
" Sudahlah, jangan diingatkan lagi sesuatu yang hanya bisa merusak suasana!" ucap Miska datar
Deg
Ucapan Miska membuat Roni bergeming dan menatapnya penuh rasa bersalah.
Nana menundukkan wajahnya dan merasa tidak nyaman berada di posisinya sekarang, berada satu ruangan bersama sahabat sekaligus isteri dari mantan kekasihnya apalagi sewaktu mereka menjalin kasih hubungan mereka termasuk bebas dan hampir diluar batas.
Sahabat yang dulu begitu gigihnya ingin mereka putus karena kebere**sekan dan keburukan sikap Roni kini malah justru berstatus isterinya.
Ada rasa sakit di hatinya walaupun sudah berkali-kali ia berusaha menekan perasaan itu agar tidak kembali muncul.
Khanza yang melihat raut kekecewaan di wajah Miska berjalan mendekati brankar sahabatnya itu.
" Loe tahu betul bagaimana perjalanan rumah tangga gue kan? jadi jangan biarkan masa lalu menjadi penghalang loe mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. semua bisa dibicarakan dengan baik-baik dan masa lalu jangan terus loe simpan dan loe ingat karena itu hanya bisa menyakiti diri loe sendiri!" bisik Khanza
Miska menatap wajah sahabatnya itu yang tengah tersenyum.
" Za!" ucap Miska lirih
" Gue tahu perasaan loe, ayo tersenyum!" ucapnya lagi dengan suara pelan
Dan sedetik kemudian Miska pun tersenyum
" Thanks ya Za, loe tahu aja jadi malu gue!" selorohnya seraya tertawa
" Iya dong Khanza gitu loh!" timpal Khanza yang ikut tertawa membuat suasana kembali mencair tapi tidak dengan Nicko yang masih menatap tidak suka pada Roni dan Nana yang merasa menyesal karena sudah memutuskan Roni.
" Gue pamit sekarang ya!' ucap Khanza seraya cipika cipiki pada Miska
" Iya, terima kasih ya Za!" ucap Miska
" Sama-sama, ingat pesan gue tadi oke!"
" Iya"
Hana bergantian menghampiri Miska " Cepat sembuh ya Ka, sekolah sepi gak ada elo" ucap Hana lalu cipika-cipiki
" Ah bisa aja loe Han, Loe kira gue organ tunggal apa yang bisa bikin rame dan heboh para penghuni sekolah" seloroh Miska
" Bukan organ tunggal loe sih organ dalam" timpal Hana lalu keduanya tertawa.
Kini giliran Nana yang mendekati Miska
" Semoga cepat sembuh ya Ka, jangan lama-lama disini. Loe enggak masuk sekolah bakalan ada yang galau setiap hari" ucap Nana melirik ke arah Nicko
Entah apa maksud Nana bicara seperti itu, tapi yang jelas kata-katanya membuat Miska dan Roni yang berdiri di samping Aldy saling melempar pandang, ada rasa tidak nyaman.
" Nicko enggak akan galau kan ada elo sama Hana" sahut Miska mengalihkan pandangannya menatap Nana kembali seraya tersenyum hambar
__ADS_1
Nana membalas senyuman Miska " Iya tapi sayangnya kita berdua bukan elo yang bisa mengobati kegalauannya" balas Nana
" Tenang aja Na, nanti kalau si Nicko masih aja galau ada gue yang bakalan ngobatin, biar gue sembur dia pakai daun kelor" ucap Hana merangkul bahu Nana lalu tertawa begitu juga dengan yang lainnya.
Nicko yang berdiri di belakang Nana pun langsung menghampirinya bersama Billy
" Gue berharap loe cepat sembuh dan bisa segera masuk sekolah Ka" ucap Nicko
" Iya amin, terima kasih sudah pada mau datang menjenguk" jawab Miska karena merasa canggung dengan situasi yang ada.
" Sehat... sehat ya Ka, pokoknya doa yang terbaik deh buat loe!" kali ini Billy yang bicara
" Amin...thanks banget ya Bill!" sahut Miska dan Billy tersenyum
Setelah satu persatu sahabat Miska berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan tersebut kini hanya tinggal mama Rika, Roni dan juga Miska.
