
Khanza dengan langkah cepat setengah berlari menuju kelasnya, beruntung bu Tika belum datang dan ke tiga sahabatnya masih belum berganti seragam olahraga.
" Assalamu'alaikum!" ucap Khanza saat masuk ke dalam kelas
" Wa'alaikum salam" jawab teman-teman Khanza
" Tumben loe telat Za?" tanya Miska saat Khanza mendudukkan bokongnya di bangku kosong samping Miska
" Enggak usah nanya tumban tumbenan deh, mending cus lah ganti baju" sahut Khanza seraya beranjak dari duduknya menarik Hana dan Nana yang masih asik mengobrol
" Yuk ah ganti!" ajak Khanza
" Lah ini anak baru datang udah main ngacir aja!" gerutu Miska yang ikut beranjak dari duduknya dan mengekor di belakang Khanza
" Loe kesambet apa Za pagi-pagi tuh tensi darah udah naik aja?" seloroh Miska
" Kesambet jin kegatelan!" jawab Khanza asal
" Kalau kegatelan garukin Za, susah bener" timpal Hana
" Mulut loe sini yang gue garuk" Sahut Khanza
" Wahh ngeri-ngeri sedap nih anak" Hana bergidik ngeri
" Tau nih pagi-pagi udah kayak mercon, Dwaarrr!" Nana mengangkat kedua tangannya ke udara
Mereka berempat berjalan beriringan seakan jalan milik mereka pribadi.
" Mata loe kenapa Za, enggak biasanya pakai kacamata?" tanya Nana saat mereka berempat berjalan menuju toilet untuk berganti baju dan Nana baru engeh.
" Enggak kenapa-napa lagi pingin aja!" jawab Khanza asal
" Enggak yakin gue, pasti ada alasannya tuh" timpal Miska
" Sotoy!" sahut Khanza
" Khanza Az-Zahra gue itu kenal loe, apapun yang Loe lakuin itu gak mungkin kalau gak ada alasannya. jelas gitu mata loe sembab" sindir Miska dengan senyum mengejek
" Ah sialan loe, nyebelin tau gak udah gue tutup gini masih aja jeli mata loe" sahut Khanza mengerucutkan bibirnya
" Miska gitu loh!" Miska tertawa
" Loe habis nangis ya Za?" tanya Nana
" Enggak " sanggah Khanza
"Tapi mata loe_?" belum selesai Nana meneruskan pertanyaannya Hana sudah memotongnya
" Za liat deh itu bu Siska mau ngapain ya bawa kotak bekal gitu ke ruangan laki loe?" tanya Hana menunjuk ke arah bu Siska yang tengah berjalan menuju ruangan Aldy
" Wah mau cari perkara ini guru kegatelan" sewot Khanza menatap tajam ke arah bu Siska yang berjalan lenggak-lenggok menuju ruangan Aldy.
Tok
Tok
Tok
Bu Siska mengetuk ruangan Aldy dengan menatap kotak bekal yang ada di tangannya bu Siska senyum-senyum sendiri.
" Udah stress kali ya tuh guru, ngapain coba di jam pelajaran begini ngegodain laki orang!" Khanza menggerutu.
" Sabar Za lagi pula laki loe gak bakal mau sama cewek model begituan mah" ucap Miska
" Ah laki-laki itu kayak kucing Miska asal loe tahu itu, di angsongin ikan asin juga langsung di embat" sahut Khanza
"Udah ah gue mau samperin tuh guru!" Khanza berjalan cepat menuju ruangan Aldy
" Za loe mau alasan apa coba kesana?"
" Tenang aja gue tahu kok apa yang harus gue lakuin" Khanza tersenyum penuh arti
" Yaudah kita-kita duluan ya!"
" Oke!" Khanza pun langsung beranjak pergi menghampiri Bu Siska yang masih berdiri di depan pintu ruang Aldy
Ceklekk
Aldy menyembul dari balik pintu ruangannya
" Ada apa ya bu Siska?" tanya Aldy saat melihat Bu Siska yang tengah berada di hadapannya.
