Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Jaket


__ADS_3

Zaira mengerjapkan matanya menetralkan dengan bias cahaya yang masuk ke retina matanya. Zaira menatap ke sekeliling dan seketika pandangannya jatuh kepada sosok pria yang tengah tertidur disampingnya dengan lengan sebagai bantalan.


Senyum tertarik dari sudut bibir Zaira, hatinya begitu lega namun ada rasa sedikit bersalah ketika matanya begitu intens menatap pria yang tengah terlelap itu.


tangan Zaira terangkat perlahan lalu mendarat di kepala sang suami yang mungkin tengah kelelahan. Zaira perlahan mengusap rambut lebat nan hitam milik Azka.


" Ma.. maafkan aku mas!" lirih Zaira dan seketika air matanya mengalir begitu saja dipipinya yang mulus.


" Andai aku tidak egois mas dan mendengarkan apa katamu mungkin hal ini tidak akan terjadi mas, maafkan aku mas. aku memang bukan istri yang baik dan aku juga bukan calon ibu yang baik karena hampir saja aku menyakiti anak aku sendiri mas. aku_" Zaira tidak dapat melanjutkan kata-katanya membayangkan kedua laki-laki yang hampir saja melecehkan dirinya bahkan bisa saja melukai calon bayi dalam kandungannya membuat Zaira terisak hebat tubuhnya bergetar karena menahan tangisnya yang ingin meledak.


Azka yang merasakan ada sedikit keterangan langsung terjaga dari mimpinya dan betapa terkejutnya Azka saat melihat Zaira tengah sesenggukan dengan tubuh yang bergetar.


Azka langsung berdiri dan duduk di sisi tempat tidur Zaira yang kosong menatap lekat wajah Zaira yang sudah basah dengan air mata.


" Sayang kamu suka sadar?" tanya Azka dalam keterkejutannya yang melihat Zaira menangis sesenggukan.


" Sayang ada apa, apa ada yang sakit katakan sama mas sayang, mas mohon jangan seperti ini!" ucap Azka dalam kepanikannya.


Zaira hanya menggeleng dan mencoba untuk bangun, Azka yang tahu Zaira hendak bangun untuk duduk dengan segera langsung membantunya.


" Ada apa Hem, kenapa kamu menangis sayang?" tanya Azka sekali lagi dengan manangkup wajah sendu Zaira yang nampak memerah karena menangis.


" mas maafkan aku!" ucap Zaira yang langsung berhambur memeluk Azka.


Azka terhenyak melihat Zaira yang menangis dalam pelukannya. Azka membiarkan Zaira menangis dalam pelukannya hingga Zaira merasa tenang dan merasa lebih baik. Azka mengusap punggung Zaira dengan lembut


mencoba menenangkannya.


Setelah merasa cukup Azka mendorong tubuh Zaira pelan untuk mengurai pelukannya. Azka menatap lekat wajah sang isteri yang sudah banjir dengan air mata, Azka lalu tersenyum tipis dan mendaratkan kecupan singkat di kening, mata, pipi, hidung dan berakhir di bibir.


Azka menyibak rambut Zaira yang terurai sedikit menutupi wajah cantik Zaira lalu menyelipkannya di telinga. Azka dengan sangat lembut mengusap pucuk kepala Zaira dan lagi-lagi ia tersenyum penuh kasih sayang.


" Maafkan aku mas!" cicit Zaira yang kemudian menunduk Azka yang melihat wajah Zaira menunduk dengan perlahan Azka menarik dagu Zaira hingga membuat Zaira mendongak dan keduanya saling menatap dan mengunci pandangan mata masing-masing.


" Tidak ada yang perlu di maafkan sayang yang terjadi sudah biarlah terjadi yang terpenting saat ini adalah kamu sudah baik-baik saja bersama mas disini. jikalau pun ingin minta maaf justru mas lah yang harusnya minta maaf karena sebagai suami justru mas tidak bisa berbuat apa-apa bahkan hanya sekedar menjaga istri mas yang sedang kurang sehat pun mas tidak bisa. maafkan mas ya sayang. mas sudah lalai menjaga kamu dan calon baby kita!" ucap Azka seraya mendaratkan tangannya mengelus lembut perut Zaira yang masih rata.


