Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Bakso


__ADS_3

Mobil hitam milik dokter Ariel tiba tepat di depan rumah Mita. Sekilas Mita melirik sang dokter yang pandangannya lurus ke depan dengan wajah sendu.


Mita membuka pintu mobil namun sebelum keluar dia berkata " Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang. Hati-hati ya bawa mobilnya Mas Ariel!" ucap Mita yang langsung membuat dokter Ariel menoleh.


" Mas?" cicit dokter Ariel " Berarti kamu_?" Mita mengaguk pelan dan tersenyum.


" Apa aku tidak sedang bermimpi?" tanya dokter Ariel yang merasa seakan tidak percaya.


" Mas Ariel apaan sih" tawa Mita malu-malu dan mencubit kecil lengan dokter Ariel.


" Aww, sakit. Benar bukan mimpi!" dokter Ariel tertawa renyah dengan wajah sumringah.


Mita mengulum senyumnya, " Kenapa hatiku rasanya tenang melihat tawa mas Ariel!" batin Mita.


" Mami kok bengong?" Mita melotot mendengar nama panggilan dari dokter Ariel terhadapnya.


" Mami? dokter Ariel menganggap saya ibunya?"


" kok dokter lagi sih?"


" Maaf, iya mas!"


" Mami itu my Mita. ya lidahnya orang kita itukan biasa terpeleset jadi mami aja gampangnya, bagus kan? romantis. kamu mau panggil mas papi juga gak apa-apa kok!"


ucap dokter Ariel sambil tertawa kecil.


" ihh, maunya. halal aja belum udah main mami papi aja. lagian percaya diri sekali anda, memangnya saya sudah menerima anda gitu?" celetuk Mita yang langsung membuat dokter Ariel terdiam dan sedetik kemudian tersenyum.


" Aku sudah sangat yakin nona, kalau anda sudah menerima saya masuk ke dalam hati anda, mata anda sudah mengatakan segalanya kalau nona Mita Paramita sudah menerima cinta pemberian dokter Ariel yang tampan ini!" ucap dokter Ariel dengan percaya diri.


" Terlalu percaya diri anda!"ucap Mita lalu tertawa dan begitu juga dengan dokter Ariel yang ikut tertawa. mereka berdua akhirnya tertawa bersama dengan hati lega.


" Sudah ya, aku turun. mas hati-hati bawa mobilnya. setelah sampai beri kabar ya!" ucap Mita lalu turun dari mobil.


" Terima kasih!" ucap dokter Ariel membuat Mita mengerutkan keningnya.


" Terima kasih untuk apa?" tanya Mita


" Terima kasih karena sudah membalas perasaan mas !" ucap dokter Ariel dengan senyum yang sedari tadi terus mengembang.


" Perasaan itu akan selalu terbalas jika mas Ariel bisa menjaganya dengan baik dan tulus. tapi jika mas hanya sekedar bermain-main dan menempatkan ego di dalamnya maka perlahan tapi pasti perasaan itu akan memudar dengan sendirinya" ucap Mita serius.


" Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mas untuk kedua kalinya. mas percaya dan yakin kamu adalah cinta terakhir mas" ucap dokter Ariel dan Mita mengaguk lalu tersenyum tipis.


" Aku masuk!"


" Iya!"


" Hati-hati!" dokter Ariel mengaguk dan tersenyum.


Mita pun masuk ke dalam rumahnya dan mobil dokter Ariel melesat meninggalkan rumah Mita.


Dokter Ariel senyam-senyum sendiri di dalam mobil, hatinya begitu senang karena pada akhirnya cintanya kini terbalaskan.


Dokter Ariel berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga apa yang sudah diraihnya dengan baik. dia tidak ingin mengulang kesalahannya untuk kedua kalinya. cinta yang dulu terasa menyakitkan kini akhirnya ia rasakan juga manisnya.


sementara di dalam kamar Mita juga tidak jauh berbeda dengan dokter Ariel yang tengah senyam-senyum sendiri. Mita memandang wajahnya di pantulan kaca meja riasnya.


" apa keputusan ini sudah tepat ya?" gumam Mita


" Mona?" tiba-tiba Mita teringat dengan Mona Sahabatnya.


