Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Kisah Mia


__ADS_3

Seperti biasa rumah Zaira dan Azka menjadi tempat pusat berkumpulnya para sahabat-sahabat mereka, hari ini Zaira bertugas memasak dibantu oleh ke lima sahabatnya Lia, Mita, Mona, Indah dan Mia sedangkan para pria sedang asik main catur dan ada juga yang sedang mengajak baby Zia bermain.


Usai makan-makan suasana nampak ramai canda tawa terdengar begitu menyenangkan di taman belakang namun tidak dengan seorang gadis yang sedari tadi terlihat begitu murung dan sedikit menjauh dari yang lain.


" Loe kenapa sih Mi, tumben loe gak kayak biasanya?" tanya Lia yang tengah mendudukan dirinya di samping Mia karena melihat Mia duduk termenung sendirian akhirnya Lia menghampirinya.


" Gue gak apa-apa" Mia tersenyum tipis


" Apa loe sudah memberikan jawaban loe kepada kak Sendy?" tanya Lia dan Mia tersenyum tipis lalu menggeleng pelan


" Kenapa? apa loe gak ada rasa sama kak Sendy, loe gak suka sama dia?" tanya Lia penasaran


" Suka pun percuma Li, tetap saja gue sama dia gak akan bisa bersama" ucap Mia lirih lalu tersenyum getir


" Kok loe bicara kayak gitu Mi, memangnya ada apa sebenarnya Mi?" Lia nampak cemas melihat segurat kesedihan yang terpancar dari wajah sahabatnya itu


" Nanti malam sahabat nyokap dan bokap gue mau datang ke rumah gue Li dan mereka akan memperkenalkan putranya ke gue" tutur Mia


" Maksudnya loe di jodohin gitu?" Lia memastikan dan Mia mengangguk


" Ya loe kan bisa menolaknya Mi kalau gak suka"


" Nyokap gue sih sudah menyerahkan keputusannya sama gue tapi dia berharap banget gue bisa menerimanya kata nyokap gue ini keinginan terakhir sebelum bokap gue meninggal" Mia menarik napasnya dalam-dalam berusaha menahan tangisnya.


" Berarti loe sebenarnya sudah di jodohin sejak lama gitu?" Mia lagi-lagi mengangguk pelan sebagai jawaban.


" Terus keputusan loe apa Mi, apa loe akan menerima perjodohan itu?"


" Gue juga belum tahu Li, gue bingung. kenapa sih disaat gue memulai membuka hati untuk orang lain malah begini ceritanya. kalau gue tahu dari dulu gue sudah di jodohin setidaknya gue akan menjaga hati gue tapi sekarang disaat gue sudah mulai merasa nyaman dengan kak Sendy tiba-tiba ada perjodohan itu" Mia akhirnya tak kuasa menitikkan air matanya


" Mia loe kenapa kok nangis?" tanya Indah yang baru saja datang menghampirinya


Mia buru-buru menghapus air matanya disaat Indah dan yang lainnya datang menghampirinya.


" Loe nangis Mi?" tanya Mona yang mendengar pertanyaan Indah


" Gak , gue tadi cuma kelilipan aja kok, iyakan Li?" Mia menyenggol bahu Lia


" Iya Mia kelilipan tadi jadi nangis gitu, kelilipan karena kebanyakan ngeliatin kak Sendy" ucap Lia sedikit menggoda


" Apaan sih loe Li, rese " Mia mengerucutkan bibirnya


" Ha...ha.. Mi bibirnya jangan di manyunin gitu pingin disosor kak Sendy ya?" ucap Lia kembali menggoda Mia dan membuat semua Sahabatnya tertawa.


" Liaaaaa!" Mia hendak menggelitik Lia namun deheman seseorang membuat Mia yang hendak mendaratkan tangannya di perut Lia menggantung begitu saja.


" Bercandanya jangan berlebihan Mih, ingat lagi hamil !" pesan Mario yang kebetulan lewat di depan mereka


" Iya pih, maaf!" ucap Lia cengengesan


Mario berlalu menuju Arta dan Sendy yang kini tengah serius bermain catur.