" Mas!" Zaira berhambur kembali memeluk Azka


" Sudah-sudah mommy jangan nangis terus kasihan baby kalau mommy nangis terus!" ucap Azka seraya mengurangi pelukannya.


Azka mengusap penuh cinta pucuk kepala Zaira lalu tersenyum tipis.


" mommy jangan nangis lagi ya, kalau mommy nangis baby jadi ikutan sedih!" ucap Azka mengelus perut Zaira dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.


Zaira seketika tertawa mendengar suara Azka yang terdengar sangat lucu dan menggemaskan.


Mas, lucu banget sih!" ucap Zaira mencubit pelan pipi Azka.


Azka tersenyum kembali hatinya lega melihat sang isteri sudah bisa tertawa dan berhenti menangis.


" Nah gitu dong tertawa jangan nangis terus" ucap Azka senang " nanti kalau nangis terus matanya jadi sembab pasti mommy terlihat jelek," tambahnya lagi menggoda Zaira.


Zaira yang mendengar kata jelek langsung memberengut dan mencibikkan bibirnya


Azka malah tertawa melihat wajah Zaira yang nampak lucu menurutnya.


" Mas kok malah ketawa sih?" tanya Zaira dengan wajah cemberut.


" Habisnya kamu tuh lucu sayang, wajah kamu ini tuh gemesin banget tuh bibir seperti kepingin Mita dicium ya sama mas?" goda Azka dan Zaira langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Azka kembali tertawa melihat tingkah istri kecilnya yang terlihat konyol tapi gemesin.


" Udah dong mas jangan ketawa terus!" pinta Zaira yang masih memberengut


" iya.. iya, tapi udah ya jangan di manyunin lagi nih bibir!" ucap Azka seraya mendaratkan jari telunjuknya di bibir Zaira.


" mas!" panggil Zaira


" Iya ada apa?" tanya Azka sambil mengambil ponselnya di atas nakas.


" mas bagaimana dengan acara Campingnya?" tanya Zaira hati-hati.


Zaira yang hendak membuka layar ponselnya langsung berhenti lalu menoleh ke arah Zaira dengan memincingkan alisnya.


Zaira yang takut Azka marah langsung cepat kembali berbicara.

__ADS_1


" Maksud aku bagaimana dengan yang lainnya mas, mereka pasti mencari ku mas?" ucap Zaira takut-takut. " Aku mau pulang kerumah mas !" lirihnya lalu menundukkan kepalanya.


" Mereka sudah tahu kamu bersama mas saat ini, dan acara Campingnya juga sudah dibubarkan. hari ini mereka akan pulang dan kita juga akan pulang" ucap Azka yang tahu akan ketakutan istri kecilnya itu.


" Yaudah aku ke toilet dulu ya sebentar. mau cuci muka!" ucap Azka lalu berdiri


" Mas, aku _" ucap Zaira menundukkan pandangannya


" Iya kenapa,?"


" Emmmm... aku juga mau ke toilet mas mau buang air kecil!" jawab Zaira malu-malu.


Azka tertawa kecil dengan sikap malu-malu sang isteri, Zaira yang hendak turun dari tempat tidurnya langsung dicegah oleh Azka.


" Kamu mau kemana?" tanya Azka


" Ya ke toilet lah mas, kan tadi udah aku bilang sama mas" ucap Zaira yang masih hendak ingin memberingsut turun.


" Aaaa..!" teriak Zaira saat tubuhnya diangkat ke udara oleh Azka.


" Mas turunkan aku ih!" ucap Zaira yang merasa malu karena Azka membawanya masuk ke dalam toilet.


" Sudah cepat!" titah Azka dengan santai


" Mas ngapain disini?" tanya Zaira yang melihat Azka masih berdiri di dalam toilet tersebut.


" Ya mas menenani kamulah, jaga-jaga!" ucap Azka dengan santainya


" Mas keluar gih, aku gak bisa kalau mas tetap ada disini!" rajuk Zaira


" Ya emang kenapa, biasanya juga bisa kalau lagi di_" ucap Azka terhenti karena Zaira dengan cepat langsung membekap mulut suaminya itu.