" Aku harus jujur, ya walaupun Mona rada ember dan berisik. tapi dari pada nanti Mona memiliki perasaan yang lebih, aahhh... pusing!" Mita mengacak-acak rambutnya sendiri.


...🍁🍁🍁🍁...


Di rumah sakit.


" Mah Meli mau pulang aja ya, bosan mah disini terus?" rengek Lia pada sang Mama.


" Memangnya kamu sudah merasa baikkan nak Lia, sudah merasa tidak ada keluhan lainnya?" tanya bunda Aryani yang memang datang dari pagi untuk menemani mama Maria.


" Sudah bund, Meli sudah merasa gak ada keluhan apa-apa" sahut Lia.


" kalau kamu memang merasa seperti itu, ya udah mama mau tanya dokternya dulu !" ucap mama Maria beranjak dari duduknya.


" Ar, aku keluar dulu ya!" pamit mama Maria pada Bunda Aryani.


" Sayang, mau makan buah?" ucap bunda Aryani menawarkan Lia buah.


" Tidak deh bund makasih, Mel lagi kepingin makan bakso" sahut Lia sambil cengengesan.


" Wushh, baru juga sembuh sudah mau makan bakso saja!" ucap Bunda Aryani sambil melototkan matanya.


" He..he.. ngebayanginnya segar bund!"ucap Lia sambil tertawa.


" Apalagi yang pedas ya!" timpal Bunda Aryani yang ikut tertawa.


" iya betul bund, ada bakso besarnya terus banyak anaknya bund,. pasti seru!"


" Ah kamu Li, bikin bunda ngiler aja!" Lia tertawa mendengar ucapan bunda Aryani.


Setelah hampir satu jam mama Maria pergi, akhirnya mama Maria kembali juga.


" Bagaimana ma?" tanya Lia pada Mama Maria yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi sebelah Lia.


" Boleh, tapi dengan syarat kamu harus istirahat di rumah!" sahut mama Maria.


Tokkkk... tokkkk... tokkkk


tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, mama Maria beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu karena sedari tadi orang yang mengetuk pintu tidak juga menampakkan dirinya.


" Maaf Bu ada kiriman makanan atas nama Meliani atau Lily!" kata pria yang membawa bungkusan berisi makanan.


" Meliani sih benar ya mas tapi kalau Lily..?" mama Maria nampak berpikir sejenak. " Sebentar ya mas!" pesan mama Maria lalu kembali masuk.

__ADS_1


" Siapa mah?" tanya Lia


" Itu ada paket makanan tapi atas nama Meliani atau Lily!" ucap Mama Maria.


" Lily mah?" tanya Lia antusias.


" Mana mah paketnya?" mama Maria mengernyitkan alisnya melihat Lia yang begitu antusias.


" Masih di depan mas-masnya, jadi Lily itu kamu?" tanya mama Maria menyipitkan matanya


" Iya mah, sudah cepat ambil mah nanti masnya keburu pergi loh!" pinta Lia dengan wajah memelas


" Iya, sabar!" mama Maria senyam-senyum lalu menggelengkan kepalanya.


Mama Maria masuk sambil menenteng sebuah kantong di tangan kanannya.


" Nih!" mama Maria menyodorkan kantong yang dibawanya ke Lia.


Lia menerimanya dengan wajah sumringah.


" Apa sih mah isinya, jadi penasaran?" ucap Lia antusias membuka kantong tersebut. seketika mata Lia membulat sempurna ketika melihat isi kantong tersebut. senyum pun terbit di wajah cantiknya. Lia melirik ke arah bunda Aryani lalu menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.


Bunda Aryani melihat Lia seperti itu merasa aneh begitu juga dengan mama Maria.


" Ini anak kenapa sih jadi aneh gitu?" tanya mama Maria menyenggol bahu Aryani yang tengah duduk di pinggir tempat tidur Lia.


" Taraaaaa...!" teriak Lia sambil menunjukkan isi kantong plastik tersebut.


