
Zaira bergidik ngeri mendengar tawa kelima remaja yang kini berada di hadapannya.
Kepalanya yang berdenyut membuat tubuh Zaira semakin lemas. karena tidak mampu menopang berat tubuhnya yang lemas akhirnya Zaira pun memberingsut ke tanah.
Bukannya menatap iba tapi justru mereka merasa puas dan tawanya semakin pecah, dan dengan paksa mereka membawa Zaira ke tempat yang cukup gelap dan sepi karena waktu memang sudah cukup malam.
Zaira menangis ketakutan rasa bersalah terhadap suaminya semakin besar karena sikapnya yang keras kepala ingin tetap ikut acara camping tersebut akhirnya malah membawa malapetaka untuk dirinya sendiri dan juga calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Zaira semakin dilanda ketakutan ia tidak mau terjadi sesuatu terhadap calon bayinya.
"Tidak ini tidak boleh terjadi, bagaimana pun caranya aku harus pergi dan menjauh dari mereka" batin Zaira.
Di tempat lain, tepatnya di dalam tenda Lia sangat terkejut karena tidak menemukan keberadaan Zaira sang kakak ipar , panik sudah pasti pasalnya Lia sudah mencarinya disekitar area perkemahan tapi Zaira tetap tidak ada, perasaannya semakin tidak enak dia takut terjadi sesuatu dengan Zaira.
Lia langsung mencari teman-temannya menanyakan keberadaan Zaira namun lagi-lagi dia hanya mendapatkan kekecewaan karena Zaira tidak bersama mereka bahkan melihat Zaira pun tidak.
Semua nampak panik akhirnya mau tidak mau Lia menghubungi kakaknya dan bak disambar petir mendengar Zaira hilang membuat Azka sangat terkejut dan panik.
" Bagaimana bisa, bukannya kakak sudah bilang jaga dia dengan baik?" bentak Azka yang tidak sadar membuat Lia tersentak dan tak dapat berkata apa-apa selain menangis.
" Cepat cari dan beritahu kakak jika sudah menemukannya, kakak juga akan mencarinya sekarang" ucap Azka dingin dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tubuh Lia gemetar dan para sahabatnya yang melihat tubuh Lia gemetar dan menangis sesenggukan hanya bisa memeluknya mencoba untuk menenangkannya. mereka tahu guru mereka yang tidak lain suami dari Sahabatnya pastilah marah besar apalagi mengingat kondisi Zaira yang tengah hamil muda.
Irfan yang kebetulan lewat di depan mereka langsung menghentikan langkahnya dan menghampiri Lia dan kawan-kawannya.
" Ada apa, kenapa dia?" tanya Irfan menunjuk ke arah Lia dengan dagunya
" Kak Irfan, Za .. Zaira hilang. dia tidak ada ditenda!" sahut Mia panik yang ikut menangis melihat Lia sesenggukan.
" Apa, Zaira hilang? bagaimana bisa? bukannya Zaira sedang sakit?" tanya Irfan dengan sangat terkejut
" Iya kak tadi dia memang istirahat di tenda, terus karena Zaira merasa mual dan sedikit pusing Lia ingin membuatkannya teh hangat tapi saat dia kembali katanya Za sudah tidak ada di tenda"
" Apa kalian yakin Zaira tidak ada, apa kalian sudah mencarinya disekitar tenda atau tempat-tempat lainnya?" tanya Irfan
" Sudah kak, kami sudah mencarinya kemana-kemana tapi Zaira masih belum kami temukan. tolong kak bantu kami mencarinya" ucap Mona yang juga cemas dengan keberadaan Zaira.
" Ada apa ini kenapa kalian menangis?" tanya pak Bambang yang saat itu sedang melintas mengawasi kegiatan para muridnya.
" Pak guru Alzaira Kiana Putri hilang pak, kata mereka dia tidak ada ditendanya!" sahut Irfan memberitahu.
" Apa, menghilang? apa kalian sudah mencarinya, sudah menghubungi ponselnya?"tanya pak Bambang yang ikut panik karena salah satu muridnya hilang
" Sudah pak, tapi ponselnya tertinggal, ini!" jawab Mita memperlihatkan ponsel Zaira yang dipegangnya, tadi sewaktu dia mencoba menghubungi nomor Zaira ternyata ponselnya ada di dalam tenda.
Lia masih sesenggukan. Lia begitu mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya apalagi dengan kondisi Zaira yang tengah berbadan dua.
" Za loe dimana si?" gumam Lia lirih disela Isak tangisnya.
" Li loe yang sabar ya kita berdoa aja semoga Za baik-baik aja dan cepat diketemukan. loe yang tenang ya!" ucap Mia mengusap punggung Lia
" Iya Li, kita cari sama-sama, ayok!" ajak Mita merangkul bahu Lia.
" Ya sebaiknya kita berpencar mencari Zaira, jika kalian sudah menemukannya cepat hubungi bapak" pinta pak Bambang
" Baik pak" ucap Mereka serempak.