Dengan pandangan was-was Aldy berusaha untuk menjaga jarak dengan wanita yang sangat di cemburui oleh isterinya saat ini
" Oh ini pak saya punya bekal sarapan buat pak Aldy kebetulan tadi saya masak cukup banyak!" bu Siska menyodorkan kotak bekal yang ada di tangannya pada Aldy.
" Emmm.... bagaimana ya bu, maaf saya tadi sudah sarapan di rumah" jawab Aldy menolak secara halus. dia tidak mungkin menerima kotak bekal tersebut karena jika Khanza tau pasti akan salah paham dan sulit untuk membujuknya kembali.
" Yah sayang banget dong pak, kalau begitu buat makan siang aja deh pak, masa saya sudah masak tidak di dihargai sih pak!"
Aldy menghela napasnya berat sungguh ia merasa bingung dengan situasi yang ada. jika tidak menerimanya dia tidak enak dengan bu Siska yang sudah masak untuk nya tapi jika ia terima akan menjadi masalah baru untuk dirinya dan Khanza.
" Baiklah kalau begitu saya terima, tapi lain kali tidak usah repot-repot begini bu Siska, saya jadi merasa tidak enak dengan guru-guru yang lain" ucap Aldy seraya mengedarkan pandangannya takut Khanza melihatnya dan salah paham.
" Tidak apa-apa kok pak , saya justru malah senang bisa masak buat pak Aldy. masakin setiap hari juga boleh kok pak" sahut bu Siska dengan senyum malu-malu tapi mau
" Wah bu Siska romantis banget pagi-pagi sudah menyiapkan bekal untuk pak Aldy?" suara sindiran yang hampir saja membuat detak jantung Aldy berhenti
" Eh kamu Khanza, bisa saja kamu!" ucap bu Siska dengan senyuman ganjennya
" Selamat pagi pak Aldy, pagi-pagi udah dibawain bekal aja, romantis banget ya pak, udah seperti isteri yang ngebekelin suami aja. Memangnya isteri di rumah gak ngasih sarapan pak atau enggak ngebekelin gitu?" sindir Khanza
Jlepp
Aldy terasa tercekat dan sulit menelan salivanya, apalagi tatapan mata Khanza yang nampak berembun dan Aldy tahu saat ini isteri kecilnya pasti sedang menahan tangisnya.
" Huss.... kamu ini Za, pak Aldy ini masih lajang belum menikah, jadi belum ada isteri yang buatin bekalnya" Ucap bu Siska penuh percaya diri
" Apa benar begitu pak, jadi pak Aldy ini belum menikah ya, saya kira guru setampan bapak sudah menikah" Aldy menghela napas berat demi apapun dia ingin keluar dari situasi yang tidak menyenangkan ini
Aldy tidak menjawab hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Diamnya Aldy tanpa disadari membuat Khanza semakin kecewa, dengan tatapan yang sungguh sulit di artikan Khanza tersenyum miring
" Kalau begitu bu Siska cocok ya sama pak Aldy yang sama-sama single" ucap Khanza dengan menekankan kata pada setiap ucapannya.
Deg
Aldy melotot mendengar ucapan Khanza sementara bu Siska nampak tersipu malu-malu.
" Kamu bicara apa Khanza Az-Zahra, tidak sopan kamu bicara seperti itu!" kesal Aldy
" Apa ada yang salah dengan ucapan saya pak, maaf kalau begitu?" Khanza menatap lekat Aldy
Aldy yang hendak menjawab omongan Khanza terpotong.
" Kam_"
__ADS_1
" Sudahlah pak Aldy, tidak apa-apa namanya juga anak-anak, ya siapa tahu memang kita cocok terus berjodoh" ucap bu Siska dengan nada genitnya
" Maaf kalau begitu saya masih ada jam pelajaran Bu Tika, pelajaran olahraga. permisi Bu Siska, pak Aldy!" ucap Khanza yang langsung pergi meninggalkan Aldy dan Bu Siska berdua
Khanza pergi ke toilet untuk berganti baju olahraga, setelah selesai ia pun bergegas menyusul teman-temannya yang sudah berkumpul di lapangan.
Sementara Aldy menatap nanar punggung Khanza yang semakin menjauh.
" Maaf bu Siska kalau tidak ada keperluan yang lain saya mau mengajar bu" ucap Aldy yang sebenarnya secara halus ingin mengusir bu Siska.
