
Zaira yang masih begitu syok dengan kejadian tadi akhirnya diizinkan untuk pulang bersama mama Maria. Sementara Azka menyuruh Shendy asisten sekaligus sekretaris pribadinya untuk mengurus kekacauan yang terjadi di sekolah menghapus video yang sempat beredar dan juga semua Bulian yang tertuju pada Zaira.
Mama Maria tidak henti-hentinya mengusap lembut pucuk kepala Zaira, menenangkan segala keresahan dan kegelisahan yang tengah di alami menantu kesayangannya.
Setelah mobil sampai di depan rumah Maria mengajak Zaira turun dan merangkul bahunya memasuki rumah yang terbilang mewah dan megah.
Mama Maria mengantarkan Zaira ke kamarnya, menyuruhnya untuk beristirahat. Mama Maria menyelimuti tubuh Zaira hingga sebatas pinggang tapi sebelumnya Zaira sudah mengganti seragamnya dengan pakaian rumah.
" Mah!" panggil Zaira dengan lirih.
Mama Maria yang hendak melangkah keluar akhirnya menoleh karena mendengar suara Zaira memanggilnya.
" Iya ada apa sayang?" tanya mama Maria dengan lembut.
" Ma, Za tidak melakukan yang dituduhkan Mario sama mas Azka ma, walaupun kami sudah halal tapi Za masih tau batasan ma!" Ucap Zaira dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Mama Maria tersenyum tipis lalu perlahan berjalan menghampiri Zaira lalu duduk di tepi tempat tidur. Mama Maria meraih tangan Zaira dan mengusap punggung tangannya.
" Mama percaya sayang, anak dan menantu Mama mana mungkin melakukan hal sebodoh itu, kamu tenang saja ya sayang suami kamu sama papa pasti tidak akan tinggal diam begitu saja dengan kejadian tadi" ucap Mama Maria menenangkan hati Zaira yang Mama Maria tahu pasti menantu kesayangannya ini sedang merasa tidak enak dengannya.
" Terima kasih ya ma" Zaira langsung berhambur memeluk Maria mertua yang begitu menyayangi dirinya seperti putrinya sendiri.
" Ya sudah tidak usah di pikirkan lagi, sekarang kamu istirahat ya sayang, mama mau kedapur dulu untuk menyiapkan makan siang" Zaira mengangguk dan tersenyum bahagia mendapatkan perhatian yang begitu besar dari mama mertuanya.
*
*
*
Di dalam kelas Lia menggeram kesal pasalnya banyak adik kelas dan juga kakak kelas yang merupakan penggemar Mario mengatakan hal yang tidak enak di dengar tentang Zaira.
Nia yang kebetulan saat itu baru datang bersama Lala dan belum begitu jelas dengan kehebohan yang terjadi di sekolah pagi ini langsung berlari menuju kelas Zaira.
" Kak!" panggil Nia kepada Lia yang tengah bersandar di pinggiran meja bersama sahabat-sahabatnya.
Mona yang melihat kedatangan adik kelasnya memberitahu yang lainnya yang kebetulan posisi mereka membelakangi Nia dan hanya Mona yang menghadap ke arah pintu saat melihat dua siswi yang berdiri diambang pintu memanggil kak kearah mereka dengan mengangkat dagunya Mona memberitahu.
" Henmm!" tunjuk Mona memberitahu ke yang lainnya dengan dagunya.
Seketika semuanya menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Mona, Lia yang mengenal siapa dua siswi tersebut yang berdiri diambang pintu langsung berjalan menghampirinya.
" Kak Lia, maaf di mana kak Zaira?" tanya Nia yang sedikit ingin memastikan keadaan Zaira saat ini.
Entah kenapa melihat Nia ada rasa ketidaksukaan dalam hati Lia, padahal dia belum begitu mengenal adik kelas yang kini berdiri di hadapannya dan tengah menanyakan keadaan sahabat baiknya.
" Za sudah pulang, soal keadaannya gue juga belum tahu" jawab Lia datar.
" Kak maaf apa benar yang diberitakan disekolah ini kalau kak Zaira dengan pak Bagaz melakukan hal yang tidak pantas?" tanya Nia tanpa basa-basi.
Mendengar pertanyaan Nia membuat Lia tersenyum kecut. " Menurut loe?" tanya balik Lia
" Zaira itu sahabat gue dan gue rasa loe juga tahu bagaimana sosok seorang Zaira. jadi gak perlu gue bilang juga gue rasa loe udah tau jawabannya" Setelah mengatakan itu Lia berbalik badan dan meninggalkan Nia dan Lala yang masih berdiri mematung.