Mama Maria hanya bengong dengan tingkat konyol putrinya itu tapi berbeda dengan bunda Aryani yang awalnya melotot dan sedetik kemudian tertawa bersama dengan Lia.


mama Maria nampak aneh dengan dua wanita yang berada di depannya saat ini. merasa tidak ada yang lucu tapi kenapa dua wanita yang beda generasi ini malah tertawa.


" Bakso!" ucap Lia dan bunda Aryani lalu tertawa lagi.


" Kalian ini kenapa sih, apa ada yang aneh dengan makanan itu?" tanya Mama Maria dengan raut wajah bingung


" Tidak ada yang aneh dengan makanan ini Mar, hanya saja entah kebetulan atau apa ya ini namanya Lia mendapatkan kiriman bakso" sahut bunda Aryani


" Lalu masalahnya dimana?" tanya mama Maria yang masih belum mengerti dengan arah pembicaraan Lia dan bunda Aryani.


" Begini loh Mar, tadi itu Lia bilang dia lagi kepingin makan bakso yang besar dan di dalamnya ada Anak-anaknya. terus kebetulan dapat kiriman ini!" ucap bunda Aryani yang menjelaskan lalu mengangkat bungkusan bakso yang dipegangnya.


"Emmmm.... kira-kira siapa Li yang mengirimkan kamu bakso ini?" tanya Bunda Aryani menyelidik. " Kenapa bisa pas sekali ya, sebegitu sehatinya ya kamu sama dia?" goda bunda Aryani


" Ah, bunda bisa aja." Lia terkekeh sedetik kemudian tersenyum malu-malu.


" Putri mama ternyata sudah punya pengagum rupanya, so sweet banget sih!" sekarang mama Maria yang menggoda Lia.


" Apaan sih mah!" wajah Lia sudah semerah tomat.


" Sudah Mar, jangan di godain terus putri kamu itu, mendingan kita cepat-cepat makan bakso ini selagi panas, kalau sudah dingin rasanya kurang enak" Bunda Aryani memberikan seporsi bakso untuk Lia dan mama Maria.


" Bunda baksonya sama seperti yang aku mau loh!" ucap Lia dengan mata berbinar


" Enak baksonya Ar!" ucap mama Maria yang sedang mencicipi rasa baksonya.


" Iya, ini benar-benar enak loh Li, siapa sih yang sudah mengirimkan kamu bakso seenak ini ?" tanya bunda Aryani yang jadi penasaran.


" Kalau mama boleh tebak, pasti si malai_" ucapan mama Maria terhenti karena Lia memotong ucapannya.


" Mama ihhh!" protes Lia dengan wajah merona.


" Siapa sih Mar? bikin penasaran aja sih, beritahu bunda dong Li!" pinta bunda Aryani sambil menyuap bakso terakhirnya.


" Nanti bunda juga akan tahu kok, tapi gak sekarang ya bund!" sahut Lia yang sebenarnya sangat tidak enak pada bunda Aryani tapi ya mau bagaimana lagi rasanya dia belum siap aja jika banyak yang tahu hubungannya dengan sang malaikat penolong.


" Ah kamu ini Li, bikin bunda tambah penasaran tau gak sih!" bunda Aryani pura-pura merajuk


" Bunda nanti deh Mel kasih tau tapi gak sekarang ya!" rayu Lia bergelayut manja pada bunda Aryani.


Bakso yang pas tiga porsi itupun sudah ludes dan sekarang bunda Aryani bersama mama Maria dan Lia tengah berada di lobi rumah sakit menunggu Azka yang katanya akan datang ke rumah sakit bersama Zaira.


Mobil Azka telah sampai di depan lobi rumah sakit, Zaira yang hendak turun dari mobil ditahan oleh Azka.


" Yang kamu mau kemana?" tanya Azka


" Turun" sahut Zaira


" Untuk apa turun, diam saja disini! biar mas yang menghampiri mereka!" pinta Azka dan Zaira pun menurut patuh.


Azka berjalan menghampiri Lia, mama Maria dan bunda Aryani yang memang sedang menunggu kedatangannya.


" Kamu memang sudah benar-benar sembuh, minta pulang sekarang Mel?" tanya Azka seraya tangannya meraih tas berisi baju Lia yang berada di tangan bunda Aryani.