" Mah, sebaiknya mama pulang saja istirahat. biar Miska nanti Roni yang menemani!" ucap Roni yang melihat wajah letih sang mertua
" Yaudah kalau begitu" mama Rika menoleh ke Miska
" Enggak apa-apa kan sayang kalau mama tinggal pulang" tanya mama Rika pada Miska
Miska terdiam ingin mengatakan jangan pulang tapi dia juga merasa kasihan pada mamanya.
"Enggak apa-apa kok mah, Miska pasti ngerti kok kalau mama capek" sahut Roni karena Miska diam saja
" Sayang!" mama Rika menegur Miska yang masih diam tak merespon
" Yaudah kalau gitu mama pulang dulu, jangan rewel!" pesan mama Rika menggoda putrinya yang pasang wajah cemberut seakan tidak rela kalau mamanya pulang
Setelah mama Rika pulang Roni duduk di tepi tempat tidur menatap lekat sang isteri yang merebahkan tubuhnya di kasur.
" Kamu kenapa?" tanya Roni hati-hati namun Miska bergeming
" Kamu marah?" tanyanya lagi Miska tetap tidak menjawab
" Apa kata-kata ku tadi membuat kamu marah?" Miska menutup wajahnya dengan bantal membuat Roni mengusap wajahnya kasar.
Baru sebentar ia merasakan rasa manisnya berdamai dengan sang isteri kini sudah mode merajuk kembali
Roni perlahan menarik bantal yang menutupi wajah Miska " Jangan seperti ini sayang, jika kamu mau marah, kesal dan ingin menghukum aku, silahkan kamu pukul aku, maki aku atau apa saja yang penting bisa membuat hatimu lega dan tidak marah lagi, asal jangan menutup wajah mu seperti ini yang hanya akan membuat mu sulit bernapas dan bisa juga mengganggu kenyamanan calon anak kita sayang"
" Aku minta maaf jika aku sudah membuat kesalahan hingga kamu marah dan kecewa seperti ini, aku sama sekali tidak berniat membuat kamu sakit hati apalagi membuat mu sedih sayang, maafkan aku ya!" lanjutnya
" Pukul saja aku sayang maki saja aku tapi aku mohon jangan diamkan aku seperti ini!"
" Ini sungguh menyiksa ku sayang!" mohon Roni dengan suara sendu
" Bicaralah sayang, ayo katakan sesuatu jangan mendiamkan aku seperti ini!" pinta Roni dengan suara sedikit bergetar
__ADS_1
Miska yang mendengar suara Roni yang nampak bergetar pun akhirnya bergeser menjadi duduk.
Miska menatap tajam Roni yang tengah menatapnya lekat " Jangan marah lagi ya mih, papi minta maaf karena ucapan papi tadi" akunya
"Kamu tau enggak, ucapan kamu tadi itu telah mengingatkan aku pada hal buruk yang pernah kamu lakukan terhadap Nana. dia sahabat aku dan kamu itu mantan kekasihnya. kebersamaan kalian dulu membuat aku jijik dan ingin rasanya aku memukul wajah mu itu dengan tanganku sendiri." curhatnya
" Aku dulu yang menginginkan kalian putus karena aku tidak mau Nana terluka dengan sikap kamu yang sering mempermainkan hati perempuan. jujur aku benci sangat membencimu, perlakuan mu terhadap pacar-pacar kamu itu membuat aku jijik" lanjutnya
" Kasus yang pernah kau buat dulu menambah rasa benciku kepadamu tapi anehnya justru orang tuaku dengan santainya mau menerima kamu sebagai menantunya. aku syok dan ingin rasanya pergi sejauh mungkin tapi memikirkan nasib orang tuaku dan juga kedua orang tua mu akhirnya aku menekan rasa kebencian ku dan berusaha untuk menerima mu, hingga tragedi itu pun terjadi. apa kamu tahu kejadian itu membuat aku selalu dihantui rasa bersalah bahkan merasa kotor dan jijik terhadap diri aku sendiri"
" Aku merasa sudah mengkhianati mu dan tidak layak menjadi isteri mu karena itu lah aku ingin kita berpisah. mungkin jika saja Bayu tidak mengatakan yang sebenarnya kita pasti akan berpisah sekalipun aku tengah mengandung anak mu" lanjutnya
" Maafkan aku" ucap Roni sendu
" Kamu sekarang sudah menjadi suamiku, bahkan calon ayah dari anak ku tapi kamu juga mantan pacar dari sahabat ku yang justru dulu putus atas perintah ku, aku yakin Nana pasti menyesal karena sudah memutuskan mu dan bahkan menolak saat kamu memintanya untuk balikan"
" Aku yakin Nana masih sayang sama kamu dan pasti membenciku karena dia pasti beranggapan aku terlalu munafik " ungkapnya
" Kamu jangan berpikir sampai sejauh itu, aku yakin Nana pasti mengerti" ucap Roni
" Kami sama-sama perempuan, jadi aku juga tahu bagaimana perasaannya. disaat dia tengah sayang-sayangnya sama kamu tapi dengan seenaknya aku menyuruhnya mutusin kamu dan sekarang aku yang justru memiliki hubungan sama kamu bahkan kita sampai menikah, apa itu tidak terlalu menyakitkan untuknya?" perasaan bersalah kini menghantuinya.