" Nia ayo kita balik ke kelas, dengan jawaban kak Lia tadi loe pasti udah tau kan jawabannya?" Lala menarik tangan Nia mengajaknya kembali ke kelas mereka.
Disepanjang jalan menuju kelas Nia masih diam mengabaikan Lala yang nyerocos tanpa jeda. Entah apa yang ada di dalam benaknya hanya dia dan tuhan yang tahu.
Lia kembali ke bangkunya, Mita dan Mona menoleh ke belakang dimana Lia duduk.
"Ada apa, untuk apa mereka berdua datang kemari?" tanya Mona yang penasaran dengan kedatangan adik kelasnya itu.
" Menanyakan Za" sahut Lia sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
" Menanyakan Za untuk apa?" Mona penasaran
" Memastikan kebenaran berita yang beredar?" jawab Lia dengan malas
" Ya ampun Za, bagaimana keadaannya ya sekarang. berita tadi pagi begitu heboh di grup sekolah" Mona pemikirannya menerawang dengan keadaan Zaira saat ini.
" Kata mama Za sudah jauh lebih tenang, sekarang dia lagi istirahat" ucap Lia memberitahu.
" Syukurlah" timpal Mita.
" Li, boleh gak sepulang sekolah kita mampir ke rumah loe buat mastiin keadaan Za?" tanya Mia ikut nimbrung
" Betul tuh, gimana Li?" tanya Indah ikut setuju dengan ucapan Mia
" Emmmm... " Lia nampak berpikir.
" Gak usah kebanyakan mikir, saat ini Za pasti membutuhkan keberadaan kita disisinya Li" sambar Mita ikut berkomentar.
" Iya Li" Mona setuju
__ADS_1
Lia nampak berpikir sejenak setelah itu mengangguk. " oke, nanti pulang sekolah kita ke rumah gue" sahut Lia yang akhirnya setuju dengan sahabat-sahabatnya.
Bel masuk sekolah berbunyi, semua murid tengah duduk bersiap untuk belajar.
*
*
*
Jam pulang sekolah Lia membawa sahabat-sahabatnya ke rumahnya tepatnya sih ya rumah orang tuanya. mobil mereka sudah terparkir di depan rumah orang tua Lia dan sedikit ada yang mengganjal di ke empat gadis yang baru saja turun dari dalam mobil kecuali Mita dan Lia.
Ke tiga gadis tersebut yang tak lain Mona, Mia dan Indah terus saja memicingkan mata mereka menatap lamat-lamat mobil yang tengah terparkir di sebelah mobil mereka.
Mobil yang mereka rasa tidak asing dimata mereka tapi belum juga terlintas dibenak mereka siapa pemilik mobil tersebut. sampai akhirnya Mita membuyarkan lamunan ke tiga sahabatnya itu yang masih setia diam menatap heran mobil tersebut.
" Woyyy.. kalian mau masuk gak, atau mau diam terus disitu?" teriak Mita membuat Mia, Indah dan Mona terhenyak.
" Ah.. iya" sahut Mia yang langsung berlari mengejar Mita yang sudah berdiri diambang pintu yang di ikuti oleh Mona dan juga Indah.
" Tunggu dong, semangat banget sih" ucap Mona
" Bukan semangat tapi cemas" sungut Mita
" Oia Mit, loe tau gak itu mobil siapa kok gue ngerasa gak asing ya sama itu mobil?" tanya Mia yang benar-benar penasaran dengan mobil hitam yang terparkir di sana.
" Ya loe tanya gue, mana gue tahu. lagian ya ngapain sih loe ngurusin tuh mobil? mending masuk yuk ah!" Mita langsung masuk ke dalam rumah menyusul Lia yang sudah lebih dulu masuk.
" Assalamu'alaikum!" ucap Mita di ikuti teman-temannya.
" Wa'alaikum salam!" sahut Mama Maria menjawab salam. Mama Maria baru saja keluar dari dapur setelah selesai memasak awalnya Mama ia hendak menunju ke kamar Zaira namun saat hendak menaiki anak tangga ia mendengar ada yang mengucapkan salam jadi dia berbalik dan melihat kedatangan Lia dan sahabat-sahabatnya yang juga sahabat menantu kesayangannya.
" Ma, Za di mana?" tanya Lia pada mamanya setelah mencium punggung tangannya.
" Di kamarnya" sahut Mama Maria lalu menoleh ke arah sahabat-sahabat putrinya.
" Ma, ini teman-teman Mel dan juga Za. mereka ingin bertemu dengan Za ma" ucap Lia memberitahu mamanya.
Mita langsung mengalami tangan Mamanya Lia dan diikuti dengan yang lain.
" Maaf tante, boleh gak kami bertemu dengan Za?" tanya Mita meminta izin kepada Mamanya Lia.
