Guruku Suamiku

Guruku Suamiku
Mengunci Cinta


__ADS_3

Zaira masih diam tertegun dengan pemandangan yang ada di hadapannya, entah mengapa melihat tubuh Azka yang bertelanjang dada membuat Zaira seakan mematung.


Azka tersenyum tipis melihat isteri kecilnya yang nampak terpesona dengan keindahan tubuhnya yang kekar dan gagah. Tiba-tiba Azka muncul ide untuk menjahili Zaira, perlahan ia semakin mengikis jarak yang ada diantara mereka, ponsel Zaira yang sempat diambilnya pun kini telah ia letakkan di atas nakas dan tentu saja itupun diluar kesadaran sang empunya.


Tubuh Zaira semakin menegang saat jari Azka mendarat di wajah cantiknya dan mengelus-elus lembut pipi mulusnya.


" Ma..mas Az..Ka, ma..mau apa?" tanya Zaira dengan gugup.


" Menurut mu?" tanya Azka dengan suara menggoda.


" Ma.. mas, ak..aku mau mandi dulu!" Zaira berusaha menghindari tatapan mata Azka yang seakan ingin meminta haknya kembali.


" Nanti saja" Azka mendorong tubuh mungil Zaira hingga terhempas ke kasur dan berada di dalam Kungkungannya.


Zaira ingin kembali bangkit namun kedua tangan Azka sudah lebih dulu mengunci pergelangan tangan Zaira hingga ia sulit untuk bergerak.


" Aku menginginkannya" bisik Azka membuat bulu kuduk Zaira meremang dan detak jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


Meskipun ini bukanlah yang pertama untuk Zaira tapi entah mengapa setiap kali Azka bersikap seperti ini Zaira tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan tubuhnya selalu menegang.


" Mas, maafkan aku, tapi aku..!" sebelum Zaira menyelesaikan ucapannya Azka sudah lebih dulu bangkit dan pergi meninggalkan Zaira begitu saja. Azka berjalan menuju lemari pakaiannya setelah memakai pakaiannya ia pun pergi keluar kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Zaira.


Melihat sikap dingin dan acuh Azka Zaira merasa sangat sedih ada rasa sesak yang menghantam dadanya. Zaira berpikir sejenak apa yang ia lakukan tadi itu mungkin salah.


Zaira turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin mendinginkan pikirannya setelah merasa tenang ia baru akan berbicara dan meminta maaf kepada suaminya. walau bagaimanapun ia yang memulai lebih dulu mendiamkan suaminya.


Sementara Azka saat ini tengah sibuk memasak, sebenarnya ia turun dan menghentikan aksinya bukan karena ia marah atau pun kecewa dengan penolakan Zaira melainkan saat Zaira mengatakan maaf ketika itu pula Azka mendengar bunyi suara dari perut Zaira, dan Azka pun teringat kalau mereka memang belum sempat makan apa-apa karena panik tadi sewaktu di rumah sakit menenangkan Nia.


Azka telah selesai memasak dan menata masakannya di atas meja makan, Zaira pun sama telah selesai mandi dan kini tengah bersiap untuk keluar kamar mencari Azka namun saat turun dari tangga Zaira mencium aroma masakan yang begitu lezat membuat perutnya meronta untuk di isi.


Zaira berjalan menuju dapur dan betapa terkejutnya dia saat melihat Azka yang tengah menata masakannya di atas meja dan lengkap masih menggunakan apron.


Zaira lagi-lagi dibuat terpanah oleh ketampanan suaminya saat ini. rasanya ia sungguh beruntung bisa memiliki laki-laki yang kini berada di hadapannya.


Azka tersenyum tipis melirik sekilas ke arah Zaira yang tengah berdiri mematung memandangi dirinya. Dan tanpa Zaira sadari Azka sudah berdiri di hadapannya menarik tangannya pelan dan menuntunnya duduk di kursi meja makan. Zaira masih begitu terkesima dengan perlakuan Azka saat ini.


Azka menyendok nasi dan lauk pauk yang tadi di masaknya untuk Zaira. setelah itu ia pun menyendok untuk dirinya sendiri. Azka duduk di samping Zaira yang masih diam saja.


" Makanlah!" ucap Azka dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.


" Hahh..., iya apa kak?" ucap Zaira yang terkesiap dari lamunannya.


" Kak?" Azka menaikkan alisnya


" Mak.. maksudku mas!" Zaira nyengir


Azka menggeleng pelan " Makanlah!"


" I..iya mas" Zaira pun langsung mengambil sesendok nasi beserta lauk pauknya setelah itu di masukkan ke dalam mulutnya dan....


