
Mario dan Lia tengah asik bercengkrama di tengah malam buta dini hari. " Yang ini sudah larut malam loh hampir pagi malah, tidur gih! gak baik loh yang buat kesehatan kamu. pasien itu yang ada banyak istirahat bukannya begadang kayak kamu ini" ucap Mario karena sebenarnya dia sudah sangat mengantuk apalagi besok ia harus bangun pagi-pagi dan berangkat ke sekolah.
" Iya tapi aku masih belum ngantuk, kalau kamu udah ngantuk kamu aja gih yang tidur duluan, dah sana tidur besok kamu itukan sekolah" ucap Lia mendorong pelan tangan Mario yang tengah duduk di kursi samping Lia.
" Mana bisa aku tidur sementara kamu masih melek gitu" Mario berdiri dari duduknya
" Kamu mau kemana Io?" tanya Lia yang menggeser posisinya menjadi duduk bersandar
" Aku mau ke toilet" sahut Mario berjalan ke arah toilet.
Lia hanya tersenyum sendiri, merasakan keanehan dengan perasaannya saat ini.
" Kenapa gue ngerasa segitu takutnya dia pergi ya tadi?" gumam Lia dalam hati.
Ceklekk
pintu kamar mandi terbuka dan Lia menoleh Seketika ia melihat Mario yang terlihat dua kali lipat ketampanannya karena wajah dan rambutnya yang sedikit basah.
Karena merasa mengantuk yang hampir tidak tertahankan lagi maka Mario memilih untuk mencuci mukanya agar matanya kembali segar dan dia bisa menemani dan menjaga Lia.
Melihat Lia yang diam saja tak berkedip ke arahnya muncullah ide jahil di benak Mario.
perlahan Mario berjalan mendekati Lia yang masih tak bergeming dari lamunannya, setelah jarak mereka terkikis hanya 5 senti saja Mario meniup wajah Lia.
fyuhhh
Lia terkesiap dari lamunannya dan detik kemudian jantungnya berdegup tidak karuan karena melihat wajah tampan Mario dengan jarak yang teramat dekat.
" Ka... Ka..kamu!' ucap Lia terbata-bata
" Kenapa melamun hem, kamu sedang melamunkan apa sayang?" tanya Mario sambil mengelus pipi mulus Lia dan sontak saja hal itu memicu ketegangan pada Lia yang semakin tidak karuan.
" Kam... kamu mau apa?" Lia semakin gugup ketika wajah Mario sekamikin menempelkan kening mereka masing-masing hingga deru nafas keduanya beradu dan saling bersahut-sahutan.
" Aku mau kamu my Lily!" ucap Mario ditelinga Lia.
" Ma... Mario... I..I..Io, ja... jangan macam-macam!" wajah Lia nampak semakin tegang dan sedikit panik. Mario yang hampir saja melupakan kondisi Lia saat ini langsung tersadar kalau kejahilannya melewati batas.
" Aku mau kamu my Lily tidur sekarang, hari sudah hampir pagi!" ucap Mario tegas saat memundurkan wajahnya dari wajah Lia.
Ucapan Mario barusan tentu saja membuat Lia mengerutkan keningnya. " Tidur?" cicitnya
" Iya tidur, kalau kamu terus melek seperti itu terus jangan salahkan aku kalau aku bisa saja khilafah dan_" belum selesai Mario bicara Lia langsung memberingsut diatas tempat tidur menarik selimutnya sampai menutup wajahnya.
Mario melihat tingkah konyol sang kekasih langsung menarik pelan selimut yang menutupi wajah cantik Lia kekasih hatinya.
" Jangan ditutupi seperti ini sayang tidurnya, nanti kamu sulit bernafas. tidurlah sayang aku akan menjaga dan menemani kamu malam ini!" ucap Mario lalu mendaratkan kecupan di kening Lia.
Mendapat kecupan di keningnya Lia langsung diam membeku. terkejut itu pasti karena ini baru pertama kali ia dekat dengan seorang pria sedekat ini sebelumnya dia tidak pernah merasakan hangatnya cinta dari lawan jenis selain papa dan kakaknya Azka.