" Oh iya pak Aldy, kalau begitu saya permisi. jangan lupa di makan" pamit bu Siska
" Iya Bu"
Tidak berapa lama bu Siska pergi pak Wahyu lewat.
" Pak Wahyu sudah sarapan?" tanya Aldy
" Belum pak ini baru mau kekantin dulu tadi isteri gak sempat buat sarapan" sahut pak Wahyu guru bahasa Indonesia
" Oh kebetulan kalau begitu, ini tadi bu Siska ngasih saya sarapan tapi saya sudah sarapan di rumah. mau menolak gak enak tapi saya juga sudah kenyang banget" ucap Aldy seraya menyodorkan kotak bekal yang diberikan bu Siska ke pak Wahyu.
" Buat pak Wahyu saja!" lanjutnya
" Alhamdulillaah rezeki ini mah, tapi bagaimana dengan bu Siska?"
" Ya gak apa-apa dari pada mubajir, sayangkan kalau enggak di makan?"
" Iya betul pak Aldy, terima kasih ya pak!" pak Wahyu mengambil kotak bekal yang disodorkan Aldy
Di kelas
" Za loe kemana aja sih lama banget?" tanya Miska kesal
" Gue habis nyamperin cewek modus eh sayang yang di modusin diam aja lagi" kesal Khanza
" Masa sih, ah loe aja kali salah paham"
" Apanya yang salah paham, toh dia mau aja menerima tuh bekal dari guru kegenitan itu" Khanza menghembuskan nafasnya kasar
"Sabar Za!" ucap Hana menenangkan
" Tau ah!" kesal Khanza dengan wajah cemberut
" Ayo anak-anak kumpul semuanya, jangan ada yang ngobrol ya dengarkan instruksi dari ibu !" teriak Bu Tika karena suara muridnya banyak yang mengobrol.
Bu Tika memberikan arahan kepada murid-muridnya, hari ini ada pengambilan nilai lari jarak jauh dan hal itu mengharuskan semua murid-muridnya berlari keluar area sekolah.
" Kalau ada yang merasa kurang sehat sebaiknya tidak perlu ikut, pengambilan nilai bisa dilakukan di lain hari!" ucap bu Tika
"Emmm .. Khanza apa kamu sedang sakit?" tanya bu Tika yang tidak ingin mengambil resiko jika ada muridnya yang memaksakan diri ketika sedang sakit
" Saya Bu?" Khanza menunjuk dirinya sendiri
" iya kamu!"
" Saya tidak apa-apa bu, saya sehat!" jawab Khanza yakin
"Tapi wajah kamu kok terlihat pucat?" tanya bu Tika yang melihat hal lain pada muridnya itu
" Masa sih bu, mungkin efek begadang semalam Bu"
" Begadang, ngapa ngapain kamu begadang?"
" Tidak bisa tidur aja bu, enggak tau kenapa"
" Iya bu, saya sanggup kok!" jawab Khanza
" Ya sudah anak-anak semua, bersiap ya kita akan melakukan pengambilan nilai dari sekarang"
" Siap bu!"
" Sebelum lari kita melakukan pemanasan terlebih dahulu ya!"
Setelah melakukan pemanasan anak-anak sudah berlari meninggalkan area sekolah menyusuri jalan yang sudah di beritahu sebelumnya oleh bu Tika.
Nicko dan Billy sudah berlari lebih dulu di ikuti dengan teman-temannya yang lain Khanza dan Miska tertinggal di belakang sementara Nana dan Hana sudah lari entah kemana
" Akhhhh...!" langkah Khanza langsung terhenti tatkala rasa sakit menyerang area perutnya.
" Za loe kenapa?" tanya Miska yang ikut menghentikan langkahnya
" Pe... perut gue sakit banget Mis kayak kram gitu!" keluh Khanza dengan mata yang berkaca-kaca menahan sakit
" Yaudah kita cari tempat duduk dulu aja, ayok !" Miska membantu Khanza untuk duduk di sebuah ruko yang masih tutup
" Bagaimana masih sakit?" Khanza mengangguk seraya meringis menahan sakitnya.