" Emmm, boleh. kalian duduk saja dulu biar tante panggilin Za nya ya" jawab mama Maria dengan ramah.
" Di sini saja Li, biar Za tidak bosan seharian di dalam kamar" sahut Mita memberi alasan.
" Benar kata teman kamu sayang, biar mama panggilin dulu ya Za nya!" mama Maria menaiki anak tangga menuju kamar Zaira. hatinya sangat lega karena ucapan Mita yang lebih memilih menunggu Zaira dibawah dan tidak menemuinya di kamar karena kalau saja mereka tau didalam kamar Zaira tidak lagi sendirian tapi ada Seseorang yang sedang menenangkan dan menghiburnya di pastikan mereka akan sangat syok dan bisa jadi mereka akan percaya dengan gosip yang tengah beredar di sekolah.
Tok.... tok.. tok..
mama Maria mengetuk pintu kamar Zaira.
Di dalam kamar Zaira tengah bersandar di dada bidang sang suami tercinta. tidak henti-hentinya Azka mendaratkan kecupan di kening Zaira. menggenggam erat tangannya dan mengusap lembut bahunya yang tadi sempat bergetar karena tidak kuasa untuk menahan tangisnya.
Pada saat jam mengajar Azka sudah selesai, dengan cepat Azka memutuskan untuk pulang. karena ia teringat dengan keadaan isterinya di rumah. ia sangat mengkhawatirkan keadaan Zaira walaupun sempat menanyakan kabarnya kepada mamanya dan mengatakan kalau Zaira baik-baik saja tetap saja Azka merasa belum puas jika tidak memastikannya sendiri keadaan istrinya.
Setelah sampai di rumah Azka langsung menuju ke lantai dua letak dimana kamarnya berada, saat membuka pintu kamarnya Azka terkejut karena melihat pemandangan yang membuatnya begitu pilu. isterinya tengah meringkuk dibalik selimut dengan tubuh yang bergetar bahkan Zaira tidak menyadari kedatangan Azka yang sedang berjalan menghampirinya.
Azka naik ke atas tempat tidur lalu menarik pelan selimut yang menutupi tubuh Zaira.
merasakan ada yang menarik selimutnya membuat Zaira tersentak dan bangun. matanya membulat saat melihat sosok yang tengah duduk di hadapannya dengan seulas senyum tipis yang menghias sudah bibirnya.
" Ma.. mas!" ucap Zaira terbata.
Azka tersenyum dan menatapnya lembut tanpa basa-basi Azka langsung menarik tubuh mungil Zaira kedalam pelukannya.
" Kenapa menangis, hemm?" tanya Azka lembut sambil mengusap punggung Zaira.
" Siapa yang menangis, aku tidak menangis?" Zaira berkilah.
Azka merenggangkan pelukannya dan menatap lekat mata bulat milik Zaira lalu mencubit gemas hidup mancung Zaira.
" Aww sakit!" teriak Zaira memberengut.
" Siapa suruh berbohong!" Azka menarik kembali Zaira ke dalam pelukannya.
" Mas berjanji sayang, mas tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi. mas akan menjaga dan melindungi kamu. dan tidak akan membiarkan hal tadi terjadi lagi. mas janji sayang" ucap Azka sambil memeluk Zaira dan tentu saja ucapan Azka membuat Zaira kembali menangis.
" Loh kok kamu malah menangis sih sayang, maaf.. maafin mas ya karena mas tidak bisa menjaga kamu tadi sampai murid bere****k itu berbuat kurang ajar sama kamu" Azka mengurai pelukannya dan mengusap air mata Zaira dengan ibu jarinya.
Zaira menggeleng dan berhambur memeluk Azka rasanya nyaman berada di dalam pelukan sang suami sampai akhirnya Azka membiarkan Zaira yang terus memeluknya.
" Sekarang kamu istirahat ya!" titah Azka lembut
__ADS_1
Zaira mengangguk. " Tapi mas akan menemaniku kan?" tanya Zaira malu-malu.
Azka tersenyum lalu bergeser dan bersandar di kepala tempat tidur begitu juga dengan Zaira memilih untuk ikut bersandar namun ia lebih memilih bersandar di dada bidang suaminya yang begitu nyaman dan hangat.
Azka tersenyum tipis dan berkali-kali mendaratkan kecupan manis di kening sang isteri tercinta namun di saat ia ingin mendaratkan kecupan di bibir ranum Zaira suara ketukan pintu membuat Azka dan Zaira tertegun dan menoleh ke sumber suara ketukan pintu.
Tokkkk.... tokkkk... tokkk...
Azka mendengus kesal sementara Zaira menahan tawanya.