" Bapak juga akan menyuruh yang lainnya untuk mencari Zaira" pak Bambang pun pergi ke tempat para panitia pelaksana untuk memberitahu perihal tentang Zaira yang hilang.
**
__ADS_1
Lia, Indah dan Mia mencari kearah yang berbeda dengan Lia dan Mita. Irfan pun meminta bantuan kepada sahabatnya Yoga, Rangga dan juga Dio untuk membantunya mencari Zaira. Sementara ditempat lain Azka sudah lebih dulu mencari Zaira, semua tempat sudah digeledahnya.
perasaan Azka semakin tidak karuan pasalnya saat ini Zaira sedang tidak enak badan dan tengah mengandung calon bayinya.
Azka terus berlari kesana-kemari seperti orang kesetanan tidak menghiraukan panggilan sesama rekan guru dan juga teriakan para murid yang menyapanya. pikiran Azka saat ini hanyalah Zaira dan Zaira.
Degup jantungnya berdetak sangat kencang saat memikirkan hal yang tidak-tidak, ketakutannya membuat Azka semakin dilanda kepanikan.
" Pak Bagaz!" sapa Irfan dan ketiga sahabatnya saat berpapasan dengannya.
Azka hanya senyum sekilas lalu melangkahkan kakinya kembali dengan cepat untuk mencari Zaira
" Apa bapak sedang mencari salah satu murid kelas 11 yang dikabarkan hilang?" tanya Irfan menghentikan langkah kaki Azka.
" Iya, kamu benar. alangkah baiknya jika kalian juga ikut bantu mencarinya" ucap Azka yang hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya.
Irfan hanya tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan.
" Kamu dimana sih Sayang?" gumam Azka dalam hati dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
**
Sementara di tempat yang sepi dan sangat gelap, Zaira berusaha untuk pergi dan keluar dari bangunan kecil yang terbengkalai, sangat kotor dan penuh dengan tumbuhan liar.
" Ya Allah, aku dimana ini? kenapa jadi begini ya robb, maafkan aku mas!" ucap Zaira disela Isak tangisnya. Zaira jalan tertatih merasakan sakit kepala yang semakin berdenyut.
" Aku mohon ya Robb, selamatkan dan lindungi bayi yang ada didalam perut hamba" do'a nya dalam hati.
Zaira hendak membuka pintu namun tiba-tiba dikejutkan dengan sosok gadis cantik yang sudah berdiri di hadapannya dengan tersenyum jahat.
" Mau kemana gadis bodoh?" ucap gadis yang tidak lain adalah Rara murid kelas 12 yang ternyata menaruh hati dengan sang guru.
" Ha .. ha... " Rara tertawa sinis lalu mencengkeram rahang Zaira dengan kencang sampai Zaira meringis kesakitan.
" Loe mau tahu kenapa hah? karena elo udah berani bermain-main sama Putri and the geng, ngerti?" Rara menghempaskan cengkramannya dengan kasar.
" Akhhhhh..!" pekik Zaira kesakitan.
" Kenapa sakit ya?" ejek putri yang menghampiri Zaira dan mendorong bahu Zaira kasar hingga Zaira mundur beberapa langkah.
" Loe terlalu murahan, karena loe Mario sekarang bersikap dingin ke gue" ucap putri seraya berjalan mengitari Zaira.
" Ya karena loe juga Irfan selalu menjauh dari gue" lanjut Angel yang sudah lama menaruh hati pada Irfan tapi selalu dicuekin.
" Dia ini sumber masalah buat kita, dia sengaja menggoda pak Bagaz dan pura-pura mabuk lagi di mobil. cihh.. segitu cari perhatiannya banget loe sama pak Bagaz, ingat ya loe gak akan bisa mendapatkan pak Bagaz karena pak Bagaz itu cuma milik gue dan akan segera menjadi milik gue, awas loe kalau berani macam-macam lagi gue pastiin loe gak akan bisa melihat matahari lagi besok!" ancam Rara dengan senyum jahatnya dan dengan sadis Rara menjambak rambut Zaira hingga Zaira meringis kesakitan.
" Awww... sa.. sakit. lepasin gue!" teriak Zaira kesakitan.
Tapi dasar manusia tak berperasaan mereka malah bergantian menarik rambut Zaira dengan kasar.
" Hei, kalian!" panggil Rara kepada dua temannya yang laki-laki.
" Apa kalian ingin bersenang-senang dengan gadis bodoh ini?" tanya Rara yang menatap Zaira seakan jijik.
" Ra, maksud loe apa?" tanya Putri yang entah kenapa tiba-tiba merasa takut dengan niat jahat temannya sendiri.
" Loe kenapa sih put, tumben pikiran loe jadi melow gitu?" tanya Rara yang merasa aneh dengan putri.
" Bukan gitu Ra, kalau kita bertindak lebih dari ini loe gak takut apa masalahnya akan berbuntut panjang nantinya" debat putri dan Rara yang tiba-tiba tidak sejalan.
