
Sudah hampir satu bulan berlalu dan hubungan Khanza dengan pak Aldy nampak biasa saja, seperti tidak pernah ada hubungan apa-apa diantara keduanya, Khanza tidak pernah menghubungi Aldy begitu juga sebaliknya, Khanza tidak ingin mengganggu kehidupan Aldy apalagi sebelumnya laki-laki itu pernah menuduhnya melakukan sesuatu hal yang buruk terhadap mamahnya. Khanza sempat menunggu kata maaf dari pria yang berstatus suaminya itu namun sampai detik ini hasilnya nihil Aldy seakan memang tidak berniat untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Hari ini Khanza masuk ke sekolah seperti biasanya tidak ada perubahan sedikitpun dengan kebiasaan Khanza walaupun saat ini statusnya adalah isteri orang
" Woy Khanza , tumben bener ni hari loe udah ada dimari gak bantuin nyokap loe apa?" tanya Nicko yang baru saja datang bersama Billy.
" Iya Za, loe tumben banget bergalau ria disini sendirian?" Billy ikut bertanya karena tidak biasanya seorang Khanza duduk menyepi di taman sekolah.
" Berisik banget loe pada" kesal Khanza
" Dah ni anak lagi PMS kali ya, pagi-pagi udah esmosi" ucap Nicko
" Emosi!" teriak Khanza dan Billy bersamaan
" Eh dia kompak" ledek Nicko menunjuk Billy dan Khanza bergantian
" Mending kalian berdua enyah deh dari hadapan gue, dari pada gue libas loe berdua!" ucap Khanza mengusir
" Santai dong Za galak bener sih?" ucap Nicko
" Iya Za, loe ini kenapa sih akhir-akhir ini jadi aneh banget suka marah dan emosian gak jelas gitu?" tutur Billy ikut menimpali
" Gue gak Kenapa-napa cuma lagi gak mood aja" sahut Khanza ngasal
" Gak mood itu ada sebabnya Khanza yang cantik!" ucap Nicko membuat Khanza mendelik malas
" Udah deh mending kalian berdua pergi aja gih, bikin gue pusing aja" ketus Khanza dengan wajah yang cemberut
" Ada apaan sih, rame bener?" tanya Miska yang baru saja datang bersama Hana dan Nana
" Tau nih teman loe yang satu ini pagi-pagi udah esmosian" jawab Nicko
" Emosian!" teriak Khanza dan yang lainnya kompak
" Kenapa sih pada protes aja" ucap Nicko
" Ya elo wajah sama nama aja sok bule tapi ngomong emosi aja belepotan" timpal Billy
" Ya emang kenapa sih, gue kan dari sononya gak bisa ngomong kata emosi bisanya tuh esmosi" tutur Nicko dengan santai
" Nah itu barusan bisa" celetuk Nana kesal
" Bisa apaan na?" tanya Nicko yang sok polos
" Nah itu tadi barusan bisa ngomong emosi"
sahut Nana
" Jangan bercanda deh loe Na, mana bisa gue bilang emosi" ucap Nicko
" Wah mau dipiting kali ya ini anak!" kesal Khanza yang langsung mendaratkan tangannya di leher Nicko.
Nicko tertawa begitu juga dengan Khanza yang masih melilitkan tangannya di lehernya Nicko
" Khanza, loe kok tumben sih ada di sini?" tanya Hana yang memang tidak biasanya seorang Khanza memiliki waktu untuk bersantai di taman, karena kesehariannya Khanza selalu sibuk membantu ibunya di kantin.
" Gue lagi kepengen aja sekali-kali disini apalagi sudah dapat izin dari ibu, gak boleh apa?" tanya Khanza seraya melepaskan tangannya dari leher Nicko.
" Tentu saja boleh dong Khanza sayang, tapi kalau gue perhatiin loe ini kayaknya lagi ada masalah ya Za?" tanya Hana yang jadi penasaran.
" Ish... sok tahu sekali anda nona Hana!" sahut Khanza lalu berjalan menuju kelas
"Eh ini anak malah nyelonong gitu aja ninggalin kita" ucap Hana
" Woy Khanza!" teriak Hana
" Za!" Miska pun ikut berteriak
" Cus ah!" Nana menarik tangan Miska dan Hana mengikuti langkah mereka menyusul Khanza
" Lah kenapa jadi kita yang ditinggalin ya!" monolog Nicko
" Ayok susul mereka!" Billy menggaet leher Nicko yang malah diam menatap para cewek yang pergi begitu aja meninggalkan mereka
Sesampainya di kelas seperti biasa sebelum bel masuk Khanza dan teman-temannya mengobrol sejenak sesekali berkelakar.