" Bisa gak mas gak bicara yang aneh-aneh?" ucap Zaira yang sudah kesal dengan sikap Azka yang menurutnya terlalu berlebihan.


" Aneh-aneh gimana, jangan-jangan kamu malah yang mikir macam-macam iyakan?" goda Azka membuat wajah Zaira sudah memerah semerah tomat.


" Mas udah ih sana keluar!" pinta Zaira.


" Iya-iya" ucap Azka lalu keluar dari toilet dan mencuci mukanya di wastafel yang ada di dekat pintu toilet.


wanita yang tidak lain adalah dokter Mela yang tersenyum ramah ke arahnya.


" Dokter!"sapa Azka


Dokter Mela malah tertegun bahkan sulit menelan salivanya saat melihat wajah dan rambut Azka yang nampak basah terkesan menambah ketampanan si calon dedy ini.


" Dokter!" sapa Azka lagi membuyarkan lamunan dokter Mela yang menatapnya aneh menurut Azka.


" Akh.. iya, maaf!" ucap dokter Mela yang malu sendiri.


" Maaf dok, istri saya sedang di toilet" ucap Azka memberitahu


" Iya tidak apa-apa pak!" sahut dokter Mela dengan dengan tersenyum.


Tok... tok.. tok..


" Sayang sudah belum?" tanya Azka sambil mengetuk pintu toilet


" Sebentar mas!" sahut Zaira dari dalam


" Cepat sayang ada dokter Mela yang ingin memeriksa kamu sayang!" ucap Azka berkali-kali menekankan kata sayang pada setiap ucapannya pasalnya Azka risih melihat dokter Mela yang masih saja menatap kearahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Iya mas!"


Ceklekk


pintu toilet terbuka dan menampakkan wajah cantik sang isteri yang juga baru saja mencuci mukanya jadi terlihat lebih segar dan cantik pastinya menurut Azka.


Azka dengan cepat langsung mengangkat tubuh mungil sang istri sampai membuat Zaira terkejut dengan sikap konyol sang suami yang menurutnya berlebihan apalagi didepan sang dokter cantik membuat Zaira sedikit malu tapi juga lega.


Azka dengan sangat hati-hati menurunkan Zaira ke atas tempat tidur.


" Wah bapak termasuk suami yang siaga ya!" puji dokter Mela yang menatap kagum dengan sosok pria yang ada dihadapannya saat ini.


" Ekhemm," Azka berdehem menetralkan suasana. " Tentu saja saya harus siaga. demi istri saya yang tercinta apalagi saat ini sedang mengandung buah hati kami tentu saja saya harus lebih ekstra lagi memperhatikannya." sahut Azka tanpa menoleh ke dokter Mela justru tatapannya tidak lepas dari wajah cantik sang isteri tercinta.

__ADS_1


" Anda benar sekali, perhatian itulah yang diperlukan oleh isteri anda saat ini" ucap dokter Mela


" Apa boleh saya periksa istri anda sekarang?" tanya dokter Mela


" silahkan dokter!" ucap Azka mempersilahkan Dokter Mela memeriksa kondisi Zaira.


" Bagaimana dok?" tanya Azka saat Zaira sudah selesai diperiksa.


" Semua baik-baik saja, kondisinya juga sudah tidak ada yang dikhawatirkan lagi. jadi istri anda sudah boleh pulang." jawab dokter Mela menjelaskan.


Setelah selesai memeriksa kondisi Zaira dokter Mela pun pamit undur diri walaupun sebenarnya Zaira tidak terlalu menyukai tatapan dokter Mela terhadap suaminya tapi Zaira bersikap biasa saja karena wajarlah jika banyak wanita yang nampak kagum jika melihat suaminya yang tampan ini.


Zaira hendak duduk dan Azka dengan cepat langsung membantunya untuk bangun.


" Kenapa senyam-senyum gitu?" tanya Azka mengerutkan keningnya saat melihat Zaira tersenyum ke arahnya.


" Ternyata sebegitu tampannya kah suamiku ini sehingga banyak para wanita yang tergoda hanya melihat senyumnya itu?" ucap Zaira yang sepersekian detik senyum diwajahnya pudar berganti dengan bibir yang mengerucut.