" emmm... mas apa ini benar-benar mas Azka yang memasaknya?" tanya Zaira yang merasa tidak menyangka masakan Azka begitu lezat.


" Kenapa memangnya, tidak enak?"


" Ini bukannya tidak enak mas tapi sangat sangat enak mas" Zaira memasukkan lagi suapannya


" Apa kamu suka?" tanya Azka


" Suka banget malah. masakan mas sangat enak aku...." Zaira tiba-tiba berubah murung dan hal itu tentu saja membuat Azka heran.


" Kamu kenapa?" tanya Azka cemas


" Gak apa-apa kok mas" jawab Zaira tersenyum


" Jangan bohong sama mas!" Azka mengelus pipi Zaira lembut.


" Masakan mas sangat enak aku jadi malu mas sebagai isteri masakan aku kalah jauh dari masakan mas yang tidak jauh beda dengan masakan di restoran-restoran ternama" ucap Zaira jujur


Azka tertawa kecil setelah itu mendaratkan cubitan gemas di pipi Zaira.


" Auww... sakit!" Zaira memberengut.


" Salah sendiri bikin mas gemes" Azka hanya tertawa sementara Zaira semakin cemberut.


" Masakan kamu itu enak sayang, mas suka apapun yang kamu masakin buat mas!"


" Sekarang cepat habiskan makanannya, mas tidak mau hal tadi sampai terulang lagi. sudah siap bersaksi tapi suara itu malah mengganggu pendengaran mas saja!" terang Azka membuat Zaira mengerutkan keningnya


"Maksudnya,suara apa?"


" Maksudnya suara perutmu itu membuat mas tidak tega untuk menerkam mu, jadi sekarang cepat kamu makan yang banyak supaya saat nanti kita melanjutkan yang tadi sempat tertunda tidak terganggu lagi."


" Ja.. jadi tadi mas berhenti bukan karena marah ?" Azka menggeleng. " Tapi karena mas mendengar bunyi suara dari perutku, iya?" tanya Zaira yang wajahnya sudah bersemu merah.


" Hemmm!" Azka mengangguk dengan senyum tampannya.


Wajah Zaira bersemu merah, Azka tertawa kecil dan Zaira memberengut karena Azka tidak henti-hentinya menatap wajahnya terus.


Zaira memilih untuk cuek dan kembali menikmati makanannya dengan lahap.


" Pelan-pelan saja makannya sayang, apa kamu sudah tidak sabar ya pingin kita melanjutkan yang tadi?" mendengar ucapan Azka membuat Zaira tersedak.


" Uhukk... uhukk..." Azka langsung memberi Zaira air minum dan dengan cepat Zaira meraih minumannya dan meneguknya hingga tandas.


Zaira menatap tajam Azka yang sudah membuatnya tersedak, sementara Azka hanya cengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


*


*


*


Suara ponsel Lia terdengar ramai di chattingan grup teman-temannya, begitu juga dengan ponsel milik Zaira. pasalnya ke empat sahabat mereka sedang sibuk membahas ketidak hadiran Zaira di kelas pagi tadi dan ditambah lagi dengan Lia yang tidak biasanya membolos dan meninggalkan tasnya begitu saja di mejanya.


WhatsApp


Ciwik2 Cwantik๐Ÿ’ž


Mona : Woyyy!


Mita : Berisik !


Mia : Tau ni Mona ganggu aja, berisik tau gak


Mona : Sorry ๐Ÿคญ


Mia : kenapa si loe Mon teriak-teriak?


Mona : Lia sama Za kemana sih?

__ADS_1


Mia : kenapa memangnya kangen loe?


Mona : iya gue kangen tuh orang dua, kemana sih hari ini pada ngilang gitu aja?


Mia : Iya juga ya, kemana sih tuh anak? Mita loe tau gak Za sama Lia kemana?


Mita : Gak tau gue juga, udah loe teriakin aja lagi Mon biar keluar tuh orang, tasnya sama gue tuh anak!


Mona : Liaaaaaaaa.... Zairaaaaaa.....!


Indah : Mona berisik banget sih loe, ganggu belajar gue aja.


Mona : Tuh, Mita yang suruh ๐Ÿ˜


Mita : โœŒ๏ธ๐Ÿคญ


Indah : Emang tuh anak belum pada ngabarin gitu?


Mona : Indah sayang, kalau mereka udah ada kabarnya ngapain juga gue teriakin.


Indah : Sayang, geli gue dengernya.


Mona : ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Mia : ( Indah) Kalau yang bilang sayang babang Mario gimana Ndah?


