
Setelah kepergian Mario yang membawa Lia pergi begitu saja tanpa sekata patah pun membuat Putri semakin meradang.
Putri mendorong Rangga hingga terhuyung ke belakang dan mengacuhkannya. Dia semakin tersulut emosi saat tangannya di tarik oleh Rangga yang berniat untuk menenangkannya
" Lepas!" hentak Putri matanya menatap tajam tangan Rangga yang mencekal tangannya.
Rangga dengan cepat langsung melepaskan tangannya dan mengangkatnya ke udara
" Gue ingin sendiri!" ucap Putri dingin dan berlalu begitu saja meninggalkan Rangga yang diam mematung menatap punggung Putri yang kian menghilang di balik dinding.
Putri mendengus kesal teringat tatapan dingin Mario yang tiba-tiba datang membela Lia begitu saja. Semasa mereka menjalin hubungan Mario bahkan tidak pernah sekalipun membelanya bahkan mereka hanyalah berstatus pacaran saja karena Mario tidak pernah mengajak putri jalan dan bersikap manis layaknya pasangan pada umumnya.
Mario hanya senang memacari cewek-cewek yang dianggap famous di sekolahnya, setelah puas berhasil mendapatkannya Mario dengan tanpa merasa berdosa memutuskannya begitu saja secara sepihak, seperti halnya yang dialami Putri yang sampai saat ini masih belum bisa menerima perlakuan Mario yang memutuskannya begitu saja demi mengejar Zaira pada saat itu.
Putri melangkah panjang menuju mobilnya yang masih terparkir di depan sekolah. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini sungguh sulit untuk di tebak. ia pergi meninggalkan sekolah menuju ke suatu tempat di mana seseorang tengah menunggunya.
🖤
Sementara di jalan ibu kota yang cukup ramai Lia merasa risih sendiri tatkala motor ninja yang dikendarai oleh Mario melesat begitu cepat melewati begitu saja beberapa pengguna jalan lainnya yang mau tidak mau Lia harus berpegang pada pinggang Mario. tapi karena merasa risih dan tidak terbiasa Lia hanya memegang ujung jaket Mario saja.
Mario yang melihat sikap Lia sedikit gugup dan canggung dengan santainya menarik tangan Lia begitu saja hingga melingkar di pinggangnya. Lia yang diperlakukan seperti langsung terbelalak dan hendak menarik tangannya kembali namun nihil karena Mario sudah lebih kuat menahan tangan Lia yang merontak.
" Udah diam, biarin kayak gini dari pada loe terhempas ke jalan dan wajah loe yang cantik itu mencium aspal, mau?" ucap Mario dengan santainya dan tentu saja ucapannya itu membuat Lia yang berada di balik punggung Mario mengulum senyumnya dan jangan ditanya lagi wajah putihnya kini sudah berubah merah bak kepiting rebus.
Lia dan Mario saling diam tidak ada pembicaraan diantara keduanya sampai motor berhenti tepat di depan kedai bakso, Lia menatap heran. untuk apa Mario berhenti di sebuah kedai bakso pinggir jalan, gak mungkin kan seorang Mario Putra seorang pengusaha kaya suka dengan makanan pinggir jalan pikirnya.
Selepas membuka helm dan menaruhnya di atas motor, Mario yang sudah turun dari motornya dan Lia yang tengah menatapnya dengan tatapan heran membuat Mario langsung berjalan melewati Lia begitu saja dan mau tidak mau Lia pun mengekornya di belakang masuk ke kedai bakso tersebut.
" Pakde baksonya dua ya mang seperti biasa mang!" ucap Mario santai sementara Lia masih tercengang dengan sosok laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Yang Lia tahu Mario adalah sosok anak laki-laki yang brutal, suka mencari masalah, bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sikapnya sombong, arogan dan dingin. tapi tunggu dulu Lia merasa aneh dengan laki-laki yang ada dihadapannya saat ini sikapnya sungguh jauh dari biasanya.
" Ada apa dengannya ya, dan tempat ini. apa benar dia itu Mario yang terkenal pembuat onar di sekolah?" batin Lia dengan tatapan mata yang belum lepas dari wajah tampan milik Mario.
" Ekhemm!" deheman Mario membuat Lia terkesiap dan langsung membuang panas ke sembarang arah.
Mario tersenyum tipis melihat gelagat Lia yang nampak lucu dimatanya saat ini.