" Apalagi?" tanya Azka yang merasa aneh dengan sikap Zaira yang mudah berubah moodnya.


" Makanya mas itu jangan suka tebar pesona kepada semua orang, beginikan akibatnya aku juga yang kena imbasnya Untung dedek tidak apa-apa ya sayang!" ucap Zaira yang keceplosan sambil mengelus perutnya sendiri dan setelah sadar dengan ucapannya Zaira langsung menutup mulutnya sendiri dan saat mendongak tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Azka yang tengah menatapnya tajam.


" Apa maksudmu?" tanya Azka dingin membuat Zaira terkesiap dan sulit rasanya menelan salivanya.


" Mas ak.. aku!" ucap Zaira terbata-bata


" Cepat jawab apa maksud dari ucapanmu barusan?" tanya Azka yang tanpa sadar sudah membentak Zaira hingga membuat Zaira begitu ketakutan.


" Mas membentakku?" tanya Zaira dengan air mata yang sudah meluncur begitu saja


Azka yang melihat Zaira menangis barulah tersadar dengan sikapnya yang baru saja tanpa sadar sudah menyakiti hati sang isteri.


" Maaf... maafkan mas Sayang, maaf mas gak bermaksud untuk_" ucap Azka terhenti karena Zaira menepis tangan Azka yang bertengger di bahunya.


" Mas jahat!" teriak Zaira histeris.


Azka panik melihat Zaira yang begitu histeris dengan cepat Azka langsung membawa Zaira ke dalam pelukannya.


Azka mengusap lembut punggung Zaira mencoba menenangkannya walaupun Zaira terus saja berontak tapi dengan berusaha untuk sabar Azka terus berusaha untuk menenangkan Zaira yang terkadang memang suka lepas kontrol jika sedang sedih ditambah dengan kejadian semalam membuat Zaira pasti begitu syok dan terguncang.


" Maafkan mas ya mas janji tidak akan mengulanginya lagi!" Azka terus berusaha menenangkan Zaira sampai akhirnya Zaira tertidur karena lelah menangis.


Azka membaringkan tubuh Zaira dengan hati-hati.


Azka termenung memikirkan ucapan Zaira.


" Kena imbasnya, apa yang terjadi dengan Zaira itu ada hubungannya denganku?" batin Azka.


" Apa Rara sengaja ingin menyakiti Zaira dan itu semua disebabkan karena aku?" tanya Azka pada dirinya sendiri.


Azka memijat keningnya yang terasa berdenyut hebat karena memikirkan ucapan Zaira.


❇️❇️❇️❇️


Sementara di dalam sebuah tenda Mita terus memperhatikan Lia yang nampak berbeda hari ini.


Lia yang tengah mengemas barang-barang milik Zaira karena barang-barangnya sendiri sudah lebih dulu ia kemas.


Mona sibuk dengan barang bawaannya, begitu juga dengan Mia dan Indah. hanya Mita yang membantu Lia mengemas barang-barang milik Zaira.


" Li loe semalam balik jam berapa?" tanya Mita yang pas terbangun sudah ada Lia tidur disamping Mona dengan menggunakan jaket yang nampak asing menurutnya apalagi jaket yang Lia pakai seperti jaket milik cowok.


" Gue gak ngeliat Jam jadi gak tau deh balik jam berapa" sahut Lia yang tanpa sadar masih belum melepas jaket yang dipakainya.


" Loe semalam sama siapa diluar, gak iseng loe sendirian tengah malam keluar?" tanya Mita yang sebenarnya penasaran jaket siapa yang Lia pakai.


" Iya gue sendirian, ada sih di tenda kelas 12 yang pada bakar api unggun gitu jadi gak iseng-iseng amatlah" sahut Lia yang tengah menarik resleting tas Zaira.


" Selesai juga!" ucapnya lagi.


" Yakin loe sendirian?" tanya Mita memincingkan alisnya


Deggg


Lia baru tersadar saat matanya mengarah ke tangannya sendiri yang bertengger di atas tas Zara.

__ADS_1


" Mam*us , jaket ini kenapa gue gak sadar masih pake ni jaket" batin Lia yang mengumpat kebodohannya sendiri.


__ADS_2