
Nana bersorak gembira saat Hana menjelaskan kenapa dia memberi Khanza selamat.
Miska, Hana dan Nana begitu turut bahagia atas kehamilan sahabatnya Khanza.
" Terus bagaimana dengan sekolah loe Za?" tanya Hana yang khawatir dengan kehamilan Khanza
" Kata mas Aldy, dia akan membicarakannya dengan papa Sam" jawab Khanza
" Papa Sam? siapa?" tanya Hana bingung
"Papa Sam yang Loe maksud itu tuan Samuel?" tebak Miska
"Loe bener-bener sahabat gue yang luar biasa Miska, gak ada yang enggak loe tahu rupanya tentang gue. duh kok gue jadi malah takut ya!" seloroh Khanza bergidik ngeri
"Ah sialan loe, gue kan cuma nebak aja dan kebetulan tepat sasaran" sahut Miska tertawa
" Kok loe bisa manggil tuan Sam papa sih?" tanya Hana penasaran
" Panjang ceritanya" jawab Khanza
" Enggak bisa di persingkat gitu?" tanya Hana
" Ya intinya ketika gue dan mas Aldy di jebak. papa Sam dan ibu yang datang memergoki kami. Dan akhirnya papa Sam yang meminta gue untuk menerima menikah dengan mas Aldy walaupun awalnya gue menolak ya karena gue memang gak ngelakuin apa-apa dengan mas Aldy."
" Keluarga Dinata sudah menganggap gue sebagai putri mereka sendiri apalagi mama Maria dia itu baik banget dan perhatian" ucap Khanza bercerita
" Oh begitu ceritanya" Miska, Hana dan Nana mengangguk mengerti
Ceklekk
" Assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikum salam" jawab Khanza dan yang lainnya serempak
" Mas!"
" Bagaimana keadaan mu sekarang sayang?" tanya Aldy yang mendaratkan satu kecupan di kening Khanza lalu mengelus perut Khanza dengan lembut
" Alhamdulillah, sudah sehat." jawab Khanza yang terlihat manja
" Aduh.... aduh... gerah ini!" sindir Miska
" Za, berhubung pak guru sudah datang kami pamit pulang ya. sehat-sehat ya jaga ponakan gue." lanjutnya
" Iya, Terima kasih aunty!" jawab Khanza
" Za gue pamit, pak Aldy kami pamit ya!" ucap Hana mewakili dua sahabatnya
" Iya, terima kasih banyak sudah menemani Khanza" ucap Aldy
" Tidak masalah pak, santai aja untuk Khanza apa sih yang enggak. bukan begitu teman-teman?" ucap Nana yang langsung menoleh ke arah kedua sahabatnya
" Enggak!" jawab Miska dan Hana dengan kompak
" Ih kalian mah gitu ngeselin" Nana menghentakkan kakinya membuat Khanza dan yang lainnya tertawa merasa lucu dengan tingkah Nana
" Sudah, cup... cup .. gak usah baper yuk kita cabut cari makanan dah baper ini!" Seloroh Hana
" Itu laper Hana bukan baper!" protes Nana
" Ah sama saja ayok ah cuz!" Hana merangkul leher Nana yang berjalan keluar ruangan lalu di susul oleh Miska.
__ADS_1
Khanza tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya.
" Mereka kocak ya?" ucap Aldy seraya membuka satu bungkusan yang tadi dibawanya
" Itu apa mas?" tanya khanza yang melihat Aldy tengah membuka bungkusan yang berisi makanan
" Ini sate ayam, tadi pas mas lewat dijalan lihat ada tukang sate terus tiba-tiba kepingin aja gitu makan ini" sahut Aldy seraya menyodorkan satu tusuk sate ke depan mulut Khanza
" Aaaa...!"
" Enak mas, sebenarnya tadi Za memang ingin dibelikan sate eh pas banget ya mas" jawab Khanza sambil mengunyah sate ayam tersebut
" Berarti itu sinyal dari calon anak kita sayang, ya semoga aja cinta kita semakin diperkuat dengan adanya calon bayi kita sayang" ucap Aldy yang menyuapi Khanza sate kembali
" Amin, semoga saja ya mas!"
" Oiya, bagaimana tadi, apa banyak yang datang ke sini?" tanya Aldy yang membuat mood Khanza tiba-tiba berubah.
" Sudah mas udah kenyang" tolak Khanza ketus ketika Aldy menyodorkan kembali sate ayam nya.
" Loh kok jadi ketus gitu, memangnya ada apa hem?" tanya Aldy yang mengusap bumbu sate yang berada di sudut bibir Khanza dengan ibu jarinya
Khanza jadi teringat dengan sikap Bu Siska disekolah yang sok perhatian dengan suaminya sampai memberi kotak bekal segala dan ditambah tadi sewaktu menjenguknya dengan jelas bu Siska memperlihatkan rasa sukanya kepada suaminya itu membuat Khanza semakin panas dan terbakar api cemburu
" Mas suka ya sama bu Siska?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir manyunnya
" Loh kok nanyanya begitu?"
" Yaudah sih jawab aja susah amat!" kesal Khanza
" Loh kok kamu jadi marah sama mas ?" Aldy jadi bingung sendiri
" Ya masnya bukan jawab, iya apa enggak!" Khanza kembali mode jutek
" Ya mas jawab aja mas itu suka apa enggak sama Bu Siska, gitu aja susah amat sih jangan-jangan mas memang ada rasa ya sama guru yang sok kecantikan itu;" Aldy menghela napasnya panjang ternyata isterinya ini sedang mode cemburu toh.