" Ini nak Mario pesanannya" ucap pakde penjual bakso seraya meletakkan dua mangkok bakso dan dua jus jeruk pesanan Mario.
" Terima kasih pakde" Mario menarik semangkok bakso ke hadapannya dan semangkok lagi kehadapan Lia.
" Sama-sama" sahut pakde lalu kembali membuat bakso untuk pelanggan yang lain.
Lia menatap tak percaya laki-laki dihadapannya dengan lahap memakan bakso pinggir jalan. Mario yang terkenal arogan dan sombong ternyata punya sisi yang lain.
Lia tersenyum simpul lalu mencicipi bakso yang harumnya saja sudah menggugah selera. tidak membuang waktu Lia pun menikmati baksonya dan ternyata woww rasa baksonya sungguh luar biasa, sangat pas di lidah Lia.
" Bagaimana, enak?" tanya Mario disela makannya.
" Gue heran dari tadi orang seperti loe kok bisa sih makan bakso di tempat seperti ini?" tanya Lia
" Kenapa memangnya?" tanya Mario memincingkan alisnya.
" Ya gak kenapa-napa sih, ini memang enak banget sih gue akui baksonya. wajarlah banyak yang suka termasuk loe mungkin salah satunya!" sahut Lia santai
" Disini selain baksonya enak suasana tempatnya juga nyaman. gue suka aja di sini" ucap Mario kembali memakan baksonya.
__ADS_1
"Gue setuju kalau soal itu, wah next gue bisa ajak Za, Mona, Mia, Mita sama Indah nih ke tempat ini!" ucap Lia dengan semakin.
Mario hanya mengangguk pelan dan tatapan matanya tidak lepas dari senyum Lia yang sungguh mempesona.
" Loe kenapa senyam-senyum kayak gitu?" tanya Lia curiga " Jangan-jangan otak loe geser ya akibat berantem waktu itu?" ledek Lia.
" Wah, ngajak duel ini anak" ucap Mario menghentikan makannya
" Dual.. duel aja loe, mau duel di mana KUA dulu baru duel" ceplos Lia membuat tangannya secara spontan langsung menutup mulutnya sendiri.
" Mam*us!" Lia langsung menunduk dan kembali memakan baksonya yang tinggal sedikit.
" Loe ngomong apa barusan?" cecar Mario yang ingin memperjelas ucapan Lia.
" Apaan sih, emang gue ngomong apa? loe salah denger kali. udah cepat makannya gue mau pulang?" ucap Lia yang sebenarnya merutuki kebodohannya sendiri yang sudah asal ngomong tanpa disaring.
" Loe emang udah siap untuk ke KUA, mau nikah muda ya loe?" ledek Mario membuat Lia semakin gugup dan salah tingkah.
" Ngaco loe" kesal Lia yang langsung menyeruput minumannya setelah itu langsung berdiri dan beranjak dari tempatnya pergi ke motor ninja milik Mario yang terparkir tidak jauh dari kedai bakso.
Mario hanya menggeleng pelan lalu menghampiri pakde penjual bakso untuk membayar baksonya.
" Nak Rio itu pacarnya ya, gak biasanya loh nak Rio membawa cewek ke sini." ujar pakde penjual bakso.
" Bukan pakde" jawab Mario dengan pandangan matanya mengarah ke Lia yang tengah melipat tangannya di dada.
" Tapi neng itu cantik cocok sama nak Rio" senyum mengembang diwajah pria paruh baya tersebut
" Ah pakde bisa saja, yaudah pakde aku pamit. terima kasih baksonya" ucap Mario seraya melangkah menghampiri Lia.
Mario naik ke atas motornya lalu memberikan Lia helm.
Setelah Lia naik ke atas motor ninja Mario, motor pun melesat meninggalkan kedai bakso menuju kediaman rumah Lia.
Sesampainya di depan rumah Lia Mario langsung menghentikan laju motornya.
" Makasih udah nganterin gue dan juga thanks teraktirannya !" ucap Lia setelah turun dari motor.
" Hemm!" jawab Mario singkat membuat Lia mendengus kesal.