" Cie... cie.. mami...papi...!" ledek Mita dan yang lainnya


" Iya dong, nanti kalau baby-nya sudah lahir panggilnya mami dan papi " sahut Lia dengan bangga


" Iya deh mih!" ledek Mita menyenggol bahu Lia dan yang lain pun tertawa.


" Gaes gue pamit duluan ya!" ucap Indah tiba-tiba


" Loh kok pamit sih Ndah?" ucap Mita menimpali


" Iya sorry ya semuanya, tadi nyokap gue nelpon dan nyuruh ngajak Indah ke rumah soalnya kakak gue yang di Malaysia akan pulang hari ini" jawab Dion mewakili


" Owh ya udah kalau begitu hati-hati ya di jalan" ucap Mita


" Iya, thanks ya Mit" Indah bersalaman pamit pada teman-temannya, begitu juga dengan Dion yang berpamitan kepada Arta, Yoga, Azka dan juga Sendy.


Setelah Indah pulang yang lain pun ikut pamit untuk pulang, Mario dan Lia pulang lebih dulu setelah itu Mita dan Arta lalu disusul Yoga dan Mona.


" Mia semoga lancar ya!" goda Zaira kepada Mia yang nampak bersemu merah saat hendak pulang bersama Sendy


" Kak Sendy jangan diapa-apain yang Mia awas kalau sampai lecet!" ancam Zaira saat Mia hendak berpamitan


" Apaan sih loe Za!" Mia nampak tersipu-sipu


" Antar sampai rumah Sen" ledek Azka


" Pinginnya sih antar sampai KUA tapi belum waktunya" sahut Sendy sambil tertawa membuat wajah Mia langsung merah merona


" Tunggu lulus Sen" Azka Seraya menepuk bahu Sendy


" Kenapa nunggu lulus, loe aja gak" protes Sendy


" Ya kalau gue sih beda cerita!" tutur Azka


" Ya sama aja kali, sama-sama masih anak SMA" celetuk Sendy


" Sudah ah kak kok jadi bahas kesana sih, aku mau pulang takut di cariin mama" potong Mia


" Iya...iya..!" Sendy mengalah. setelah berpamitan dengan Azka dan Zaira mereka pun kini sudah berada di dalam mobil. Mia melempar pandangannya ke arah jendela membuat Sendy sedikit mengulum senyumnya.


" Kamu kenapa dari tadi aku perhatikan lebih banyak diamnya?" tanya Sendy yang menoleh sekilas ke arah Mia.


" Tidak apa-apa kak!" sahut Mia seraya membalikkan badannya menatap sekilas Sendy yang tengah fokus dengan kemudinya


" Kalau tidak apa-apa kenapa wajah kamu nampak murung hari ini tidak seperti biasanya, apa kamu merasa tertekan dengan pernyataan aku kemarin?" tanya Sendy tanpa menoleh


" Tidak, bukan begitu hanya saja_" Mia nampak bingung untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Sendy perihal perjodohannya


" Hanya saja apa?" tanya Sendy yang begitu penasaran


" Tidak apa-apa" Mia menatap lurus ke depan degup jantungnya semakin berdegup sangat kencang. sebenarnya Mia sudah merasa nyaman setiap kali berdekatan dengan Sendy sikap Sendy yang supel dan asik bergaul membuat Mia merasa cocok dengan dirinya yang juga supel namun karena perjodohan itu Mia merasa takut bila dia mengecewakan Sendy dan hanya membuatnya sakit hati.


" Jika memang kamu merasa tidak nyaman bersama ku bilang saja terus terang jangan merasa terpaksa, aku ingin kita tetap menjalin hubungan baik meskipun nanti kamu menolakku. jangan menghindar apalagi merasa bersalah karena aku juga paham hati itu tidak bisa dipaksakan" tutur Sendy saat ia sudah menepikan mobilnya.


" Bu... bukan seperti itu kak, a.. aku...aku sebenarnya sudah merasa nyaman sama kakak ta... tapi_" Mia menggantungkan ucapannya.


" Tapi apa?" Mia merasa bingung harus menjawab apa haruskah ia jujur sekarang atau setelah pertemuan itu saja baru ia mengatakan hal yang sebenarnya tapi kalau setelah itu Sendy merasa kecewa bagaimana ia harus menghadapinya. ah Mia menjadi galau sendiri.