" Biar Azka saja yang bawa bund!" ucap Azka meraih tas tersebut.


Bunda Aryani tersenyum dan memberikan tas tersebut.


" Mana Za nak Azka ?" tanya bunda Aryani yang tidak melihat keberadaan Zaira


" Itu bund, menunggu di mobil!" sahut Azka


" Yaudah yuk mah, bund kita cepat-cepat ke mobil kasihan kalau Za kelamaan nungguin kita!" ucap Lia yang antusias ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


🍁


Saat ini mereka semua sudah berada di dalam mobil.


" Za bagaimana keadaan kandungan kamu?" tanya bunda Aryani


" Alhamdulillah baik dan sehat bund, kemarin baru saja Za periksa kandungan!"


" Syukurlah kalau begitu sayang, kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik, ingat jangan pecicilan sayang!" pesan bunda Aryani


" Iya bunda"

__ADS_1


" Za memang suka kebiasaan bund, pecicilannya gak ilang-ilang, harus di ingatkan terus" kali ini Azka yang bicara.


" Ih enak aja, siapa yang pecicilan sih mas!" protes Zaira


" Ya kamulah yang!"


" Enak aja, bohong bund!" Zaira pasang wajah cemberut


" sudah jangan ribut lagi, kamu ini Ka, suka banget sih godain isteri sendiri!" ucap mama Maria menengahi.


" Ya lebih baik godain isteri sendiri lah mah bisa dapat pahala daripada godain isteri orang yang ada bisa melayang kapala!" sahut Azka yang seketika mampu mengundang gelak tawa mama Maria, bunda Aryani dan juga Lia tapi tidak dengan Zaira mama muda yang satu ini masih pasang wajah cemberut.


" Wah... wah .. sepertinya nanti malam bakal ada yang tidur di luar nih mah!" ledek Lia yang duduk di kursi penumpang bersama bunda Aryani dan mama Maria.


" Huss!" sentak Azka membuat tawa Lia kembali pecah


Zaira hanya diam menatap tajam ke arah Azka.


" Iya sayang maaf gak ngulang deh" ucap Azka takut sang ratu marah.


" Nah gitu dong, kan manis!" ucap Zaira dengan tersenyum genit.


" Wah rupanya kakakku yang super cuek dan dingin kini sudah berubah ya takut sama sang isteri" ledek Lia


" Itu harus" Zaira menanggapi


" Suami boleh cuek dan bersikap dingin tapi hanya berlaku di luar saja kalau sudah bersama anak dan isteri, jangan coba-coba bersikap dingin yang ada tuh tidur di luar biar dingin sekalian. bukan begitu Za!" lanjut mama Maria yang ikut berkomentar dan tentu saja disambut dengan acungan jempol oleh Zaira.


" Wah mama benar-benar mertua idaman banget, beruntung Za jadi menantu Mama. kita sehati mah" sahut Zaira membuat Lia tidak henti-hentinya tertawa melihat wajah Azka yang kian cemberut sementara bunda Aryani hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat interaksi anak dan mertuanya.


Di dalam hati kecil bunda Aryani ia sangat bersyukur karena Zaira memiliki mertua dan suami yang begitu perhatian dan juga selalu membuat Zaira tertawa bahagia ditambah lagi dengan seorang sahabat sekaligus sebagai adik ipar Zaira yang sejak dulu memang begitu baik dan perhatian terhadap Zaira.


Tanpa sadar bunda Aryani menitikkan air mata, Lia yang tanpa sengaja melihatnya langsung memeluk bunda Aryani dari samping karena memang posisi Lia yang berada di tengah antara bunda Aryani dan mama Maria.


Bunda Aryani menoleh saat Lia melingkarkan tangannya di lengan bunda Aryani. " Bunda kenapa?" tanya Lia mendongak


Bunda Aryani tersenyum lalu buru-buru mengusap air matanya.


" Bunda gak kenapa-napa sayang"


Zaira menoleh ke belakang dan melihat Lia yang tengah bersandar di bahu sang bunda.