" Kamu ini kenapa sih sayang, kok tiba-tiba bertanya seperti itu? kamu cemburu sama bu Siska?"
" Tau ah!" Khanza merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut
" sayang jangan seperti ini, nanti kamu engap kasihan dedeknya!" ucap Aldy menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Khanza
" Enggak mau, mas pergi aja sana temuin bu Siska dia kayak udah kangen banget tuh sama mas!" ucap Khanza seraya menangis
" Loh kok jadi nangis sih?" Aldy dibuat bingung sendiri
" Sayang, sudah dong jangan seperti ini" Aldy terus membujuk Khanza
" Mas jahat" Aldy berusaha untuk tenang menghadapi ibu hamil yang satu ini.
" Za benci mas, sana pergi!" teriak Khanza
" Yakin mas pergi nih?" Aldy menautkan alisnya
" Iya sana pergi temui saja sana pengagum berat mas itu!" Aldy tersenyum simpul
" Isteri mas kalau sedang cemburu menakutkan juga ya?" seloroh Aldy
"Yaudah mas pergi ya!" ucap Aldy menggoda
" Bodo amat!" kesal Khanza
__ADS_1
" Kenapa kamu bahas bu Siska yang enggak penting itu sih sayang?"
Khanza beranjak dari rebahannya dan duduk bersila menatap Aldy tajam
" Enggak penting kata mas tapi bekal makannya aja mas ambil" ketus Khanza
Aldy tertawa " Mas mengambil bekal bu Siska karena mas merasa tidak enak untuk menolaknya tapi kamu juga harus tahu kalau mas enggak memakannya karena kotak bekal tersebut mas kasih ke pak Wahyu" terang Aldy membuat Khanza menyunggingkan senyumnya yang disembunyikan dengan menoleh ke arah lain.
" Jangan cemburu dengan bu Siska dia itu tidak ada bandingannya dengan isteri mas yang satu ini" ucap Aldy mencubit gemas hidung Khanza
" Apalagi kalau sudah marah begini!" tawa Aldy
" Aww... mas ih sakit tahu!" keluh Khanza memegang hidungnya
" Makannya kalau cemburu itu bilang, enggak usah pakai acara marah-marah gak jelas gitu" ucap Aldy mengacak-acak rambut Khanza gemas
" Mas iihhhh!" Khanza memberengut
Cup
Khanza langsung melotot karena Aldy mendaratkan satu kecupan di bibirnya
" Sudah jangan marah lagi, kasihan dedeknya kalau bundanya marah-marah terus" Aldy menarik Khanza ke dalam pelukannya
" Sebaiknya kamu istirahat ya, jangan banyak pikiran cukup pikirkan mas dan calon anak kita aja, kalau soal yang lainnya biarkan mas yang pikirin" ucap Aldy membuat Khanza merasa begitu tenang berada di dalam dekapan sang suami
" Terima kasih ya mas, maaf kalau Za pencemburu!" ucap Khanza lirih
" Tidak apa-apa sayang, mas malah senang kalau dicemburuin tapi jangan cemburu buta ya?" ucap Aldy mengurai pelukannya
" Cemburu boleh tapi harus bisa menerima penjelasannya dulu. jangan asal tuduh dan marah-marah yang bisa merugikan diri sendiri sayang!" ucap Aldy dan Khanza mengangguk seraya tersenyum.
" Iya mas!" Khanza kembali kedalam pelukan hangat sang suami
" Mulai sekarang, kalau ada apa-apa itu kita bicarakan dulu jangan main asal tuduh, oke!" Khanza hanya mengangguk seraya menghirup aroma sang suami yang begitu menentramkan hatinya
" Mas!" panggil Khanza
" Iya ada apa?"
" Bobo yuk aku ngantuk" Aldy tertawa melihat sikap manja sang calon ibu muda
" Yaudah, istirahat saja!" Aldy membantu Khanza untuk merebahkan tubuhnya
" Mas mau kemana?" tanya Khanza saat Aldy hendak beranjak pergi
" Mas mau pindah ke sofa sekalian mengerjakan pekerjaan mas!" jawab Aldy
" Gak boleh" tegas Khanza menarik tangan Aldy
" Eh?" Aldy terkejut karena Khanza menahannya
" Mas temani Za disini!" rengek Khanza manja
Aldy tertawa renyah melihat sikap manja Khanza yang tidak seperti biasanya.
" Iya sayang, baiklah mas akan temani bunda dan dedek bayi tidur, hem!" Aldy kembali merangkak naik ke atas brankar yang sedikit sempit itu.
" Tidurlah!" seru Aldy yang menjadikan tangannya sebagai bantalan Khanza dan benar saja tidak butuh waktu lama Khanza yang merasa nyaman berada di dalam dekapan sang suami langsung tertidur pulas.
" Sehat terus ya sayang, bunda dan dedek bayi . I Love You sayang!" ucap Aldy seraya mendaratkan kecupan manis di kening Khanza.
__ADS_1
Aldy yang merasa lelah pun akhirnya menyusul Khanza yang sudah lebih dulu terlelap.