__ADS_1


" Mia.... Mia!" Sendy mengguncang bahu Mia yang tengah melamun.


" Ah iya ada apa kak?" tanya Mia dengan wajah polosnya


" Kenapa melamun?"


" Tidak Kenapa-napa kak, aku hanya merasa bingung saja saat ini" sahut Mia


" Bingung kenapa?" Sendy menautkan kedua alisnya


" Kak apakah kita akan berjodoh?" tanya Mia tiba-tiba membuat Sendy terkejut dengan pertanyaan Mia


" Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


" Kak jujur saja aku memang sudah merasa nyaman sama kakak dan aku berharap kita bisa seperti yang lain. tapi aku takut kak bagaimana kalau ternyata kita tidak berjodoh dan kita hanya akan saling menyakiti"tutur Mia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Maksudnya?" Sendy merasa kurang paham dengan apa yang Mia katakan


" Se... sebenarnya aku sudah di jodohkan kak dan aku benci kenapa disaat aku sudah merasa nyaman dengan perasaan aku kali ini mengapa harus ada perjodohan ini kak?" tangis Mia yang sedari tadi dipendam pun akhirnya tumpah.


" Di jodohkan? lalu apa kamu menerima perjodohan itu?" tanya Sendy yang menjadi penasaran dengan jawaban Mia


Mia menggeleng pelan " Entahlah kak, aku juga bingung"


" Apapun keputusan kamu aku akan menghargainya, jangan merasa tertekan dengan masalah ini jalani saja dan tidak perlu merasa bersalah, asalkan kamu bisa bahagia akupun akan turut bahagia" tutur Sendy membuat Mia langsung menitikkan air matanya.


" Kak aku_"


" Sudahlah Mia, jangan bersedih lagi jika kita berjodoh kita pasti akan bersama. aku senang karena kamu sudah mau jujur mengatakan ini semua" Sendy tersenyum tipis


" Maafkan aku kak"


" Kenapa harus minta maaf, kamu tidak salah apa-apa Mia, ini sudah takdir. Bukankah sudah aku katakan jangan menyalahkan dirimu sendiri, jadi berbahagialah!" Sendy mengacak-acak rambut Mia gemas


" Kak jangan perlakukan aku seperti ini!" protes Mia seraya merapihkan kembali rambutnya


" Kenapa?"


" Aku takut merindukan saat-saat seperti ini kak"


" Tidak perlu takut aku bisa melakukannya setiap hari jika kamu mau" ucap Sendy membuat Mia mengerutkan keningnya


" Maksud kakak?"


" Ahh tidak apa-apa" elak Sendy dan bergeser duduknya kembali menyalakan mesin mobilnya.


" Kak !" panggil Mia


" Sudah jangan dipikirkan, sebaiknya kamu temui dia dan dandan yang cantik" Mia langsung menoleh merasa heran dengan ucapan Sendy


" Kenapa?"


" Ya mungkin saja orang yang dijodohkan kamu itu laki-laki yang tampan dan setelah bertemu dengannya kamu merasa cocok" tutur Sendy


" Kenapa kak Sendy bicara seperti itu?"


" Kakak berbicara seperti itu seakan kak Sendy benar-benar akan melepaskan aku begitu saja, apa selama ini kak Sendy hanya merasa kasihan melihat aku yang jomblo?" tanya Mia membuat Sendy langsung tertawa


" Kamu ini bicara apa sih Mia, aku tuh cuma mau kamu tidak merasa tertekan dan merasa nyaman dengan keadaan seperti ini. jangan salah paham, kalau kamu mau tahu aku seserius apa sama kamu, malam ini juga kalau kamu mau aku siap kok melamar kamu" sahut Sendy yang sedetik kemudian kembali mengacak-acak rambut Mia


" Kak!" protes Mia dengan wajah cemberut


" Iya.. iya maaf!" ucap Sendy dengan senyum tipisnya.