Lia tersenyum simpul dan dengan spontan tangannya langsung memegang keningnya yang dikecup oleh Mario. wajah Lia terasa panas dan nampak merah semerah tomat.
" Ada apa dengan mu sayang, kenapa wajahmu merah seperti itu, apa ada yang kamu rasakan? biar aku panggil dokter dulu ya?" Mario hendak beranjak dari duduknya namun tangan putih nan lembut Lia langsung menarik tangan Mario.
" Aku tidak apa-apa!" ucap Lia tersenyum malu-malu dan langsung menyembunyikan kembali wajahnya di balik selimut.
" Sayang, jangan seperti itu tidurnya!" Mario hendak menarik kembali selimut yang menutupi wajah Lia tapi belum sampai menarik selimut tersebut Lia sudah mencegahnya.
" Kamu sebaiknya cepat istirahat Io, aku baik-baik saja kok. cepat sana pergi tidur aku juga akan segera tidur Io!" pinta Lia dan hal itu tentu saja membuat Mario tersenyum tipis.
" Baiklah aku pergi tidur di sofa, tapi kamu juga harus tidur dan singkirkan selimutmu itu!" ucap Mario yang beranjak dari tempatnya berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
Mario melihat ke arah Lia yang perlahan membuka selimut yang menutupi wajahnya dan dia tersenyum sebelum merebahkan dirinya di sofa yang empuk itu.
Karena rasa kantuk yang sudah teramat sangat, meskipun sudah cuci muka tetap saja Mario tidak bisa melawan rasa kantuknya itu dan akhirnya dia pun terlelap juga
__ADS_1
Lia hanya menggelengkan kepalanya saat beranjak dari tidurnya dan menatap wajah tampan yang kini menyandang status kekasihnya. tidak pernah terbesit sedikit pun dibenaknya kalau ternyata hatinya akan berlabuh pada seorang laki-laki yang terkenal selalu menjadi biang masalah di sekolahnya apalagi sempat membuat Sahabatnya Zaira tertekan akibat ulahnya.
Dulu Lia sangat membenci seorang Mario kakak kelas yang memang memiliki ketampanan yang tidak jauh dari sang kakak tapi karena tingkahnya yang selalu membuat orang emosi yang kerap kali terlibat masalah dengannya bila menolak atau membatahnya ditambah lagi Mario yang terkenal playboy membuat nilai negatif terukir jelas dimata Lia.
Lia tersenyum sendiri melihat keadaannya sendiri saat ini yang ternyata dengan mudahnya perasaan benci yang dulu melekat begitu dalam kini justru terkikis dengan perhatian penuh yang Mario berikan hingga tidak tersisa, yang ada justru sebaliknya kebencian itu kini berbanding terbalik menjadi cinta yang teramat dalam.
" Aku sungguh sudah di buat jatuh cinta sama kamu sedalam dalamnya jatuh Io, aku tidak tahu jika tidak ada kamu" mata Lia nampak sudah berkaca-kaca memandang wajah tampan Mario dari kejauhan.
" Terima kasih my Io, I Love you!" ucap Lia sambil tersenyum sendiri tapi senyum itu seketika memudar saat indra pendengarannya menangkap suara dari arah sofa.
" I Love you to my Lily !" ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Lia.
Deh
" Apa dia belum tidur ya?" gumam Lia dibalik keterkejutannya. Lia langsung memberingsut dan kembali menarik selimutnya.
" Tidurlah sayang, aku tahu kamu cinta sama aku dan kamu juga harus tahu aku lebih cinta sama kamu!" ucap Mario sayup-sayup dengan mata yang masih terpejam berat sekali untuk dibukanya. meskipun matanya terpejam tapi telinganya masih bisa dengan jelas mendengar ungkapan perasaan Lia.
" Kamu belum tidur?" tanya Lia pelan sedikit ragu-ragu.