" Tuh benar apa yang dikhawatirkan bu Tika ternyata loe lagi enggak baik-baik aja Za!"
"Gue juga enggak tahu kalau bakal kayak gini Mis, tadi beneran gue enggak kenapa-napa" sahut Khanza dengan suara terbata-bata.
" Akh.... sakit Mis" teriak Khanza yang tidak tahan merasa kram di perutnya
"Ya ampun Za gue harus bagaimana? emmm.... kita ke rumah sakit aja ya?" Khanza menggeleng
" Za tapi muka loe aja udah pucat kayak gini gue takut loe kenapa-napa!" Miska pun tidak kuasa menahan tangisnya melihat Khanza yang kesakitan membuat dia sedih dan cemas
" Loh kalian sedang apa?" tanya Mega yang baru melintas bersama Wulan
" Mega tolong dong, Khanza sakit nih!" Mega dan Wulan bergegas menghampiri keduanya
" Za loe kenapa?" tanya Wulan
" Gue... akh..!" teriak Khanza yang kembali merasakan kram di perutnya
" Miska mending bawa Khanza ke rumah sakit aja deh , gue khawatir mukanya pucat banget" ucap Mega
"Gue panggilin taksi ya!" Miska mengangguk
Mega bergegas menuju jalan raya dan memberhentikan taksi yang kebetulan lewat
" Za loe yang kuat ya!" Khanza mengangguk namun baru saja hendak masuk ke dalam taksi Khanza tiba-tiba jatuh pingsan untung saja ada Miska dan Mega yang berdiri di belakangnya hingga Khanza tidak terjerabah ke aspal
" Gue bawa Khanza ke rumah sakit tolong ya loe beritahu bu Tika." ucap Miska
" Iya nanti gue bilangin!" sahut Mega
Taksi yang membawa Khanza melesat menuju rumah sakit.
" Za bangun dong jangan bikin gue panik gini!" Miska menepuk-nepuk pipi Khanza berharap Khanza akan segera sadar
" Kenapa temannya neng?" tanya sopir taksi yang memperhatikan Miska dari kaca spion
" Pingsan pak, saat olahraga lari"
Miska teringat dengan Aldy lalu mencari ponsel milik Khanza dan dengan segera menghubungi gurunya tersebut
__ADS_1
Sekali dua kali panggilan tidak ada jawaban begitu pun dengan panggilan ke tiga membuat Miska merasa kesal sendiri.
Setelah sampai di rumah sakit Khanza langsung di bawa ke ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. ketika Miska tengah duduk dengan gelisah menunggu di depan pintu ruang UGD ponsel Khanza berdering.
Melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut Miska langsung mengangkat sambungan teleponnya
..." Assalamu'alaikum!"...
" Wa'alaikum salam!"
..." Loh kenapa kamu yang angkat, mana Khanza?" Aldy khawatir Khanza masih marah dan pergi lagi...
" Emmmm.... Khanza.... Khanza!" Miska entah kenapa menjadi gugup
..." Khanza kenapa?" sentak Aldy membuat Miska terkejut...
" Khanza ada di ruang UGD pak, tadi dia pingsan di jalan" jawab Miska
..." Apa pingsan, bagaimana bisa?"...
" Ceritanya panjang pak, sebaiknya pak Aldy ke sini sekarang ke RS Mitra Darma Bangsa"
..." Baiklah, terima kasih saya akan kesana sekarang!"...
Aldy yang merasa cemas dan khawatir tanpa pikir panjang langsung berlari menuju parkiran ia tidak peduli dengan tatapan para siswa-siswi yang menatapnya heran.
" Mau kemana ya pak Aldy sampai lari seperti itu?" tanya Billy yang melihat kepergian Aldy
" Mungkin ada urusan penting kali!" sahut Nicko santai sambil meluruskan kakinya
" Eh tuh guru ganteng mau kemana ya, kok tergesa-gesa gitu?" tanya seorang siswi yang melihat kepergian Aldy kepada temannya
" Han, itu pak Aldy mau kemana kok kayaknya tegang gitu mukanya?" senggol Nana ke Hana menunjuk ke arah Aldy dengan ekor matanya.