__ADS_1
" Kalian kenapa sih kok jadi ribut berdua?" tanya Angel menengahi.
" loe juga put kenapa sih pake protes segala, udah biarin aja Leo dan Viko memberi pengalaman pertama buat gadis bodoh ini bersenang-senang dengan dunia bebas" ucap Angel yang mendukung tindak kejahatan Rara"
" Terserah kalian saja deh!" ucap Putri pasrah.
" Ka.. kalian mau apa?" Zaira melangkah mundur saat mengerti niat buruk kakak kelasnya itu.
" Loe gak usah sok polos ya" Rara menyeringai licik " Mereka berdua akan memberi loe kesenangan dan kenikmatan yang belum pernah loe rasakan!" ucap Rara mendekatkan wajahnya ke wajah Zaira.
Deggg
Jantung Zaira semakin bergemuruh, rasa takutnya kian memuncak. gemetar tubuh Zaira gemetar akankah ini akhir dari hidupnya. Zaira sangat takut jika kedua laki-laki yang ada di hadapannya ini berani menyentuhnya.
" Mas Azka tolong aku!" gumamnya dalam hati Zaira tidak bisa berhenti menangis, menyesal lagi-lagi rasa penyesalan yang teramat besar ia rasakan terhadap suaminya. menyesal karena tidak mendengar ucapannya.
" Mas kamu dimana?" jerit Zaira dalam hati.
**
Azka yang sedang mencari disekitaran pohon-pohon yang cukup lebat tiba-tiba merasakan perasaan yang semakin tidak enak, Azka melangkah lebih cepat mencari Zaira yang tak tentu arah. namun saat dari kejauhan ia melihat seperti ada rumah kosong yang terbengkalai dan nampak begitu suram meski ragu jika Zaira ada disana tapi langkah kakinya seakan memaksanya untuk terus berjalan.
Langkah Azka tiba-tiba terhalang oleh sosok laki-laki yang tengah berdiri dihadapannya.
" Mau apalagi kamu, atau jangan-jangan kamu_?" ucap Azka sinis
" Murid yang bapak cari ada disana, dirumah kosong itu!" ucap laki-laki itu memberitahu Azka.
" Jadi benar kamu yang_" Azka geram dan ingin memberikan Bogeman mentah ke wajah anak laki-laki yang tidak lain salah satu muridnya sendiri.
" Jangan buang-buang waktu bapak disini, jika urusan bapak dengan saya bisa kita selesaikan dilain waktu tapi untuk menyelamatkan murid bapak yang satu itu saya tidak bisa menjamin jika bapak masih disini sekarang!" ucapnya saat menangkap pukulan tangan Azka yang mengarah ke wajahnya.
" Maksud kamu apa hah?" tanya Azka yang sudah geram.
" Tidak usah banyak bertanya dulu sebaiknya kita segera kesana, tadi saya melihat mereka membawanya ke rumah kosong itu!" ucap sang murid.
" Mereka?" Mendengar kata mereka berarti yang membawa Zaira lebih dari satu orang, Azka langsung panik dan langsung berlari dengan sangat cepat menuju tempat tersebut dan meninggalkan muridnya begitu saja.
Zaira menangis ketakutan tatkala kedua laki-laki suruhan Rara berjalan mendekatinya.
Zaira yang panik memilih untuk menghindar berlari ke sembarang arah.
" Tangkap dia jangan sampai lolos!" titah Rara dan membuat dia dan Angel tertawa puas melihat Zaira kejar-kejaran.
Zaira yang merasa tubuhnya lemas tidak kuat lagi melangkah dan akhirnya berhenti menarik napasnya yang ngos-ngosan.
Rara dan Angel semakin tertawa puas Putri entahlah apa yang ada dipikirannya saat ini. dia hanya diam dan sesekali tertawa tapi terlihat tawa yang sedikit dipaksakan.
Rara menghampiri Zaira yang sedang mengatur napasnya lalu menarik rambutnya dengan kasar " Loe jangan banyak bertingkah, sebaiknya loe biar aman!" ancam Rara.
" Ka_lian sang_at ke_ter_la_luan, Ka_li_an Ja_hat" ucap Zaira terbata-bata karena merasakan sakit pada jambakan dikepalanya oleh Rara.
Rara justru merasa senang melihat wajah Zaira yang semakin pucat dan tersiksa. Rara melepaskan jambakannya dan mendorong kerasa tubuh Zaira hingga Zaira merasa pasrah akan nasib dan takdir yang akan terjadi pada dirinya.
" Ya Allah jika ini akhir dari segala kesalahanku dan dosaku terhadap Suamiku, ampunilah aku ya Robb" batin Zaira pasrah saat tubuhnya akan jatuh kelantai karena tubuhnya yang lemas tidak mungkin mampu menahannya.
Zaira memejamkan mata dan pasrah.
Brukkk
__ADS_1
" Aaaaaaaa...!"