Mobil yang Mia dan Sendy tumpangi kini sudah berada di depan rumah Mia. " Kak hati-hati ya bawa mobilnya!" ucap Mia saat hendak turun dari dalam mobil Sendy


" Iya, kamu juga jangan terlalu banyak pikiran ya, dibawa santai saja. ingat dandan yang cantik" ucap Sendy membuat Mia mengerucutkan bibirnya kesal


Mia turun dari dalam mobil dan baru masuk ke dalam rumah setelah mobil Sendy hilang dari pandangan matanya.


" Sayang, kamu baru pulang?" tanya mama Nina saat melihat Mia baru masuk ke dalam rumah.


" Iya ma" jawab Mia dengan nada malas


" Yaudah kamu bersih-bersih dulu sana setelah itu istirahat" ucap mana Nina


" Iya ma" Mia pun langsung pergi ke kamarnya. sampai di dalam kamar Mia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Mia menghela napasnya berat. Mia tidak tahu harus berbuat apa menerima ataukah menolaknya. saat ini dia benar-benar sudah merasa sangat nyaman dengan Sendy walaupun terkadang sikap dan kata-kata Sendy bikin dia kesal tapi Mia tahu itu semata-mata hanya untuk menghibur dirinya.


Mia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah selesai mandi Mia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya.


tok..


tok..


tok..


Terdengar suara pintu kamar diketuk, Mia langsung membuka matanya dan menoleh ke arah pintu.


" Sayang ini mama, boleh mama masuk?" tanya mama Nina


" Masuk saja ma pintunya gak dikunci!" teriak Mia dari dalam kamar


Ceklekk


Mama Nina membuka pintu kamar Mia dan menyembul dari balik pintu dengan senyum tipis menghiasi wajah wanita paruh baya tersebut.


" Sayang!" panggil mama Nina saat melihat putri satu-satunya tengah berbaring di atas tempat tidurnya.


" Ma!" Mia menggeser tubuhnya dan bersandar pada headboard


Mama Nina duduk di tempat tidur Mia lalu tersenyum " Sayang, sudah hampir jam 7 sebaiknya kamu bersiap-siap ya, dandan yang cantik biar nak Didi langsung jatuh cinta pada pandangan pertamanya dengan putri mama yang cantik ini !" ucap mama Nina membuat Mia memutar bola matanya malas


" Iya ma!" jawab Mia dengan tidak bersemangat


" Sayang jangan seperti itu dong, masa kamu lemas seperti itu sih!" mama Nina protes dengan sikap Mia yang nampak bermalas-malasan.


" Ma apa tidak bisa ya perjodohan ini dibatalkan saja!" ucap Mia dengan memelas


" Tidak bisa sayang, sahabat mama sudah tidak sabar ingin menjadikan kamu sebagai menantunya nak!" jawab mama Nina

__ADS_1


" Tapi ma Mia masih sekolah" Mia sudah menitikkan air matanya.


" Kalian bisa tidak langsung menikah, setidaknya bertunangan terlebih dahulu" mama Mia mendekat ke arah Mia dan menghapus air mata Mia yang membasahi pipi.


" Tapi ma, Mia sudah memiliki laki-laki lain yang Mia sayang dan dia juga sangat menyayangi Mia ma" ucap Mia jujur dengan perasaannya


" Tapi sayang, mama tidak bisa menolak ya setidaknya sampai kamu menemui nak Didi terlebih dahulu jika memang kamu tidak bisa menerimanya juga setelah bertemu dengannya, apa boleh buat mama tidak bisa memaksamu nak " tutur mama Nina


" Benar ya ma, mama janji tidak akan memaksa Mia untuk menikah dengan si Didi itu!" ucap Mia yang nampak sedikit lebih tenang


" iya sayang, ya sudah sekarang kamu dandan yang cantik ya!" perintah mama Nina


" Untuk apa pakai dandan segala sih ma?" protes Mia yang beranjak dari tempat tidur


" Kamu ini, walaupun kamu nanti menolak atau bisa saja kamu berubah pikiran setidaknya kamu sudah terlihat cantik di depan nak Didi jadi dia tidak akan menolak kamu kalau kamu mau dengannya" ucap mama Nina seraya berdiri dari duduknya dan menuntun Mia untuk duduk di depan meja rias.


