mas mau bilang apa, aku kesal sama mas Azka disaat baby Zia rewel mas malah seenaknya bicara hal yang gak penting." ucap Zaira dengan ketus.


" Ya maaf sayang mas gak sengaja!" ucap Azka sendu


" Bodo" Zaira kembali memunggungi Azka


" Sayang ayok dong maafin mas, dari pada ngambek mendingan kita_" ucap Azka menggantung


" Mending kita apa?" tanya Zaira yang sudah berbalik badan


" Mending kita itu itu yuk selagi baby Zia ada yang menjaga, mas sudah lama kan puasa, mau ya?" Azka menaik turunkan alisnya

__ADS_1


" Ih mas Azka omes!" Zaira melempar bantal ke arah Azka dan dengan cepat Azka menangkap bantal tersebut lalu melemparkannya ke sembarang arah sambil tergelak dan sedetik kemudian Azka langsung melancarkan aksinya dengan Zaira yang sudah tidak bisa lagi menghindar apalagi menolaknya.


__ADS_2