" Makasih juga buat yang tadi di sekolah!" ucap Lia sebelum melangkah pergi
" Gak usah berterima kasih, tanpa gue juga loe pasti bisa mengatasi tuh anak, yang kekar aja loe bisa hempas apalagi dia" Mario menutup helmnya dan langsung tancap gas
Lia mendengus kesal atas sikap dingin dan cueknya Mario yang berlalu begitu saja.
kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, sampai di pintu gerbang Lia meminta mang Tono untuk membuka pintu gerbang.
" Mang!" panggil Lia menggedor pelan pintu gerbang
" Eh non Lia, lah itu tadi mobilnya sudah sampai duluan di rumah tapi kok non Lia nya baru pulang ?" tanya mang Tono kepo
"Owh mobil saya sudah sampai rumah ya mang?" tanya Lia melihat ke arah mobilnya yang sudah terparkir.
" Iya non tadi ada pemuda yang mengantarkan mobil non Lia." jawab mang Tono.
" Cepat juga!" gumam Lia dalam hati.
__ADS_1
" Yaudah kalau begitu saya masuk dulu ya mang!" ucap Lia yang berlalu masuk kedalam rumah.
" Iya non!" sahut mang Tono yang hendak menutup pintu gerbang kembali.
🖤
Sementara di sebuah rumah sakit Zaira tengah menjalani pemeriksaan kandungannya ditemani pak Suami.
Zaira tersenyum bahagia begitu juga dengan Azka tatkala dokter Dinda mengatakan kandungan Zaira dalam keadaan sehat.
Setelah mengetahui calon bayinya dalam keadaan sehat Zaira merasa sangat lega dan tenang. " Ya Allah semoga kamu selalu dalam keadaan sehat terus ya sayang!" ucap Zaira mengelus perutnya yang sudah sedikit terlihat membuncit.
" Terima kasih dokter!" ucap Azka
" Sama-sama pak Azka, tolong ya di jaga dengan baik istri dan calon bayi kalian. jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan jangan sungkan untuk menghubungi saya ya!" ucap dokter Dinda.
" Za, jaga baik-baik ya kandungan kamu!" pinta dokter Dinda.
" Iya kak Dinda, Terima kasih banyak ya kak!" ucap Zaira yang memang tidak ingin dokter Dinda memanggilnya nyonya ataupun ibu. Zaira lebih senang dipanggil Za.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan Zaira dan Azka pun pamit untuk pulang dan saat sudah berada di lobi rumah sakit, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka berdua.
" Kesempatan!" gumam orang tersebut dengan seringai licik di wajahnya.
Zaira dan Azka tengah berjalan dengan santai dan tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang berlari sekencang mungkin mengarah ke Zaira.
Brukkk
" Aaaaaaa..."
Seketika Zaira terjatuh duduk dan mata Azka membulat sempurna ketika melihat sang isteri meringis kesakitan.
" Sayang!" pekik Azka dan langsung menggendong tubuh Zaira membawanya kembali ke ruangan dokter Dinda.
Azka berhenti ketika sudah berada di depan dokter Dinda yang tengah berbicara dengan seseorang.
" Dokter tolong istri saya dok!" teriak Azka disela napasnya yang tersengal.
Dokter Dinda menoleh begitu juga dengan seseorang yang tengah berbicara dengan dokter Dinda.
" Zaira!" teriak dokter Dinda terkejut saat melihat Zaira berada di dalam gendongan sang suami.
" Ada apa dengan Zaira pak Bagaz?" tanya dokter Dinda sambil menunjukkan ruangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Zaira dengan teliti.
Azka hanya diam tatapannya tadi sempat melihat seseorang yang amat dikenalnya.
" Apa itu dia?" batin Azka
" Tolong pak Bagaz diam dulu disini ya, kami akan melakukan yang terbaik untuk Zaira. jadi tenanglah pak jangan lupa banyak berdoa" ucap dokter Dinda panjang lebar.
" Lakukan yang terbaik untuk istri ku dok!" ucap Azka lirih.
" Pasti itu pak!" ucap dokter Dinda.
Sementara di tempat lain dan masih di gedung rumah sakit yang sama seseorang tengah mencerna apa yang barusan ia lihat.
Dokter Ariel masih diam mematung di dalam hatinya ia masih berontak untuk memastikan kenyataan yang baru saja dilihatnya.
__ADS_1
" Ah mungkin hanya namanya saja yang sama!" pikir dokter Ariel namun saat hendak melangkah pergi dokter Ariel melihat pria yang pernah ia lihat sewaktu di rumah sakit saat Mita kecelakaan .