Indah: Ogah, meskipun dia bisa dibilang tampan tapi gak deh bukan tipe gue๐Ÿ˜†


Mona : bukan dia kali Ndah yang bukan tipe loe tapi loe yang bukan tipe dia๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Indah : wah Mona kalau ngomong, suka tepat ๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚


Mita : Lah kenapa jadi bahas Mario?


Indah: Tau ni si Mia.


Mona : Jangan-jangan Mia naksir ya sama babang Mario, gue comblangin deh Mi kalau loe mau.


Mia : Apaan sih loe Mon, kalau ngomong sembarangan aja.


Indah : Ya gak apa-apa kali Mi kalau loe naksir mah. gue rela kok๐Ÿ˜†


Mia : Indah ih apaan sih loe, ngaco.


Mona : Lah Mi santai aja kali gak usah ngegas gitu, jangan-jangan iya ya..


Mia : Mona awas loe ya kalau jadi gosip.


Mona : ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Lia : Berisik.... berisik.... berisiiikkkkk....


Mona : Ehh... akhirnya si kup*ET nongol juga


Lia : Berisik banget sih pada, ngapain juga pada ngomongin cowok pembuat onar segala?


Mona : wah jangan-jangan Lia saingannya Mia nih.


Lia : saingan apa?


Indah : Saingan babang Mario


Lia : ๐Ÿคฆ


Lia : ( Mita )๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”


Mona : Kenapa loe Li, kesambet?


Lia : Si*lan loe Mon ๐Ÿ‘Š


Mona : ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚โœŒ๏ธ


Indah : Lia woyy, si Za ngomong-ngomong kemana tuh anak, kok dia gak nongol sih.


Mia : Iya, Za kemana Li?


Lia : Di rumahnya.


Mona : maksud loe dia pulang ke rumahnya?.


Mia : Terus tadi disekolah kalian tumben bolos, pergi kemana loe sama Za?.


Lia : Ke rumah sakit.


Indah : Siapa yang sakit?.


Mia : Jadi tadi tuh Za sakit Li, kok loe gak ngasih tau kita-kita sih?.


Mona : Za beneran sakit Li?.


Mita : Loe sama Za untuk apa pergi ke rumah sakit?.


Mona : Mita sayang yang namanya pergi ke rumah sakit itu ya buat bertobatlah masa buat belanja, ngaco nih!


Mita : Iya kalau soal itu mah, bayi yang masih orok juga tau pergi ke rumah sakit buat berobat, maksud gue Lia sama Za itu kesana itu ngapain, siapa yang berobat gitu?.


Mona : Lia jawab dong jangan bikin khawatir deh loe. Za gak kenapa-napa kan Li.


Zaira : Hayoo... pada gibahin gue ya?


Indah : Nah itu akhirnya nongol juga yang lagi diomongin.


Mita : Za loe baik-baik aja kan?


Zaira : Alhamdulillah, gue baik-baik aja, emang kenapa sih kok pada khawatirin gue gitu?


Mona : kata Lia tadi kalian bolos karena pergi ke rumah sakit, apa loe sakit Za?


Zaira : Bukan gue yang sakit.


Mia : kalau bukan loe yang sakit terus Lia dong yang sakit.


Zaira : Husss... gak boleh bicara begitu, Lia juga Alhamdulillah baik-baik aja, ya gak Li?


Lia : Iya gue juga baik-baik aja, yang sakit itu tadi nyokapnya Nia anak kelas 10 A1


Mita : Terus hubungannya dengan kalian itu apa?


Lia : Ceritanya panjang dan Za yang tau awal mulanya bagaimana. kalau gue sih ikut aja tadi, lagi malas gue ikut pelajaran Bu Siska.

__ADS_1


Indah: wah parah loe Li, gue bilangin loe sama Bu Siska.


Lia : Ember ๐Ÿ‘Š


Indah : ๐Ÿคช


Zaira : Udah nanti aja kalau bertemu disekolah gue ceritain, kalau sekarang mah gak seru, gue juga mau istirahat capek banget"


Lia : Za jangan bilang kalau loe habis...


Za : ๐Ÿคญ habis apa Lia sayang, habis keramas? wah tau aja nih adik ipar๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Lia : Seriusan loe Za? ๐Ÿ˜ฒ


Za : menurut loe gimana? ๐Ÿคญ๐Ÿ˜…


Mia : loe kenapa sih Li, segitunya banget Za keramas aja juga?


Indah : Jangan-jangan selama tinggal di rumah Lia, Za loe gak pernah keramas ya?


Mona: parah Za, jorok banget sih loe.


