Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bab 11


__ADS_3

Adam meringkuk di bawah tangga rumahnya yang sudah berantakan dengan barang pecah belah yang sudah tak berbentuk.


Sorot matanya redup, seolah tidak ada lagi cahaya yang terpancar dari dalam sana. Ia mengambil sebuah figura foto yang jatuh tak jauh dari tempatnya dan memeluknya erat.


Tak lama berselang Adam berdiri dan pergi dari sana dengan keadaan yang berantakan. Tanpa alas kaki atau pun jaket, karena di luar sedang hujan.


Dengan masih memegang figura foto itu Adam berjalan sempoyongan menuju sebuah tempat sepi yang hampir setiap hari ia kunjungi, letaknya tak jauh dari rumahnya.


“kalian merindukanku?” Adam duduk di antara tiga makam, terdapat tiga makam di sana. paling kanan adalah makam kakaknya, kedua adalah makam ibunya dan yang terakhir adalah makam sahabatnya. Adam menangis sampai suaranya tidak keluar. sakit rasanya ketika semua orang yang kita sayangi pergi untuk selamanya.


“aku ingin ikut kalian, Adam mau ikut, kumohon! Bawa aku” suaranya serak, dan wajahnya penuh luka lebam dan bercak darah.


“ku mohon”


“aku mohon”


“bawa aku”


Adam menangis cukup lama sampai akhirnya ia tertidur sambil memeluk makam ibunya, walau pun sekarang sedang hujan.


.


.


.


“dasar anak haram! Pergi kau dari sini!” Dira mendorong tubuh Ivy dengan kuat sampai ia tersungkur di halaman rumahnya. Kakeknya baru saja meninggal dan Ia di usir dari rumahnya. Tidak tahu di mana ia harus pergi, malam itu Ivy berjalan sendirian di trotoar yang dingin, tanpa alas kaki, jaket, pakaian yang rapi atau hal mengenai penampilan yang wajar.


Ivy melihat seseorang berdiri di ujung jalan, dia terlihat cantik dan bersinar.


Senyumnya yang hangat dan lembut membuat Ivy lupa dinginnya malam itu. Ivy berjalan lurus menuju perempuan itu, tapi perempuan itu seperti terus menjauh dan menjauh, Ivy berlari dan perempuan itu semakin cepat menjauh. Senyum hangatnya, siapa dia.


“tunggu aku! Aku ikut!” Ivy tak kuat mengejarnya dan akhirnya jatuh pingsan di trotoar.


“dingin, di mana? Rumput?” herannya, karena tiba-tiba dia terbangun di padang rumput yang sangat luas.


Banyak pohon bunga kecil juga yang tumbuh, tempat yang sangat bagus. Ivy berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari rangkaian bunga. Lalu menemukan seorang pria tua yang terlihat duduk termenung di bangku panjang tak jauh dari tempatnya berdiri saat itu. Ivy mendekatinya, dan pria itu tersenyum sangat lembut.


“ka,,,kakek,,kakek masih hidup?”


Pria itu tersenyum sangat lembut. Lalu tiba-tiba segerombol orang datang dan menghujani kakeknya dengan tusukan benda tajam.

__ADS_1


“apa ini, suaraku tidak keluar?’ batinnya, karena suarannya tidak keluar. Tubuhnya juga tidak bisa bergerak melihat kakeknya yang terlihat sangat kesakitan. Ivy hanya bisa menangis dan melihat tubuh kakeknya tergeletak penuh darah. Apa yang harus ia lakukan.


“ku mohon, aku mohon, kakek”


“HEY!”


Sebuah sentakan dan Ivy langsung terbangun dari mimpinya, tentu saja itu tadi hanya mimpi. Namun, terlalu nyata untuk dirinya. Ivy melihat Juan yang sudah di hadapannya dengan wajah cemas. Ivy memegang pipinya “basah?”.


“itu tadi? Hanya mimpi,,hanya mimpi,,”


“kamu tidak apa-apa? Jangan khawatir itu hanya mimpi, tidak apa-apa” Juan memeluk Ivy erat, sejak tadi Ivy terus merancau menyebut ‘kakek’ ketika tidur dan membuat Juan cemas sendiri. Ivy membalas pelukan Juan dan menangis di dada bidangnya.


Pikirannya menjadi kembali di mana masa-masa ia bersama kakek yang selalu ada untuknya dan sisi buruk keluarganya yang selalu menyiksanya. Bahkan luka cabuk di tubuhnya masih terasa sakit. Ruangan kecil sempit yang sangat sesak. Sedikit pun membuat kesalahan, maka tak ada ampun untuknya.


Juan melepaskan pelukannya karena Ivy sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ivy menggenggam tangan Juan agar selalu di sana menemaninya.


“aku di sini” mengelus punggung tangan Ivy.