Tidak ada jawaban, karena ternyata Mario kembali terlelap. " Dasar aneh!" gumam Lia yang kembali tersenyum lega.
Akhirnya Lia pun menyusul Mario yang sudah lebih dulu terlelap dan kini mungkin sudah berada di alam mimpinya.
...❇️❇️❇️...
Dokter Ariel dan Mita saat ini sedang berada di sambungan telepon tapi uniknya keduanya saling diam tidak ada yang memulai pembicaraan.
Mita yang diam karena masih merasa deg degan teringat dengan ungkapan perasaan dokter Ariel terhadapnya. sementara dokter Ariel deg degan berharap Mita akan berubah pikiran dan mau membalas perasaannya.
Dokter Ariel sangat deg degan karena takut rasa cintanya ditolak untuk kedua kalinya.
" Emmm, Mita apa kamu sudah mengantuk, ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat saja dan soal yang tadi jika kamu merasa tidak nyaman maka sebaiknya kamu lupakan saja!" ucap dokter Ariel memecah keheningan diantara mereka.
" Iya dokter!" jawab Mita singkat.
" As..!"
" Tunggu dulu!" potong Mita
" Emmmm..... Apa..... apa ucapan dokter Ariel tadi itu serius?" ucap Mita sedikit gugup
" Ucapan yang mana?" tanya dokter Ariel yang pura-pura tidak mengerti
" Oh sudahlah lupakan, maaf !" ucap Mita mengurungkan kata-katanya.
" Assalamu'alaikum!" ucap Mita
" Aku serius, aku menyukaimu Mita Paramita!" sahut dokter Ariel sebelum menutup telponnya.
" Wa'alaikum salam!" ucapnya dan sambungan telepon pun terputus entah Mita duluan atau dokter Ariel duluan yang memutus sambungan teleponnya tapi yang jelas saat ini keduanya tengah larut dengan perasaan mereka masing-masing.
Deg
Deg
Deg
"Jantung gue, kenapa gue jadi serseran gini sih, ah waktu gue pacaran sama Leo gue gak pernah ngerasa kayak gini apa karena gue jatuh cinta sama orang yang usianya jauh lebih dewasa ya dari gue? ah jatuh cinta? kok gue jadi geli sendiri ya dengarnya" batin Mita dan meletakkan tangannya di dada merasakan degup jantungnya yang berpacu sangat cepat.
Dan di belahan bumi yang lain dokter Ariel tengah menatap langit-langit kamarnya, untung saja malam ini dan esok ia tidak ada jadwal praktek jadi sedikit lega jika harus tidur larut malam juga.
" Parah ini sih, kenapa gue ngerasa kayak anak ABG baru pertama kali pacaran sih, parah banget ya pengaruh loe Mita Paramita sampai gue ngerasa ngeri sendiri sama diri gue, pikiran gue habis di penuhi oleh loe Mita.!" gumam dokter Ariel sendiri berbicara pada hembusan angin.
" Semoga aja kamu tidak menolak perasaan aku Mita, jika kamu menolaknya duniaku pasti akan hancur." lirihnya dan tidak lama dokter Ariel pun tertidur.
__ADS_1
...☀️☀️☀️...
Pagi menyapa dua insan yang tertidur pulas di satu ruangan masih asik dengan alam mimpinya sampai mama Maria datang pun mereka belum ada satupun yang terbangun.
Mama Maria hanya menggelengkan kepalanya saat melihat dua anak muda yang masih asik dengan dunianya.
" Kalian ini tidur jam berapa sih, sampai-sampai jam segini masih pada pulas tidurnya?" gumam Mama Maria sambil mengeluarkan makanan yang dia bawa dan meletakkannya di atas nakas.
Mama Maria melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6:30, Mama Maria lalu menghampiri Mario yang masih terlelap di atas sofa.
" Nak Mario bangun, ini sudah siang!" mama Maria menepuk-nepuk pelan bahu Mario.