" Seandainya aku masih tetap bersamanya, aku yakin aku tidak akan bisa bersikap seperti diriku yang sekarang, bisa saja aku masih seperti Roni yang dulu, Roni yang suka mempermainkan wanita, selalu keluyuran malam, suka berfoya-foya dan bisa saja hanya menganggap Nana sekedar mainan saja"
" Kamulah yang membentuk kepribadian ku menjadi yang sekarang, secara tidak langsung kamu yang membuat hidup ku lebih berguna, jika bukan kamu Roni mungkin masih menjadi biang masalah di sekolah"
" Jadi aku berharap kamu tidak lagi menghiraukan apapun yang di katakan oleh orang lain karena kebersamaan kita ini mungkin memang sudah menjadi takdir yang digariskan oleh Allah"
" Seandainya aku dan Nana tidak putus tapi Allah memang tidak mentakdirkan kami berjodoh mau bagaimana?" Miska terdiam mendengarkan curahan hati Roni
" Kamu adalah takdir ku sayang, bahkan disaat kamu yang bersikeras ingin berpisah dengan ku tapi tuhan justru berkehendak lain dengan cara menitipkan benihku di dalam rahim mu" Miska menatap lekat bola mata Roni begitu pun sebaliknya.
" Hubungan aku dengan Nana sudah berakhir, anggaplah semua masa laluku itu adalah sebuah kesalahan besar yang harus diperbaiki dan jangan di ingat-ingat lagi, termasuk kesalahan aku dengan Nana."
" Demi kebahagiaan kita berdua aku mohon bantu aku untuk terus berjalan ke arahmu jangan biarkan aku tergelincir lalu jatuh pada kesalahan yang sama!"
Miska mengangguk pelan " Aku hanya mencintai satu wanita yaitu isteriku, jika dulu mungkin bukan cinta namanya tapi hanyalah hawa nafsu belaka kalau sekarang aku merasakan perasaan yang berbeda dan bersama kamu hari-hari ku jauh lebih indah dan bahagia" ungkapnya
" Jadi jangan marah lagi ya, maafkan aku jika aku memiliki masa lalu yang buruk sampai membuat kamu merasa tidak nyaman" Miska menggelengkan kepalanya
" Tidak aku yang seharusnya minta maaf, maaf jika aku terlalu banyak menuntut!"
Roni tersenyum lalu menarik Miska ke dalam pelukannya.
" Kita mulai semuanya dari awal ya, kita buka lembaran baru dan jangan biarkan cerita masa lalu masuk ke dalam cerita kita yang baru, kalau pun masuk jangan biarkan ia singgah terlalu lama apa lagi sampai mengusik ketenangan." tutur Roni dan Miska mengangguk masih berada dalam dekapan Roni.
" Yaudah sekarang tidur ya sudah malam, istirahat yang cukup jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting" Miska kembali mengangguk.
Roni membantu Miska merebahkan diri lalu menyelimuti hingga sebahu, keduanya saling menatap dan melempar senyum.
__ADS_1
Ada rasa lega dan tenang di hati Miska walaupun tetap saja rasa bersalah pada Nana masih ada