" Siapa?" teriak Azka
" Ini mama" jawab Mama Maria
Zaira hendak turun dari tempat tidur namun tangan kekar Azka menahannya.
" Biar mas saja yang membuka pintunya!"
Azka turun dari tempat tidur berjalan menuju pintu.
Ceklekk
" Ada apa ma?" tanya Azka dengan malas
" Mana Za?" tanya mama Maria
" Sedang istirahat!" jawab Azka mendengus kesal.
" Mama ganggu ya?" goda mamanya yang melihat raut wajah bete putranya.
" Itu mama tau!" kesal Azka.
mama langsung memukul Azka " Dasar anak ini , sudah bikin ulah disekolah sekarang malah mau enak-enak. jangan-jangan yang tadi di sekolah benar ya karena kamu gak bisa ketahanan?" ledek mama Maria yang langsung mendapat pelototan dari sang putra. pasalnya bisa-bisanya mama bicara seperti itu seolah tidak percaya dengan putranya sendiri.
" Ma, gini-gini juga Azka punya etika dan sopan santun, mana mungkin Azka melakukan hal seperti itu di area sekolah" Azka memberengut merasa kesal dengan ucapan mamanya.
" Mama bercanda sayang, mama juga tahu kok anak dan menantu Mama itu seperti apa. sudah jangan cemberut gitu malu sama isteri tuh!" ucap mama Maria lalu menunjuk ke arah belakang Azka dimana Zaira berada.
" Siapa mas?" teriak Zaira
" Ini mama sayang" sahut mama Maria
mendengar itu Mama Zaira langsung turun dari tempat tidur lalu menghampirinya.
" Ma!" sapa Zaira saat sudah menghampiri mertuanya.
" Di bawah ada teman-teman kamu sayang, mereka ingin bertemu sama kamu" ucap Mama Maria mengusap lembut rambut Zaira.
" Suruh mereka pulang saja ma, bilang aja Zaira harus istirahat!" sungut Azka memutar bola matanya malas
" Mas, ih gak boleh gitu. mereka itu teman-teman aku mas, mereka pasti mencemaskan keadaan aku makanya mereka datang kemari" Zaira memukul lengan Azka kesal.
" Tapi kamu itu kan harus istirahat yang"ucap Azka sambil mengelus lengannya.
" Aku sudah cukup istirahatnya mas, aku sudah baikkan kok. aku menemui mereka dulu ya mas. ya ..ya.. ya.. bolehkan?" ucap Zaira dengan menunjukkan puppy eyes nya.
Azka menghela napas panjang lalu menggangguk. " Tapi jangan lama-lama ya!" pesan Azka.
" Siap bos" Zaira tersenyum senang. mama Maria hanya geleng-geleng kepala melihat anak menantunya. dia tersenyum ada rasa bahagia di dalam hatinya ternyata dengan mudahnya Mereka menerima pernikahan yang didasari dengan perjodohan. awalnya Mama Maria ragu dengan putranya sendiri takut kalau putranya masih belum menerima kehadiran Zaira sebagai isterinya ditambah lagi sttus Zaira yang tidak lain adalah muridnya di sekolah. tapi melihat kemesraan yang ada di hadapannya membuat dirinya sedikit lega. Ia berharap pernikahan putra dan menantunya akan terus harmonis sampai menua bersama.
" Ma!" panggil Zaira dan Azka bersamaan.
Mama Maria terkesiap dan buyarlah lamunannya. " Mama kenapa?" tanya Azka
" Mama tidak kenapa-kenapa sayang, mama hanya terlalu senang melihat kalian berdua. semoga kalian selalu harmonis seperti ini dan memberikan mama cucu!" ucap mama lalu tertawa.
" Mama jangan khawatir ma, sebentar lagi akan ada Azka junior ma di dalam sini!" ucap Azka sambil mengelus perut Zaira.
" Mas apaan sih!" tepis Zaira dan memberengut.
" Kenapa memangnya, semoga saja benar!" ucap Azka menaik turunkan alisnya.
" Mas ihhh" kesal Zaira
" Sudah-sudah. Zaira ini masih sekolah jangan terburu-buru juga Ka. mama tadi cuma bercanda kok. mama hanya menunggu kalian siap saja tapi jangan dipaksakan" ucap mama menengahi.
" Sebaiknya kita turun saja Za, sebelum kamu di makan oleh suami kamu itu!" ajak mama Maria.
" Mama!" kesal Azka.
Zaira tertawa dan langsung ikut dengan mama Maria turun untuk menemui sahabat-sahabatnya tanpa menghiraukan suaminya yang mendengus kesal.
" Awas saja kamu ya yang tidak akan aku biarkan lepas malam ini" gumam Azka
__ADS_1