" Eh pak Aldy kemana ya, sudah sebulan ya gak masuk, apa dia sakit ya?" tanya Hana
" Kenapa memangnya kalau sakit, perhatian benar?" senggol Miska
" Ya kalau pak Aldy sakit di jenguk dong tentunya" seloroh Hana
" Ya kali aja setelah gue jenguk dia sembuh" lanjutnya lagi
" Sembuh enggak parah iya" Nana menimpali
" Wah si*lan loe Na" Nana pun tertawa mendengar umpatan Hana
Bel pun berbunyi tidak berapa lama seorang guru masuk untuk mengisi jam pelajaran.
🖤
" Aldy bagaimana kabar istri kamu?" tanya mama Titin
" Aldy tidak tahu mah" jawabnya datar
" Tidak tahu bagaimana, apa sejak dia pergi kamu sama sekali tidak ada menghubunginya?" tanya mama Titin dan Aldy hanya menjawab dengan gelengan kepala.
" Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan kalian? dan mama juga tidak habis pikir kenapa kamu bisa bersikap seperti itu dengan Khanza, bahkan kamu menuduhnya tanpa bukti apapun" Aldy terdiam
" Nyonya dan tuan Sam mertua Alzaira sudah terlalu baik dengan keluarga kita, tidak mungkin mereka memiliki niat balas dendam jika sampai saat ini saja mereka masih mau membantu pengobatan mama dan juga sekolah adikmu Toni" tutur mama Titin
__ADS_1
" Atas dasar apa kamu memiliki pemikiran seperti itu Aldy?" tanya mama Titin kembali karena Aldy masih diam bergeming dengan pikirannya sendiri
" Aldy sendiri tidak tahu mah, rasanya mimpi itu seperti nyata" ungkap Aldy jujur
" Mimpi, mimpi apa maksudmu?" mama Titin mengerutkan alisnya
Flashback off
" Kenapa dia tidak juga datang, apa dia sudah kembali ke kota" batin Aldy yang kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke sofa.
Karena merasa lelah akhirnya laki-laki itu pun tertidur juga.
Ceklekk
Pintu ruangan terbuka dan menyembul dua wanita cantik yang seumuran masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah datar
" Kalian_?" mata Aldy membulat sempurna tatkala netranya menangkap sosok wanita cantik yang sangat dikenalnya bahkan pernah ia kagumi
" Apa kabar pak Aldy?" tanya seorang wanita dengan datar dan dingin
" Apa kamu sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan mamah dan mau maafkan kesalahan mamahku?" tanya Aldy yang disambut gelak tawa dari wanita yang tidak lain adalah Zaira
" Memaafkan mamahmu? orang yang sudah membunuh bundaku? kamu pikir bisa semudah itu pak **Aldy**?"
" Nyawa harus di balas dengan nyawa" ucap Zaira dingin.
" Apa maksud mu?" tanya Aldy yang nampak pucat
" Khanza" panggil Zaira
" Iya Za" jawab Khanza dengan tersenyum sinis kearah Aldy
" Jadi kamu_?" ucap Aldy **tercekat**
" Iya, aku ingin melihat pak Aldy merasakan apa yang aku rasakan, bagaimana rasanya ditinggal orang yang sangat kita cintai dan dikhianati oleh orang yang sangat kita percayai" Zaira berjalan mendekati brankar bibinya yang sudah merenggut nyawa bundanya
" Apa sebenarnya mau mu? pergilah dari sini!" ucap Aldy
*M**ama Titin yang mendengar suara ribut-ribut akhirnya terbangun dan nampak terkejut melihat Zaira sudah berada di hadapannya*
" Zaira!" Cicit mama Titin
" Apa kabar bibi, bagaimana keadaan bibi setelah mengambil nyawa bundaku?" tanya Zaira dengan sinis
" Apa bibi sudah puas merenggut kebahagiaan ku?" lirih Khanza
"Sungguh wanita kejam dan tidak berprikemanusiaan, pembunuh!" umpat Khanza dengan tatapan sinis
" Cukup Khanza!" bentak Aldy yang tidak menyangka gadis yang baru saja ia nikahi ternyata bisa bicara setega itu kepada mamanya
" Kenapa? apa pak Aldy pikir saya mau gitu mempunyai suami dari anak seorang pembunuh, tidak pak pernikahan ini sudah tidak berarti apa-apa lagi untuk saya, saya tidak sudi memiliki suami yang ibunya seorang pembunuh" maki Khanza
"Mamah!" pak Aldy nampak panik dan sudah berada di sisi kirinya
" ***Mah.... mamah.... mamah..!" Aldy nampak syok apalagi melihat tubuh mamahnya yang tidak bergerak.
