
“pak? Tolongh jalanya hmmph” Ivy melepas paksa tarikan Juan dan kembali bergegas masuk ke kamar mandi.
Juan hanya melihat Ivy sekilas, memutar bola matanya malas dan ikut masuk ke kamar mandi (sedang sepi, jadinya aman).
“hoek,,hoek,,hoek” Ivy memuntahkan seluruh isi perutnya sampai hanya keluar air saja, wajahnya pucat pasi. Benar-benar kacau.
Juan yang ikut masuk ke toilet memijat pelan tengkuk Ivy dan mengelus punggungnya lembut. Ivy saja sebenarnya juga tidak tahu gurunya ini sedang hilang kesadaran atau bagaimana.
“yang keluar hanya air, apa kau ini makan dengan benar?”
Ivy tidak menjawab tenaganya sudah habis untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.
BRUK
Ivy limbung dan bersender di dada bidang Juan yang berada di belakangnya. Semua menjadi gelap dan ringan. Ivy perlahan kehilangan kesadarannya.
“bodoh! Sudah tahu alergi udang masih saja di makan”
.
.
.
Ivy perlahan membuka matanya, mengerjap-ngerjapkanya, mencoba beradaptasi dengan cahaya silau yang masuk ke matanya. Dia mencoba bangun dari tidurnya tapi tubuhnya tidak bergerak, dia terlalu lemas bahkan untuk berbicara. Yang Ivy tahu sekarang dia berada di ruang kesehatan sekolahnya.
“apa pak Juan yang membawaku kemari?” batinnya, di sana sepi dan sudah sore, terlihat dari cahaya oranye yang menembus gorden.
Dengan sekuat tenaga Ivy bangun dari posisi tidurnya. Bisa gawat kalau dia terlambat untuk pergi ke rumah utama. “kakek, tolong selamatkan Ivy kali ini” ucapnya sambil menggenggam liontin berbentuk hati di kalungnya. Kalung itu adalah kalung pemberian almarhum kakeknya yang sudah meninggal di umur Ivy yang ke-enam tahun. Seseorang yang selalu mengerti dirinya, selalu ada untuknya, dan selalu mendengar keluh kesahnya.
-di sebuah rumah tepi kota-
Ivy menatap rumah megah bergaya eropa di depannya dengan penuh harap, berharap kalau dia bisa pulang ke apartemennya dengan selamat dan tanpa penyesalan. Sebelumnya ivy sudah berganti baju terlebih dulu dan sedikit berdandan. Bagi Ivy rumahnya adalah neraka yang sesungguhnya. Bahkan kakinya saja terlihat sedikit bergetar ketika hendak membuka pintu.
“Ivy pulang”
“akhirnya kau datang juga, semua sudah menunggumu diruang utama” ucap Lyla, salah satu sepupunya. Ivy hanya mengangguk lalu memasuki ruang utama. Benar saja sudah banyak orang yang berkumpul, baik dari ayah, ibu, kedua kakak laki-laki kembarnya, adik laki-laki Ivy yang masih tujuh tahun, ke-lima saudara sepupunya, paman, bibi, seseorang yang Ivy tidak kenal dan satu lagi seseorang yang membuat Ivy tidak percaya. Tentu kita bisa menebaknya.
“pak Juan?” lirihnya tidak percaya, semua melihat Ivy lekat. Ya, pria itu adalah Juan. Juan yang terlihat lebih tampan dengan setelan jas hitam yang ia kenakan di tubuh atletisnya. Ivy masih berdiri (karena ia tidak di izinkan duduk) sabil di lihat begitu banyak orang yang ia tidak suka.
“baiklah, sepertinya acara sudah kita mulai” ayah Ivy, Dylon mulai berbicara.
“saya akan ke poin utamanya. Jadi hari ini seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, Ivy akan di jodohkan dengan nak Juan Nicholass Resmond, pemilik tunggal dari ECO group yang sudah berada di sini bersama kita” semua orang terlihat bahagia dan tersenyum, tidak dengan Ivy tentu saja, serta Juan yang masih dengan ekspresi datarnya.