“aku ingin ke sekolah” ucap Ivy tiba-tiba, rumah sakit itu membosankan. Ivy juga tidak di perbolehkan keluar jalan-jalan karena tekanan darahnya yang belum stabil, pernah sekali dia jalan-jalan dan alhasil pingsan di taman. Semenjak itu Juan melarang keras Ivy untuk keluar ruangan.


“nanti malam kamu sudah di perbolehkan pulang”


.


.


.


Nina dan Jio sedang berjalan-jalan santai (kencan) di salah satu mall. Berbelanja, bermain game dan berakhir di salah satu restoran di dalam mall. Sambil menunggu makanan mereka mengobrol ringan dan juga berisik, tau sendiri lah, Jio dan Nina memang sama-sama cerewet dan heboh.


“Ivy apa kabar ya? Mana dia ponselnya hilang pula”


“iya juga ya, jadi agak sepi gimana gitu, Adam juga nggak masuk sekolah kemarin”


“(Nina mengangguk) apa mereka ada sesuatu? Seperti hubungan khusus begitu, mereka terlihat dekat sih”


Jio menarik napas dalam-dalam. “aku tidak tahu pasti tapi, sepertinya tidak begitu. Sepertinya Ivy sedang dekat dengan orang lain”


“orang lain? Siapa?’ kamu tahu sesuatu?”


“tidak tahu pasti sih, tapi apa kamu tidak menyadarinya kalau Ivy sama pak Juan agak terlihat gimana gitu? Bukannya menuduh atau bagaimana, tapi inget nggak waktu Ivy pingsan? Reaksi pak Juan sungguh di luar dugaan”

__ADS_1


“bener juga sih, pak Juan sering menghukum murid sampai banyak yang pingsan, tapi nggak peduli gitu. Pak Juan waktu itu bener-bener paniksendiri dan memaksa ke rumah sakit”


“benar kan. Dan juga pak Juan nggak mau ngasih tau Ivy di rawat di rumah sakit mana, sakit apa, pak Juan juga nggak masuk”


Mereka berdua mengangguk-angguk paham, dan terus membicarakan Ivy sampai pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan.


.


.


.


“kau sudah sadar? Apa ada yang terasa sakit?” Bian membantu Adam untuk duduk, suhu tubuhnya sangat tinggi dan seluruh wajahnya merah. Siapa juga yang tahan tidur di tengah-tengah selama berjam-jam. Tapi ini adalah hal biasa, Adam sering melakukannya.


“mau makan dulu? (Adam menggeleng, walau pun dia sangat merasa lapar, tapi dia benar-benar tidak nafsu)”


“aku sudah mengobati lukamu, jaga dirimu baik-baik. Kau bisa datang kemari kapan pun kau mau” tutur Bian lembut. Bian juga memeluk Adam dan mengusap punggungnya lembut. Pelukan yang terasa hangat dan nyaman.


“maaf” ucap Adam lirih.


“kenapa kau meminta maaf, yang seharusnya mengatakannya itu aku. Aku tidak bisa menjagamu sampai seperti ini”


“terimakasih kak”


Bian tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan mengambilkan semangkuk bubur dari dapurnya. Mereka berdua cukup dekat, atau sangat dekat karena Bian adalah kakak sepupu Adam dan selalu ada untuknya ketika dia benar-benar frustasi dengan segala keadaan yang dialaminya.


Sebenarnya Bian sangat berharap agar Adam tinggal bersamanya, bersama ayah dan kakak perempuan Bian. Tapi Adam selalu terus saja menolaknya, dia harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Walau pun tidak berjalan lancar dan justru merepotkan kakak sepupunya seperti saat itu.


Berbeda ketika di sekolah, Bian adalah seseorang yang lembut dan ramah, sedangkan Adam adalah tipe orang yang cengeng dan manja.


Adam melihat tangannya yang sudah terbalut perban dengan sangat rapi, Bian memang bercita-cita menjadi dokter. Tak heran jika balutannya sangat rapi.


“kenapa kau berdiri di sana, cepat pergi!” ucapnya pada pria paruh baya di sudut ruangan. Lagi-lagi pria itu tersenyum ramah dan hangat. Sebenarnya Adam menyukai senyuman itu, tapi dia juga membencinya.


“kau bisa pergi, aku sudah baik-baik saja”


Pria itu menggeleng, dan justru menunjukkan tarian atau hal konyol lain sampai Adam menunjukkan senyum tipisnya. Pria itu memang tidak bersuara, tapi gerakan pantomim nya benar-benar lucu untuknya.


Bahkan ketika adam tertawa pria itu menatap Adam dengan penuh kasih sayang, tatapannya sangat dalam dan hangat. Seakan melihat anaknya yang kini tumbuh dewasa dengan bahagia.


Bian dari balik pintu melihat Adam dengan sedih, senang, campur aduk. “kau pasti sangat sakit kan? aku tidak tahu apa yang kau rasakan, tapi tetaplah tersenyum” ucapnya lirih agar Adam tidak mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2