Mona : Soal adik ipar, wah Za loe lagi deketin kakaknya Lia ya, parah Za diam-diam tinggal di rumah Lia ada udang dibalik bakwan. gue juga mau dong tinggal di rumah loe Li kali aja gitu kakak loe kepincut dengan pesona Monalisa ๐Ÿคญ๐Ÿ˜†


Mita : ๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”


Za : ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Mona : Tawa lagi nih anak.


Lia : Za hutang cerita loe ya sama gue. dan loe


Mona Ogah, yang ada gue tekor makan loe banyak.


Mona : Si*lan loe Li.


Lia : ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Mita : Udah Li loe gak usah kepo gitu. kepengen aja loe gawat ! ๐Ÿคช๐Ÿ˜œ


Indah : Kepengen keramas kaya Za gitu Mit?


Mita : maybe ๐Ÿคท


Lia : ๐Ÿคฆ๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜ฉ


Mona : lah loe kenapa Li, kesepian loe ditinggal Za?


Mita : iya Lia kesepian tanpa babang Rangga ๐Ÿ˜… mau keramas juga loe Li kaya Za?


Lia : Mita ๐Ÿ˜พ๐Ÿ˜พ๐Ÿ˜พ๐Ÿ‘Š๐Ÿ‘Š๐Ÿ‘Š


Mita : ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Mia : Mita... Lia.. loe berdua kenapa? Za yang keramas kok kalian yang heboh sih?


Indah : Za tanggung jawab tuh, gara-gara loe yang keramas mereka yang jadi heboh sendiri ya. emang udah berapa lama sih loe gak keramas?


Za : Tadi pagi


Indah: Terus kalau loe baru keramas tadi pagi kenapa Lia segitu hebohnya, kaya loe gak pernah keramas seabad aja?


Za : mana gue tau, mungkin mau keramas bareng kali ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Lia : Ogah, dih amit-amit ๐Ÿคฎ๐Ÿคฎ๐Ÿคฎ


Mona : loe kenapa Li, mabok?


Lia : Iya, gue mabok gara-gara loe!


Mona : Kok gue, Za tuh?


Zaira : Udah ah menimpali kalian gak akan ada habisnya. Dah ya semua gue mau bobo bobo asyik sambil peluk-peluk yang bikin hangat๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ


Lia / Mita : Zairaaaaaa!


Zaira : ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Mona : peluk-peluk yang bikin hangat, apaan tuh?


Indah : Guling panggang Mona๐Ÿคญ


Zaira : Indah loe emang๐Ÿ‘๐Ÿ˜


Mona : Apaan sih?


Mita : udah Mon jangan kebanyakan nanya, Za sama mah lagi korslet. gak masuk sehari udah gesrek tuh anak.


Zaira : ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Mia : Ada apa sih, ngomongin apa pada?


Mita/Lia / Zaira: Kepoooo!


*


*


*


Zaira masih saja tertawa mengingat chattingannya dengan sahabat-sahabat konyolnya. Azka yang baru keluar dari kamar mandi membersihkan dirinya selepas melakukan olahraga malam bersama Zaira.


Azka berjalan menghampiri Zaira hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Zaira masih saja tersipu malu setiap kali melihat Azka yang bertelanjang dada.


" Mas Azka, pakai bajunya dulu gih!" Zaira membuang pandangannya ke sembarang arah.


" Kenapa memangnya?" Azka tersenyum jahil


" Mas, sana ih!" Zaira mengibaskan tangannya ke udara menyuruh Azka memakai pakaiannya.


" Kenapa sayang, kamu mau lagi?" Goda Azka yang seketika mampu membuat Zaira tertegun dan menelan salivanya kasar.


" Tau ah, yang ini saja masih sakit. menyebalkan" kesal Zaira memberengut.


" Hahaha...!" Azka tertawa puas karena telah berhasil menggoda isteri kecilnya.


Azka mencium kening Zaira setelah itu beranjak untuk memakai pakaiannya.


Setelah selesai memakai pakaiannya Azka berjalan ke tempat tidur, ia pun merasa lelah dan ingin merebahkan tubuhnya. Azka tersenyum tipis melihat wajah polos sang isteri yang tengah tertidur pulas.

__ADS_1


" Isteri kecilku yang gemesin, kamu tenang saja sayang mas tidak akan mungkin berpaling darimu. Kamu itu sudah mengunci seluruh cinta yang ada di dalam hati mas ini sayang. Aku mencintaimu isteri kecilku!" gumam Azka lalu mengecup kening Zaira setelah itu ia pun ikut tidur sambil memeluk Zaira.


__ADS_2