“tapi ayah Ivy masih sekolah, kenapa tidak Lyla atau yang lain saja?”
__ADS_1
“sudah berani menjawab ayahmu?” ucap Dira, ibu Ivy dengan nada menekan. Semuanya diam dan Ivy masih berdiri di posisinya semula.
“tapi ibu, Ivy masih sekolah”
“memangnya kenapa? Itu semua sudah cukup. Saudaramu yang lain masih fokus dengan karir mereka”
“Ivy juga sama ibu, apa bedannya?” Juan masih menatap lekat manik biru laut milik Ivy.
“KAU…”
“sudah-sudah, malu dengan tamu kita! Ivy ayah akan memberimu pilihan, kau menerima perjodohan ini atau ayah akan melepas semua pengobatan,,,,,”
“baik ayah Ivy setuju, tapi Ivy mohon jangan lakukan itu” Ivy memotong ucapan ayahnya, dia sudah menduganya. Ancaman ayahnya terlalu bahaya. “baiklah, bagus kalau begitu. Nak Juan, kami setuju dengan perjodohan ini” mereka semua tetap melanjutkan perbincangan mereka dan Ivy sudah pergi dari sana. Apa lagi ini.
.
.
Ivy berjalan ke arahh kolam renang dan menjeburkan tubuhnya. Ivy berteriak di dalam air dan menangis. Apa lagi yang mereka inginkan darinya, apa menyiksanya selama ini masih belum cukup. Menikah dengan Juan, gurunya yang ia tidak sukai dan mengancam akan mencabut seluruh pengobatan Zena. Apa hati seluruh keluarganya berasal dari batu?
“KAK IVY? KAK IVY DION DI SINI JADI CEPAT KELUAR!” teriak Dion, adik laki-laki Ivy. Berbeda dengan yang lainnya, Dion tulus menyayangi Ivy dan selalu menjaga Ivy, baik dari amukan ayahnya atau yang lain. Setelah mendengar teriakan adiknya dari dalam air, Ivy segera berenang menuju daratan. Dion terlihat sudah berkacak pinggang dengan imutnya di atas sana.
“kakak, Dion kan sudah bilang jangan berenang malam-malam, tetep saja ngeyel. Nanti kalau kakak sakit bagaimana?” ocehnya. Ivy melihat adik satu-satunya itu gemas.
“kakak, kembalilah ke rumah, Dion mohon. Kakak kembalilah ke rumah, Dion kangen kak Ivy. Apa kakak marah sama ayah?mama? atau yang lainya?” Dion memeluk Ivy sambil menangis. Ivy mengelus pucuk kepala adiknya itu dengan lembut, pelukannya Dion terasa hangat.
“jika Dion sudah remaja pasti Dion ngerti, tapi untuk sekarang Dion belajar dulu yang rajin. Kak Ivy pasti mendukung apapun impian kamu. Jadi bagaimana dengan sekolahmu, apa semua lancar?” ucap Ivy dengan berusaha tersenyum. Dion segera melepas pelukannya dari Ivy dan mengusap kasar air matanya. “sangat lancar, semua baik sama Dion, bagaimana sekolah kakak? Apa semua lancar?”
“DION! SUDAH MALAM, CEPAT PERGI TIDUR!” teriak ibunya dari jauh, mau tidak mau Dion harus pergi tidur dan meninggalkan Ivy sendirian di pinggir kolam renang. Tanpa Ivy sadari sepasang mata selalu mengawasinya di sana. Mata tajam yang yang siap mencincang apapun di hadapannya. Pria itu menghampiri Ivy yang sedang telentang melihat awan mendung di atas sana.
“kau bisa menolaknya jika kau mau” ucap suara baritone di atas wajah Ivy. Juan berdiri dan menunduk di atas wajah Ivy. Spontan Ivy langsung duduk dari posisi awalnya.
“jika saya bisa saya sudah melakukannya”
“kenapa tidak bisa?”
“bukan urusan bapak”
“tentu saja urusan saya, saya kan calon suami kamu” Ivy diam tidak menjawab perkataan Juan.