" Nak Mario bangun, apa kamu tidak berangkat ke sekolah?" panggil Mama Maria lagi.
Merasa ada guncangan ditubuhnya perlahan Mario mengerjapkan matanya dan betapa terkejutnya Mario saat melihat wajah Mama Maria berdiri di hadapannya.
Mario langsung beranjak dari tidurnya dan duduk " maaf tante saya ketiduran!" ucap Mario merasa tidak enak hati.
" Tidak apa-apa!" ucap Mama Maria tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu Mario pelan, dia tahu kalau Mario beberapa hari ini sudah menjaga putinya dan rasa lelah pasti ada apalagi setiap pagi ia harus mengejar jam sekolah.
Semenjak Mario mengenal Lia tekatnya sudah bulat untuk berubah dan lebih fokus dengan sekolahnya tidak ingin membuang waktunya dengan percuma.
Mario ingin menjadi orang yang sukses seperti papa Sam karena ia ingin kelak dapat bersanding dengan putri satu-satunya dari keluarga Dinata.
" Ini sudah jam 6: 30, apa kamu mau berangkat ke sekolah. tanya mama Maria saat melihat Mario yang bersiap untuk pulang.
" Sudah siang, saya pamit pulang dulu ya tante. salam saja buat Lily!" ucap Mario yang langsung membuat Mama Maria mengerutkan keningnya.
" Maaf maksudnya Meli!" ucap Mario di tengah ke gugupannya
Mario sudah pergi, untung saja dia siap siaga dan sudah membawa seragam sekolahnya.
dia tahu pasti akan datang terlambat dan akan mendapat hukuman dari ketua OSIS.
Sebenarnya Mario bisa saja bersikap seperti dulu tapi dia urungkan karena tujuannya saat ini yang ada hanyalah belajar dengan baik dan menjadi murid yang baik pula.
Selagi Mario berangkat ke sekolah dengan sangat terburu-buru Lia yang masih berada di atas brankar dengan mata yang terpejam perlahan membuka matanya karena guncangan dari mama Maria yang tengah membangunkannya.
" Sayang, kalian ini memang tidur jam berapa sih, sampai bangun kesiangan gitu?" tanya mama Maria yang tengah menyendok sarapan untuk Lia.
" Kesiangan ma? jadi Io, maksud Meli Mario juga bangun kesiangan ma?" tanya Lia tanpa jeda dan langsung beranjak dari duduknya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.
"Cari siapa, Mario?" tanya Mama Maria dan Lia mengangguk pelan.
" Dia baru saja pergi, sepertinya dia akan kesiangan!" ucap Mama Maria
" Kesiangan mah? duh Mel jadi gak enak mah, jadi merasa bersalah!" ucap Lia dengan wajah sendu.
" Loh memang kenapa sayang?" tanya Mama Maria yang melihat wajah sendu putri kesayangannya.
" Semalam Meli gak bisa tidur mah, dan untung saja ada dia mah yang walaupun Meli tahu dia sudah sangat lelah dan mengantuk tapi tetap saja dia berusaha untuk tetap terjaga menemani Meli mah" ucap Lia sendu.
" owh itu penyebabnya, pantas saja matanya seperti mata panda." ucap Mama Maria sambil tertawa
" mama ih, yang benar saja?"
" Benar sayang, apa kamu belum tahu ya kalau pacar kamu itu sekarang sedang belajar membantu papanya untuk mengurus perusahaan?" tanya mama Mario
" Maksud mama?" tanya Lia penasaran.
" Dia itu pasti kelelahan karena setelah pulang sekolah dia langsung berangkat ke kantor papanya dan membantu papanya menghendle beberapa pertemuan dengan para klien.
Lia tercengang mendengar ucapan mamanya,
" Mama tahu dari mana mah?" tanya Lia
__ADS_1
" Dari papa dong yang pastinya, karena itulah papa kamu mengizinkan kalian berpacaran karena ternyata Mario itu termasuk orang yang cukup mandiri dan cerdas tentunya." sahut dady Sam.
"