Seketika amarah Aldy meledak saat melihat Khanza dan Zaira yang tengah tertawa puas melihat mamahnya dalam keadaan sekarat***
" Kamu sungguh wanita ib**s " Aldy memaki Khanza
" Tapi setidaknya aku tahu bagaimana caranya balas budi tidak seperti wanita tua itu yang haus akan harta dan tega menghalalkan segala cara dengan merebut nyawa orang yang tidak bersalah" tegas Khanza
" Mamah bangun mah, bangun...!" Aldy tidak memperdulikan kata-kata tajam yang keluar dari mulut gadis yang berstatus isterinya itu
" Mamah......Mamah ....Aaaaa!" teriak Aldy yang langsung membuka matanya. sejenak dia terdiam dan sedetik kemudian ia mendengar suara yang berteriak memanggil mama dan seketika pikirannya langsung tertuju pada mamanya
" Mah... mama kenapa mah... mamah bangun mah, bangun!" Khanza nampak khawatir lalu langsung memencet tombol darurat
" Dokter tolong dokter...!" teriak Khanza
Aldy yang mendengar suara teriakan Khanza langsung terperanjat dari tidurnya dan pikirannya langsung tertuju pada mamahnya
" Mamah!" Aldy beranjak dari sofa dan berlari ke arah brankar mamanya dengan panik
" Ada apa dengan mama?" bentak Aldy
" Apa yang sudah kau lakukan dengan mamahku?" tanya Aldy dengan tatapan tajam.
Flashback off
" Setelah Khanza pergi Aldy baru sadar mah, apa yang terjadi waktu itu hanyalah mimpi, mimpi yang seakan sangat nyata, karena pada saat Aldy terjaga dari mimpi mamah juga dalam keadaan tidak sadarkan diri dan karena rasa panik, akal sehat Aldy tidak berjalan dengan baik dan Aldy menuduh Khanza telah berniat buruk pada Mamah." tutur Aldy menceritakan yang sebenarnya.
" Aldy sempat memaki dan membentak Khanza" lanjutnya
" Dasar bodoh bahkan sampai sekarang kamu masih belum meminta maaf ?" Aldy mengangguk
" Kenapa?"tanya mamahnya
" Aldy malu mah, rasanya sangat malu untuk meminta maaf pads Khanza"
" Telpon dia sekarang, sebelum mamah kembali ke tahanan mamah ingin bertemu dengan Khanza terlebih dahulu!" pinta mama Titin
Aldy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Kenapa masih diam saja?"
"Emmm... Aldy tidak punya nomor telepon Khanza mah" jawabnya jujur
" Apa? kamu tidak punya nomor telepon isteri kamu sendiri?" Aldy cengengesan seraya mengangguk pelan
" Oh ya ampun Aldy" mamanya menghela napasnya panjang
__ADS_1
" Dia pasti sangat marah karena kamu sudah menuduhnya dengan apa yang sama sekali tidak dia lakukan" kesal mama Titin
" Dasar anak bodoh, kamu itu seorang guru tapi masih saja tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi" umpat kesal sang mamah
" Maafkan Aldy mah!"
" Jangan minta maaf sama mamah tapi minta maaf kepada Khanza!" seru mamahnya
" Iya mah nanti saat Aldy pulang ke kota Aldy akan meminta maaf" jawab Aldy
" Besok pagi petugas lapas akan menjemput mamah untuk menjalankan masa tahanan mamah, tolong sampaikan salam mamah untuk menantu kesayangan mamah !" pesannya
" Apa mamah tidak bisa ikut pulang bersama Aldy mah, bagaimana jika penyakit mamah kambuh disana?" tanya Aldy yang nampak sangat khawatir
" Mamah tidak bisa pulang sampai masa tahanan mamah selesai, kamu harus bisa menjaga diri dengan baik terutama jaga Khanza untuk mamah. dia gadis yang baik jangan sampai mimpi bodohmu itu mempengaruhi pikiran mu, cepatlah temui isteri mu dan minta maaflah!" ucap mama Titin
Aldy terdiam sebenarnya dia sadar sudah melakukan kesalahan besar pada Khanza namun rasa ego dan gengsi yang tinggi membuatnya enggan untuk meminta maaf lebih dulu.
" Besok Aldy akan pulang setelah memastikan keadaan mamah baik-baik saja, Aldy akan menemui Khanza setelah semuanya beres!" ucap Aldy
" Dia menantu mamah jangan sampai kamu melepaskan gadis sebaik dia Aldy"
" Mamah belum lama mengenalnya tapi kenapa mamah begitu yakin kalau Khanza itu gadis yang baik untuk Aldy."