“lalu kenapa bapak mau di jodohkan dengan gadis bodoh yang selalu bapak hukum setiap pelajaran bapak? Saya tidak cantik dan saya tidak pandai? Kenapa bapak mau dengan anak haram seperti saya? Kenapa bapak mau dengan saya walaupun saya tidak memiliki nama keluarga saya sendiri? Saya harap bapak tidak akan menyesal, saya mohon pikirkan baik-baik. Saya permisi” Juan melihat punggung Ivy yangmenjauh dengan senyuman di wajahnya yang tampan. “itulah yang membuatmu menarik” lirihnya.
Juan menatap langit yang tadi sempat Ivy pandangi. Wajah tampannya bersinar terkena pantulan cahaya dari air kolam yang jernih.
.
__ADS_1
.
.
“vy? Vy? VY?”
“eh! Maaf kenapa nin?”
“kau ini terus saja melamun, apa kau sedang ada masalah? Akhir-akhir ini kau sering melamun, apa kau baik-baik saja?” ucap Nina cemas. Sudah tiga hari ini Ivy selalu melamun dan tidak fokus, bahkan beberapa kali juga dia di hukum karena tidak mendengar penjelasan dari guru di kelasnya. Beruntung karena dia belum bertemu Juan semenjak tiga hari itu. Ivy juga belum berkunjung di rumah sakit yang hampir selalu ia kunjungi setiap hari.
“aku sedang tidak baik-baik saja. Aku LAPAR”
“lalu? Apa dengan melamun kau bisa kenyang. Kita ke kantin sekarang, akan aku traktir” ucap Nina semangat, Ivy juga mengangguk semangat.
.
.
Kini mereka berdua duduk di bangku panjang nomor dua dari depan tempat makanan. Kantin cukup ramai, mungkin karena cuacanya sedang dingin jadi banyak siswa yang memilih menghangatkan tubuh mereka dengan makanan hangat di kantin. Seperti yang lainya, mereka berdua menyantap makanan mereka dengan lahap.
“permisi? Boleh kami duduk di sini juga Ivy?” Adam dan ke-tiga temannya datang dengan masing-masing nampan di tangan mereka.
“boleh, silahkan” balas Ivy sopan.
“terimakasih, wah! apa kamu dari kelas 11 IPS 3? Kamu sangat cantik” puji Jio, salah satu dari mereka, dan langsung mendapatkan jitakan keras dari Bian (memakai kacamata minus cukup tebal).
“kau membuatku malu, dasar memalukan” ketus Bian. Adam hanya geleng-geleng melihat tingkah laku teman-temannya. “kau juga ton, berhenti makan! Memalukan” Bian menarik cemilan yang selalu di bawa oleh Toni ke mana-mana.Berlanjut dengan perkelahian absurd mereka bertiga dan Adam yang berusaha menenangkan mereka. Sesekali mereka juga mengajak Ivy dan Nina ngobrol dan bercanda. Ivy yang awalnya terlihat murung menjadi sedikit bersemangat dan ceria.
“Pak Juan dateng! Pak Juan dateng!”
“waaaah sama pak Rio juga, pemandangan yang tidak bisa di sia-siakan”
“mereka berdua tampan dan itu adalah satu keunggulan sekolah kita”
“yaah, walaupun galak, tapi pak Juan tetep mempesona”
“kau benar, aku juga suka tatapan tajamnya yang dingin itu, seperti drama korea”
Bisik-bisik seluruh siswi di kantin ketika Juan dan Rio (guru fisika) datang dan makan di sana.
Tanpa sengaja tatapan mata Ivy dan Juan bertemu, tatapan dingin itu masih tetap saja sedikit menakutkan untuknya. Dengan cepat Ivy mengalihkan pandanganya dan segera menghabiskan makanannya lalu berpamitan pergi meninggalkan Nina bersama Adam dan yang lainnya dengan alasan ke toilet.
“kau duluan saja, aku sudah kenyang” ucap Juan datar dan membuat Rio bingung.
“hey! bukannya kau yang menarik ku ke sini?dasar es batu?” gerutunya, sudah memaksa, di tinggal pergi lagi.
__ADS_1