" Bunda kenapa?" tanya Zaira dengan raut wajah yang berubah sendu


" Bunda gak kenapa-napa sayang" sahut bunda Aryani dengan memperlihatkan senyum diwajahnya.


" Bunda kalau ada masalah cerita ke Za bund karena kita hanya tinggal berdua bund setelah kepergian ayah" ucap Zaira yang langsung dibekap mulutnya oleh Azka.


" Hwuus, kalau ngomong jangan sembarangan, kamu anggap mas, mama , papa dan Meli ini apa?" ucap Azka tegas


Zaira langsung menoleh ke arah Azka yang sesekali fokus dengan kemudinya


" Maaf!" Cicit Zaira


" Kamu itu tidak hanya punya bunda sayang, ada suami kamu yang begitu mencintai kamu ditambah lagi dengan bayi yang ada di dalam kandungan kamu saat ini, ada mama dan papa yang akan selalu menganggap kamu bukan hanya sebagai menantu dikeluarga Dinata tetapi sebagai putri kami juga. dan kamu juga punya Meli adik ipar merangkap sahabat, ada Mona, Mita, Indah, dan juga Mia mereka semua sayang sama kamu dan juga sayang sama bunda kamu!" ucap mama Maria yang tanpa sadar membuat Zaira menitikkan air mata.


" Sayang!" panggil Azka


Zaira menoleh dan tersenyum " Mas maafin Za ya!" Azka tersenyum lalu mengangguk


" Mama, Lia dan bunda maafin Za ya!" ucapnya lagi menoleh ke kursi belakang


" Iya Za, kita ini adalah satu keluarga nyokap gue ya nyokap loe dan nyokap loe ya nyokap gue juga, bukan begitu mah , bund?" ucap Lia menoleh kesamping kiri dan kanan.


" Iya sayang, apa yang mereka katakan memang benar meskipun ayahmu sudah tidak ada tapi keluarga suamimu adalah keluargamu juga"


" Tapi bunda janji ya apapun yang terjadi bunda harus cerita sama Za!" pinta Zaira dan bunda Aryani mengangguk lalu tersenyum tipis.


" Sudah sedih-sedihnya sekarang kita hampir sampai!" ucap Azka.


" Mas mampir dulu ya sebentar!"


" Ke kedai bakso yang ada di simpang jalan sana mas!" tunjuk Zaira ke arah yang dimaksud


Setelah sampai di depan kedai bakso Zaira dan Azka turun dari dalam mobil sementara Lia, bunda Aryani dan mama Maria hanya diam di dalam mobil.


" Loh kok gak ikutan turun?" tanya Zaira


" Kalian saja!" sahut mama Maria


" Bunda, Lia!"panggil Zaira dan dua orang tersebut juga sama menggelang


" Kamu saja Za sama kak Azka!" kali ini Lia yang menjawab


" Kenapa?"tanya Zaira yang nampak bingung


" Kami sudah makan bakso Za, dan tidak tanggung-tanggung Za, bakso super Za baksonya banyak anak-anaknya" sahut bunda Aryani antusias teringat bakso yang tadi di makannya.


" Sayang!" panggil Azka yang sudah berdiri di samping penjual baksonya.


" Sudah sana kalian saja, kami masih sangat kenyang" perintah bunda Aryani.


" Ya sudah, baiklah!" Zaira berjalan menghampiri Azka dan tidak butuh waktu lama Zaira sudah kembali ke mobilnya


" Loh kok masuk lagi kedalam mobil?" tanya Lia yang sedikit heran.


" Gak apa-apa, mau makan di rumah saja!" sahut Zaira


tidak lama Azka datang dengan membawa kantong berisi bakso.


" Li itu bukannya Mario ya dan dia bersama cewknya loh Li!" ucap Zaira melihat sosok Mario bersama dengan seorang wanita cantik dan sedikit seksi.


Lia yang mendengar nama Mario disebut oleh Zaira, mau tidak mau Lia pun mencari kebenaran dari ucapan Zaira dan betapa terkejutnya Lia saat melihat Mario tengah asik duduk berdua dengan seorang wanita cantik yang menurutnya sangat asing.


Lia langsung mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2