" Mana gue tahu" Hana menggidikkan bahunya
" Khanza mana ya kok gak kelihatan tuh anak?" lanjutnya yang tidak melihat keberadaan Khanza dan Miska
" Mampir dulu kayaknya tuh anak" sahut Nana
" Jangan-jangan dia mampir minum dulu tuh di warung!"
"Gue rasa begitu"
" Mana Khanza sama Miska?" tanya Billy yang datang menghampiri mereka bersama Nicko
" Kita juga lagi nungguin tuh anak gak nongol-nongol" sahut Hana
Tiba-tiba mata mereka teralihkan saat melihat Mega dan Wulan yang tergesa-gesa berlari menghampiri bu Tika
" Bu... Bu Tika... huh .... huh...!" panggil Mega dengan napas yang tersengal-sengal begitu juga dengan Wulan
" Kalian ini kenapa, larinya kan udah selesai semua kenapa baru sampai?" tanya bu Tika heran
"Bu Khanza bu... Khanza!" ucap Wulan sedikit terbata
" Kenapa dengan Khanza?"
" Pingsan bu" jawab Mega
" Apa, pingsan?"
" Iya bu" jawab Wulan dan Mega bersamaan
" Lalu sekarang di mana Khanza nya?" tanya bu Tika yang merasa khawatir
" Sudah di bawa ke rumah sakit bu sama Miska" jawab Wulan
"Anak itu menyusahkan orang saja, tadi saya sudah tanyakan kalau sakit tidak usah ikut lari tapi dia ngeyel katanya tidak Kenapa-napa, kuat ikut untuk lari " tutur Bu Tika
" Maaf bu ada apa ya kok tadi saya dengar ada yang pingsan, siapa?" tanya Nicko yang langsung menghampiri bu Tika saat mendengar ada yang pingsan
" Khanza pingsan Ko" Wulan yang mewakili bu Tika menjawab
" Apa Za pingsan, di mana?" tanya Nicko yang terkejut
" Iya, tadi dijalan dia ngeluh sakit perut terus tidak lama kami menghampiri tiba-tiba dia pingsan"
" Sekarang dia dibawa ke rumah sakit sama Miska" lanjutnya lagi
" Oh ya ampun Miska juga tidak memberi kabar lagi" keluh Nicko mengusap wajahnya kasar
"Pantas pak Aldy tadi terlihat panik kayak gitu" batin Nicko
" Ko!" panggil Billy saat Nicko kembali
" Kenapa ?"
" Khanza pingsan dan sekarang ada di UGD barusan Miska nelpon" ucap Billy memberitahu
"Iya gue juga barusan dikasih tau sama Mega sama Wulan" tutur Nicko
" Pantas pak Aldy tadi buru-buru banget" ucap Billy
" Huss.... kalian ikut gak?" tanya Nana
"Loe mau kemana Na?" tanya Nicko
" Pakai nanya lagi, ya mau ke rumah sakit lah!" jawab Hana mewakili Nana
"Cus lah gue ikut!" sahut Billy beranjak dari duduknya dan mengekor Hana dan Nana
" Ko ayok!" Billy menarik kaos Nicko sebelum beranjak pergi
Di rumah sakit Aldy bergegas menuju ruang UGD dan setelah sampai ia langsung menghampiri Miska yang tengah duduk di kursi tunggu dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rasa takut, khawatir dan cemas menyelimuti hati Miska
" Assalamu'alaikum!" ucap Aldy membuat Miska tersentak dan langsung mendongak
" Wa'alaikum salam pak!" Miska pun langsung beranjak berdiri
" Bagaimana keadaan Khanza?" tanya Aldy sedikit panik
" Sedang di tangani dokter pak di dalam" jawab Miska seraya menunjuk ke ruangan yang ada di hadapannya dengan bertuliskan Ruang UGD.
" Bagaimana kejadiannya? kenapa Khanza bisa pingsan?" tanya Aldy
Belum sempat menjawab seorang berjas putih keluar dari ruangan UGD membuat pandangan mereka teralihkan kepada orang tersebut.
" Dokter!"
*Bersambung......
Nantikan kelanjutannya ya semoga tambah suka dengan alur cerita selanjutnya dan enggak lupa buat like, vote and like nya ya☺️
...Terima kasih 🙏*...
__ADS_1