" Mama apaan sih, gak mungkinlah kalau Mia suka sama tuh Didi!" Mia mengerucutkan bibirnya


" Hati siapa yang tahu!" ucap mama Nina tersenyum tipis lalu pergi keluar dari kamar Mia


" Mama tunggu di bawah, ingat jangan lama-lama dandannya!" pesan mama Nina sebelum pergi


"Ngeselin ih!" ucap Mia sambil menghentakkan kakinya.


Setelah selesai berdandan Mia duduk di depan cermin menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin.


Tringggg


Satu pesan masuk di ponsel Mia, dengan mata membulat sempurna Mia membuka pesan tersebut saat dilayar ponselnya tertulis nama kak Sendy.


Kak Sendy 💌


" Jangan terlalu tegang, santai saja. aku akan selalu ada untukmu, percayalah!"


"**Apa mau aku datang langsung untuk melamar kamu sekarang, biar kamu tidak tegang dan tidak galau lagi harus menerimanya atau tidak?"


Mia 💌


" Berisik!"


" Siapa juga yang galau, aku baik-baik saja sangat baik malah. tenang saja aku pasti akan menerima lamarannya**"


Mia menunggu balasan pesan dari Sendy namun tidak juga kunjung ada. Mia nampak gelisah takut kata-katanya tadi dianggap serius oleh Sendy.


" Apa dia marah ya?" gumam Mia menatap lekat ke layar ponselnya


" Ah terserahlah lagi pula kenapa sih kak Sendy bersikap seperti itu, sepertinya dia benar-benar senang jika gue dijodohin. mungkin selama ini dia terpaksa dan merasa kasihan diantara yang lain cuma gue doang yang jomblo, dan perjodohan gue di anggap lelucon sama dia" gumam Mia dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan rasa sedihnya.


" Gue harus bisa menghadapi situasi ini. tapi gue bingung harus menjawab apa" Mia nampak galau sendiri


tok


tok


tok


" Non Mia!" teriak art yang bekerja di rumah Mia dari balik pintu


" Iya bi!"


" Non Mia di tunggu Nyonya, tamunya sudah datang non!" teriak bibi memberitahu Mia


" Iya bi, sebentar!"


Ceklekk


Mia menyembul dari balik pintu dan membuat si bibi nampak kagum dengan kecantikan Mia yang tidak biasanya berdandan.


" Non Mia cantik banget malam ini bibi sampai pangling" ucap si bibi


" Ah bibi bisa saja" Mia nampak malu-malu


" Ya sudah ayok non turun nanti kelamaan ditunggu nyonya!"


" Iya bi!"


Mia berjalan menuju ruang tamu dan nampak terlihat sepasang suami istri paruh baya yang menatap ke arahnya.


" Sayang!" panggil mama Nina mengulurkan tangannya saat Mia sudah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya


" Sini sayang, kenalkan ini sahabat papa kamu dan juga sahabat mama" tutur mama Nina


" Ini kenalkan om Bram dan tante Lidia!" lanjutnya


Mia langsung menyalami tangan keduanya dan tersenyum tipis.


" Cantik banget kamu sayang, pantas saja sewaktu tante tunjukin foto kamu ke Didi putra tante, dia langsung menyetujui perjodohan ini" tutur Lidia


" Ma**us gue, tuh orang udah main setuju aja!" batin Mia.


" Oia, Lidia putra kamu mana?" tanya mama Nina


" Owh, dia tadi sih masih diluar katanya gugup mau bertemu dengan calon isteri!"


Deg


Mia yang tadinya hanya menunduk seketika langsung mendongak tatkala mendengar kata calon isteri.


" Gue harus bagaimana ini, kalau dia benar-benar tidak mau membatalkan perjodohan ini?" batin Mia


" Sayang sabar ya, nanti Didi juga bakalan masuk" ucap Lidia yang melihat wajah tegang Mia.


" Iya tante" jawab Mia malas.


" Assalamu'alaikum!" ucap seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. seketika mata Mia membulat sempurna tatkala melihat seorang pria tampan tengah berdiri dengan pandangan mata menatap penuh cinta ke arahnya seraya tersenyum manis.


Jlepp


Jantung Mia berdegup sangat kencang Mia tanpa sadar mengangkat tangannya dan memegang dadanya yang terasa begitu berdebar-debar.

__ADS_1


__ADS_2