" Manah bisa melihatnya dari cara dia bicara dan juga tatapan matanya yang begitu teduh membuat hati siapa pun yang menatapnya akan merasa tenang"
" Apa kamu tidak pernah menatap bola matanya?" Aldy menggeleng pelan
" Sebaiknya kamu pulang sekarang dan temui isteri mu, tidak baik pengantin baru berpisah lama-lama, keadaan mamah sudah baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir!" ucap mama Titin
"Tapi mah_"
" Tidak ada tapi-tapian, sudah cepat sana!"
" Mah!"
" Mamah mau istirahat, sebaiknya kamu pergi saja"
Aldy akhirnya mengalah dan pamit pulang kepada mamahnya.
" Aldy pulang dulu ya mah!" pamitnya
" Iya, hati-hati di jalan dan jangan lupa berdamailah pada hatimu!" pesan mamah Titin
Aldy hanya tersenyum lalu menyalami punggung tangan mamahnya.
" Assalamu'alaikum!" ucap Aldy sebelum pergi
" Wa'alaikum salam" jawab mamahnya
***
Sementara di kota yang berbeda seorang gadis yang berstatus isteri tengah sibuk membantu ibunya di dapur
" Khanza!" panggil bu Khodijah
" Iya mah" jawab Khanza menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci sayuran lalu menoleh ke arah bu Khodijah sekilas
" Khanza apa kamu tidak dapat kabar dari suami mu?" tanya bu Khodijah
" Mungkin pak Aldy sibuk mengurus mamahnya yang sedang sakit Bu" jawab Khanza seraya mencuci sayuran
" Tapi setidaknya dia itu memberi kabar, sudah satu bulan loh kalian berpisah"
" Memangnya kenapa bu? lagi pula pernikahan kami ini masih terlalu dini kan bu" tutur Khanza
" Tapi tetap saja sayang, kalian itukan sudah sah menjadi pasangan suami isteri sudah sewajarnya kalian saling bertukar kabar, atau jangan-jangan kalian ini sedang ada masalah iya?" tanya Bu Khodijah yang langsung membuat Khanza terdiam
" Khanza!" panggil bu Khodijah karena melihat Khanza yang diam termenung
"I.. iya bu, ada apa?" Khanza bukan menjawab malah balik bertanya
" Apa kamu sedang ada masalah dengan nak Aldy?" tanya bu Khodijah kembali
" Tidak ada bu, kami baik-baik saja kok bu. Khanza dan pak Aldy itu juga kan belum lama kenal dan kami juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri satu sama lain. tapi karena mamanya pak Aldy sedang sakit wajarlah bu kalau pak Aldy sibuk merawat mamahnya." jawab Khanza berdalih
" Benar kalian tidak apa-apa?" tanya bu Khodijah kembali memastikan
" Iya bu" jawab Khanza dengan tenang
" Apa nyonya Sam tidak memberitahu kamu tentang kabar nak Aldy dan mamanya?"
Khanza menghampiri bu Khodijah lalu memberikan sayuran yang baru selesai ia cuci.
" Kata mama Maria keadaan mama Titin sudah stabil dan besok pagi akan kembali ke lapas untuk melanjutkan masa tahanannya" jawab Khanza
" Apa kamu tidak ingin menjenguknya?" tanya bu Khodijah
" Khanza sebenarnya ingin sekali menjenguknya bu tapi lusa Khanza sudah mulai ujian praktek bu" jawab Khanza
" Owhh begitu ya sudah, yang terpenting buat ibu kamu baik-baik saja dan kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri cerita ke ibu" pesan bu Khodijah kepada sang putri
" Iya bu" jawab Khanza dengan tersenyum tipis
Selesai membantu ibunya Khanza pamit untuk pergi ke kamar dan sesampainya di dalam kamar Khanza menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kasur dengan kasar.
Khanza menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan nasib masa depannya dan juga pernikahannya dengan Aldy yang belum ada titik terangnya.
Khanza tersenyum getir saat memori ingatannya kembali berputar saat dimana laki-laki yang baru saja menikahinya menuduhnya dengan kejam tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan bahkan sampai saat ini tidak ada kata maaf yang terlontar dari bibir laki-laki tersebut.
Khanza yang merasa lelah memikirkan nasib dirinya akhirnya tertidur pulas. Khanza menyerahkan semuanya kepada takdir yang entah akan membawanya kemana.
__ADS_1